Sedikit Tapi Usahakan Rutin

“Amalan yang paling dicintai Alloh Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.”

 (HR Muslim: 783)

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.

[ HR. Muslim no. 782]

 

Saudaraku,

Sedikit adalah dasar dari yang banyak. Bukankah tetesan demi tetesan akan membentuk sebuah aliran air yang deras. Gunung yang besar terdiri dari kumpulan batu, tanah dan kerikil yang kecil. Selembar kain yang halus berasal dari seutas benang.

Saudaraku, melakukan amal secara kontinu dan berkesinambungan ibarat membangun benteng diri yang kokoh. Satu-persatu batu bata yang kita susun secara bertahap dan terus-menerus pada akhirnya membentuk suatu bangunan yang megah dan kokoh. Begitu juga segenap amal ibadah, amal shaleh, dan seluruh perbuatan baik yang kita  tekuni terus-menerus akan membentuk keistiqamahan dalam jiwa kita sehingga benteng keimanan kita akan kokoh.

Saudaraku, beramal sedikit demi sedikit tetapi secara terus-menerus juga ibarat menanam benih pohon, memupuk dan menyiramnya dengan air secara berkala, sehingga ia tumbuh segar dan tak layu. Begitu juga melakukan amal ibadah sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus ibarat memupuk dan menyirami pohon iman kita. Pohonnya adalah jiwa sendiri, pupuknya dan airnya adalah  amal ibadah dan keimanan.

Saudaraku,

Beramal sedikit demi sedikit tapi melanggengkannya dan melakukan secara kontinu memang sulit. Perlu pengorbanan, perlu kekuatan mujahadah (kesungguhan) melawan keinginan yang bisa mematahkan kontinuitas amal. Perlu kepasrahan dan ketundukan penuh pada Allah, untuk meraih suplai energi yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub. Perlu kesabaran berlipat untuk bisa bertahan menjalani ragam tantangan dan halangan yang pasti dijumpai dalam memelihara kontinuitas amal. Tapi, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan surga di akhirat.

Orang yang cerdas akan mengetahui kapasitas dirinya, maka ia akan menambah volume apa yang hendak dilakukannya kala semangat memuncak didada, dan melakukan sebatas kemampuan minimalnya kala semangat lagi melemah. Ini sesuai fitrah dan atsar para sahabat: Jiwa itu memiliki kemampuan untuk maju dan untuk mundur. Maka, pergunakanlah kemampuan itu sebaik-baiknya tatkala sedang maju, dan tinggalkanlah dia saat sedang mundur.

Seseorang yang tergesa-gesa dan tak sabar ingin melakukan apa saja dengan sekali jadi dan melakukannya melebihi batas kemampuannya, maka kelak ia akan terkalahkan, capek dan merasa bosan, akan terputus dari apa yang dilakukannya, melemah, lalu ia akan meninggalkan apa yang ingin dilakukannya tersebut. Alangkah indahnya ia melakukannya sedikit demi sedikit, dan setahap demi setahap sesuai dengan perancanaan yang matang, pasti akan melalui fase-fase itu dengan tenang. Dan pengalaman membuktikan bahwa seseorang yang melakukan pekerjaan secara bertahap jauh lebih produktif daripada melakukannya sekaligus.

Saudaraku, kenapa sedikit tapi berkelajutan itu lebih baik ketimbang banyak tapi terputus atau sekali-kali saja kita melaksanakannya? Karena amal ibadah yang kita laksanakan walau sedikit tapi kontinu merupakan indikasi yang menunjukkan adanya keikhlasan dalam diri, dimana tetap memelihara amal-amal dalam setiap kondisi baik kondisi dalam kelapangan atau kondisi-kondisi sulit. Berbeda dengan orang yang melakukan amalan hanya bersifat temporal, sewaktu-waktu, sesuai keadaan dan tidak kontinu menunujukkan tanda keihlasan yang belum sempurna.  Sebab umumnya amalan yang dilakukannya  lebih dimotivasi oleh kondisi lahir dan urusan dunia. Pendekatan diri kepada Allah dilakukan ketika sedang butuh, seperti ketika sedang mengalami kesulitan, tertimpa musibah, diuji dengan kesempitan, kesusahan makanya ia minta tolong kepada Allah dengan cara taat dan rajin melakukan ketaatan tapi ketika kesulitan itu telah berlalu maka ia meninggalkan amal-amal yang sebelumnya dilakukannya.

