Keutamaan Puasa

Keutamaan Puasa

Saudarakubunga 12, puasa ramadhan sebentar lagi datang, sungguh luar biasa! Kata ini nampaknya belum cukup untuk mengapresiasikan kemurahan Ilahi yang demikian berlimpah laksana air bah di bulan ramadhan. Kendati jumlah bilangan harinya sama 29, namun bulan ini sama sekali tidak setara jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain dalam satu tahun. Semua kebajikan yang dikerjakan umat Islam pada bulan ini pahalanya di lipat gandakan hingga beberapa kali lipat, itu masih belum termasuk pahala puasanya sendiri. Atas dasar inilah, tidak berlebihan kiranya jika Rasulullah saw bersabda,

“Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, maka umatku akan berharap setahun itu bulan ramadhan (HR Ibnu Khusaimah)

Begitu sangat besar pahala puasa khususnya puasa ramadhan, rasulullah dan para sahabat sudah mempersiapkan diri selama 3 sampai 6 bulan. Terlebih pada bulan syahban ini, Rasulullah saw mempersiapkan dengan memperbanyak puasa pada bulan syahban ini.

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Dalam riwayat lain Aisyah berkata: “Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649)

Dari Ummu Salamah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, 2/239)

Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Hal ini selaras dengan hadits Aisyah yang telah ditulis di awal artikel ini, juga selaras dengan dalil-dalil lain seperti:

Dari Aisyah RA berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Bulan kelalaian

Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau SAW menjawab:

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Bulan menyirami amalan-amalan shalih

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat urgen sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinu. Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai. Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

Tentunya tidak ada kata terlambat bagi yang ingin berpuasa sekarang ini Ada beberapa cara puasa sunah yang dianjurkan di bulan Sya’ban, yaitu: Puasa Senin-Kamis setiap pekan ditambah puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 Sya’ban), atau puasa Daud, atau puasa lebih bayak dari itu dari tanggal 1-28 Sya’ban.

Sudah seharusnya sikap seorang muslim merasa gembira menyambut datangnya ramadhan. Karena baginya, bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal spiritual dan bertaubat dari semua dosa dan kesalahan. Ramadhan baginya adalah bulan bonus dimana Allah melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka segala sesuatunya dipersiapkan untuk menyambut dan mengisinya. Baik mental, ilmu, fisik, dan spiritual. Bahagia, karena di bulan terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api neraka. Dan itu merupakan kemenangan yang membahagiakan. Firman Allah,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Tapi ada juga manusia yang bersikap sebaliknya yaitu menyambutnya dengan sikap yang dingin. Tidak ada suka-cita dan bahagia. Baginya, Ramadhan tidak ada ubahnya dengan bulan-bulan lain. Orang seperti ini tidak bisa memanfaatkan Ramadhan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dosa dan kesalahan tidak membuatnya risau dan gelisah hingga tak ada upaya maksimal untuk menghapusnya dan menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk kembali kepada Allah.

Bahkan, ia sambut bulan Ramadhan dengan kebencian. Sebab bulan suci ini hanya akan menghambatnya melakukan dosa dan kemaksiatan, sebagaimana yang dilakukannya di bulan-bulan lain. Hatinya tertutup dan penuh benci kepada kebaikan. Menyaksikan kaum Muslimin berlomba-lomba dalam kebaikan, mengisi hari-hari mereka dengan ibadah adalah pemandangan yang tidak disukainya. Dan syetan telah menghembuskan kebencian dalam hatinya hingga Ramadhan bagai neraka baginya. Semoga kita dijauhkan dari sikap dan sifat ini.

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)

Ia tidak menggunakan akal dan hatinya untuk mencerna kebaikan yang berguna bagi kehidupannya. Padahal pada tradisi setiap masyarakat hari-hari tertentu atau bulan-bulan tertentu yang memiliki keistimewaan di banding hari dan bulan yang lain. Rasulullah menyambut bulan Ramadhan penuh perasaan bahagian dan suka-cita. Beliau ingatkan para sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal. Diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi bahwa Rasulullah berceramah di harapan para sahabat di akhir Sya’ban, beliau bersabda,

“Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Para sahabat dan salafus-shalih pun senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan persiapan mental dan spiritual. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan ia datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”

Diriwayatkan Anas bin Malik bahwa para sahabat Nabi saw jika melihat bulan sabit Sya’ban mereka serta merta meraih mushaf mereka dan membacanya. Kaum Muslimin mengeluarkan zakat harta mereka agar yang lemah menjadi kuat dan orang miskin mampu berpuasa di bulan Ramadhan. Para gubernur memanggil tawanan, barangsiapa yang meski dihukum segera mereka dihukum atau dibebaskan. Para pedagang pun bergerak untuk melunasi apa yang menjadi tanggungannya dan meminta apa yang menjadi hak mereka. Sampai ketika mereka melihat bulan sabit Ramadhan segera mereka mandi dan I’tikaf.”

