Manhaj Series: “Memahami Makna Qiyadah”

Memahami Makna Qiyadah
Oleh: Syaikh Abu Mus’ab As-Suri

بسم الله الرحمن الرحيم

Kepengecutan dalam mengambil keputusan adalah 50 kali lebih buruk dari sifat pengecut dalam medan perang…

Seorang komandan perang jika ia melihat bahwa wajib baginya untuk melakukan perdamaian dengan musuh walaupun seluruh bala tentaranya tetap ingin berperang, maka ia harus memutuskan untuk berdamai. Contohnya ada dalam peristiwa Hudaibiyah, Nabi SAW telah melakukan perdamaian dan gencatan senjata, walaupun seluruh sahabat pada saat itu sangat marah dan tidak rela.

Sebagai refleksi atas peristiwa penuh fitnah tersebut, salah seorang sahabat bercerita:

“Wahai manusia, jangan diperdaya oleh logika, sungguh pada hari Hudaibiyah seandainya aku bisa melawan perintah Rasulullah SAW maka pasti aku akan melawan.”

Begitupula dalam persoalan menarik diri dan mundur dari medan perang; jika seandainya seluruh pasukan tetap ingin maju untuk menyerang, tetapi komandan pasukan melihat bahwa mereka harus mundur dan meninggalkan medan tempur tersebut, maka wajib baginya untuk memerintahkan pasukannya mundur.

Dalam perang Yarmouk di mana kaum muslimin sedang menggempur negeri Syam, dan pembebasan wilayah hampir sampai ke Halab (Aleppo), serta telah menerapkan jizyah (pajak) atas penduduk Homs. Namun Romawi datang mengerahkan bala tentara yang sangat besar sekali dan mendesak kedudukan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Maka Khalid bin Walid pun mengkaji dimana ia harus bertahan bersama pasukannya, namun ia tidak menemukan lokasi yang strategis untuk bertahan di Suriah, karena Suriah adalah negeri yang daratannya datar. Khalid bin Walid tidak ingin menempatkan pasukannya di medan perang seperti itu, oleh karena itulah mereka mundur dari seluruh daratan Suriah kecuali di bagian selatan saja.

Artinya adalah Khalid bin Walid beserta pasukannya telah meningggalkan wilayah seluas 180.000 km2 untuk dikuasai oleh Romawi, wilayah yang mana telah mereka kuasai dan mereka terapkan jizyah atas para penduduk dan mereka kelola sehingga menjadi bagian dari Darul Islam. Akan tetapi mereka lebih memilih untuk meninggalkannya karena pertimbangan strategi dan militer, lalu mereka mundur ke belakang dan menyusun kembali strategi perang dari sana.

Sebelum pasukan kaum muslimin mundur, Khalid bin Walid telah menemui penduduk Homs dan berkata pada mereka:

“Kami telah mengambil jizyah dari kalian, tetapi sekarang kami harus pergi meninggalkan wilayah ini, maka kami akan mengembalikan jizyah kalian.”

Khalid bin Walid beserta pasukannya mengembalikan seluruh jizyah yang telah mereka dapatkan dari penduduk Homs, karena ia tidak mampu memberikan jaminan perlindungan atas penduduk wilayah tersebut, inilah sebabnya mengapa banyak sekali kaum Nasrani Homs masuk Islam saat itu.

Khalid bin Walid menarik mundur pasukannya dan memilih lokasi perang yang baru, apakah menurut anda semua pasukan setuju dengan keputusan Khalid?

Dengan strategi cerdik yang diterapkan oleh Khalid bin Walid, yang mana pasukan Islam telah mundur dan menarik diri mereka dari seluruh wilayah Suriah, kemudian mereka membuka front pertempuran di wilayah yang menguntungkan pasukan Islam dan menang. Kaum muslimin akhirnya mampu menaklukkan negeri Romawi bahkan sampai ke Istanbul. Dan pasukan Islam juga telah memberikan kerugian besar atas pasukan Romawi, dan mereka telah kembali untuk mengambil seluruh wilayah yang mereka tinggalkan tempo hari bahkan mengambil alih wilayah-wilayah yang baru.

