MENIKMATI JALAN KEBENARAN

Sesungguhnya jalan kebenaran itu sulit dan berat, penuh dengan onak dan duri. Siapa pun tahu tentang semua ini dengan ilmul yaqin, dan bahkan ainul yaqin.

Bagaimana tidak, setiap hari semua dapat mendengar dan menyaksikan para algojo jahiliyyah saat mereka mengarahkan senjata dan peluru mereka ke dada orang-orang yang beriman. Doktrin mereka kini adalah ‘menyarangkan peluru tepat di jantung’. Masa menembakkan gas air mata , mematahkan tangan dan kaki telah berakhir.

Sesungguhnya jalan kebenaran itu… seberat dan sesulit apa pun itu, seorang mukmin akan senantiasa menikmati dan mencintainya. Dalam menjalaninya, seorang mukmin akan dapat merasakan rasa manisnya yang tidak dapat digambarkan; tiada yang mengetahuinya selain yang merasakannya. Bagaimanapun saya menggambarkan bagi Anda rasa manis dan kemuliaan ini, saya tidak akan mampu benar-benar menyifatinya. saya hanya memohon kepada Allah semoga Dia menganugerahkan itu kepada saya, Anda semua, dan seluruh kaum muslimin.

Rasa manis inilah yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban berat, menabahkan di jalan mendaki, dan menjadikan seorang mukmin ridla terhadap Pelindungnya dan Penciptanya, bahkan ketika ia melewati masa terpahit dan hari terberat sekali pun.

Bukankah sahabat Haram bin Milhan ketika dikhianati dan sebatang tombak dilemparkan ke arahnya, saat tombak itu dicabut dan ia melihat darah, kata-kata yang terucap adalah, “Ohh, aku telah sukses, demi Rabb Ka’bah!”?![1]

Begitu pula dengan sahabat yang mulia, ‘Utsman bin Mazh’un yang menjadi buta sebelah matanya di jalan Allah setelah ia menolak perlindungan yang diberikan oleh seorang musyrik dan memilih ridla dengan perlindungan Allah. Kepadanya, Walid bin Mughirah berkata, “Demi Allah, wahai kemenakanku, jika matamu tidak menginginkan apa yang terjadi sekarang ini, sebenarnya aku dapat menjaminnya.” Maka ‘Utsman pun menjawab, “Sebaliknya, demi Allah, sungguh mataku yang satu yang masih sehat ini benar-benar menginginkan apa yang menimpa saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh aku kini berada di sisi Dzat yang jauh lebih mulia daripada dirimu!”[2]

Juga, tidakkah kau dengar kata-kata Khalid bin Walid berikut, “Malam pengantin dengan wanita yang sangat aku cintai, lalu aku diberi kabar gembira akan lahirnya seorang anak laki-laki, tidak lebih aku sukai daripada malam yang sangat dingin dan penuh salju, di mana aku berada di tengah-tengah pasukan untuk menyerang musuh keesokan harinya.”[3]

Shalahuddin al-Ayyubi, karena meruah cintanya kepada jihad dan nikmat yang dirasakannya ada dalam kematian, luka, dan keletihan di jalan Allah; karena itu semua ia membenci kehidupan istana dan hura-hura. Ia lebih suka kehidupan di bawah tenda di padang lapang. Para sejarawan sampai menulis, “Semua perbincangannya tentang jihad dan mujahidin. Semua kajiannya tentang senjata-senjata dalam jihad. Ia telah rela hidup di bawah tenda di gurun pasir.”

Ada pula ‘Umair bin Hammam t Ketika ia mendengar penuturan Rasulullah r saat perang Badar, bahwa Allah mewajibkan surga bagi siapa saja yang mati syahid di jalan-Nya, ia berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi itu?” “Benar.”, jawab beliau. “Ck..ck..”, komentar ‘Umair. Rasulullah r bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk mengucapkan kalimt ‘Ck..ck..’? Ia menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah, rasanya aku tidak punya harapan untuk menjadi penghuninya.” “Tetapi kamu termasuk penghuninya!”, jelas beliau. Maka ‘Umair mengeluarkan korma dari kantungnya, ia makan beberapa biji, lalu berkata, “Jika aku masih hidup untuk menikmati korma-korma ini, sungguh itu adalah kehidupan yang panjang.” Kemudian ia membuang semua korma yang ada di tangannya, lalu ia maju bertempur sampai terbunuh.[4]

Ia telah menikmati jalan (kebenaran) dan mengecap rasa manisnya. Maka ia merasakan beberapa detik yang ia habiskan untuk makan korma dan sekian saat yang akan mengakhirkannya dari surga serasa setahun.