Banyak membaca Al-Qur’an adalah salah satu kegiatan para salafus-shalih dalam menyiapkan diri mereka menyambut Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Bersedekah dan menunaikan semua kewajiban. Juga menunaikan semua tugas dan kewajiban sebelum datang Ramadhan. Sehingga bisa konsentrasi penuh dalam mengisi hari-hari Ramadhan tanpa terganggu oleh hal-hal lain di luar aktivitas ibadah di bulan suci ini.

Bukan dengan kegiatan fisik dan materi yang mereka siapkan, namun hati, jiwa, dan pikiran yang mereka hadapkan kepada Allah. Bukan sibuk dengan pakaian baru dan beragama makanan untuk persiapan lebaran yang mereka siapkan, namun semua makanan rohani dan pakaian takwa hingga mendapatkan janji Ramadhan.

Ibnu Mas’ud Al-Ghifari menceritakan, “Aku mendengar Rasulullah saw –suatu hari menjelang Ramadhan – bersabda, “Andai para hamba mengetahui apa itu Ramadhan tentu umatku akan berharap agar sepanjang tahun itu Ramadhan.”

Para salaf shalih adalah orang-orang yang selalu menantikan bulan ini. Mereka sangat berharap dapat menyempurnakan shaum dan ibadah shalat malam mereka serta memenuhi hari-hari dengan ketaatan dan ibadah. Di antara doa mereka seperti yang diucapkan oleh Yaha bin Abu Katsir, “Ya Allah selamatkanlah kami sampai datangnya Ramadhan dan serahkanlah Ramadhan. Bahkan para salafus shaleh setelah enam bulan masih berdoa agar amal ibadah di terima karena ketakutan tidak di terima

Keutamaan Berpuasa

1.  Dapat menyebabkan ketakwaan

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa“. (Al-Baqarah: 183)

2. Dapat pahala yang sangat besar

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata orang-orang yang berpuasa itu ada dua tingkatan salah satunya mereka meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Allah dan mengharap pahala di sisi-Nya sebagai ganti dan balasannya di surga. Ini adalah orang yang berdagang dengan Allah. Dan memang Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik, di samping juga tidak akan membuat rugi orang yang beramal. Bahkan Allah memberikan keuntungan, Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya engkau tidak meninggalkan sesuatu (berpuasa) karena ketakwaan kepada Allah melainkan Allah pasti akan memberimu yang lebih baik darinya (HR Imam Ahmad)

“Allah menyediakan ampunan dan pahala yang sangat besar bagi laki-laki muslim dan perempan muslim, laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, laki-laki yang taat dan perempan yang taat, laki-laki yang jujur dan perempuan yang jujur, laki-laki yang sabar dan perempuan yang sabar, laki-laki yang patuh dan perempuan yang patuh, laki-laki yang mengeluarkan shadaqah dan yang perempuan yang mengeluarkan shadaqah, laki-laki yang berpuasa dan perempuan yang berpuasa, laki-laki yang menjauhi zina dan perempan yang menjauhi zina, laki-laki yang banyak mengingat Allah dan perempuan yang banyak mengingat Allah. (QS. QS. AlAhzab [33]35)

Orang yang berpuasa di dalam surga nanti akan diberi makanan dan minuman apa saja yang mereka suka, dan juga wanita.

Para malaikat berkata para penghuni surga, “Silahkan kalian makan dan minum dengan senang hati. Karena selama hidup didunia dahulu kalian telah beramal shalih (QS. AL-Haqqah [69)24)

Mujahid dan lainnya mengatakan ayat ini turun mengenai orang-orang yang berpuasa.

