ISLAM MELARANG UMATNYA BERBUAT GHULUW (MELAMPAUI BATAS)

Pengertian Ghuluw

Dalam kamus lisanul ‘arab disebutkan bahwa asal kata ghuluw diambil dari kata ghala yaghlu, yang secara bahasa artinya melampaui batas atau berlebih-lebihan. Penertian ghuluw dalamarti syari’at adalah berbuat melampaui batas, baik dalam keyakinan maupun amalan yang justru membuatnya menyimpang dari apa yangb telah ditetapkan oleh syari’at. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ghuluw dalam agama berarti melampaui batas dengan menambah-nambah dalam memuji sesuatu atau mencela sesuatu sehingga menyimpang jauh dari apa yang menjadi haknya

Larangan Berbuat Ghuluw

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamudan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nyayang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” ( QS.An-Nisa: 171)

Dalam buku Ghuluw Benalu Dalam Ber-islam Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq dikemukan bahwa Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam melarang ghuluw atas umatnya, agar mereka tidakberbuat seperti yang diperbuat umat-umat terdahulu,yang kepada merekalah para rasul diutus. Bersama larangan ini beliau juga menjelaskan akibat dan pengaruh ghuluw.Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’y dan Ibnu Majah sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhyallahu anhum:

 

ثَنَا يَحْيَى وَإِسْمَاعِيلُ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا عَوْفٌ حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ حُصَيْنٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ الرِّيَاحِيِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ يَحْيَى لَا يَدْرِي عَوْفٌ عَبْدُ اللَّهِ أَوْ الْفَضْلُ قَالَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى رَاحِلَتِهِ هَاتِ الْقُطْ لِي فَلَقَطْتُ لَهُ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَوَضَعَهُنَّفِي يَدِهِ فَقَالَ بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ مَرَّتَيْنِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَأَشَارَ يَحْيَى أَنَّهُ رَفَعَهَا وَقَالَ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku di pagi hari Aqabah, sedangkan saat itu beliau duduk di atas unta beliau: “Ambilkan kerikil untukku.” Maka aku pun memungutkan kerikil untuk beliau gunakan melempar jumrah. Kemudian beliau meletakkan kerikil itu di tangannya, lalu beliau bersabda: “Seperti mereka.” beliau mengucapkan dua kali. Ia Yahya mengatakan; Dengan tangannya, lalu Yahya mengisyaratkan bahwa beliau mengangkatnya. Beliau bersabda: “Janganlah kalian berlaku ghuluw (sikap berlebih-lebihan), karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena bersikap ghuluw dalam agama.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “ Hal ini bersifat umum untuk semua jenis ghuluw dalam keyakinan maupun dalam amal.

Ghuluw ini banyak sekali terjadi ditengah-tengah masyarakat, dimana mereka tidak menyadari bahwa sikap perbuatan yang telah dilakukannya telah melampaui batas dari seharusnya .

Allah Subhanahu Wata’ala telah menyerukan kepada hambanya untuk istiqomah dan mengikuti perintah, tidak berbuat ghuluw dan menambah-nambah, seperti yang di firmankan-Nya dalam al-Qur’an surah Hud : 112 :

“ Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “

Dari ayat tersebut Allah menghendaki hambanya agar istiqomahseperti yang diperintahkan tanpa melampaui batas dan tidak pula mengada-adakan kesulitan,mengalihkan agama ini dari kemudahan kepada kesulitan.Sedangkan dalam surah Al-Maidah ayat 77 Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman :

“ Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.

Larangan Berbuat Ghuluw Terhadap Rasullulah Shallalahu ‘alaihi Wasallam.

Dalam surah An-Nisa :ayat 171 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“ Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.”

Larangan Ghuluw Terhadap Para Ulama dan Para Orang-Orang Shalih.

bahwa menuhankan ulama adalah mengikuti pebdapat mereka sekalipun bertentangan dengan ayat al-Qur’an atau al-Hadits.Fenomena semacam ini banyak sekali terjadi dikalangan yang mengaku dirinya sebagai salafi dan ahli bid’ah. Mewreka bersikukuh kepada pendapat guru-guru mereka sekalipun bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits . Bahkan ada dikalangan mereka yang enggan mengaji kepada guru-guru lain. Ada tanda-tanda bahwa hanya guru mereka yang benar dan guru lain sesat. Marilah kita b erfsikap sederhana dan yang kita tonjolkan hanyalah dalil. Siapapun yang btak punya dalil harus ditinggalkan dan yang punya dalil harus diikuti. Iunghatlah firman Allah dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 31 :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

Mereka menghormati para pemimpin atau ulama melebihi kedudukan Allah Subhanahu Wata’ala tanpa mereka sadari, dimana perintah Allah di tinggalkan untuk traat kepada pimpin atau ulama . Bila dikatakan kepada mereka ikutilah ayat-payat Allah atau hadits-hadits Rasul,merekamenjawab: kita tidak mampu mengarti maksud ayat-ayat Qur’an atau dalil hadits, kita harus ikut ulama atau tokoh –tokoh kita.

Dari keterangan diatas maka seyogyanya kita harus berhati-hati dalam bersikap terhadap ulama, karena ternyata ulama ada yang dapat menyesatkan kita dan menyeret kita kejahanam. Bersikaplah yang wajar dan hormati dan hargailah ulama sesuai dengan kedudukannya, tidak lebih dari itu, janganlah memuji dan menyanjung ulama melebihi kapasitasnya sebagai ulama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s