Teruntuk Jiwa-Jiwa Yang Lalai

Wahai saudaraku, hadapkanlah dirimu kepada Tuhan serta berpalinglah dari kesesatan dan hawa nafsumu! Isilah sisa hidupmu dengan berbagai ketaatan dan bersabarlah dengan godaan syahwat yang fana! Pehijrah sejati adalah orang yang meninggalkan kejahatan dan dosa. Sabar dalam ketaatan di dunia sesungguhnya lebih ringan daripada sabar dalam neraka.

Saudara-saudaraku, mengapa mengantuk padahal engkau terjaga? Mengapa ragu padahal engkau melihat? Mengapa lalai padahal engkau telah bersaksi? Mengapa linglung padahal engkau sadar? Mengapa diam padahal engkau akan dituntut? Mengapa menetap padahal engkau pasti pergi? Bukankah sudah tiba waktunya bagi orang-orang yang tidur untuk bangun? Bukankah telah tiba saatnya bagi orang yang lalai untuk mengambil pelajaran?
Wahai saudaraku, sampai kapan engkau menunda amal, larut dalam angan-angan, terlena oleh kelapangan dan lalai akan serangan ajal? Apa yang engkau lahirkan akan kembali ketanah. Apa yang engkau bangun akan runtuh. Apa yang engkau kumpulkan akan musnah. Apa yang engkau kerjakan akan tercatat dan akan ditanyakan pada hari perhitungan

.
Wahai saudaraku, mengapa engkau selalu berbuat kesalahan dan kedurhakaan? mengapa engkau selalu mengabaikan perintah Tuhanmu? Mengikuti fitnah dan kesesatan? Sampai kapan engkau  mau berada  dalam kelalain ini? Tidakkah ada secercah keingin dalam dirimu untuk bangkit dari segala keterpurukan iman yang melandamu? Mengapa engkau enggan mendekatkan diri kepada Tuhan? Demi Allah, orang yang menebus dosa dan takut neraka telah beruntung dan selamat, sementara engkau masih  sibuk dalam kelalaian dan selalu berbuat dosa.

Wahai saudaraku, kenapa untaian nasehat-nasehat tidak bisa mengetuk relung hatimu? Berbagai peristiwa dan kejadian yang menimpamu tidak pula menyadarkanmu. Mungkin hatimu telah keras seperti batu saudaraku, atau mungkin lebih keras dari batu. Sedangkan kerasnya batu masih bisa dilewati  oleh lembutnya air , bahkan tetesan-tetesan air yang lembut masih bisa memberi bekas dan lobang pada batu yang keras. Sementara engkau saudaraku, mengapa kerasnya hatimu tidak bisa tersentuh dan terketuk oleh nasehat-nasehat kebenaran, tidak bergetar ketika ayat- ayat Allah dibacakan kepadamu, ini pertanda kabut kemaksiatan telah menutupi hatimu. Maka bersegaralah mohon ampun dan bertobat kepada Allah yang Maha Pengampun.
Wahai saudaraku, tinggalkanlah dunia ini seperti orang saleh meninggakannya! Siapkanlah bekal untuk kepindahan yang pasti akan terjadi! Ambillah pelajaran dari berlalunya waktu dan umur.

Wahai saudaraku, segeralah bertaubat dari dosa! Ikutilah jejak kaum yang bertaubat! Lewatilah jalan kaum yang kembali kepada Tuhan serta mendapat taubat dan ampunan! Kerahkanlah dirimu untuk meraih ridha sang Maha Pengasih! Meraka bangkit beribadah dikegelapan malam dan membaca kitab Tuhan dengan jiwa yang cemas dan hati gemetar. Mereka letakkan kening mereka ditanah dan meminta kebutuhan mereka kepada Zat Yang Maha Melihat tapi tidak terlihat.

