Berbakti kepada orang tua

Sebenarnya akan sangat tidak tepat jika merayakan hari ibu cuma sekali dalam setahun hari ibu seperti sekarang yang biasanya diadakan pada tanggal 22 97blogger-image-704092098desember. Seharusnya setiap saat dalam hidup seorang anak, berbakti kepada orang tua dilakukan tiap saat, saat kesempatan ibu bapak masih hidup dan meninggal dunia. Apalagi jika penghormatan hanya di lakukan dengan upacara atau kegiatan serimonial saja. Tak akan berbekas dan membentuk karakter seorang anak yang menghormati, berbuat baik, menyayangi dan setiap saat mendoakan ibu dan bapaknya agar diampuni dosanya, di jauhkan dari siksa kubur dan neraka dan di masukkan ke surga. Kewajiban anak kepada orang tua dijelaskan dalam Al-Quran

Ibnu abbas berkata ada tiga ayat yang diturunkan oleh Allah secara berpasang-pasangan isinya, salah satu darinya tidak diterima tanpa disertai dengan pasangannya

  1. Barangsiapa yang taat kepada Allah swt akan tetapi mereka tidak taat kepada Rasulullah saw, maka ketaatannya tersebut tidak akan diterima

Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya (QS an-Nur 54, Muhammad 33 dan at-Taghabun 12)

  1. Barangsiapa yang melaksanakan shalat, akan tetapi ia tidak menunaikan zakat, maka amal perbuatannya itu tidak akan diterima

Dan dirikanlah shalat, serta tunaikanlah zakat (al-Baqarah 63, 83, dan 110) (an-Nisa 77) (al-Hajj 78) (an-Nur 56) (al-Mujahilah 13) dan Muzzammil 20)

  1. Barangsiapa taat kepada Allah swt tetapi tidak taat kepada ibu bapaknya maka ketaatan tidak diterima Allah.

Hendaklah kamu taat kepada-Ku dalam menggunakan nikmat dari-Ku dan taatlah kepada ibu bapakmu. Kepada-Kulah kalian akan kembali (QS Luqman [31]14)

Rasulullah saw bersabda, “Keridhaan Allah swt itu terletak pada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah swt itu terletak pada murka kedua orang tuanya (HR Muslim)

Berbuat baik kepada keduanya ketika mereka telah lanjut usia

Allah berfirman, Wahai Muhammad, Tuhanmu telah menetapkan, “Janganlah kamu menyembah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak kamu. Jika ibu bapak kamu, salah satu dari keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaan kamu, janganlah kamu berkata, “ah” kepada mereka dan janganlah membentak mereka. Akan tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang menyenangkan mereka. Tundukan dirimu kepada ibu bapakmu dengan sikap rendah hati lantaran kasih sayang dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, kasih sayangilah ibu bapakku, sebagaimana mereka telah memeliharaku dengan kasih sayang sewaktu aku masih kecil (QS Al-Israa [7]23-24)

Imam Qurtubi mengatakan bahwa saat memasuki usia senja, orang tua sangat membutuhkan bantuan anak, sebab ia merasa dirinya semakin lemah. Berdasarkan pertimbangan tersebut, al-Qur’an mewajibkan seorang anak untuk lebih peduli kepada orangtua yang sudah berusia lanjut, orang tua menjadi tanggung jawab anak. Seorang anak wajib memenuhi kebutuhan orangtua seperti ketika mereka memenuhi kebutuhan semasa kecil. Oleh karena itu, penyebutan orangtua lanjut usia mendapat prioritas utama dalam ayat tersebut.

Seorang yang hidup bersama orang tua dalam waktu yang lama, biasanya melahirkan rasa berat hati, bosan dan kekhawatiran. Dalam kondisi ini tidak jarang seorang anak menumpahkan kekesalan dan kemarahan pada orangtua. Tingkat terendah dari perlaku buruk yang dilarang oleh agama adalah menumpahkan dan mengungkapkan kekesalan dengan kata “ah”. Jangan mengatakan kata-kata buruk, kotor, keji dan kata-kata sejenisnya yang mengandung keburukan di dalamnya, merendahkan diri kepada kedua orang kita dengan amal perbuatan kita.

