Mengenal Salafi Jihadi

Seiring meredupnya cahaya Islam di muka bumi, keadilan dan kebenaran seolah semakin sulit dicari. Ketika pemerintahan Islam kehilangan taringnya karena dihempaskan musuh-musuh Islam, pada saat itu juga kaum muslimin tertindas dimana-mana. Hal itu ditandai dengan runtuhnya supremasi Islam di Turki pada  tanggal 3 Maret 1924.

Penindasan demi penindasan terhadap kaum muslimin dan cita-cita untuk mengembalikan kejayaan Islam, mendorong munculnya gerakan kebangkitan Islam (Ash-Shahwah Al-Islamiyah). Hal ini ditandai dengan munculnya gelombang perubahan dan kebangkitan yang menggeliat sejak pertengahan abad ke-18. Sebagian tokoh kebangkitan Islam berusaha memperbarui dan melakukan reformasi kekuasaan Khilafah Utsmani.

Mereka saling bekerja sama dengan unsur-unsur yang baik dalam negara tersebut, termasuk dengan khalifahnya, Sultan Abdul Hamid. Sayangnya, sebelum hal tersebut terealisasi dengan sempurna, kekhalifahan Utsmani telah mendahului runtuh, wilayah kekuasaannya pun dipecah belah oleh negara-negara aliansi Salibis.

Gerakan Ash-Shahwah Islamiyah sebagai Cikal Bakal Salafi Jihadi

Cita-cita mulia untuk mengembalikan kejayaan Islam telah terpatri di dada kaum muslimin. Maka dari itu, mulailah bermunculan kelompok-kelompok yang berjuang demi mengembalikan kejayaan Islam. Diantara mereka semisal Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Aliran Islahi Tarbawi, Jamaah Tabligh dan Dakwah, gerakan salafi dan ahli hadits.

Seiring perkembangan dan fase-fase tahapan yang terjadi—karena pergantian zaman, strategi dan kondisi musuh yang semakin kompleks—munculah istilah kelompok Salafi Jihadi”. Hal ini juga diikuti kabar fitnah dari media mainstream terhadap diri mereka. Tidak lain, tujuannya untuk mendelegitimasi gerakan mereka.

Imbas dari kabar-kabar ini menjadikan masyarakat kabur akan hakekat dan tujuan sebenarnya dari kelompok ini. Tudingan-tudingan miring yang tidak berdasar pun bermunculan dan membuat pola pikir rakyat menjadi rancu.

Khalayak umum dibuat bingung dengan berita-berita ngawur yang disebarkan. Penyematan kata “teroris” pun tak luput dari kelompok ini. Sehingga terkesan jika disebut kata “salafi jihadi”, maka yang tergambar dalam benak mereka adalah kelompok yang kejam, teroris dan suka berbuat onar.

_new_gazaerkiller

Sebenarnya, Syaikh Abu Mus’ab As-Suri telah begitu jelas menuliskan seluk beluk kelompok ini dalam bukunya “Ad-Da’wah Al-Muqawamah Al-Islamiyah Al-‘Alamiyah”. Kelompok ini adalah percampuran antara pemikiran haraki jihad ala Sayyid Qutub, seraya mengadopsi aqidah salafi dan manhaj dakwah wahabi.

Awal mula lahir dari daratan Saudi Arabia pada masa pemerintahan Raja Faishal. Saudi Arabia sendiri menjadi tempat hijrah alami bagi para tokoh IM yang diasingkan dari Mesir era Gamal Abdul Nasser, di mana Raja Faishal berseteru dengannya. Banyak dai dan sesepuh IM di Suriah juga melarikan diri ke Saudi Arabia dikarenakan benturan dengan para penganut Partai Ba’ats sejak pertengahan tahun 60-an. Mayoritas guru tersebut mengajar di universitas-universitas Islam di Saudi Arabia.

Inilah tiga periode terpenting dari usia ash-shahwah al-islamiyah(1960-1990), yaitu terjadinya asimilasi pemikiran antara haraki aliran IM –terutama aliran Sayyid Qutub, dengan pemikiran aqidah dan khasanah fikih dakwah salafi serta wahabi. Walhasil, kombinasi pemikiran ini kembali lagi ke Mesir, Suriah, Jazirah Arab dan bumi Islam lainnya.