Wahai saudara-saudaraku yang lalai, sadarlah! Wahai orang yang selalu bergelimang dosa, sudahi dan insaflah! Demi Allah, tidak ada manusia yang lebih buruk selain daripada penyembah hawa nafsu! Siapakah yang lebih rugi daripada orang yang menjual akhirat untuk dunia? Mengapa kelalain selalu menguasai hatimu saudaraku? Mengapa engkau biarkan kebodohan selalu menutupi aib diri yang selalu engkau sembunyikan? Bukankah engkau melihat peristiwa kematian berserakan disekitarmu, kedatangannya begitu nyata, isyaratnya telah tiba, kedatangannya memupus segala kesempatan dan angan-angan, petakanya menghanguskan berbagai alasan, panahnya akan menembus dirimu, takdirnya akan menghujam ubun-ubun! Hingga Kapan Saudaraku? Sampai kapan kelalain ini berlangsung saudaraku?

Mengapa engkau masih berpaling dan diam? Apa engkau ingin hidup abadi? Demi Allah, itu mustahil saudaraku, kematian selalu mengintai. Tak ada seorangpun yang bisa lolos dari peluru kematian. Karena itu, sungguh-sungguhlah mengabdi kepada Tuhan, tinggalkanlah dosa dan kemaksiatan, bangkitlah dari kelalaian, hempaskanlah seluruh kemalasan, mudah-mudahan Allah selalu melindungi dirimu wahai saudaraku, dan membuatmu istiqamah dijalan kebenaran hingga ajal menjemputmu.
Saudaraku, tidakkah engkau tahu betapa panjangnya duka dan derita bila kelak engkau ditempakkan di neraka Jahim dan engkau mengalami siksaan yang tiada henti, disana engkau  berada diantara hidup dan mati, tapi mengapa engkau lalai terhadap kabar ini? Mengapa kelalain masih menyelimuti dirimu? Tidakkan ancaman Allah ini mengehentikan langkahmu untuk bermaksiat kepada-Nya?
Wahai saudaraku, betapa banyak hari yang telah engkau lewati dengan selalu menunda-nunda taubat. Betapa banyak sebab yang membuatmu abai akan kewajiban, betapa sering telingamu mendengar tapi engkau mengabaikan ancaman dan kabar-kabar petakut dari Allah.

Wahai saudaraku, ikatlah jiwamu dengan kendali, jauhkan hati dari dosa, dan bacalah lembaran pelajaran dengan lisan pemahaman. Saudaraku, mengapa engkau melalaikan ajal dan mengedepankan angan-angan. Sadarlah wahai saudaraku! Betapa banyak tahun yang engkau sia-siakan, betapa banyak waktu dan kesempatan berbuat kebaikan yang engkau lewati, hari-harimu hanya bersenang-senang dan bermain-main, tertipu oleh angan-angan, terjerembab dalam lembah kemaksiatan, dan diisi dengan banyak tidur, maka tak ayal seluruh dunia menjadi tempat tidurmu. Kelalaianmu semakin memuncak tapi tidakkah engkau tahu bahwa azab dan bencana yang akan menimpamu akan semakin dekat sebagai teguran atas kelalaianmu.
Saudaraku, bangunlah dari lalaimu, sebab kelalaian adalah tidur pulas yang panjang. Bersiap-siaplah untuk akhiratmu, sebab dunia hanyalah tempat mampir dan tidur siang.

Wahai saudaraku, dunia adalah ibarat racun pembunuh sementara engkau lalai akan bahayanya dan lengah akan tipuannya. Betapa banyak pandangan yang manis di dunia, sementara pahitnya diakhirat tidak tertanggung. Wahai saudaraku, hatimu rapuh, pandanganmu kabur, matamu lepas, lisanmu menjaring dosa, dan tubuhmu penat mengais puing-puing dunia. Betapa banyak pandangan nista yang menggelincirkan.
Wahai saudaraku, sampai kapan kelalaian ini berlangsung, sedang engkau menghadapi tuntutan tak tertunda? Berjanjilah untuk mengisi hari-harimu dengan kebaikan dan memperbaiki amalmu yang rusak! Waspadalah selalu akan datangnya ajal! Panggilan keberangkatan telah berkumandang dan hisab telah menanti, tetapi engkau masih bermain-main dengan ajal. Tidakkah engkau merasa betapa beratnya bebanmu , sementara betapa buruknya teman yang menemani. Betapa sedikitnya bekal, sementara betapa jauhnya perjalanan yang akan engkau lalui.

