KEMULIAAN HANYA MILIK ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Di antara hal lain yang menjadikan para pengikut Thoifah Manshuroh mampu menangkal fitnah tekanan realita dan fitnah keterasingan adalah perasaan diri lebih mulia karena iman. Karena dada dan jiwa mereka selalu dipenuhi rasa mulia yang hanya Allah jadikan bagi para pengikut agamanya saja, tidak kepada lain. Allah Ta‘ala berfirman:

“Maka janganlah kamu bersedih karena kata-kata mereka. Sesungguhnya kemuliaan itu adalah milik Alloh semuanya. Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. )
Jadi kemuliaan itu seluruhnya adalah milik Allah. Orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta agama-Nya sama sekali tidak memiliki bagian sedikit pun darinya, walau mereka memiliki kekuatan sepenuh langit dan bumi.

Alloh Ta’ala telah menyebutkan ciri-ciri para pengiktu Thoifah Manshuroh dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Mereka merasa tinggi di hadapan musuh-musuh agama ini, walau pun musuh memiliki kemenangan, walau pun musuh memiliki kekuasaan materi. Sebab, kemuliaan itu hanya ada pada Islam, bukan pada selainnya. Sebaliknya, ketika Allah mensifati orang-orang beriman dengan kemuliaan, Allah juga berfirman tentang orang-orang yang menentang-Nya dan menentang rosul-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Alloh dan rosul-Nya mereka itu ada dalam kehinaan.” (QS. Al-Mujâdilah: 20 )

Belajar dari sirah
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.”
Hadits ini memiliki latar belakang yang menunjukkan fakta penting sangat kuat. Diriwayatkan dari ‘Âidh bin ‘Amr, bahwasanya dirinya datang bersama Abû Sufyân ketika penaklukan Mekkah. Ketika itu Rasululloh sallallahu alaihi wasallam tengah berada di diantara para sahabatnya. Maka mereka berkata, “Inilah Abu Sufyan dan Aidh bin Amr.” Mendengar kata-kata shahabat itu, Rasululloh sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ini adalah Aidh bin Amr dan Abu Sufyan. Islam lebih tinggi dari itu, Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.”

Sekedar menyebutkan nama orang kafir terlebih dahulu sebelum nama orang Islam saja sudah bertentangan dengan prinsip bahwa Islamlah yang tertinggi. Bahkan, ketinggian tempat pun tidak boleh diambil oleh orang-orang non Islam, walau pun kemenangan dan kekuasaan tengah berada di tangan musuh-musuh Islam. Di dalam perang Uhud, ketika kaum muslimin tertimpa kekalahan, ada satu kelompok pasukan Quraisy yang naik ke atas gunung, melihat itu maka Rosululloh sallallahu alaihi wasallam berujar, “Ya Alloh, sungguh mereka tidak layak berada di atas kami.” Maka Umar dan beberapa pasukan dari kaum Muhajirin pun maju memerangi mereka hingga berhasil menurunkan mereka dari gunung tersebut.
Ada rahasia-rahasia lembut yang terkandung dalam tafsir firman Allah Ta‘ala:
“… lalu kalian tertimpa kesedihan disusul kesedihan…” (QS. Ali Imron: )
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kesedihan pertama disebabkan kekalahan dan ketika dikatakan bahwa Muhammad sallallahu alaihi wasallam telah terbunuh. Kesedihan kedua adalah ketika orang-orang musyrik berada di atas gunung melebihi tempat orang-orang beriman. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata, “Ya Allah, tidak layak mereka lebih tinggi dari kami.”

Sekedar ketinggian tempat bagi orang-orang kafir atas orang-orang beriman, dan walau pun kaum muslimin dalam kondisi kalah yang menyebabkan mereka tertimpa sedih, tetaplah orang mukmin sejati itu jiwanya selalu merasa tinggi dengan semua makna ketinggian yang mutlak. Sebab Allah telah memuliakan dan mengkhususkan orang mukmin dengan ketinggian yang tidak diberikan kepada makhluk lain yang tidak beriman, walau pun dirinya berada dalam kondisi paling jauh dari meraih kemenangan dan kekuasaan. Inilah yang tertanam dalam diri para shahabat radhiyallôhu anhum.
Allah Ta‘ala berfirman kepada kaum mukminin di tengah kondisi kekalahan mereka dan di tengah berbagai kecaman yang mereka terima dari kaum musyrikin,
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imron: 139-142)
Dalam hal ini Allah melarang hamba-hamba-Nya untuk merasa lemah dan sedih, walau pun mereka tengah ditimpa kekalahan dan badai ujian. Hal itu dikarenakan merekalah para pemilik ketinggian dan kemuliaan sebenarnya selama mereka berpegang teguh dengan agama dan keimanannya. Jadi inti ketinggian dan harga diri adalah agama Islam ini yang dengannya Allah muliakan mereka. Setelah itu tidak perlu mereka perdulikan kelemahan mereka dari sisi materi dan kemenangan berada di fihak musuh.

As-Sa‘di rahimahulah berkata, “Allah Ta‘ala berfirman untuk memberi motivasi kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, menguatkan semangat mereka dan membangkitkan spirit mereka: “Dan janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula merasa sedih…” yakni, janganlah kalian merasa lemah dalam urusan fisik dan jangan biarkan ada kesedihan dalam hati kalian ketika kalian tertimpa musibah atau dicoba dengan ujian seperti ini. Karena sesungguhnya rasa sedih dalam hati dan merasa lemah fisik hanya akan menambah musibah yang kalian derita serta membuat musuh semakin mudah mengalahkan kalian. Tetapi hendaknya kalian kuatkan hati kalian, pertahankan kesabarannya, usirlah kesedihan di dalamnya, dan kokohkan diri kalian dalam memerangi musuh. Di sini Allah Ta‘ala telah menyebutkan bahwa tidak selayaknya mereka bersedih, sebab mereka lebih unggul dalam hal keimanan dan harapan untuk mendapatkan pertolongan serta pahala dari Alloh. Maka seorang mukmin yang mencari ganjaran dari sisi Alloh baik di dunia mau pun di akhirat tidaklah selayaknya bersikap demikian. Oleh karena itu, di sini Alloh Ta‘ala berfirman: “…padahal kalian adalah lebih tinggi jika kalian beriman.” –selesai perkataan As-Sa‘dî—.

Jadi di antara konsekwensi bahwa orang beriman itu lebih tinggi adalah tidak merasa lemah, sedih dan patah arang dalam memburu dan menghadapi musuh, walau pun tekanan realita kehidupan memberikan tekanan yang sangat kuat kepada orang-orang beriman dikarenakan kekuatan dan keunggulan berada di tangan musuh mereka. Apalagi –lebih tidak layak bagi mereka—untuk menyerah dan mundur hanya lantaran mengikuti arus tekanan realita hidup.

Ya Allah, tetapkanlah kelurusan bagi umat ini, yang di dalamnya orang-orang yang mentaati-Mu dimuliakan, orang-orang yang bermaksiat kepada-Mu dihinakan, diperintahkan di dalamnya yang makruf dan dicegah di dalamnya yang mungkar. Ya Alloh, hilangkanlah kezaliman dan kehinaan yang menimpa umat ini, dan tegakkanlah panji jihad di setiap tempat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s