Identitas Pemikiran Salafi Jihadi

Manhaj IM yang berkarakter politis dan tarbiyah, serta aliran ala Sayyid Qutub yang berkarakter mufashalah dan tamayuz sesuai prinsip hakimiyah, keduanya ini telah membentuk aspek siyasah syar’iyyah dan harakiyah pada manhaj salafi jihadi.

Maka dari itu, manhaj salafi yang dikombinasikan dengan dakwah wahabi serta produk fiqihnya,  membentuk landasan fiqih dan aqidah yang berhasil banyak menjawab banyak permasalahansiyasah syar’iyyah. Hal inilah yang diketengahkan oleh kelompok salafi jihadi dalam menyeru untuk berkonfrontasi dengan rezim-rezim jahiliyah yang berkuasa di negeri Islam.

Contohnya soal alasan syar’i tentang kekafiran para penguasa yang berhukum dengan selain hukum Islam, berwala’ pada musuh Islam, serta sekian banyak hukum syar’i turunannya; seperti hukum memberontak penguasa, menjatuhkan legalitas mereka dan lain-lain.

Ketika mayoritas kelompok ash-shahwah al-Islamiyah menempuh manhaj demokrasi dan munculnya polemik yang beraneka ragam, aliran salafi jihadi ini dituntut untuk menjawab serta memberikan solusi yang tepat. Maka tampillah fiqih Imam Ibnu Taimiyah, manhaj salafi dan khazanah  Wahabi yang menjadi pegangan dan pedoman utama kelompok salafi jihadi untuk bergumul di medan polemik tersebut.

Dengan rincian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa infrastruktur pemikiran salafi jihadi yaitu, dasar-dasar pemikiran Ikhwanul Muslimin + manhaj haraki Sayyid Qutub + fiqih siyasah syar’iyah Imam Ibnu Taimiyah dan salafi + khazanah fiqih aqidah dakwah Wahabi = Manhaj haraki siyasah syar’iyyah salafi jihadi.

Untitled-1

 

Salafi Jihadi = Thoifah Manshurah?

Syaikh Abu Dujana Al-Basha, seorang mufti Al-Qaidah sekaligus menantu Syaikh Aiman ini  menuturkan hakikat salafi jihadi dalam tulisannya yang berjudul  “Ta’ammulat fi Mustolahi As-Salafiyah Al-Jihadiyah”. Beliau menuturkan, “Salafi Jihadi adalah sebuah kelompok orang-orang mukmin dan mujahid yang mengangkat senjata di berbagai belahan dunia untuk menolong agama Allah serta memberlakukan syariat Islam di muka bumi dan senantiasa berusaha menggunakan manhaj para salafus sholih dalam perjuangan.”

“Salafi jihadi bukanlah nama yang dinisbatkan kepada satu kelompok saja. Selama sebuah kelompok berkomitmen dalam jihad fii sabilillah dan menggunakan manhaj salafus shaleh dalam perjuangannya, maka kelompok itu juga disebut sebagai kelompok salafi jihadi. Salafi jihadi bukanlah kelompok yang maksum yang seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, bentuk kesalahan bukan pada permasalah pokok dalam manhaj. Kelalaian dan kesalahan terletak pada realisasi atau praktik sebagian mujahidin di medan peperangan.”

“Bagaimanapun juga para mujahidin yang tergabung dalam sebuah kelompok salafi jihadi hanyalah manusia biasa. Mereka selalu berusaha sekeras mungkin untuk selalu menggunakan jalan para salaf dalam perjuangannya. Ada kalanya mereka benar dan kadang kurang tepat dalam menentukan keputusan.” lanjutnya.

Syaikh Abu Dujanah juga menegaskan kepada para mujahid bahwa tujuan dari kelompok jihad adalah untuk meninggikan kalimatullah dan menegakkan syariat Allah dengan mengembalikan kembali khilafah ‘ala minhaji nubuwah.

Sebagian orang mengatakan bahwa kelompok salafi jihadi adalah “thaifah manshurah” yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadistnya. Dari sahabat Tsauban berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللّهِ لاَيَضُرُهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْخَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah. Mereka tak peduli akan orang-orang yang merendahkan dan menentang mereka, hingga datang keputusan Allah. Dan mereka lebih unggul daripada yang lainnya.”(HR.Muslim).

