Anak Hafal Al Fatihah, Abu Hanifah Beri Guru Ngaji 1000 Dirham

IMAM Abu Hanifah mengundang seorang guru untuk mengajari putranya menghafal Al Qur`an. Maka tatkala sang putra berhasil menghafal Al Fatihah Imam Abu Hanifah memberikan kepada guru itu 1000 dirham.

“Anda menganggap sepele apa yang telah Anda ajarkan kepada anak saya, kalau seandainya aku memiliki lebih banyak dari itu maka aku akan memberikan kepada Anda sebagai bentuk pengagungan saya terhadap Al Qur`an”, kata Imam Abu Hanifah.

“Saya belum melakukan apa-apa, sehingga Anda perlu memberikan harta ini”, jawab sang guru takjub. (Manaqib Al Imam Al Adzam li Al Qurdi, 1/253)

 

Inilah Orang yang Paling Berbakti kepada Orang Tua di Kufah

Di Kufah waktu itu, tidak ada orang yang baktinya kepada orang tua lebih besar daripada Manshur bin Al Mu’tamir dan Imam Abu Hanifah.

Manshur bin Al Mu’tamir rajin mencari kutu yang tinggal di kepala ibunya. Sedangkan Imam Abu Hanifah bersedekah atas nama kedua orang tuanya setiap hari Jum’at sebanyak 20 dirham, 10 untuk sang ayah dan 10 untuk sang  ibu. Sedekah itu diberikan kepada para fakir.

Sedekah itu sendiri di luar sedekah yang diatasnamakan Imam Abu Hanifah kepada kedua orang tuanya di waktu-waktu lainnya. (Manaqib Imam Abi Hanifah li Al Qurdi, 5/2)

Anak Kecil yang Sebabkan Abu Hanifah Shalat Sepanjang Malam

SUATU saat Imam Abu Hanifah berjalan di jalanan bersama para muridnya. Saat itu lewatlah beberapa anak kecil yang bermain dan salah satunya mengatakan, ”Ini adalah Abu Hanifah yang shalat sepanjang malam!”

Imam Abu Hanifah pun merasa malu dari para muridnya. Ia pun berkata dengan penuh tawadhu’, ”Manusia mengira apa yang tidak kami miliki.  Aku berjanji kepada Allah untuk tidak tidur di malam hari hingga aku menghadap kepada-Nya.”

Maka setelah itu Imam Abu Hanifah shalat sepanjang malam dan tidak tidur hingga beliau wafat.* (Dalam Siyar A’lam An Nubala’, 6/400)

Dicaci Habis-Habisan, Inilah Respon Imam Abu Hanifah

Saat itu Imam Abu Hanifah berada di masjid untuk mengajar ilmu kepada para muridnya. Lalu datanglah seorang laki-laki, ia berdiri di masjid mencaci-maki dan mencela. Imam Abu Hanifah tidak memutus pembicaraannya dan tidak pula menoleh kepadanya.

Lantas Imam Abu Hanifah pun pulang ke rumahnya sedangkan si laki-laki berjalan di belakangnya sambil terus memaki. Sampai di depan pintu rumahnya, Imam Abu Hanifah pun berdiri dan menghadapkan wajahnya kepada si lelaki.

“Ini rumahku, aku hendak masuk. Jika engkau ingin meneruskan makian dan perkataanmu tuntaskanlah hingga tidak tersisa apa yang ada pada dirimu”, Imam Abu Hanifah berkata dengan tenang kepada lelaki tersebut.

Maka malulah si lelaki karena adab Imam Abu Hanifah,”Maafkanlah saya berikanlah kepada saya jalan keluar”.

“Semoga Allah mengampunimu dan engkau sudah bebas”. (Manaqib Al Imam Al A’dzam, 1/269)

Imam Abu Hanifah Melunasi Hutang Sahabat

WAKTU  itu Ibrahim bin Uyainah dipenjara disebakan karena hutangnya yang mencapai lebih dari 4 ribu dirham. Maka beberapa sahabatnya pun mengumpulkan uang dari para penduduk untuk membebaskannya.

Di saat bersamaan, datanglah Imam Abu Hanifah, lalu ia pun bertanya kepada salah satu sahabatnya, ”Apakah engkau telah meminta sejumlah uang dari orang-orang?”

“Ya”, jawab lelaki itu.