Saat akan dibunuh, Khubaib bin ‘Adiy bersyair,

وَلَسْتُ أُبَالِي حِيْنَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا

عَلَى أَيِّ جَنْبٍ كَانَ فِي اللهِ مَصْرَعِيْ

وَذَلِكَ فِيْ ذَاتِ اْلإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ

يُبَارِكْ عَلَى أَوْصاَلِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ

Aku tiada peduli saat aku terbunuh sebagai seorang muslim

Dalam posisi apa pun, sungguh aku tersungkur di jalan Allah

Bagi Allah, jika Dia menghendaki

Dia akan memberkati setiap bagian tubuh yang terpisah.[5]

‘Umair bin Abu Waqqash, adik kandung Sa’ad bin Abu Waqqash, saat terjadi perang Badar umurnya belum genap 16 tahun. Diam-diam ia pergi ke medan tempur. Ia menghindari Rasulullah r khawatir jika disuruh pulang lagi. Maka ketika beliau mengetahui keinginan dan keseriusannya untuk berperang, beliau mengizinkannya. Ia maju dan akhirnya terbunuh di jalan Allah.[6]

Sebelum berangkat ke medan Uhud, ‘Abdullah bin Jahsy dan Sa’ad bin Abu Waqqash bertemu sesaat dan bersepakat untuk mengamini doa masing-masing secara bergantian. Doa ‘Abdullah adalah sebagai berikut, “Ya Allah, berikan rizki kepadaku berupa seorang laki-laki yang dipenuhi amarah dan sangat kuat sehingga aku memeranginya karenamu, dan ia pun mampu memberikan perlawanan. Kemudian ia dapat mengalahkanku, ia iris hidungku dan telingaku. Lalu ketika nanti aku berjumpa dengan-Mu saat Kau tanya, ‘Wahai ‘Abdullah kenapa hidung dan telingamu teriris?’ lalu aku menjawab, ‘Karena-Mu dan karena membela Rasul-Mu’, dan Engkau pun berfirman, ‘Kamu benar.’”[7]

Doa yang agung dan benar-benar menakjubkan! Pribadi-pribadi yang telah menjual segalanya kepada Rabbnya dan segala kepahitan mereka rasakan sebagai manisan. Doa ini tidak mungkin muncul kecuali dari seseorang yang telah menikmati jalan kebenaran dan mengecap rasa manisnya. Baginya, keridlaan Allah adalah segalanya. Baginya, berjumpa dengan Allah dalam keadaan taat kepadanya dan terbunuh di jalan-Nya adalah hal terpenting dalam hidup.

Mereka dan orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang memang pantas mendapatkan tamkin dari Allah, kemenangan dari-Nya, dan menjadi pilihan-Nya.

‘Abdullah bin Jahsy telah meraih cita-citanya; terbunuh sebagai syahid di medan Uhud, dan hidungnya diiris oleh orang-orang musyrik. Mungkin ada sebagian yang tidak tahu bahwa ‘Abdullah bin Jahsy masih kerabat Nabi. Ia adalah anak bibi Rasulullah r.

Mereka adalah kaum yang merasakan bahwa kemuliaan mereka hanya akan terwujud dengan meniti jalan ini, meskipun harus dengan memupus keinginan, meskipun harus dengan memerangi orang-orang berkulit putih dan hitam, meskipun semua orang bersepakat untuk memusuhi mereka, serta meskipun mereka harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga.