Abu Hurairah ra meriwayatkan sabda Rasulullah saw, “Terhinalah dia, terhinalah dia, terhinalah dia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah gerangan dia wahai Rasululah? Rasulullah saw menjawab, “Siapa yang mendapati salah seorang dari ibu bapaknya atau keduanya di usia lanjut namun keduanya tidak dapat menjadikan dirinya masuk surga (HR Muslim)

Abu Hurairah ra menuturkan sabda Rasulullah saw, “Terhinalah yang tidak bershalawat kepadaku saat namaku disebut di hadapannya. Terhinalah orang yang mendapati ayah ibunya atau salah seorang diantara keduanya di usia lanjut namun keduanya tidak menjadikan penyebab dirinya masuk surga. Terhinalah orang yang mendapati bulan Ramadhan, namun dosanya tidak diampuni hingga bulan itu berlalu (HR Bukhari)

Sa’ad bin Ishaq bin Ka’ab bin Ujarah as-Salimi meriwayatkan bahwa Ka’an bin Ujrah menuturkan, “Suatu ketika Rasulullah saw memerintahkan, “Siapkanlah mimbar! Ketika Rasulullah menaiki mimbar, ditangga pertama beliau berkata, ‘amin, ditangga kedua beliu juga berkata, ‘amin.’ Dan ditangga ketiga beliau juga mengatkan, ‘amin.’. Selesai Khotbah dan menuruni mimbar, kami bertanya, Wahai Rasulullah sungguh kami mendengarmu mengatakan sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Rasulullah saw bertanya, ‘Benarkah kamu sekalian mendengarnya? ‘Benar’, jawab kami. Rasulullah saw bersabda, ‘Jibril alaihissalam menghadangku seraya berkata, “Jauh dari rahmat Allah orang yang hadir dalam bulan Ramadhan namun dosanya tidak diampuni. Maka aku mengatakan ‘amin.’ Ketika aku aku menginjak tangga kedua, Jibril berkata, ‘Jauh dari rahmat orang yang ketika namaku disebut di hadapannya tetapi dia tidak mengucap shalawat atas dirmu. Aku pun berkata, ‘amin’. Dan ketika aku menaiki tangga ketiga, Jibril berkata, ‘Jauh dari rahmat Allah siapa yang mendapati kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya dimasa tua tetapi mereka tidak dapat menjadikannya penyebab masuk surga.’ Maka aku pun berkata, ‘amin’.

Allah menetapkan agar kita berbuat baik kepada orang tua sepanjang hidupnya

Allah berfirman “Kami telah perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan sudah payah lalu melahirkannya dengan sudah payah. Ibunya mengandung dan menyusuinya selama tiga belas bulan. Ketika anak itu dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun, dia berdoa, “Wahai Tuhanku berilah petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu bapakku. Jadikanlah aku orang yang beramal shalih yang Engkau ridhai. Berikanlah kebaikan kepadaku dan kepada anak keturunanku. Sungguh aku sekarang bertaubat kepada-Mu. Sungguh aku menjadi golongan orang-orang yang taat kepada syariat-Mu (QS Al-Ahqaf [46]15-16)

Berbuat baik kepada keduanya setelah mereka meninggal dunia.

Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, kasih sayangilah ibu bapakku, sebagaimana mereka telah memeliharaku dengan kasih sayang sewaktu aku masih kecil (QS Al-Israa [7]23-24)

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan (QS Nuh71]19)

Rasulullah saw pernah ditanya oleh para sahabat tentang pengabdian anak kepada kedua orang tuanya setelah mereka meniggal dunia, lalu Rasulullah saw bersabda, “Yaitu hendaknya engkau mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, membayarkan hutang-hutang keduanya, menunaikan janji-janji keduanya, menghormati teman-teman keduanya dan menyambung tali silaturrahim yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya.

Rasulullah berabda “Apabila manusia sudah meninggal akan terputuslah segal amalnya kecuali tiga perkara yang akan tetap mengalir, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang selalu setia mendoakannya (HR Muslim)

Abdullah bin Umar menceritakan bahwa seorang lelaki Badui menemuinya dijalan menuju Mekah. Abdullah mengucapkan salam kepadanya dan menaikannya ke keledai yang dia tunggangi. Sorban yang dia pakai berikan kepada Badui itu. Ibu Dinar berkata “Kami berkata kepadanya, “Kiranya Allah akan menjadikan engkau sebagai orang yang baik. Mereka itu adalah orang Badui yang akan merasa cukup bila diberi sedikit.