Hadist tentang Thaifah Manshurah diriwayatkan oleh sembilan orang sahabat. Maka dari itu, banyak para ulama terkenal yang menyatakan bahwa status hadist-hadist Thaifah Manshuroh adalah mutawatir. Di antara ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, As-Suyuthi, Zubaidi, Kattani dan ulama lainnya.

ede88323-9893-4127-977c-99387f3cb3ee

Kebanyakan para ulama salaf berpendapat bahwa Thaifah Manshurah adalah para ulama dan ahlul hadits. Ini sebagaimana pendapat Imam Bukhari dan Imam Ahmad bin Hambal, juga Abdullah bin Mubarak. Yazid bin Harun, Ali bin Al-Madini, Ahmad bin Sinan dan Ibnu Hiban juga berpendapat demikian.

Imam Al-Hakim An-Naisaburi mengatakan tentang siapakah Ahlul hadits, “Mereka adalah kelompok yang berjalan di atas jalan orang-orang saleh, mengikuti jejak kalangan salaf, membantah para pelaku bid’ah dan orang-orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah. Mereka lebih memilih berjalan mengarungi berlantara daripada bermegah-megahan dengan memenuhi segala kebutuhan hidupnya…”

Ibnu Qutaibah juga menggambarkan bahwa mereka adalah, ”Orang-orang yang mencari kebenaran, menelusurinya langsung dari sumbernya, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengikuti sunnah Nabi.”

Jika kita memperhatikan pendapat-pendapat tersebut, maka akan kita dapati bahwa maksud lafal ahlul hadits dipakai sebagai lawan kata ahli kalam dan ahli ra’yi yang suka mengedepankan logika dan pendapat-pendapat syaikhnya, daripada dalil yang shahih.

Makna ahlul hadits yang dimaksud adalah ahlu sunnah, yaitu mereka yang mengikuti apa yang pernah dilakukan Rasulullah dan para shahabatnya, menjauhi metode ahli bid’ah, komitmen dengan dalil dalam permasalahan fiqih dan aqidah, senantiasa berada di atas jalan yang lurus, baik dalam permasalahan akhlak, ibadah ataupun budi pekerti.

Karena itu wajar jika Imam Bukhari mengatakan,” Mereka adalah Ahlul Ilmu.” Pengertian Ilmu lebih luas daripada pengertian hadits, meskipun terkadang hadits itu dinamai ilmu. Kita juga mendapatkan semacam bentuk pengkhususan dari ungkapan Ali Madini tentang interpretasi ahlul hadits sebagai,”Orang-orang yang senantiasa memperhatikan sunnah Rasululllah, membela ilmu dan menyampaikan sunnah-sunnahnya kepada umat manusia.”

Thaifah Manshurah sebagaimana dalam karakteristiknya adalah kelompok yang lebih umum dari itu. Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa kalangan yang disebut Ali Madini ialah orang yang paling berhak masuk dalam barisan Thaifah Manshurah.

Maka dari itu ungkapan Imam Ahmad sangat jeli. Yaitu ketika melihat sekelompok kaum yang sedang mangkaji hadits, beliau menyifati mereka termasuk orang-orang yang disebut Rasul dalam sabdanya,”Akan senantiasa ada di umatku sekelompok orang yang akan tampil…”

659

Ahli sunnah yang sibuk memerangi bid’ah dan para penganutnya, menjelaskan jalan yang lurus dan menghilangkan pemahaman yang keliru, maka mereka adalah Thaifah Manshurah.

Ahli sunnah yang berribath di perbatasan, bersabar dalam menghadapi musuh dan senantiasa menjaga kemuliaan agama, maka mereka adalah Thaifah Manshurah.

Ahli sunnah yang tidak tinggal diam terhadap kemungkaran, senantiasa mencegahnya, serta mengajak orang lain kepada kebaikan, maka mereka adalah Thaifah Manshurah.

Tak diragukan lagi, kalangan yang berkecimpung dalam ilmu syariah—aqidah, fiqih, hadits, tafsir baik mempelajari, mengajarkan, mendakwahkan ataupun mengamalkannya—mereka adalah Thaifah Manshurah.