Apakah seorang Khalid bin Walid diharuskan untuk memahamkan setiap orang badui, orang arab pedalaman, dan setiap kaum muslimin yang berada dalam barisan pasukannya mengenai keputusannya? Dan haruskah Khalid bin Walid memahamkan orang-orang kemarin sore, para doktor, para insinyur dan setiap orang yang mengantongi ijazah universitas bahwa ia ingin menarik mundur pasukannya dari seluruh medan perang Suriah? Jika harus demikian maka sampai kapan persoalan akan selesai? Kapan sebenarnya diwajibkan syura? Dan kapankah diwajibkan untuk mengambil keputusan langsung?

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pada peritiwa Saqifah Bani Saidah menyaksikan adanya keramaian da keributan antara kaum Muhajirin dan Anshar untuk memilih khalifah pengganti Rasulullah SAW. Saat mendapatkan celah, Umar bin Khattab bertanya pada mereka: “Ada apa ini?” Maka mereka berkata: “Kami berkumpul untuk memusyawarahkan perkara penting!”

Sedangkan saat itu kumpulan orang-orang ini bukanlah delegasi melainkan kumpulan banyak suku, kabilah dan orang-orang dari antah berantah. Maka Umar bin Khattab berkata:

“Hendaknya para petani kembali ke ladangnya masing-masing, dan para pekerja kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Perkara ini hanya boleh diputuskan oleh kaum Muhajirin dan Anshar, dan kaum muslimin harus mengikuti dan menta’ati hasilnya.”

Subhanallah, resapilah kebijaksanaan seorang Umar bin Khattab. Kisah diatas memberikan kesimpulan pada kita bahwa masyarakat wajib mengikuti tokoh-tokoh terkemuka diantara mereka, tokoh-tokoh masyarakat wajib mengikuti para pemimpin, dan para pemimpin wajib mengiktui amir tertinggi (Khalifah). Beginilah pedoman yang harus kita terapkan dalam memilih pemimpin, karena dasar agama dan sirah para pendahulu kita, bukan memilih pemimpin dari jalanan.

Lihatlah ketika manusia mengambil pemimpin dari pinggir jalan, yaitu Abu Abdurrahman Amin dari Jama’ah Musalahah Al-Jazairiyah. Profesi lelaki ini awalnya adalah seorang penjagal ayam, maka ketika ia menjadi pemimpin ia pun menjagal kaum muslimin. Ini adalah masalah dari jama’ah bukan masalah dari syura yang tidaklah kaku.

Mereka telah menurunkan Dr. Abu Khalil Mahfudz, beliau adalah seorang doktor yang terdidik dalam Harakah Islamiyah, terlibat dalam jihad, dan berhasil mendirikan sel gerilya di kota-kota. Namun beliau diturunkan dari kepemimpinan jama’ah, dan mereka mengangkat orang tadi, sehingga mereka harus membayar harga yang mahal untuk itu. Persoalannya bukan karena syura yang kaku, tapi karena amir terdahulu telah memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dan perkara ini mengecewakan jama’ah. Persoalannya juga bukan pada peraturan, karena peraturan disini adalah peraturan yang syar’i yang telah diatur oleh syariat. Kita telah terlalu memaksa diri kita, sehingga kita mendapatkan dalil bahwa syura itu bersifat kaku, padahal syura dalam syariat kita tidaklah kaku.

Maka wajib atas setiap komandan untuk berani mengambil keputusan, walaupun keputusan itu disukai oleh orang-orang di sekelilingnya atau tidak disukai!

Baiklah, mungkin anda akan berkata pada saya: “Bagaimana jika pemimpin itu mengecewakan kami (keputusannya salah)?”