Abdullah berkata “Sesungguhnya ayah lelaki ini adalah teman dekat Umar bin Khatab dan aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesugguhnya di antara bakti yang istimewa adalah bila seorang anak menjalin hubungan dengan teman-teman dekat ayahnya (HR Bukhari)

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh ada seseorang yang derajatnya di Jannah terus dinaikkan oleh Allah, orang tersebut bertanya, “Bagaimana saya bisa seperti ini? Maka dikatakan kepadanya, “Karena istighfar yang dipanjatkan anakmu untukmu (HR Ahmad & Ibnu Majah)

Allah berfirman, “Kami telah memerintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah lemah dan menyapihnya ketika usia dua tahun. Hendaklah kamu taat kepada-Ku dalam menggunakan nikmat-Ku dan taatlah kepada ibu bapakmu. Kepada-Kulah kalian akan kembali. Jika ibu bapakmu, mengajakmu untuk menyekutukan Aku, padahal kamu tidak punya sedikit pun bukit adanya tuhan selain Aku, janganlah kamu taat kepada mereka. Sekalipun demikian, bergaulah dengan ibu bapakmu di dunia ini dengan cara-cara yang baik. Ikutilah agama orang-orang yang bertaubat kepada-Ku. Kepada-Kulah kelak kamu akan dikembalikan. Diakherat kelak, Aku akan memberitahukan kepadamu segala perbuatan yang telah kamu lakukan didunia. (QS Luqman [31]14)

Maksud ayat diatas si ibu telah mengandung selama kurang lebih sembilan bulan, dimana dalam kondisi terebut dia dalam keadaan sangat lemah karena janin atau bakal bayi dirahimnya. Setelah sudah payah mengandung janin dalam perutnya, si ibu harus menghadapi masa krisis saat melahirkan. Dalam kondisi seperti ini, nyawa si ibu menjadi taruhannya. Si ibu berjuang agar hidup dan mati agar bayi yang dikandungnya lahir dalam keadaan selamat. Tidak jarang, si ibu rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan bayi yang dikandungnya. Setelah bayi lahir dari rahimnya, si ibu kembali berjuang selama dua tahun untuk menyusui anaknya. Inilah pengorbanan yang sangat besar dari seorang ibu, hingga pantas dia mendapatkan penghormatan, kasih sayang dan derma bakti dari anak-anaknya.

Maksudnya, bila ibu dan bapak atau salah satu dari seorang keduanya menyekutukan Allah swt atau kafir, maka si anak tidak boleh mengikuti ritualitas dan kebiasaan mereka yang menyimpang dari ajaran Allah. Dalam keadaan seperti ini, ketaatan si anak kepada ibu bapaknya, terbatas dalam hal-hal muamalah, yaitu memperlakukan mereka berdua dengan baik berkata santun dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jadi bukan dalam hal keyakinan dan ibadah ritual ibu dan bapak tersebut yang menyimpang dari ajaran Allah swt.

 

Allah perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu bapak

Allah berfirman,Wahai manusia Kami perintahkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu bapak kalian. Jika ibu bapak kamu mengajakmu untuk menyembah tuhan-tuhan selain Aku, padahal akalmu tidak dapat membenarkan perbuatan syirik itu, janganlah kamu taati ibu bapakmu itu. Kalian pasti kembali kepada-Ku. Aku akan memberitahukan kepada kalian segala perbuatan yang telah kalian lakukan didunia (QS Al-Ankabut [29]8)

Maksudnya Allah memerintahkan agar kita berbuat baik kepada kedua orang tua. Sesungguhnya orang tua adalah penyebab kebaradaan umat manusia

Dalam ayat diatas Allah menyarankannya secara umum yaitu untuk seluruh manusia bukan hanya terbatas pada orang-orang beriman. Sebab, masalah kelahiran anak-anak itu, bukan hanya terbatas pada keluarga orang-orang beriman, tetapi juga pada keluarga yang tidak beriman. Secara implisit, bahwa banyak dari keluarga orang-orang kafir terlahir anak-anak yang kemudian hari beriman dan bertakwa kepada Allah. Bahkan ada yang menjadi seperti Nabi Ibarahim

