“Menyembelih Orientasi Duniawi”

Oleh : Cahyadi Takariawan

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah, yang telah mencurahkan cinta dan kasih sayangNya kepada kita semua, sehingga kita senantiasa mendapatkan petunjuk iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad saw, yang dengan penuh cinta dan kasih sayang membimbing umat manusia menuju keridhaan Allah Ta’ala.

Pada pagi hari ini, kita menunaikan salah satu tuntunan agung dalam Islam, yakni shalat Iedul Adha, yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Setiap kali kita menunaikan ibadah Iedul Adha dan qurban, selalu membawa kita kepada pembelajaran luar biasa yang dicontohkan melaluiNabiyullah Ibrahim As. Ada sangat banyak pelajaran penting dan suri teladan utama dari sosok Ibrahim As, salah satunya adalah sikap ketaatan yang paripurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketaatan Nabi Ibrahim As dijadikan sebagai salah satu kisah menyejarah yang diabadikan dalam Al Qur’an :

“Sesungguhnya Ibrahim adalah ummatan qanitan  (seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh) kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah” (An Nahl : 120)

Pagi ini nanti seusai shalat Ied, kita akan bersama-sama menyaksikan sebentuk prosesi ketaatan kepada Allah, dalam bentuk penyembelihan hewan qurban. Peristiwa ini sebenarnya bisa kita lihat dari segi kemenangan ruhaniyah atau kemenangan spiritual pada diri kita masing-masing. Kita “sembelih” hawa nafsu dan kecenderungan syahwat, kita sembelih orientasi materialisme, untuk meraih keridhaan Allah. Inilah kemenangan spiritual, dimana hawa nafsu dan orientasi duniawi kita tundukkan.

Salah satu makna ibadah qurban, adalah upaya mendapatkan kemenangan ruhaniyah dalam diri kita. Jangan sampai orientasi spiritual terkalahkan oleh orientasi materi yang picik dan sempit. Jangan sampai terbelokkan oleh propaganda materialisme yang dengan  sangat kuat dikumandangkan masyarakat dunia saat ini yang pragmatis. Jangan sampai ternodai oleh gaya hidup hedonis yang mengutamakan kehidupan materi di atas kehidupan ruhani.

Nabi Ibrahim As memberikan contoh keteladanan, bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia serta bermartabat, hendaklah dilalui dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnyalah, hidup dalam ketaatan kepada Allah akan memberikan jaminan tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sesungguhnyalah bahagia itu ada di dalam jiwa yang taat kepada Allah, bukan pada gemerlapnya harta dunia.

Marilah kita cermati perilaku dan orientasi serba-materi yang banyak melanda masyarakat dunia saat ini, dimana mereka melalaikan sisi ruhani. Apakah yang bisa dibeli oleh orang-orang kaya dengan segala kekayaan yang mereka miliki?

Mereka bisa membeli ranjang berlapis emas murni, namun tidak bisa membeli tidur nyenyak.

Mereka bisa membeli rumah mewah di tengah kemegahan kota Paris atau Beverly Hills, namun tidak bisa membeli ketenangan hati.

Mereka bisa membeli obat-obatan paling mahal, namun tidak bisa membeli kesehatan.

Mereka bisa membeli rumah sakit bertaraf internasional dengan dokter-dokter spesialis yang sangat lengkap, namun tidak bisa membeli kehidupan.

Mereka bisa membeli pemuasan syahwat sesaat, namun tidak bisa membeli cinta.

Mereka bisa membayar tenaga pengamanan, namun tidak bisa membeli perasaan aman.

Mereka bisa membeli mobil termewah, namun tidak bisa membeli harga diri.

Lihat apa yang bisa dibeli oleh seorang artis Hollywood. Mudah baginya membeli rumah mewah di kawasan elit Beverly Hills, namun toh ia mengaku tidak bahagia. Artis itu menjual rumah mewah miliknya di Beverly Hills, dengan harga US$ 13,5 juta atau setara dengan Rp. 121,5 miliar, setelah bercerai dari pasangannya. Rumah yang terdiri dari enam kamar tidur dan sembilan kamar mandi ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, mulai dari gym, ruang permainan, ruang untuk menonton film, studio rekaman, hingga kolam renang. Ternyata ia hanya bisa membeli rumah mewah di kawasan sangat bergengsi, namun tidak bisa membeli kebahagiaan dan ketenangan hidup. Ia tidak merasakan kebahagiaan dengan segala kemewahan yang dimilikinya itu.

Lihat pula apa yang terjadi pada artis Hollywood lainnya. Ia memiliki sebuah hunian mewah senilai US$ 55 juta atau sekitar Rp 500 miliar di kawasan Santa Barbara, California. Rumah seluas 2.136 meter persegi dengan panorama gunung dan laut itu dilengkapi home theater, danau buatan, enam kamar tidur, 14 kamar mandi, dan 10 perapian. Namun, artis wanita terkaya dengan kekayaan senilai US$ 2,4 miliar itu memutuskan tak menempatinya, karena merasa tidak tenang dan tidak bahagia tinggal di dalamnya. Sehari-sehari, ia memilih tinggal di sebuah villa bergaya Italia seharga Rp 60 miliar.