Pemimpin yang mengecewakan anda satu, dua atau tiga kali maka pasti akan lengser dengan sendirinya. Itu adalah takdir yang harus anda terima, anda tidak dapat mengubah ketentuan tersebut. Sungguh sangat banyak orang yang kecewa karena kegagalan dalam pernikahannya sekali, dua kali atau tiga kali, serta usai sudah harapannya untuk membina rumah tangga, maka itu adalah takdirnya untuk gagal dalam rumah tangga. Oleh karena itu ketika anda memilih seorang pemimpin, perhatikanlah kapasitas diennya dan latar belakang dirinya, karena perkara yang demikian akan sangat menentukan kekuatan dirinya, serta ia harus berani mengambil keputusan.

Penjelasan mengenai perkara ini sangatlah banyak, namun saya hanya menyebutkan beberapa poin saja dalam kesempatan ini:

[Bukanlah pemimpin sejati yang hanya bisa menunggu perintah dari atasannya dalam kondisi mendesak sekalipun]

Ini adalah poin yang sangat penting sekali, bisa saja anda bukan seorang pemimpin tertinggi, mungkin anda hanya seorang komandan di front timur yang komunikasi antara anda dan amir tertinggi telah terputus. Dalam keadaan seperti ini, maka anda sebagai komandan lapangan harus mengambil alih tanggung jawab, dalam hal-hal darurat maka hendaknya komandan lapangan yang mengambil alih komando.

Hal ini bisa menjadi persoalan yang kompleks, karena bisa jadi komandan lapangan tidak punya kemampuan untuk mengambil keputusan, sehingga ia tidak mengambil keputusan apapun dan pasukannya pun menjadi hancur. Kebiasan yang lain adalah adanya penyangkalan yang dilakukan oleh amir tertinggi yang sebenarnya telah mengikat setiap komandan wilayah untuk boleh berinisiatif melakukan gencatan senjata atau perdamaian mendesak dengan musuh, namun sang amir malah berkata: “Aku tidak pernah memerintahkanmu, kenapa kau lakukan itu?” Baik, katakanlah benar sang amir tidak memerintahkan komandan lapangannya untuk melakukan inisiatif tersebut, namun kenyataannya adalah komunikasi antara ia dan komandan lapangannya telah terputus, sementara keputusan harus segera diambil!?

Ada juga jenis pemimpin yang malah mengeksekusi bawahan-bawahannya yang berani berinisiatif sendiri atau mengambil keputusan sendiri. Dalam lingkungan seperti ini, anda pasti mendapati komandan yang mengelola militer, komandan yang mengelola dapur, wasit dalam pertandingan sepak bola, hingga komandan yang mengurusi segala urusan tidak ada yang punya kemampuan membuat keputusan. Mereka semua menjadi pengecut dalam membuat keputusan, karena mereka dibayangi dengan penjara atau tiang gantungan jika membuat keputusan semendesak apapun itu.

Perkara ini sangat halus sekali dalam dunia harakah kita, jika semua komandan wilayah diserahkan wewenang, maka mereka akan mengganti arah, merusak program hingga meruntuhkan jama’ah. Namun jika segala perkara tetap berpusat pada amir tertinggi, maka jama’ah akan menjadi pasif dan tidak ada inisiatif. Dua fenomena ini harus ditengahi oleh akhlak, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ghazali, yaitu harus adanya perumusan langkah-langkah umum jama’ah yang tidak dapat diurubah, dan pemisahan urusan strategi yang dimungkinkan untuk dirubah.

Saya berikan contoh yang mudah: Misalnya amir jama’ah memerintahkan anda dan tim untuk pergi dari Paris menuju Milan, untuk melakukan sebuah aksi. Dan perencanaan aksi telah dirancang sedemikian rupa; aksi ini akan dipimpin oleh seorang komandan dari tim, kemudian anda dan tim pergi ke TKP dengan menggunakan kereta api, dan seterusnya. Namun si komandan tiba-tiba menghilang dan tidak mau ikut aksi, maka apa langkah selanjutnya? Langkah yang harus anda tempuh adalah anda tetap pergi ke Milan dan mengeksekusi target.