Ayat tersebut diturunkan berkenan dengan Sa’ad bin Abu Waqqasah dan yang semisalnya, ketika ia masuk Islam dan ibunya menjadi marah kepadanya. Ibunya mengancam akan mogok seakan makan sampai Sa’ad kembali ke agama nenek moyangnya. Orang-orang Arab mencelanya dan berkata, “Anak yang membunuh ibunya sendiri.” Akan tetapi Sa’ad bin Abu Waqqash tidak goyah sedikti pun dengan ancaman ibunya, bahkan justru berkata, Wahai Ibu, demi Allah, jika engkau memiliki seratus nyawa lalu keluar satu persatu dari dirimu, maka selama-lamanya aku tidak akan meninggalkan agama ini. Lalu turunlah ayat tersebut.

Perintah berbakti kepada kedua orang tua disebutkan secara langsung setelah perintah menyembah Allah.

Allah berfirman, “Wahai kaum mukmin, taatlah kalian kepada Allah. Janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan siapapun. Berbuat baiklah kalian kepada ibu bapak, kaum kerabat dekat, tetangga yang masih kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga bukan kerabat, teman dekat, orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya dan budak-budak kalian. Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri dengan kekayaannya. (QS An-Nisa[4]36)

Allah berfirman,Wahai Bani Israil, ingatlah tatkala Kami mengadakan perjanjian dengan kalian agar kalian taat hanya kepada Allah semata, berbuat baik kepada Ibu Bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, kaum miskin, serta berkata yang baik kepada manusia melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat. Kemudian ternyata kalian melanggar perjanjian itu, kecuali sedikit sekali dari kalian yang tetap taat. Kalian selalu menyalahi janji. (QS Al-Baqarah 83)

Berbuat baik kepada kedua orang tua mendurhakai urutan teratas dari sepuluh wasiat sesudah wasiat tauhid

Allah berfirman,Wahai Muhammad, katakanlah kepada kaum musyik Qurasiy; “Kemarilah kalian. Aku akan membacakan kepada kalian apa-apa yang Tuhan haramkan bagi kalian. Yang diharamkan adalah menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Kalian diwajibkan untuk berbuat baik kepada ibu bapak. Kalian diharamkan membunuh anak-anak kalian karena takut melarat. Allah lah yang memberi rezeki kepada kalian dan anak-anak kalian. Kalian diharamkan mendekati zina, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kalian diharamkan membunuh jiwa yang Allah telah haramkan membunuhnya, kecuali ada alasan yang benar, demikianlah Allah mengajarkan syariat-Nya kepada kalian supaya kalian mau berpikir (QS Al-An’am[6]151)

Berbakti kepada kedua orang tua adalah akhlak para nabi dan orang-orang shaleh

Inilah kisah nabi Nuh As yang telah Allah ceitakan kepada kita, bagaiaman rasa baktinya kepada kedua ibu bapaknya. Nabi Nuh As pernah mendoakan dan memintakan ampun untuk mereka, Allah berfirman, Wahai Tuhanku Ampunilah diriku dan kedua orang tuaku serta siapa saja yang masuk ke dalam perahuku dengan hati yang beriman baik laki-laki maupun perempuan. Sungguh orang-orang kafir itu hanya akan mendapatkan kerugian di ahirat (QS Nuh[71]28)

Allah swt memuji Nabi Yahya ibn Zakariya, yang tidak pernah membangkang atau menyakiti orang tuanya. Dia memperlakukan dengan baik. Baik dalam berbicara ataupun dalam sikap tingkah laku.

Allah berfirman, “Wahai Yahya, peganglah kitab Tuarat ini dengan sungguh-sungguh.” Kami akan memberikan pengetahuan syariat kepada Yahya ketika ia masih kecil. Kami memberikan kepada Yahya kasih sayang dan jiwa yang bersih dari sisi Kamu, Sehingga ia menjadi orang yang taat dan bertauhid. Yahya berbakti kepada ibu bapaknya dan ia tidak menjadi orang yang durhaka lagi keras kepala kepada ibu bapaknya. Yahya memperoleh hidup sejahtera mulai ia dilahirkan sampai saat ia mati dan saat ia dibangkitkan dari kuburnya. (QS Maryam[19]12-15)

Pujian serupa juga diberikan kepada Nabi Isa a.s.