3. Puasa sebagai perisai api neraka

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa satu hari fisabilillah (hanya karena Allah), maka Allah akan menjadikan pairt antara dia dan api nerka (selebar) antara langit dan bumi

Jabir meriyatakan Rasulullah saw bersabda, “Puasa adalah benteng yang sangat kokoh, dengan benteng itulah seorang hamba dapat membentengi dirinya (HR Ahmad)

Mua’adz bin jabal meriwayatkan Rasulullah saw bertanya kepada Mua’dz, “Maukah kamu aku tunjukkan beberapa pintu kebaikan?” Mu’adz berkata, “Mau, Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda, “Puasa adalah adalah perisai dan sedekah dapat memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api (HR, Ibnu Hibban)

4. Dapat masuk surga dari pintu Ar-Rayyan

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga ada satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan, dimana pada hari kiamat, orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu itu. Tidak ada orang lain selain mereka yang akan masuk pintu itu. Pada saat itu, akan ditanyakan, “Mana orang-orang yang berpuasa? Mereka pun bangkit lalu masuk ke surga melalui pintu itu. Ketika mereka telah masuk, pintu itu akan ditutup kembali, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat melaluinya (HR Bukhari Muslim)

5. Bahwa pahala orang yang berpuasa sangatlah besar, saking besarnya, tidak ada siapa pun yang mengetahuinya selain Allah SWT. Abu Hurairah meriwayatkan dalam hadist qudsi yang bunyinya, “Semua amal anak Adam itu untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kalian sedang berpuasa, janganlah bicara kotor dan jangan marah. Jika kalian dicaci atau dipukul oleh seseorang, katakanlah, “Aku sedang berpuasa.’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, bau mulut orang berpuasa, lebih harum disisi Allah dari bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; pertama, ketika berbuka, kedua ketika dia bertemu dengan Tuhannya, dia gembira dengan pahala puasanya (HR. Bukhari & Muslim)

Maksudnya adalah, orang yang berpuasa akan diberi balasan, karena puasa merupakan bagian dari kesabaran. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (az-Zumar [39]10)

Maksud dari dari “puasa untuk-Ku adalah puasa adalah merupakan ibadah yang paling Kucintai dan Kusukai. Firman ini cukup menjadi bukti keutamaan puasa atas ibadah-ibadah yang lain.

6. Puasa tidak ada bandingannya

Abu umamah berkata kepada Rasulullah, “Rasulullah perintahkan aku mengerjakan satu amalan.” Rasulullah saw bersabda, “Berpuasalah, karena puasa tidak ada bandingannya.” Abu Umamah berkata demikian hingga tiga kali dan dijawab oleh Rasulullah dengan jawaban yang sama (HR Ibnu Khuszaimah)

7. Bau tidak sedap dari mulut orang yang sedang berpuasa lebih wangi baunya besok di hari kiamat dari minyak misk

Semua amal anak Adam itu untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kalian sedang berpuasa, janganlah bicara kotor dan jangan marah. Jika kalian dicaci atau dipukul oleh seseorang, katakanlah, “Aku sedang berpuasa.’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, bau mulut orang berpuasa, lebih harum disisi Allah dari bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; pertama, ketika berbuka, kedua ketika dia bertemu dengan Tuhannya, dia gembira dengan pahala puasanya (HR. Bukhari & Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Orang yang berpuasa pastilah mulutnya akan mengeluarkan bau yang tidak sedap bagi manusia, sebab perutnya sedang kosong, akan tetapi, karena hal ini terjadi dalam rangka taat kepada Allah SWT, maka di sisi Allah SWT adalah lebih wangi daripada bau misik, sama halnya dengan darah orang yang mati syahid, pada hari kiamat ia akan menghadap Allah SWT dengan luka-luka yang dideritanya, warnanya warna darah, namun bau yang dikeluarkannya lebih wangi daripada minyak misik”. (Lathaiful Ma’arif, h. 277).

Lebih lanjut Ibnu Rajab menjelaskan:

“Bau wangi mulut orang yang berpuasa di sisi Allah SWT itu mempunyai dua arti, yaitu:

(1) Karena puasa adalah sesuatu yang rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT di dunia, maka di akhirat Allah SWT akan menampakkannya secara terbuka di hadapan semua makhluq.