Kini anda bernisiatif untuk memimpin aksi, maka anda dapati keadaan di mana semua kereta api sedang dijaga super ketat, dan kondisi ini tidak diperkirakan dalam pembahasan strategi aksi sebelumnya. Anda menyadari keadaan ini terjadi karena kunjungan Presiden ke kota Milan, beginilah keadaan mengejutkan sering terjadi. Keadaan seperti ini pernah kami alami langsung secara nyata, yaitu saat kami hendak berangkat ke Eropa untuk mengurusi pemalsuan berkas, dokumen dan perangkat administrasi lainnya. Tatkala kami bergerak dari satu kota ke kota lainnya, kami dikejutkan dengan perubahan keadaan yang sangat tiba-tiba. Kemudian kami menyadari bahwa keadaan itu terjadi karena kunjungan kenegaraan Presiden Amerika ke kota yang juga kami lalui. Hikmahnya adalah kami menjadi sadar inilah akibat kebodohan karena tidak mengupgrade berita-berita aktual setiap saatnya, akhirnya kami terpaksa merubah tujuan saat itu.

Walaupun amir telah memerintahkan anda untuk pergi dengan kerata api, namun anda tetap harus fleksibel dengan perubahan. Jika anda tetap ngotot untuk pergi dengan kereta api, maka taruhannya adalah tim anda akan tertangkap, maka dengan demikian anda wajib untuk memilih alternatif mobil. Dalam keadaan seperti ini akan ada yang berujar:

“Bagaimana caranya kami pergi dengan mobil? Kami akan melalui pos-pos pemeriksaan yang tidak pernah dibahas dalam perencanaan, jika kami tertangkap di pos pemeriksaan tersebut maka kemungkinan amir jama’ah juga akan ikut terseret. Dan amir akan memarahi kami karena kami telah melanggar perintahnya dengan tidak menaiki kereta api dan memilih memakai mobil. Jadi lebih baik kami tetap naik kereta api walaupun kami harus tertangkap!”

Dalam kasus ini yang lebih benar adalah mereka memilih opsi mobil. Karena jika mereka tetap menaiki kereta api, maka mereka akan tertangkap dengan konyol karena mereka telah melihat sendiri pengamanan ekstra ketat yang sedang diberlakukan di kereta api. Sedangkan memakai mobil adalah opsi yang masih sangat memungkinkan, karena terkadang pemeriksaan terhadap mobil memang berlangsung ketat dan terkadang sangat longgar. Jadi opsi mobil adalah yang paling sedikit resikonya dalam kasus ini dengan bertawakkal pada Allah.

Jika seandainya ditakdirkan anda tertangkap, maka seorang pemimpin yang berjiwa besar tidak akan menekan anda, dia akan bertanya dengan bijak: “Apa yang menyebabkan anda berijtihad untuk memilih opsi mobil?” karena dia mengetahui bahwa target operasi tidaklah berubah, karena anda tidak mengubah tujuan ”Milan” dan anda juga tidak mengubah target. Kecuali amir memerintahkan anda untuk mengeksekusi “Menteri Dalam Negeri” tapi anda malah mengeksekusi “Menteri Pariwisata”. Intinya adalah jangan sampai anda memasukkan perkara-perkara lain dalam strategi yang dapat mengubah operasi.

Itulah sebabnya ini merupakan perkara pendidikan harakah yang sangat urgen sekali. Janganlah mengira bahwa tarbiyah harakah itu hanya latihan militer, naik gunung dan menembak saja! Pelajaran-pelajaran ini merupakan rangkuman pengalaman pergerakan jihad yang telah berlangsung selama 20 tahun terakhir, baik itu kami alami sendiri atau kami dapatkan dari rekan-rekan kami atau kami baca dari kitab-kitab yang telah teruji. Maka hendaknya kita saling berbagi pengalaman, sehingga harakah jihad kita menjadi lebih matang.

