Puasa-puasa ini Menunggu Ditunaikan Paska Ramadhan

Bulan Ramadhan akrab dengan bulan tempat Muslim berpuasa. Tapi, hal ini tidak menjadikan bulan atau hari-hari di luar Ramadhan sepi dari puasa. Islam memberikan jalan pahala bagi mereka yang ingin meraihnya. Yaitu, puasa-puasa Sunah yang dapat dikerjakan selepas Ramadhan.

Dalam hal ini, puasa sunnah sendiri terbagi menjadi dua. Yaitu Puasa Sunah mutlak dan terbatas. Puasa Sunah mutlak, yaitu apa yang disebutkan dalam nash-nash tanpa batasan waktu atau zaman tertentu. Sedangkan puasa sunah terbatas, yaitu apa yang disebutkan dalam nash-nash dengan batasan zaman atau waktu tertentu.

Agar lebih mengerti tentang macam dari puasa sunnah terbatas, maka kami sebutkan di bawah ini:

Satu: Puasa enam hari di bulan Syawal

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkannya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka itu seperti puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata, “Yang lebih utama adalah puasa enam hari dikerjakan secara berurutan setelah Idul Fitri. Namun, bila orang mengerjakannya secara terpisah, atau menundanya hingga akhir bulan Syawal, maka ia telah meraih keutamaan mutaba’ah (mengikutkan puasa Syawal). Karena, ia telah memenuhi kriteria tersebut dengan mengikutkan enam hari di bulan Syawal. Ulama mengatakan, ‘Bahwa puasa tersebut seperti puasa setahun karena satu kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya; Ramadhan itu laksana sepuluh bulan dan enam hari itu laksana dua bulan’.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim: VIII/ 304)

Dua: Puasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

“Tiada ada hari yang lebih dicintai Allah Ta’ala untuk beramal saleh daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”  Rasul menjawab, “Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali jika ia keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi.” (HR. Bukhari)

Tiga: Puasa Arafah bagi orang yang tidak berhaji

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

“Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim dari penggalan hadits yang panjang)

Empat: Puasa pada bulan Muharram

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Puasa-puasa pada bulan Muharram adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan bagi mereka yang hanya berpuasa pada bulan itu saja. Adapun bagi orang yang berpuasa secara kontinu maka puasa yang paling utama adalah puasa Dawud, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari. (Ash-Shiyam min Syarhil ‘Umdah II/ 548)

Lima: Puasa Asyura dan puasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

”Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad menyebutkan tiga tingkatan puasa Asyura ini:

  1. Melengkapi puasa dengan puasa sehari sebelumnya dan sesudahnya. (Jadi, berpuasa tiga hari: tanggal 9, 10, dan 11 Muharram).
  2. Berpuasa pada tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 (Asyura) sebagaimana yang paling banyak disebutkan dalam hadits.
  3. Hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Enam: Puasa bulan Sya’ban.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuh: Puasa Senin dan Kamis

Dalam hadits disebutkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ

“Nabi biasa memilih untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis.”(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i: II/ 54, Irwa’ul Ghalil: IV/ 105, dan kitab-kitab lainnya)

Delapan: Puasa tiga hari tiap bulan, terutama Ayyamul Bidh

Dalam hal ini ada dua bentuk:

  1. Puasa tiga hari tiap bulan tanpa batasan waktu tertentu.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku –Rasulullah—mewasiatkan padaku tiga hal (yang tidak aku tinggalkan hingga mati): Berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat Dhuha, mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari)

  1. Puasa tiga hari tiap bulan dengan batasan waktu tertentu, yaitu pada hari-hari putih (ayyamul bidh)

hadits Milhan Al-Qaisi yang berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ: ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ, قَالَ: وَقَالَ: هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

“Rasulullah biasa memerintahkan kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu hari ke 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Milhan melanjutkan, ‘Itu seperti (puasa) dahr – satu bulan.” (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i: II/ 160. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud: II/ 81)

Sembilan: Berpuasa sehari dan berbuka sehari secara kontinu

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Nabi Dawud dan puasa yang paling Allah cintai adalah puasanya Nabi Dawud. Nabi Dawud tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Dawud itu berpuasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” (HR. Bukhari)

Editor: Rudy

Disadur dari Buku Pintar Puasa Sunnah karya Dr. Sa’id Al-Qahtan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s