On Time Waktu Shalat

Sudahkah sampai kabarnya kepadamu wahai saudaraku…?
Kabar para generasi salaf pendahulu kita, ulama-ulamanya umat ini tentang keseriusan mereka dalam menjaga dan memelihara waktu-waktu shalat selalu on time serta semangat dalam menghadiri shalat berjamaah selalu di mesjid.Sungguh kabar mereka membuat kita berdecak kagum dan tercengang.

Bagaimana tidak?Sungguh menakjubkan amal yang mereka lakukan.Semangat mereka amat luar biasa.Kontinuitas mereka dalam beramal selalu terjaga. Sampai-sampai mereka tak pernah terlambat untuk mendapatkan takbiratul ihram bersama imam dalam waktu yang panjang tanpa terputus dan selalu berada di shaff pertama dalam shalat berjamaah.Berikut sekelumit kisah indah mereka:


-Sa’id bin Musayyib pernah berkata, “Aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat (berjama’ah) selama 50 tahun. Aku juga tidak pernah melihat punggung para jama’ah, karena aku berada di barisan terdepan selama 50 tahun.” (Hilyah Auliya: 2/163)
Dalam keterangan yang lain beliau pernah menyatakan, “Sejak 30 tahun, tidaklah seorang mu’adzin mengumandangkan adzan kecuali aku sudah berada di masjid.”

-Muhammad bin Sama’ah at Tamimirahimahullah menyatakan selama 40 tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihramnya imam, kecuali ketika ibunya meninggal.”

-Sulaiman bin Mehran atau yang lebih dikenal denganAl A’masy, sang muhaddits besar. Ketika sakaratul maut menjemput, puterinya menangis. Lalu ia berkata kepada sang puteri,“Wahai puteriku!Jangan menangis. Demi Allah, selama 40 tahun, saya tak pernah terlambat dari takbiratul ihram dalam shalat berjamaah.”

Waki’ bin Al Jarroh rahimahullah berkata, Al-A’masy selama kurang lebih 70 tahun tidak pernah luput dari takbiratul ihrom.” (Siyar  A’lam An-Nubala’ 6/228)

Yahya Al-Qathan berkata tentang Al-A’masy bahwa dia adalah ahli Ibadah, selalu menjaga shalat berjamaah dan berada pada barisan terdepan, dia merupakan simbol dan contoh bagi umat islam, dia selalu berusaha mendapatkan barisan terdepan. (Siyar  A’lam An-Nubala’ 6/232)

-Amir Bin Syaharil (Asy Sya’bi). rahimahullah berkata,“Tidaklah adzan dikumandangkan  semenjak aku masuk Islam melainkan aku telah berwudhu saat itu.”

Inilah kisah mereka yang luar biasa,selalu berusaha tepat waktu ketika shalat, bahkan sudah berwudhu sebelum waktu adzan.Mereka orang-orang  yang selalu terdepan dalam barisan shalat berjamaah dan yang bersemangat untuk mendapatkan takbiratul ihram imam dalam setiap shalatnya.Hal ini menunjukkan kuatnya agama atau keimanan mereka. Namun bagaimana dengan kita?

Jangan-jangan kita orang yang selalu menunda-nunda waktu shalat.Yang selalu mengakirkan waktunya, yang masih asyik-asyikkan di depan TV dan depan komputer, yang masih sibuk dengan pekerjaan dan perniagaan kita, yang masih asyik-asyikan bercanda dengan teman, yang lebih senang bersama dengan istri dan anak-anak, ketika adzan dikumandangkan.

Sungguh sebuah perbedaan yang sangat jauh antara kita dan mereka para generasi salaf.Mereka bersedih seandainya mereka terlambat mendapatkan takbiratul ihram bersama imam, mungkin kita orang-orang yang biasa-biasa saja ketika terlambat menghadiri shalat berjamaah, atau malah selalu melaksanakan dipenguhujung dan disisa-sisa waktu

.
Maka mari duduk sejenak dan dengarkan sebuah hadist Rasul tentang menjaga shalat berjama’ah hingga tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram imam:

Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

Al-‘Allamah al-Thiibi rahimahullah menjelaskan hadits ini, ”Ia dilindungi di dunia ini dari melakukan perbuatan kemunafikan dan diberi taufiq untuk melakukan amalan kaum ikhlas. Sedangkan di akhirat, ia dilindungi dari adzab yang ditimpakan kepada orang munafik dan diberi kesaksian bahwa ia bukan seorang munafik. Yakni jika kaum munafik melakukan shalat, maka mereka shalat dengan bermalas-malasan.Dan keadaannya ini berbeda dengan keadaan mereka.”(Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi I/201).

Maka bergegaslah, bersegeralah kita untuk mendapatkan keutamaan ini. Mari tinggalkan kelalaian dan bersemangat untuk mendapatkan takbiratul ihram imam dalam setiap shalat karena ini sebagai pembuktian akan kuatnya agama atau keimanan kita. Karenanya, hendaknya kita selalu mendidik diri untuk menjaga syiar Islam yang agung ini, memperhatikan dan menjaga shalat berjamaah serta berusaha mendapatkan takbir pertama ima


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s