(2) Siapa saja yang taat kepada Allah SWT, lalu dari ketaatannya ini muncul hal-hal yang oleh manusia tidak disukai, maka sesungguhnya segala hal yang muncul darinya yang tidak disukai manusia itu adalah sesuatu yang disukai Allah SWT di akhirat”. (Lathaiful Ma’arif dengan diringkas).

8. Puasa pelebur dosa dan kesalahan

Puasa merupakan penghapus dosa, hal ini terekam dalam hadist riwayat Hudzaifah, “Fitnah (dosa) seseorang yang disebabkan kerena sikapnya) terhadap keluarga, harta, dan tetangganya dapat dihapus oleh ibadah salat, puasa dan sedekah (HR Bukhari)

9. Puasa dapat menolong atau memberi syafaat kepada orang yang melaksanakannya.

Abdullah bin Amri meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Puasa dan al-Qur’an dapat memberikan syafaat kepada seseorang hari kiamat nanti. Puasa berkata, “Tuhanku aku larang dia untuk makan, minum dan dia tahan syahfatnya, maka berilah aku syahfaat untuknya. Al-Qur’an juga berkata, “Aku larang dia tidur di malam hari, berilah aku syahfaat untuknya.” Kemudian mereka berdua diberi syafaat (HR. Ahmad)

10. Orang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan

Semua amal anak Adam itu untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kalian sedang berpuasa, janganlah bicara kotor dan jangan marah. Jika kalian dicaci atau dipukul oleh seseorang, katakanlah, “Aku sedang berpuasa.’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, bau mulut orang berpuasa, lebih harum disisi Allah dari bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; pertama, ketika berbuka, kedua ketika dia bertemu dengan Tuhannya, dia gembira dengan pahala puasanya (HR. Bukhari & Muslim)

Siapa yang menjalankan puasa atas perintah Allah dengan menahan diri syhahwatnya di dunia maka ia kelak akan mendapatkannya di surga. Siapa yang berpuasa semata karena Allah, maka hari rayanya adalah pada hari ketika ia bertemu dengan-Nya

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ( Al-Ankabut29]5)

11. Doa orang berpuasa tidak ditolak

Ada tiga golongan doa mereka yang tidak akan tertolak; orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yag dizalimi. Allah mengangkat doa mereka di atas awan lalu membukakan untuknya pintu-pintu langit, lalu Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu walau bebearpa saat kemudian (HR Ahmad & Tirmidzi)

12. Puasa amalan yang menyebabkan masuk surga

Rasulullah saw bersabda, “Siapa  diantara kalian yang berpuasa pada hari ini? Abu Bakar menjawab; “Saya”. Beliau bertanya lagi; “Siapa di antara kalian yang pada hari ini mengiringi jenazah? Abu Bakar menjawab; “Saya”. Siapa diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab; “Saya”. Nabi bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang pada hari ini teleh menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab; “Saya”. Nabi saw menjawab, “Tidaklah amalan-amalan itu terhimpun pada diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.

13. Puasa Ramadhan menghapus dosa-dosa yang telah berlalu. Rasulullah –

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan karena mengharap pahala di sisi Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni‘”. (Muttafaqun ‘alaih).

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus-penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi’”. (H.R. Muslim).

14. Setiap hari para malaikat memintakan pengampunan bagi orang-orang yang berpuasa.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda: “Pada bulan Ramadhan umatku diberi lima hal yang tidak pernah diberikan kepada umat sebelumnya; bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah SWT daripada minyak misik, para malaikat memintakan pengampunan untuk mereka sehingga mereka berbuka, setiap hari Allah SWT mempercantik surga, kemudian berfirman: “hampir-hampir para hama-Ku yang shalih mendapati berbagai beban dan rasa sakit, dan akhirnya mereka sampai kepadamu (surga), para syetan dibelenggu, sehingga mereka tidak mampu mencapai sesuatu yang di luar Ramadhan mereka mampu mencapainya, dan pada akhir Ramadhan Allah SWT memberikan pengampunan, ditanyakan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- apakah malam yang dimaksud adalah lailatul qadar? Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: bukan, akan tetapi, setiap pekerja jika telah menyelesaikan kerjanya niscaya akan diberikan upahnya secara penuh”. (H. R. Ahmad).