Wahai saudaraku, perjalanan ini pasti terjadi. Mengapa kita ingin tetap tinggal di negeri yang bukan  tempat tinggal kita ini? Tahun demi tahun hanyalah terminal. Bulan demi bulan hanyalah tahapan. Hari demi hari hanyalah putaran. Tarikan nafas adalah langkah. Maksiat adalah pemutus. Laba berupa surga dan kerugian berupa neraka.

Saudaraku, engkau yang banyak menangis dan meratap tetapi lupa akan amal buruk yang telah kau perbuat. Seandainya engkau kembali kepada-Nya dengan sepenuh hati, niscaya Ia lepaskan seluruh gundah dan deritamu.

Wahai saudaraku, berhati-hatilah terhadap dunia. Tali dunia pasti putus. Bersikaplah kanaah! Ingat engkau pasti mati.
Wahai saudaraku, kenapa engkau ketika mencari dunia begitu cekatan dan bersegera. Kala mencari akhirat engkau berlamban-lamban. Sungguh aneh dirimu, engkau bersemangat mencari dan mengumpulkan yang fana, sementara yang kekal dan abadi engkau lalai terhadapnya. Bahkan engkau tak acuh dengan kesempatan dan waktu yang telah diberikan kepadamu. Usia mudamu engkau habiskan untuk kesia-siaan, masa tua dalam pengangguran, dan masa renta dalam tangisan: Akhirnya engkau berteriak “ Umurku telah hilang”. Engkau sehat ketika mengejar dunia, tapi sakit tatkala mengejar akhirat. Betapa sering engkau berpaling dari jalan takwa. Tidakkah engkau mengambil pelajaran? Maka bergabunglah dengan kaum yang bertaubat sebelum engkau terputus bersama yang lain.

Wahai saudaraku, engkau sering berpakaian zahid dan abid. Sementara hatimu lalai. Lahirmu bersih tapi batinmu kotor, tercemar oleh angan-angan. Berlaku riya saat didepan manusia, khusyuk ketika ada yang melihat, sementara lalai ketika sendiri. Taat dikala ramai, bermaksiat dikala sepi. Penampilanmu  alim tapi batinmu jauh dari ketakwaan. Maka bersegeralah membenahinya saudaraku, perbaikilah sisi batinmu dahulu niscaya sisi zahirnya akan mengikut.

Wahai saudaraku, yang masa muda telah berlalu, masa tua telah datang, jika engkau dahulu tidak bersegera saat muda, bersegeralah saat tuamu ini! Setelah rambut beruban, tiada lagi senda gurau dan main-main. Sungguh aneh, bila sudah tua masih tergelincir. Engkau telah menyia-nyiakan masa mudamu dalam kelalaian, sementara hari tuamu hanya kau isi dengan ratapan. Seandainya engkau mengetahui catatan amalmu tentu engkau akan menangis bermalam-malam.

Wahai saudaraku, sampai kapan engkau terus bermaksiat kepada Tuhanmu? Kapankah engkau kembali kejalan hidayah, saudaraku? Jiwamu telah penuh kelalaian dan tidak ada lagi takwa dihatimu. Kau sia-siakan masa muda dalam kealpaan , sementara saat tua kau hanya meratapinya.

Wahai saudaraku, kenapa kau biarkan dirimu terhalang dari pintu-pintu kebaikan, sementara rombongan orang-orang yang taubat telah melintas didepanmu. Mengapa air matamu tak juga berlinang? Kenapa tidak ada desah penyesalan? Bersiapalah saudaraku! Uban telah mengingatkan saat-saat kepergian. Mengapa kemalasan selalu menyelimutimu, wahai saudaraku? Kelalaian selalu menyertaimu! Dan tahukah engkau saudraku, berapa pun dan apapun alasanmu tak ada lagi maaf saat hari hisab. Semua pintu telah tertutup pada waktu itu, tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan kealpaan yang engkau buat saat didunia. Maka bersegeralah, semoga engkau bisa pulih dan kembali sehat dengan bertobat kepada Allah. Bersujudlah menjelang fajar agar engkau selamat dari bencana.