Saudaraku, Imam Hasan Al Basri rahimahulllah menasehati kita tentang beramal secara rutin, beliau berkata ”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, ”Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak untuk menggodamu.”

Saudaraku, Inilah   beberapa rahasia mengapa kita penting beramal secara rutin, setan akan merasa putus asa mengoda dan kemudian meninggalkan kita karena orang yang rutin beramal  itu menunjukkan adanya keikhlasan dalam hatinya. Dan setan sendiri yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan menggoda terhadap hamba-hamba yang mukhlis.

“(Iblis) menjawab, ‘Demi kemulian-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis” (Qs. Shad : 82-83)

Saudaraku, beramal secara rutin walau sedikit mampu mengungguli amalan yang banyak namun terputus. Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun rutin dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit yang rutin dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”[ Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 3/133, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah]

Saudaraku, berbuatlah meski sedikit tapi asalkan rutin

Maka berbuatlah meski sedikit, walau hanya sebentar , tapi asalkan rutin. Sebaik-baik perbuatan adalah yang dilakukan seseorang secara terus-menerus walaupun sedikit.

*Bersedekahlah setiap hari walaupun itu seribu rupiah. Berusahalah sekuat mungkin untuk merutinkannya. Jika tak kita dapati apa-apa untuk disedekahkan, jangan bersedih saudaraku. Bukankah Rasul kita telah mengajarkan pada kita ada banyak jalan untuk bersedekah. Bukankah ucapan dan nasehat yang baik kepada sesama muslim adalah sedekah? Bukankah tersenyum dihadapan saudara kita adalah sedekah? Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk tetap bersedekah dalam kondisi sulit dan lapang, walaupun dengan sesuatu yang kecil dan kadang dianggap sepele. Tetaplah bersedekah walaupun dengan sebutir kurma, membantu orang yang sangat memerlukan bantuan, menahan diri dari berbuat kejelekan kepada orang lain, menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Maka jangan lewatkan satu haripun tanpa kita bersedekah didalamnya.

*Jangan pernah berhenti menulis, walaupun hanya satu baris sehari. Imam As-Syaukani pernah dinasehati oleh sejumlah ulama: “Jangan pernah berhenti menulis, walaupun hanya dua baris sehari.’ Aku pun mematuhinya, dan kini aku dapat memetik buahnya.” Maka mari kita biasakan diri kita untuk menulis setiap hari walaupun itu satu baris, tulislah tentang apapun yang terlintas dalam pikiranmu, baik itu tentang aktivitasmu sehari-hari, pengalaman unikmu, kisah perjalananmu di negeri orang, hikmah kehidupan yang engkau tangkap, bahkan hal-hal sederhana yang ada dalam kehidupanmu. Dan jangan pernah anggap remeh tulisanmu dan jangan pernah bosan untuk menulis. Ali bin Abi Thalib ra berkata,” Semua penulis itu akan mati. Hanya karyanya lah yang akan terus abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti”.

*Telusuri dan baca sunnah nabi kita setiap hari, tekuni sunnah nabi itu dari awal hingga akhir, dari hal sederhana hingga yang mengatur hal-hal besar, walaupun satu hadist namun bertekadlah mengamalkan dan mengajarkannya karena sunnah ibarat perintah harian, yang dengannya kita berpegang dan berpedoman untuk setiap amal yang kita lakukan setiap harinya.

* Shalalatlah disetiap sepertiga malam, meski hanya dua rakaat. Jika itu terlalu berat maka bagi kita mari biasakan diri kita melakukan shalat malam meskipun satu rakaat witir setiap malamnya. Lakukanlah setelah Isya, atau sebelum tidur, atau sebelum fajar supaya dicatat disisi Allah sebagai bagian dari perindu-perindu malam dan bagian dari orang yang bangun malam.

* Duduklah barang sebentar bersama keluarga untuk mendengarkan dan menyampaikan taklim dan pengajaran walaupun cuma sepotong nasehat, biarpun sesaat tapi mendatangkan banyak manfaat. Cari waktu yang tepat untuk berkumpul bersama kelurga dalam rangka nasehat-menasehati, mengkaji dan tadabur Al-qur’an, menyampaikan hadist Rasulullah, mendengarkan pengalaman , hikmah dan ilmu yang didapatkan seharian dari masing-masing anggota keluarga. Bisa dilakukan selepas shalat magrib,  alokasikan waktu kita untuk merutinkannya pada waktu itu. Hal ini sungguh sangat bermanfaat untuk tetap menjaga kehangatan dalam keluarga kita  dan dalam rangka mendidik anggota keluarga kita.