Anda dapat merasakan hal itu di dalam kecintaan agung yang menggenangi hati Sa’ad bin Mu’adz; kecintaannya terhadap kematian sebagai syahid di jalan Allah. Setelah ia menjatuhkan vonis bagi Yahudi Bani Quraizhah, ia ~saat itu ia sedang terluka~ berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Anda tahu bahwa yang paling aku cintai adalah berperang di jalan-Mu menghadapi kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya Allah, sungguh aku mengira mulai saat ini Anda telah menghentikan peperangan antara kami dengan mereka. Karenanya, jika masih akan ada peperangan melawan Quraisy, panjangkan hayatku supaya aku dapat berjihad menghadapi mereka dijalan-Mu. Namun jika Anda telah menghentikannya, pancarkan darahku dan jadikanlah kematianku karenanya.” Maka, terpancarlah darah dari tubuhnya. Para sahabat tidak ada yang menyadarinya sampai mereka melihat darah mengalir dari tenda Sa’ad. Rasulullah  r telah menempatkannya di tenda dekat masjid untuk diobati. Melihat darah yang mengalir itu, para sahabat berseru, “Hai penghuni tenda, apa yang terjadi di tenda kalian?” Mereka menyaksikan Sa’ad telah bersimbah darah, dan ia gugur karenanya.[8]

Mundzir bin ‘Umair di kalangan sahabat dikenal sebagai al-mu’niq lil maut, orang yang paling cepat menuju kematian sebagai syahid di jalan Allah. Gelar itu ia dapatkan karena dialah yang pertama kali terbunuh sebagai syahid dalam peristiwa bi`ru ma’unah.[9]

Khalid al-Islambuli, ketika menghadapi hukuman mati tampak di wajahnya kebahagiaan tak terkira. Ketika ia melihat kesedihan di wajah salah seorang saudaranya, sambil mengucapkan salam untuk yang terakhir kali ia berkata, “Jangan bersedih, aku cuma pergi kepada Rabbku!”

Seorang aktivis, setelah dalam peperangan yang sengit tangan kanannya terluka parah ~telapak tangan kanannya benar-benar terputus~ berulang-ulang, di antara mati dan hidup ia mendengungkan, “Aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridla (kepadaku)“ (Thaha : 84)

Aktivis yang lain, menangis tersedu-sedu saat ia ditolak untuk berjihad ~ tubuhnya lemah~ sebab ia bercita-cita mendapatkan rizki berupa syahadah. Ketika komandan pasukan mengetahui tangisnya, ia berkata, “Inilah yang aku harapkan!” Lalu ia pun memasukkannya ke dalam barisan… Ketika musuh akan mengeksekusinya ~ia tertawan~ ia mulai berdoa; banyak dan panjang, doa untuk kecelakaan mereka. Ia terus menerus berseru dengan suara yang keras, “Orang-orang yang terbunuh dari akan mendapatkan surga! Orang-orang yang terbunuh dari kalian akan mendapatkan siksa neraka!”

Saya telah menyaksikan para aktivis yang utama dengan mata kepala sendiri. Mereka yang terbilang para pemimpin dan imam pembawa petunjuk, saya saksikan mereka tidur beralas bumi atau di atas selembar selimut. Mereka tidak memiliki dunia, makanan, dan minuman. Pakaian mereka hanyalah yang menutupi aurat mereka. Ada di antara mereka yang berbantal tangan mereka sendiri atau sepatu mereka. Ada pula yang berbantal piring yang biasa dipakai untuk makan siang. Ada pula yang berbantalkan batu bata.

Kendati pun demikian, mereka benar-benar dalam kebahagiaan yang tak terkira karena ketaatan mereka kepada Rabb mereka dan karena taufik yang Dia berikan kepada mereka untuk tetap teguh di atas kebenaran, ibadah, dan ketaatan. Juga karena Allah telah membukakan bagi mereka ma’rifah yang sebenarnya kepada Allah, asma`, danshifat-Nya.

Kebahagiaan yang mereka rasakan seakan-akan dunia ini dipersembahkan untuk mereka. Anda dapat merasakan, sepertinya mereka mengulang-ulang kalimat ini, “Kami berada dalam kenikmatan. Dan sekiranya para raja mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan merebutnya dengan pedang!”

Bagi mereka urusan dunia ini tidak ada nilainya. Kesibukan mereka hanyalah beramal untuk Islam dan mengupayakan kejayaannya di muka bumi. Hati mereka bersorak, “Berada di jalan Allah… anugerah terindah!”