Bayi itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Aku kelak akan diberi Kitab dan aku kelak akan dijadikan seorang nabi. Aku akan dijadikan orang yang membawa keberuntungan di mana pun aku berada. Tuhanku telah memberi pesan kepadaku untuk melaksankan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. Aku diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibuku dan Tuhanku tidaklah menjadikan aku sebagai seorang pendurhaka lagi celaka (QS Maryam[19]30-32)

Perhatikan saat dialog Nabi Ibarahim kepada ayahnya yang masih kafir, dengan memanggil dengan lemah lembut, “Ayahandaku”. Tetapi saat berpaling, mengancam, memukul dan mengusir dirinya, Ibrahim hanya berkata

Wahai Muhammad, ceritakanlah kisah Ibrahim yang ada dalam Al-Qur’an. Sungguh Ibrahim adalah seorang yang sangat mempercayai hal ghaib, lagi seorang nabi. Wahai Muhammad, ingatlh tatkala Ibrhaim berkata kepada bapaknya, “Wahai ayahku tersayang, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, dan sama sekali tidak memberi manfaat kepadamu? Wahai ayahku tersayang sungguh telah datang ilmu kepadaku dari Tuhanku, Ilmu itu tidak diberikan kepada engkau. Oleh karena itu, ikutilah aku. Aku akan memberi engkau petunjuk kepada Islam, agama yang benar. Wahai ayahku tersayang, janganlah engkau mengikuti ajakan setan untuk durhaka kepada Allah. Sungguh setan sangat durhaka kepada Tuhan Yang Mahabelas kasih. Wahai ayahku tersayang, sungguh aku khawatirkan kelak engkau akan mendapatkan siksa dari Tuhan yang Mahabelas kasih karena engkau jadikan setan sebagai kawan. (QS Maryam 41-45)

Semoga keselamatan dilimpahan kepadamu. Aku akan meminta ampun bagiku kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku (Maryam[29] 47)

Sungguhnya beliau telah berbicara kepada ayahnya dengan kata-kata yang memberi bekas dan ungkapan-ungkapan kasih sayang yang menyentuh hati

Allah swt juga memuji Isa putera Maryam

Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya dan bukanlah dia orang yang sombong lagi durhaka (Maryam[19]14)

Wasiat Allah tentang orang tua dalam kitab taurat

Allah berfirman, “Wahai anak Adam, Aku telah menjadikan tempat tinggal bagimu dalam perut ibunu dan Aku tutupi wajahmu dengan suatu penutup agar supaya engkau tidak merasa takut dengan rahim dan Aku jadikan wajahmu menghadap ke belakang punggung ibumu supaya engkau tidak terganggu dengan bau makanan. Dan Aku jadikan untukmu tempat sandaran di sebelah kananmu dan tempat sandaran di sebelah kirimu adapun yang disebelah adalah limpa. Dan Aku ajar engkau cara berdiri dan duduk dalam perut ibumu, maka adakah yang mampu melakukan hal itu selain Aku? Dan ketika masa kehamilanmu telah sempurna, maka Aku perintahkan kepada malaikat yang bertugas mengisi masalah rahim untuk mengeluarkanmu, lalu ia pun mengeluarkanmu di atas satu bulu sayapnya, dimana engkau belum memiliki gigi untuk menggigit, tangan untuk memukul dan kaki untuk berjalan. Dan Aku berikan kepadamu dua pembulu yang tipis dalam dada ibumu sebagai tempat mengalirnya air susu yang segar untukmu, yang hangat ketika musim dingin dan dingin ketika musim panas. Dan Aku limpahkan rasa cinta kepadamu dalam lubuk sanubari kedua orang tuamu, sehingga mereka pun tidak bisa kenyang sebelum engkau kenyang dan tidak bisa tidur sebelum engkau tidur. Namun ketika tulang punggungmu mulai menguat dan kekuatanmu semakin bertambah besar engkau berani menantang-Ku dengan kemaksiatan dan bersandar kepada para makhluk dan tidak mau bersandar kepada-Ku. Dan engkau tutupi dirimu dari yang melihatmu dan menantang-Ku dengan kemaksiatan dalam kesendirianmu dan sedikit pun engkau tidak merasa malu dengan-Ku. Namun demikian, apabila engkau mau berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan doamu dan apabila engkau mau meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan permintaanmu dan apabila engkau mau bertobat kepada-Ku niscaya akan Aku terima taubatmu….bersambung

Abu Azzam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s