Belajar dari Hijrah yang Gagal

Sebelumnya telah ada beberapa orang mukmin yang di perintahkan untuk hijrah dan menjadi hijrah yang pertama bagi kaum muslim yaitu hijrah ke Habasyah yang di pimpin oleh Ja’far bin abu Thalib dan hijrah ini tidak di bersamai oleh Rasulullah SAW. Namun yang akan di paparkan berikut ini adalah hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ke kota Thaif. Dr. Muhammad Sa’idRamadhan Albuthy bercerita kepada kita tentang hijrah nabi Muhammad ke kota Thaif.

“Setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang di lancarkan kaum Quraisy. Rasulullah SAW berangkat ke Thaif mencari perlindungan dan dukungan dari Bani Tsaqif serta mengharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah. Setibanya di Tha’if, beliau menuju tempat para pemuka bani Tsaqif sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah itu. Beliau berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Akan tetapi, ajakan beliau itu di tolak mentah-mentah dan di jawab secara kasar. Rasulullah SAW kemudian bangkit dan meninggalkan mereka seraya berharap supaya mereka menyembunyikan berita kedatangan ini dari kaum Quraisy, tetapi mereka pun menolaknya. Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melempari dengan batu sehingga mengakibatkan cedera pada kedua kaki Rasulullah SAW. Zaid Bin Haritsah berusaha keras melindungi beliau, tetapi kewalahan sehingga ia sendiri terluka pada kepalanya.”

Jika kita merenungi dan mencermati ini merupakan salah satu kegagalan yang di alami oleh Rasulullah SAW dalam berusaha menyebarkan ajaran Islam. Ketika kita berhenti membaca kisah ini sampai di sini saja maka tentu kita tidak akan mengetahui bahwa kegagalan ini merupakan salah satu dari kegagalan yang mempesona. Kenapa saya katakan ini merupakan kegagalan yang mempesona? tak lain adalah karena menurut saya ini adalah hanya episode awal sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada akhirnya Rasulullah SAW berhasil melakukan hijrah berikutnya yaitu hijrah ke  Madinah dan kemudian beliau berhasil membentuk tatanan masyarakat dan mendirikan negara sekaligus mendirikan peradaban dan jika kita hari ini kita mengenal istilah “madani” sesungguhnya itu di ambil dari kata yang berasal dari nama kota madinah hal ini di jadikan rujukan bahwa madinah pada saat itu menjadi cikal bakal peradaban masyarakat terbaik sepanjang massa.

Tujuan awal saya menuliskan goresan kata ini adalah agar kita bersama-sama mengambil hikmah dari suatu kegagalan, mempelajarinya bahkan mensyukuri makna lain dari kegagalan. Marilah kita cermati apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dari kisah gagalnya beliau hijrah ke kota Tha’if dan bahkan menjadikannya salah satu bagian dari suksesnya beliau membangun peradaban di kota madinah.

Yang dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah ia mendapati kesakitan dan kegagalan adalah berdoa.

Setelah berlari dari kejaran orang-orang yang menganiayanya. Rasulullah akhirnya tiba di kebun milik uqbah bin Rabi’ah dan kaum yang penjahat dan budak yang mengejarnya berhenti dan kembali. Setelah merasa tenang di bawah rindang pohon anggur. Beliau SAW mengangkat kepalanya seraya berdoa

“Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai zat yang maha pengasih lagi maha penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, semua itu tak kuhiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajahMu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenanMu”

Luar biasa sikap bijak yang beliau SAW lakukan. DOA sesungguhnya akan meneguhkan keyakinan. Doa yang beliau panjatkan syarat makna akan sikap kesyukuran walau beliau baru saja mendapati kegagalan. Mungkin jika kita yang mendapati kegagalan barang kali kita akan lupa bersyukur bahkan banyak di antara kita yang menggerutu dan menjadikan kegagalan itu sesuatu yang negative sekaligus melahirkan sikap-sikap negative yang lainnya. Di dalam doanya pula begitu syarat makna pengakuan atas kekuatan Tuhan dan rasa kebergantungan kepada Allah Tuhan semesta yang merajai seluruh alam.

Beliau SAW memunculkan sikap luar biasa yang lahir dari keimanan kepada Tuhannya. Sikap itu adalah sikap sabar sebagaimana yang telah diperintahkan kepada dalam Al Qur’an

“Hai orang-orang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga dan bertawakallah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (Ali Imran: 200)

Yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi penderitaan dan penganiayaan tersebut, beliau begitu ikhlas, ridha dan sabar. Seandainya Beliau tidak bersabar akan perlakuan itu tentunya beliau akan membalas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang jahat dan tokoh Bani Tsaqif. Namun beliau tidak melakukannya dan itu sebagai bukti sikap positif yang beliau lakukan. Hal ini di ceritakan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Aisyah RA ia berkata:

Wahai Rasulullah SAW, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?” jawab Nabi SAW, “aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaummu. Akan tetapi, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari Aqabah saat aku datang dan berdakwah kepada Ibnul Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi dia menolak tawaran dakwahku. Aku kemudian kembali dengan perasaan tidak menentu sehingga aku baru tersentak dan tersadar ketika di Qarnuts Tsa’alib. Aku angkat kepalaku dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu”. Nabi SAW melanjutkan“kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucap salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka. Aku berkata, “Aku bahkan menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak MenyekutukanNya dengan sesuatu apapun”.

Dan apakah kau tahu ternyata kelapangan beliau terjawab dengan kemenangan dakwah beliau ketika beberapa waktu setelah kisah itu akhirnya orang-orang datang berbondong-bondong untuk menjadi muslim bahkan berangsur-angsur penduduk jazirah Arab menjadi beriman di bawah bendera Islam yang beliau rintis dari dakwahnya di Mekah dan membangun tatanan peradaban di Madinah. Begitulah jika kegagalan disikapi dengan sikap yang mempesona maka kegagalan itu adalah hanya sebatas episode awal sebelum datangnya episode kemenangan dan kesuksesan yang memukau semesta raya.

Seorang penyair, Musthafa Shadiq Ar Rafi’ terkait kegagalan hijrah nabi yang mempesona ini melukiskan dengan syairnya:

“Betapa ajaib symbol-simbol takdir yang terdapat di dalam peristiwa ini!

 Kebaikan, kedermawanan dan kemuliaan datang begitu cepat memintakan maaf atas kejahatan, kebodohan dan kezhaliman yang baru saja dialaminya. Kecupan mesra itu datang setelah umpatan-umpatan permusuhan

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s