Hakikat Zuhud Terhadap Dunia

» وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ «

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Saudaraku,
Pakaian sederhana, lusuh dan memercikan bau tak sedap. Rambut kusut karena jarang dirapihkan dan disisir. Mata cekung dan nafasnya sesak. Berbicara pelan dan lemah tubuhnya. Pergi ke mana saja memakai sandal jepit dan yang senada dengan itu. Itulah gambaran zuhud yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin.

Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena rendahnya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya.  Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.

DR. Ahmad Farid dalam karyanya “Tazkiyah al-Nafs” mengutip beberapa perkataan alafus shalih dalam mendefinisikan zuhud:

Hasan al-Basri menuturkan bahwa orang zuhud adalah orang yang ketika melihat seseorang ia berkata, “dia lebih zuhud dariku.”

Ibrahim bin Adham membagi zuhud menjadi tiga macam, zuhud wajib, keutamaan dan keselamatan. Zuhud wajib adalah zuhud dari meninggalkan perkara yang haram. Zuhud keutamaan adalah zuhud dari barang yang halal. Sedangkan zuhud keselamatan adalah zuhud meninggalkan perkara-perkara yang syubhat.

Sedangkan Yunus bin Maesarah menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah atau tidak disapa bencana adalah sama saja, sebagaimana sikapmu adalah sama saja (konsisten) baik mendapatkan pujian atau celaan dalam melaksanakan kebenaran.

Saudaraku,
Abu Sulaiman al-Darani Di sini zuhud menafsirkan zuhud dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati (amal bathin) dan bukan aktifitas tubuh manusia (zahir), sehingga sulit menyaksikan orang zuhud dalam kehidupan:

• Bagi seorang hamba yang zuhud, meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini tumbuh dan muncul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah.

Abu Hazim seorang yang zuhud pernah ditanya, “Berupa apakah hartamu?.”
Ia menjawab, “Dua macam. Yang dengan dua hal tersebut aku tidak pernah takut miskin; karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.”

Kemudian ia ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?.”
Ia menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”

Ammar bin Yasir r.a pernah menasihati kita, “Cukuplah kematian sebagai penasihat, keyakinan sebagai kekayaan dan ibadah sebagai kesibukan.

Ibnu Mas’ud r.a memperkuat keyakinan kita dengan ucapannya, “Keyakinan adalah bahwa engkau tidak rela terhadap manusia karena murka Allah, tidak membenci seseorang karena rezki dari Allah dan tidak mencela orang lain karena apa yang tidak diberikan Allah kepadamu.”

Saudaraku,
• Apabila seorang hamba tertimpa musibah di dunia, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan pahala karena musibah tersebut daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.

Ali bin Abi Thalib r.a berkata, Barangsiapa zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah terasa ringan baginya.”

Seorang salaf berkata, “Andai saja tidak ada musibah, niscaya kami akan sampai ke akherat sebagai orang-orang yang bangkrut.”

Saudaraku,
• Seorang hamba akan bersikap sama, antara mendapatkan pujian atau pun mendapat cercaan dari orang lain, selama ia tetap berada di atas jalur kebenaran. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian.

Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.

Saudaraku,
Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sebelas istri.

Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an.

Para Sahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Terakhir saudaraku,
Ibnu Mas’ud r.a pernah berucap, “Setiap orang adalah tamu dan memiliki hutang di dunia. Adapun tamu, maka ia harus meninggalkan tempat persinggahan sementara, sedang utang harus dikembalikan kepada yang punya.”

Salafus shalih menyebut cinta dunia (tidak zuhud) sebagai pangkal semua kesalahan dan merusak agama melalui beberapa segi:

Pertama, cinta dunia akan mendorong seseorang untuk mengagungkannya, padahal dunia sangat rendah di hadapan Allah s.w.t, sementara di antara dosa terbesar adalah mengagungkan apa yang direndahkan Allah s.w.t.

Kedua, sesungguhnya Allah melaknat, membenci dan memurkai dunia, kecuali yang diperuntukkan baginya.

Ketiga, jika seseorang mencintai dunia, maka ia akan menjadikan dunia sebagai tujuannya.

Keempat, cinta dunia menghalangi antara hamba dan perbuatan yang manfaatnya di akherat kembali kepadanya, karena ia sibuk dengan dunia yang dicintainya.

Kelima, cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi seorang hamba.

Keenam, pecinta dunia adalah orang yang paling tersiksa karenannya.

Ketujuh, cukup dikatakan orang yang cinta dunia adalah manusia yang paling naif dan terbatas ilmu pengetahuannya.

Saudaraku,
Sudahkah kita menjadi orang yang zuhud ataukah berpura-pura zuhud?. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 19 Nopember 2014
Fir’adi Abu Ja’far


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s