* Usahakan charger ruhiyah dengan membaca Al-qur’an setiap selesai shalat, walaupun hanya satu lembar.Mari kita sediakan waktu kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.Cukup luangkan waktu 5 menit saja setiap habis selesai shalat lima waktu, bacalah Al-qur’an dengan tadabbur, meski kita membacanya sedikit, tapi kita merutinkannya setiap sehabis selasai shalat. Dengan cara begini akan ada selalu penguatan dan charger ruhiyah dalam diri kita.

*Awali pagimu dengan shalat dhuha, meski  cuma dua rakaat. Karena suadaraku, dua rakaat shalat dhuha bisa mencukupi untuk menggantikan sedekah untuk 360 persendian kita. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam hadist beliau;

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no.  720)

Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

Maka sudah sepentasnya kita untuk merutinkan shalat dhuha karena keutamaan yang dimilikinya.  Sempatkan waktu melakukan dhuha disela-sela kesibukan dunia yang kita tekuni, manfaatkan waktu break ditempat kerja untuk mengerjakannya. Usahakan untuk merutinkannya setiap pagi karena shalat dhuha bisa menjadi bekal untuk kita menjalani kehidupan yang berat ini.

*Rutinlah untuk membaca dzikir pagi dan petang. Sempatkan waktu kita sehabis selepas shubuh hingga menjelang waktu dhuha untuk membaca dzikir-dzikir yang ma’tsur, sebelum sibuk memulai aktivitas kita pada pagi hari. Isi ruhiyah kita dengan berzikir, karena zikir adalah makanan terbaik buat hati kita, selain itu zikir adalah kesibukan terbaik yang harus kita utamakan dipagi hari dan sore hari, bahkan disetiap saat. Sungguh keutaamaan zikir pagi dan sore ini sangat banyak saudaraku, karena  ia adalah benteng yang kokoh dari ganguan jin dan sihir, dicukupi dari segala sesuatu, tidak membahayakannya segala sesuatu apapun, dan banyak lagi keutamaan yang dikandungnya. Sudah sepantasnyalah kita merutinkanya setiap pagi dan sore hari. Hanya butuh beberapa menit untuk memabacanya, jika kita tidak sempat  duduk secara khusus untuk membacanya selepas shalat shubuh dan selepas shalat ashar, maka bacalah disela-sela kita berpergian untuk beraktivitas, disela-sela kita bekerja, naik kendraan atau pulang dari pekerjaan kita disore hari.

 

 Saudaraku,

*Bacalah buku setiap hari walaupun itu cuma selembar…

Kajilah llmu dan spesialisasi yang kita tekuni dari buku-buku yang kompeten, usahakan setiap hari kita sempatkan untuk membacanya meski cuma selembar.

*Hafallah ayat Al-Qur’an walau cuma 1 ayat perhari….

*Rutinlah berolahraga setiap hari, dengan melakukan lari-lari kecil, gerakan ringan dan sederhana, meski hanya beberapa menit.

Maka Saudaraku,

Lakukanlah kebaikan, meski sedikit asal berkelanjutan. Walaupun barang sebentar, tapi asalkan rutin. Semoga kita istiqamah dalam mengerjakan kebaikan, karena memang memelihara amal-amalan dan kebaikan secara berkelanjutan itu sulit, makanya di butuhkan kesabaran yang luar biasa agar kita tetap dan terus melangkah dijalan ketaatan. Semoga dengan beramal secara rutin mebentuk benteng kekokohan iman didalam kita dada dan stabilitas ruhiyah kita tetap terjaga. Mari kita optimalkan usia yang tersisa, dan yang terpenting kita tetap menjalankan amal shaleh dan kebaikan hingga ajal menjemput. Tetaplah lakukan kebaikan meski kecil, dan jangan mengangggap remehnya karena setiap kebaikan ada manfaatnya baik bagi pelakunya ataupun orang lain, baik didunia maupun diakhirat.

 

Salam Bahagia

Ahmad Bin Ismail Khan

Batam,24 Juni 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s