Kaab bin Ujawah meriayatkan Rasulullah saw bersabda, “Datanglah ke mimbar.” Kemudian kami mendatangi mimbar, ketika Rasulullah menaiki anak tangga, beliau membaca, amin, ketika naik tangga kedua, baliau membaca amin, ketika naik tangga ketiga, beliau juga membaca amin. Setelah turun kami beratanya, “Rasulullah, hari ini, kami mendengar sesuatu yang belim pernah kami kami dengar sebelumnya. Rasulullah saw bersabda, “Jibril telah datang kepadaku, dia berkata, “Sangat rugi orang yang masih bertemu dengan Ramadhan tidak mendapat ampunan. “Aku membaca amin. Ketika menaiki anak tangga kedua, dia berkata, “Sangat rugi orang yang tidak bershalawat, katika nama Rasululllah disebut dihadapannya. Aku membaca amin. Ketika menaiki anak tangga ketiga, dia berkata, “Sangat rugi orang yang masih bertemu dengan kedua orangtuanya di kala berusia lanjut atau salah satunya, namun orang itu tidak masuk surga.” Aku berkata, amin (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

15. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, siapa saja yang mendapatkannya berarti ia telah mendapatkan segala kebaikan dan siapa yang terhalang untuk mendapatkannya berarti ia benar-benar orang yang terhalang dari segala kebaikan.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang membawa berkah, Allah SWT telah mewajibkan puasa pada siang harinya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti benar-benar terhalang”. (H.R. An-Nasa-i).

16. Pada setiap malam Ramadhan ada orang-orang yang dibebaskan Allah SWT dari neraka.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Jika awal Ramadhan tiba, syetan-syetan dan jin-jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, sehingga tidak satu pun pintu yang dibuka, dan pintu-pintu surga dibuka, sehingga tidak satu pun ditutup, dan ada seorang penyeru berkumandang: ‘Wahai para pencari kebaikan, silakan datang dan wahai pencari keburukan silakan surut, dan Allah SWT mempunyai orang-orang yang dimerdekakan dari neraka, dan hal ini terjadi pada setiap malam’”. (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

17. Mendahului syahid masuk ke surga

Diriwayatkan Thalhah bin Ubaikillah bahwasanya ada dua orang dari suku Baly menghadap kepada Rasulullah saw dan keduanya masuk islam secara bersamaan. Salah satu di antaranya terkenal sangat besungguh-sungguh. Suatu saat, dia ikut berperang dan syahid. Sedangkan satunya lagi masih hidup selama satu tahu dan setelah itu dia meninggal.

Thalhah berkata, “Aku telah bermimpi dan aku sedang berada di pintu surga, ketika kedua lelaki itu datang, seseorang keluar dari surga. Kemudian salah seorang lelaki meninggal terekhir disuruh masuk ke surga terlebih dahulu, kemudian dia keluar lagi. Setleah itu, giliran orang yang mati syahid untuk masuk surga, dan dia kembali kepadaku seraya berkta, “Kembalilah, kamu masih belum terlambat.”

Keesoakan harinya, Thalhah memberithau kepada orang-orang dan semuanya merasa heran atas peristiwa ini. Dan akhirnya peristiwa ini disampaikan kepada Rasuilullah, sedangkan orang-orang telah menceritakan peristiwa itu. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, satu orang ini terkenal sangat sungguh-sungguh dan akhirnya mati syahid, tetapi mengapa terakihir masuk surga? Rasulullah saw bersabda, “Bukankah orang terakhir seteleh kematian orang pertama telah hidup selama satu tahun? Sahabat menjawab, “Benar, wahai Rasulullah. Nabi melanjutkan, “Dia juga masih bisa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan shalat ini dan itu selama satu tahun? Sahabat menjawab, “Benar, wahai Rasulullah. Rasululullah berkata, “Jarak di antara kedua orang tersebut lebih jauh dibandingkan antara langit dan bumi.

Dengan mengetahui keistimewaan-keistimewaan ini, niscaya akan terbangun semangat dan motivasi kita untuk memperbanyak ibadah pada bulan yang mulia ini.

Allah SWT berfirman:

Dan pada yang demikian ini hendaklah orang-orang saling berkompetisi (Q.S. Al-Muthaffifin: 26).

Semoga Allah SWT berikan taufiq, hidayah dan kekuatan kepada kita semua untuk bisa memaksimalkan bulan Ramadhan tahun ini, dan semoga kita semua diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan ba’da Ramadhan dalam keadaan yang terbaik, amin. Allahu A’lam.

Penulis ; abu azzam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s