Pelatihan militer adalah bagian kecil sekali dari mempersiapkan seorang pejuang. Setiap pejuang harus bisa menjadi komandan yang bisa bertanggung jawab dan harus bisa menjadi pemimpin yang bisa memimpin. Jika tidak disiapkan demikian, kelak ia malah akan menyabotase jama’ah. Perkara ini tidak akan terpenuhi melainkan dengan tarbiyah dan pembelajaran serta uji coba terus menerus.

Kita kembali ke topik kita selanjutnya:

[Bukanlah pemimpin sejati yang hanya bisa menunggu perintah dari atasannya dalam kondisi mendesak atau menunggu waktu yang sesuai untuk beraksi]

Perkara ini tidak pantas ada dalam kepemimpinan para lelaki sejati, karena ia hanya berfungsi sebagai penukil perintah. Amir berkata padanya: “Lakukanlah ini!” maka ia berkata pada kelompoknya: “Wahai saudara-saudara, amir memerintahkan kita untuk melakukan ini!” Perkara ini hanya cocok untuk para muadzin yang menjadi wakil imam di masjid-masjid yang besar, ketika imam bertakbir: “Allahu Akbar” maka si muadzin juga akan mengulanginya dengan: nyaring: “Allahu akbar” sehingga semua makmum dapat mendengarkannya.

Kita mencari pemimpin yang bisa bertanggung jawab atas bawahannya bukan sekedar menjalankan perintah yang datang dari jauh!

[Pemimpin hendaknya bisa mengambil inisiatif untuk menjadi musuh rutinitas, metode dan prinsip yang kaku. Betapa banyak pemuda berkapasitas telah hancur karena tenggelam dalam rutinitas yang kaku, sehingga kobaran jiwa mereka pun kini meredup dan lenyap]

Mungkin anda akan pernah mendapati seorang pemuda yang pada awalnya memiliki potongan seorang pemimpin, dan memiliki fisik seorang pemimpin. Namun beriring waktu tidak ada perubahan dari dirinya, malahan kepribadiannya semakin meredup dan potensi dirinya telah hilang, dan tidak punya inisatif apapun. Ia kini berubah menjadi seekor tikus pengerat yang tak mampu melakukan apapun.

Berselang waktu anda mendapatinya telah menjadi manusia apatis yang tak memiliki inisiatif dan kaku, itu dikarenakan ia selalu terfitnah setiap kali berinisiatif, dan ia selalu ditimpa masalah jika mencoba keluar dari lingkaran kekakuan. Kini ia hanya bisa berkata:

“Biarkanlah aku, yang penting honorku datang setiap akhir bulan dan aku bisa hidup. Alhamdulillah aku adalah muhajir dan murabit, tidak ada bedanya bagiku jika aku berjihad atau tidak berjihad, dan tak ada bedanya bagiku jika aku memberikan pendapat atau tidak.”

Demikianlah ia berakhir dan terkulai dalam mengarungi perjuangannya.

Percayalah pada saya bahwa ada lelaki yang juga bersikap demikian pada istri mereka dengan cara seperti ini. Tatkala istri seringkali memindahkan lokasi perabotan, engkau suami bertanya: “Kenapa selalu dipindahkan?” Wahai suami, ketahuilah bahwa itu adalah kekuasaan yang dimiliki istrimu. Percayalah pada saya, saya sering diminta untuk mendamaikan percekcokan rumah tangga, sungguh sangat sering saya dapati karena urusan-urusan yang sepele lah mereka bertengkar. Alangkah aneh sekali.

Ada istri yang suka berinisiatif sendiri, dan dia mungkin saja salah dan melakukan kekeliruan, namun si suami menutup segala kemungkinan atas istrinya untuk tetap berinovasi. Setiap kali ia mencoba jenis masakan baru atau melakukan hal baru di dalam rumah, maka si suami selalu mengkritiknya. Ada pula jenis lelaki yang membebaskan istrinya mengurus semua urusan rumah sesuka hatinya dan suami juga bisa bebas dengan urusannya sendiri.