Wahai saudaraku, engkau telah menghabiskan usiamu dalam permainan. Orang lain berhasil meraih tujuan, sementara engkau malah semakin menjauh. Orang lain bersunguh-sunguh, sementara engkau dalam lembah syahwat. Kapankah engkau sadar dan bertobat? Bilakah engkau keluar dari kubangan hawa nafsu dan kembali menuju Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Terpuji? Andai saja, engaku melihat kerisauan para petobat dan kegelisahan kaum yang takut akan ancaman. Mereka menempatkan kesenangan dalam shalat, zakat dan zuhud, sedangkan kaum yang terhalang dari kebaikan menyia-nyiakan masa muda dalam kelalaian serta masa tua dalam ketamakan dan angan-angan. Masa muda tidak bermanfaat dan masa tua tidak diisi dengan tobat. Wahai yang terpelempar dari masa muda dan masa tua!

Wahai saudaraku, mengapa engkau berani melakukan perjalanaan tanpa bekal, padahal perjalanan teramat jauh! Sementara kebaikanmu amat sedikit, dosamu bagai buih dilautan, matamu telah beku dari tangis penyesalan, sedangkan hatimu telah mengeras bagai batu. Siapakah yang lebih pantas mendapat musibah daripada dirimu yang tenggelam dalam lautan maksiat setiap harinya?

Wahai saudaraku, cucilah noda dosa dengan linangan air mata. Yang selamat dari asap maksiat adalah yang bersegera. Hadirkanlah hatimu sesaat, semoga dengan nasihat ia akan sadar kembali. Betapa ruginya pengisi hari dengan maksiat. Betapa bahagianya pengisi hari dengan taat. Carilah rombongan petobat! Perbaharuilah dan pelajari risalahmu kepada Sang Kekasih! Lentera takwa menunjukkan kesungguhan. Betapa banyak yang melewati malam kelalaian. Tangisilah matinya hatimu, butanya mata batinmu, dan banyaknya rintangan. Jika zaman, uban, dan kelemahan tidak mengingatkanmu, entah apalagi yang bisa diperbuat. Wahai saudaraku, segeralah bertobat. Hisablah dirimu sebelum dihisap pada hari perhitungan!.

Wahai saudaraku, betapa bagusnya engkau dahulu! Mengapa engkau berubah? Kemanakah dirimu yang dahulu? Yang selalu hadir di shaf terdepan shalat berjamaah, yang bersemangat mengahadiri shalat berjamaah? Kemanakah engkau yang dahulu, saudaraku? Yang selelau mengazamkan dalam dirinya untuk selalu membaca Al-qur’an minimal 1 juz dalam sehari, yang kemana pergi selalu ada Al-Qur’an bersamanya, mengapa engkau sekarang meninggalkan Al-qur’an sang penunjuk jalan? Melupakan hafalanmu? Kemanakah engkau yang dahulu, saudaraku? Yang selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk besedekah, baik dikala lapang maupun dikala susah? Diri ini rindu akan dirimu yang dulu , saudaraku? Kemanakah dirimu yang dahulu, saudaraku? Yang malam harinya diisi dengan tahajud penuh khusyuk, yang menyedikitkan tidur demi bisa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta? Yang selau berlinang air mata penyesalan, yang menangisi dosa-dosanya dipenghujung malam, yang rintihan doa-doanya yang terlantunkan disepertiga malam? Kemanakah dirimu yang dahulu, saudaraku? Betapa lurusnya semangatmu dahulu? Bagaimana engkau bisa tergelincir? Semua kebaikan yang engkau tekuni, satu persatu berguguran, berganti dengan kemalasan, akhirnya terisi dan tergantikan dengan kemaksiatan? Tidakkah engaku rindu  keaadan engkau dahulu saudaraku? Mari kembali saudaraku, rengkuh kembali jalan hidayah itu. Sebelum semuanya terlambat, agar engkau kelak tidak menyesal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s