Oleh karena itu, Imam An Nawawiy setelah menyebutkan perkataan Imam Al-Bukhari, Imam Ahmad dan yang lainnya beliau berkata, “Qadhi Iyadh berkata,’Yang dimaksud Imam Ahmad dengan Ashabul Hadits adalah kalangan ahli sunnah dan orang-orang yang meyakini madzab ahli hadits.” Beliau juga menambahkan, ”Dan bisa jadi Thaifah ini terpisah-pisah di berbagai macam kalangan orang-orang beriman, di antara mereka ada ahli perang yang pemberani, ada para fuqaha, ada para ahli hadits, ada orang yang zuhud dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, dan ada pula yang ahli dalam berbagai macam kebajikan dan tidak harus mereka itu berkumpul semuanya akan tetapi tersebar diberbagai penjuru dunia.” (Shahih Muslim Bisyarh An Nawawi, XIII /67)

Begitu pula Syaikhul Ibnu Taimiyah yang menjadi rujukan salafi jihadi dalam  fiqih siyasah syar’iyah-nya berfatwa berkenaan mereka yang berperang melawan orang-orang Tartar dan mengucapkan dua kalimah syahadah, namun berhukum dengan selain syariat Islam. Beliau berpendapat bahwa orang yang berjihad menentang mereka (Tartar) adalah orang-orang yang paling berhak masuk dalam kriteria thaifah manshurah sebagaimana perkataannya, ”Sedangkan kelompok yang berada di Syam, Mesir dan lainnya mereka pada saat ini adalah orang-orang yang berperang atas dien Islam dan mereka adalah orang-orang yang paling berhak masuk dalam Thoifah Manshurah yang disebut oleh Nabi SAW didalam hadisnya yang sahih dan masyhur

لا تزال طائفة من أمتى ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم ولا من خذلهم حتى تقوم الساعة وفي رواية مسلم : لا يزال أهل الغرب

“Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang dzahir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyanggah mereka hingga terjadi Kiamat, dalam riwayat Muslim berbunyi :”Akan senantiasa ada ahlul gharb” (Majmu’ Fatawa, XIII / 531)

Telah jelas bahwa Syaikh Abu Dujana menegaskan bahwa Thoifah Manshuroh bukanlah klaim sebuah kelompok tertentu saja, atau dinisbatkan pada salafi jihadi semata. Sebab banyak kelompok-kelompok lain yang berperang di jalan Allah serta memiliki kriteria-kriteria seperti thaifah manshurah. Yang terpenting menurut mufti Al-Qaidah ini adalah bagaimana kita berusaha sekuat tenaga memiliki sifat-sifat dari kelompok pilihan ini. Berjihad fi sabilillah di atas rel manhaj salaf sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah.

الجهاد السلفية

Ibnu Taimiyah menggambarkan dalam Majmu’ Fatawa bahwa mereka adalah sebuah kelompok yang paling lurus baik secara ilmu dan amal, berjihad dari timur ke barat dan memerangi penguasa dzalim dari golongan orang-orang musyrik dan ahlul kitab.

Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul ‘Aziz menuturkan dalam buku “Al ‘Umdah Fii ‘Idaadil ‘Uddah Lil Jihaadi Fii Sabiilillaah”  bahwa pada hari ini umat Islam sangat membutuhkan kesungguhan para ulama dan mujahidin yang masing-masing berada pada medannya, sesungguhnya dien ini tidak akan tegak hanya dengan ilmu saja, namun harus dengan keduanya secara bersamaan.

Maka dari itu, kaum muslimin hendaknya senantiasa meningkatkan kualitas diri agar menjadi bagian dari kelompok-kelompok yang selamat dan terpilih ini. Hal ini sebagaimana yang dituliskan Syaikh Abu Dujana bahwa gelar thaifah manshurah tidak bisa diklaim oleh satu kelompok saja. Jadi, terbuka lebar bagi siapapun juga untuk menjadi bagian dari kelompok ini dengan merapatkan barisan, tidak terpecah belah dan mengikuti manhaj salaf dalam memperjuangkan Islam.

Penulis: Dhani el_Ashim

Sumber:

  1. Ta’ammulat fi Mustolahi As-Salafiyah Jihadiyah, Syaikh Abu Dujana Al-Basha
  2. Al ‘Umdah Fii ‘Idaadil ‘Uddah Lil Jihaadi Fii Sabiilillaah, Syaikh ‘Abdul Qoodir bin ‘Abdul ‘Aziiz
  3. https://www.tawhed.ws/r?i=whr6miky
  4. http://shabmasrey.blogspot.com/2007/05/1.html
  5. Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  6. Sahih Muslim Bisyarh An Nawawi, Imam An-Nawawiy
  7. Da’wah Al-Muqawamah Al-Islamiyah Al-‘Alamiyah, Syaikh Abu Mus’ab As-Sur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s