Andai saja seseorang membeli mobil mewah yang harganya US$ 2,6 juta atau Rp. 23,4 miliar; dilengkapi mesin 16 silinder dan dapat menghasilkan tenaga 1.200 hp, yang belum lama ini dilaunching. Mobil mewah ini dapat melaju dari kecepatan 0 – 100 km/jam dalam waktu 2,4 detik. Namun, akan digunakan berkendara dimana di Indonesia ini? Tenangkah hati pemiliknya meninggalkan mobil ini di garasi rumah, walau sudah terkunci? Sayang sekali, jika jiwa tergadai dan tersandera oleh barang-barang dan teknologi.

Sejarah peradaban materialisme telah diungkapkan oleh Al Qur’an sebagai dinamika kontemporer yang senantiasa mengemuka dari zaman ke zaman. Tiga peradaban materialisme terdahulu telah diungkapkan Al Qur’an sebagai sebuah pemberitaan mengenai usang dan rapuhnya paham serba materi yang mereka miliki. Perhatikan bagaimana Allah Ta’ala mencatat sejarah kesombongan dan akhirnya kejatuhan mereka:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah berbuat kepada kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak (tentara) yang banyak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti adzab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” (Al Fajr: 6-14).

Ayat di atas memberikan gambaran tentang tiga peradaban materi yang angkuh dan menolak kehidupan ruhani. Peradaban kaum ‘Ad memiliki teknologi canggih, mampu menciptakan bangunan tinggi yang belum pernah ada di negeri lainnya. Peradaban kaum Tsamud memiliki kekuatan fisik yang prima, sehingga terbiasa memotongi bebatuan lembah. Peradaban Fir’aun memiliki kekuatan harta dan tentara, yang dengan itu justru membuatnya berlaku aniaya.

Itulah tiga contoh peradaban materialisme yang diabadikan kisahnya dalam Al Qur’an. Kesudahan dari peradaban materi hanyalah adzab, karena mereka tiodak memiliki mata ruhani, dan hanya menggunakan mata materi.

Peradaban propetik para Nabi dan Rasul terdahulu juga dikisahkan secara berulang dalam Al Qur’an sebagai sesuatu yang akan senantiasa mengemuka sepanjang zaman. Allah Ta’ala mengabadikan kisah pengepungan peradaban Fir’aun terhadap Nabi Musa as, tatkala Musa dan pengikutnya dikejar-kejar oleh Fir’aun bersama tentara kerajaan.

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita akan benar-benar tersusul!’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (Asy Syu’ara: 61-62).

Sedemikian tinggi keyakinan Nabi Musa as terhadap Allah Ta’ala, membuatnya merasa senantiasa terjaga. Tidak ada kekhawatiran pada dirinya menghadapi kekuatan-kekuatan yang mengancam. Sangat kokoh jawaban Musa atas kekhawatiran kaumnya, “Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Inilah bentuk nyata kemenangan ruhaniyah pada Nabi Musa.

Demikian pula Nabi Muhammad saw, telah diabadikan kisahnya tatkala dikejar masyarakat paganis, Quraisy:

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. Maka Allah menurunkan ketenanganNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya” (At Taubah: 40).

Menghadapi ancaman serius dari masyarakat paganis yang mengejar tersebut, ada keyakinan luar biasa yang hanya dimiliki oleh masyarakat berperadaban makrifat: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Ini juga contoh nyata kemenangan ruhaniyah yang dimiliki Nabi saw.

Untuk itulah, sebagai masyarakat dan bangsa yang beriman kepada Allah, sudah menjadi kewajiban kita selalu menjaga dan mempertahankan kemenangan ruhaniyah yang telah kita dapatkan dengan rangkaian ibadah qurban. Hendaknya kita memiliki ketinggian ruhaniyah, agar selalu bisa berlaku istiqamah menjalani hidup yang penuh tantangan dan tawaran materialistik. Pilihan-pilihan kita akan selalu berada dalam kebenaran, selama kita menjaga kemenangan ruhaniyah dalam diri kita.

Cara paling sederhana dalam menjaga kemenangan spiritual adalah dengan pendekatan diri kepada Allah secara terus menerus. Menjaga kualitas ibadah kita, menjaga kebersihan hati dan pikiran, menjaga ingatan kepada Allah dalam segala kondisi. Dengan demikian setiap kali berada dalam pilihan-pilihan, mata ruhaniyah kita yang akan banyak memberikan pertimbangan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan dan kebaikan kepada kita semua. Semoga Allah tetapkan kemenangan ruhaniyah atas diri kita dengan ibadah qurban ini. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s