3 Tipe Manusia yang Terperdaya Diri Sendiri

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا, الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: `Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang – orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104).”

Saudaraku,

Suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Mush’ab, puteranya tentang makna ayat ini, “Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang paling merugi amalannya itu? Apakah mereka itu kaum Haruri (orang-orang fasiq)?”

Sa’ad menjawab, “Tidak, mereka tak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari).

Ibnu Katsir menambahkan, meski ayat ini turun kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, tapi ia mencakup siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak sesuai dengan tuntunan Nabi s.a.w.

Ayat ini tergolong Makkiyah sehingga secara akar sejarah kaum Muslimin ketika itu belum berinteraksi secara langsung dengan kaum Yahudi dan Nasrani ataupun Khawarij. Oleh karenanya, pengkhususan suatu kaum bukanlah penghalang bagi kaum yang lain untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.

Setiap kita tentu berharap hasil dari apa yang telah kita usahakan. Sekecil dan sesederhana apapun pekerjaan itu. Bahkan ketika kita melabeli perbuatan tersebut dengan “iseng” tapi sejujurnya tetap saja kita menyelipkan harapan di sana. Minimal kita merasa senang dan terhibur karenanya.

Inilah petaka besar yang akan menimpa kita, jika kita menjadi korban tipuan diri kita sendiri. Menganggap telah menunaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, namun rupanya hal itu sama sekali tak bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam al-Qurthubi berkata, “Meski ayat di atas ternarasikan dalam bentuk pertanyaan, namun sejatinya Allah tak membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu, sebab uslub tersebut berfungsi untuk “mengejek” orang-orang kafir.

Saudaraku,

Yahya bin Mu’adz rahimahullah pernah bertutur, “Aku heran dengan tipe tiga orang:

  • Seseorang beramal, tujuannya ingin disaksikan oleh manusia dan ia mengabaikan amalan untuk disaksikan oleh-Nya semata.
  • Seseorang bakhil terhadap hartanya. Rabb-nya meminta pinjaman yang baik kepadanya (berinfaq di jalan-Nya) tetapi ia enggan melakukannya.
  • Seseorang yang mengejar tempat dan merapat kepada sesama manusia dan mencintai mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajaknya untuk selalu bersama-Nya dan mencintai-Nya.

Saudaraku,

Sekiranya Yahya bin Muadz rahimahullah hidup di masa sekarang dan hidup di tengah-tengah kita, beliau akan lebih heran lagi melihat perilaku kita.

Karena sering kita beramal, tapi bertumpu pada penglihatan dan pendengaran manusia. Mengharap pujian dan sanjungan dari mereka. Mendamba wajah selain wajah-Nya. Tampilan luar begitu indah mempesona, tapi bathinnya rapuh dan keropos.

Itulah yang disebut oleh salafus shalih sebagai khusyu’nya orang munafiq, di mana zahirnya tampak khusyu’ dalam ibadah, tapi bathinnya mengembara ke dunia lain.

Bahkan Ahmad Farid melabeli orang yang menampakkan kebaikan melebihi apa yang ada dalam bathinnya, ia telah terjatuh pada perilaku hipokrit.

Senada dengan itu Umar bin Abdul Aziz pernah diingatkan oleh salah seorang penasihat ruhaninya, “Jangan engkau menjadi wali Allah keramaian manusia, tapi menjadi wali setan dalam kesunyian. Siapa yang berbeda antara keshalihan zhahir dengan kebaikan bathin, maka sungguh itu merupakan sikap hipokrit.”

Saudaraku,

Di lain waktu, kita berat memberikan pinjaman kepada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Padahal kita yakin, harta kita akan kembali kepada kita dengan cepat atau lambat. Apatah lagi memberikan pinjaman kepada Allah s.w.t, yang Dia akan mengembalikannya nun jauh di sana dengan bunga tujuh ratus kali lipat dan bahkan lebih dari itu.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu apabila ada sahabat lain yang ingin menyertai beliau dalam perjalanan, maka beliau mensyaratkan semua keperluan dan bekalnya beliau yang menanggungnya.

Salafus shalih, ketika ada salah seorang pelayannya yang meninggal dunia, maka orang lain mengirimkan pelayan lain untuk orang shalih tersebut, sebagai bukti kuatnya persaudaraan iman di antara mereka.

Ketika seorang peminta-minta (baca; pengemis) datang ke rumahnya, maka Hasan al-Basri berseri-seri wajahnya seraya berkata, “Marhaban (selamat datang) kepada orang yang akan mengantarkan bekal kami ke akherat tanpa dipungut biaya pengiriman sedikit pun. Dan mengurangi beban kami yang sering memberatkan kami untuk beribadah kepada Rabb kami.”

Sufyan al-Tsauri berkata kepada orang yang datang meminta-minta kepadanya, “Selamat datang kepada orang yang datang untuk membersihkan dosa-dosaku.”

Saudaraku,

Kita pun tidak menyangkal, bahwa berdekatan dengan manusia yang kita cintai jauh lebih kita sukai daripada berdekatan dengan-Nya. Padahal kedekatan kita dengan manusia, jika bukan orang-orang yang mencintai kehidupan akherat, akan membawa kita jauh dari-Nya.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah bertutur, “Jika tidak berdekatan dengan saudara-saudara yang shalih di dunia ini, dan tahajud di waktu sahur, tentulah aku enggan melanjutkan perjalanan hidup di dunia fana ini.”

Salah seorang salafus shalih pernah mewanti-wanti kita agar tidak berdekatan dengan orang yang berkarakter al-ahmaq (kerdil), al-kadzab (pendusta) dan al-fajir (gemar melakukan dosa dan pelanggaran agama). Al-ahmaq tak akan menularkan kebaikan kepadamu, tidak juga menghindarkan keburukan darimu. Diamnya lebih baik dari perkataannya dan berjauhan darinya lebih baik daripada berdekatan dengannya.

Sedangkan al-kadzab, tak akan menghadirkan kedamaian dalam hidupmu. Menyebarkan keburukanmu kepada orang lain. Menyulut permusuhan dan pertikaian antara dirimu dengan yang lain.

Sedangkan al-fajir, selalu berupaya memperindah tampilan luarnya di hadapanmu, tapi tak pernah membantumu mengamalkan ajaran agamamu.”

Saudaraku,
Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam golongan tiga tipe manusia yang dipaparkan oleh syekh Yahya bin Muadz ini. Amien wallahu a’lam bishawab.

Metro, 12 Mei 2015
Fir’adi Abu Ja’far