“Kembalikan uang yang telah engkau ambil. Aku yang akan melunasi seluruh hutangnya”, kata Imam Abu Hanifah. Dan akhirnya Ibrahim bin Uyainah pun bebas dari penjara.* (Manaqib Imam Al A’dzam, 1/261)

Beginilah Bakti Imam Abu Hanifah kepada Ibunya

SUATU saat Ibu Imam Abu Hanifah berkata,”Aku menyaksikan darah setelah hari-hari suci, hingga aku tidak tahu apakah aku harus meninggalkan shalat atau tidak. Pergilah ke Abu Abdirrahhman Umar bin Dzurr, lalu tanyalah kepadanya”.

Maka Imam Abu Hanifah pun bertanya kepada Umar bin Dzurr menuruti perintah sang ibu. Sesampai pada Umar bin Dzurr, lelaki itu tertawa,”Engkau bertanya mengenai persoalan sedangkan kami mengambil ilmu darimu?!”

“Sesungguhnya ibuku memerintahkanku, beliau memiliki hak atasku”, jawab Imam Abu Hanifah

“Wahai Abu Hanifah, apa yang telah engkau sampaikan mengenai masalah itu?” Tanya Umar bin Dzurr.

“Aku berkata demikian, demikian”, Jawab Imam Abu Hanifah.

“Pergilah dan katakanlah kepada ibumu demikian, demikian,” jawab Umar bin Dzurr.

Maka pulanglah Imam Abu Hanifah dan berkata kepada sang ibu dengan penuh adab,”Abu Abdirrahman Umar bin Dzurr berkata kepada Anda dengan demikian, demikian”. (Dalam Manaqib Imam Abi Hanifah li Al Qurdi, 2/403).*

Ketika Fatwa Abu Hanifah Ditolak Ibunya Sendiri

Ibu Imam Abu Hanifah suatu saat ingin mengetahui hukum sesuatu, maka Imam Abu Hanifah pun berfatwa untuknya, namun sang ibu tidak menerimanya meski Ibu Hanifah merupakan ulama yang mumpuni dalam bidang itu. Sang ibu pun meminta Abu Hanifah agar mengantarnya untuk pergi ke seorang laki-laki yang bernama Zur’ah Al Qadhi yang menyampaikan khabar dan kisah yang duduk di masjid dekat rumah Imam Abu Hanifah.

“Aku tidak menerima, kacuali yang dikatakan oleh Zur’ah  Al Qadhi”, kata sang Ibu kepada Imam Abu Hanifah.

Ketika Imam Abu Hanifah datang kepada Zur’ah Al Qadhi bersama ibunya, ia mengatakan,”Ini adalah ibuku, minta fatwa kepadamu dalam masalah begini”.

“Engkau lebih berilmu dan lebih memahami fiqih daripada diriku, berilah fatwa kepadanya”, jawab Zur’ah Al Qadhi.

“Eku telah memfatwakan begini-begini”, jawab Abu Hanifah.

Zur`ah Al Qadhi pun berkata kepada ibu Imam Abu Hanifah dengan tenang dan penuh adab,”Jawabannya seperti apa yang dikatakan Abu Hanifah”.

Sang ibu pun menerima dan meninggalkan ia pun kembali pulang. (Tarikh Baghdad, 13/367)

Begini Khalifah Al Manshur “Dikerjai” Abu Hanifah

Suatu saat Imam Abu Hanifah datang kepada Khalifah Al Manshur. Di pertemuan itu sang khalifah takjub dengan ilmu Imam Abu Hanifah. Hingga akhirnya khalifah pun memberinya 30 ribu dirham.

“Wahai Amirul Mukminin, saya adalah seorang musafir di Baghad ini dan saya tidak memiliki tempat untuk menyimpannya, taruhlah ia di baitul mal, sampai saya membutuhkannya. Maka Abu Ja’far Al Manshur pun menyimpan uang itu di baitul mal.

Tatkala Imam Abu Hanifah wafat dan titipan harta orang-orang dikeluarkan dari rumah Imam Abu Hanifah, Abu Ja’far Al Manshur sadar kalau Imam Abu Hanifah memilih untuk menolak pemberiannya.

“Kita telah dikerjai oleh Abu Hanifah”, kata Al Manshur dengan rasa takjub. (Tarikh Baghdad, 13/359)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s