Ada wanita yang di rumahnya ia menjadi tuan atas segala urusan. Ada pula wanita yang jika anda datang ke rumah tersebut dan mengetuk pintu dan bertanya: “Apakah Abu Ahmad ada di rumah?” ia tidak menjawab sepatah katapun. Anda harus memahami bahasa sandi “Morse” untuk mengetahui kisah dalam rumah itu. Alangkah indahnya jika ia bisa menjawab dengan: “Abu Ahmad tidak ada, apakah engkau punya pesan untuknya?” Namun sayangnya wanita malang ini tidak dibolehkan untuk berinisiatif oleh suaminya.

Terkadang kita dihadapkan dengan keadaan di mana kita harus meninggalkan rumah secara tiba-tiba. Istrilah yang mengambil alih tanggung jawab mengatur rumah dan membalas surat-surat masuk (telpon). Dan jika ada titipan senjata di dalam rumah, maka istrilah yang akan memberikannya pada si pemilik. Akan muncul berbagai urusan yang harus ia kelola, tentu kasus ini terjadi karena terpaksa dan mendesak. Walaupun sebenarnya ini bukanlah tanggung jawab wanita, namun karena dalam keadaan yang mendesak istri dengan terpaksa harus memikul tanggung jawab ini.

Contoh lain dari sikap buruk para ikhwan dalam mengatur rumah tangganya adalah dalam memperlakukan anak. Betapa saya sangat sedih ketika saya datang bertamu ke rumah mereka, saya menyaksikan bapak memukul anaknya dengan untuk mempermalukan anaknya di depan orang-orang. Mereka melakukan itu untuk menunjukkan bahwa mereka adalah “Bapak yang gagah” walau dengan menhancurkan perasaan dan mental anaknya.

Saudaraku, berikanlah hukuman yang pantas atas anakmu, jangan engkau rusak kepribadiannya, dan jangan kau jadikan ia manusia lemah sehingga menambah beban umat.

Bandingkanlah semua contoh kasus diatas atas karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Maka anda akan dapati para pemimpin yang membangkitkan rasa cinta ketika ia mengaturmu, para pemimpin yang membangkitkan kekhusukan dan ketakwaanmu. Merekalah kelompok yang Rasulullah SAW telah bersabda tentang mereka:

ألا أنبئكم بخياركم؟» قالوا: بلى يا رسول الله، قال: «خياركم الذين إذا رُؤوا ذُكِرَ اللهُ عز وجل

Maukah kalian aku tunjukkan manusia terbaik diantara kalian? Para sahabat menjawab: ”Tentu Ya Rasulullah”, maka Rasulullah bersabda: ”Sebaik-baik orang adalah yang jika kalian melihatnya mengingatkan kalian kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4119 dari hadits Asma’ bin Yazid)

Ada juga pemimpin yang hanya bisa memberikan rasa takut, setiap kali ia datang maka ia mengkritik habis setiap persoalan dan mencari kambing hitam diantara yang hadir.

Demikianlah persoalan-persoalan yang penting dalam kepemimpinan, dan batas-batas intervensi dari pemimpin, serta batas-batas keleluasaan dari bawahan.

[Terdapat pepatah yang mengatakan: memilih berbagai jalan adalah kunci dari kesuksesan. Namun kita harus memilih dengan cepat dan tepat, karena waktu bagaikan pedang yang jika tidak kita tebas maka akan menebas kita]

Artinya tatkala anda dihadapkan dengan keadaan mendesak, maka segeralah eksekusi aksi untuk menyelesaikannya tanpa perlu menunggu keputusan pusat yang mungkin membutuhkan waktu lama.

Terakhir:

[Kemampuan membuat keputusan adalah karakter yang harus dimiliki pemimpin. Jika pemimpin tidak mampu berdiri tegak untuk membuat keputusan, maka segala urusan akan tersendat. Dan jika jajaran pembantu amir juga tidak memiliki karakteristik ini, maka mereka akan membuat kekacauan]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s