Mereka yang telah saya sebut di muka adalah orang-orang yang menikmati jalan kebenaran dan mengecap rasa manis yang telah mengusir derita, onak dan duri, kesulitan, serta siksaan dari jalan itu. Bahkan, siksa berubah menjadi nikmat, pahit menjadi manis, sulit menjadi mudah, dan mahal menjadi murah. Keridlaan mereka terletak pada keridlaan Pelindung mereka yang sebenarnya (Allah). Kecintaan mereka terhadap sesuatu adalah karena kecintaan mereka kepada-Nya yang Mahasuci. Mereka senantiasa bergegas menuju kecintaan dan keridlaan Rabb mereka, meskipun harus kehilangan dunia seisinya.

إِنْ كَانَ رِضَاكُمْ فِيْ سَهَرِيْ

فَسَلاَمُ اللهِ عَلَى وَسَنِيْ

Sekiranya keridlaan ada dalam berjaganya aku

Kuucapkan ‘wassalam’ untuk rasa kantukku

Itulah derajat yang tinggi. Barangsiapa diberi taufik oleh Allah untuk itu, sungguh ia telah diberi taufik untuk kebaikan yang banyak.

Saya memohon kepada Allah, semoga menjadikan kita semua sebagai ahlinya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.


[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 6/18, Muslim 13/47, Ahmad 3/137, dan ‘Abdullah bin Mubarak dalam Kitabul Jihad hal. 71 dari sahabat Anas bin Malik ra. Adapun lafazh al-Bukhariy terjemahannya sebagai berikut, “Nabi saw mengutus beberapa orang Bani Sulaim kepada Bani ‘Amir yang berjumlah 70 orang. Ketika mereka sampai pamanku, Haram bin Milhan, maju seraya berkata, “Saya akan maju terlebih dahulu, semoga mereka menjamin keamananku sehingga aku dapat menyampaikan pesan Rasulullah saw. Dan seandainya mereka menyerangku kalian masih berada di dekatku.” Maka Haram maju, dan mereka membiarkannya. Ketika ia menyampikan pesan dari Nabi saw tiba-tiba mereka memberi isyarat kepada seseorang dari mereka, lalu orang itu pun menyerangnya, melukainya. Haram berkata, “Allahu akbar, aku telah sukses, demi Rabb Kakbah.” Maka mereka segera menyerang sahabat-sahabatnya, membunuh mereka semuanya.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya` 1/103 dari ‘Utsman ra. Ibnu Hisyam menyebutkannya dalam sirah dari Ibnu Ishaq tanpa sanad (vol. I/370)

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dalam Kitabul Jihad dari bekas budak keluarga Khalid dari Khalid hal. 91, juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Qais bin Abu Hazim. Al-Haitsmiy berkata dalam Majma’uz Zawaid 9/350, “Para perawinya orang-orang yang terpercaya.”

[4] Diriwayatkan oleh Muslim 13/45 dari Anas bin Malik ra. Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` secara mursal 1005 dari Yahya  bin Sa’id tanpa menyebut nama ‘Umair. Al-Bukhariy juga meriwayatkannya 7/354, juga an-Nasa`iy 6/23 dari Jabir bin ‘Abdullah ra tanpa menyebut ‘Umair dan disebutkan bahwa itu terjadi dalam perang Uhud. Ibnu Hajar berkata, “Kiranya, ada dua kejadian yang dialami oleh dua orang yang berbeda.”

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/379, Ahmad 2/294, al-Baihaqiy dalam as-Sunanul Kubra 9/146 dari Abu Hurairah.

[6] Diriwayatkan oleh al-Hakim 3/188, Ibnu Sa’ad dalam at-Thabaqat 3/149 dari Sa’ad bin Abu Waqqash. Al-Hakim mengatakan, “Isnadnya shahih.”

[7] Diriwayatkan oleh al-Hakim 2/76 dan al-Baghawiy seperti tertera dalam al-Ishabah 2/287 dari Ishaq bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari ayahnya. Al-Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim namun beliau dan al-Bukhariy tidak meriwayatkannya.” Ini disepakati pula oleh adz-Dzahabiy.

Diriwayatkan juga secara mursal dari jalan lain oleh ‘Abdullah bin Mubarak dalam al-Jihad hal. 74, al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/200, Abu Nu’aim dalam Hilyah 1/109 dari Sa’id bin Musayyib. Awalnya berbunyi “Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu” lalu Sa’id memaparkan hadits yang semisal dengannya dan berkata, “Sungguh, aku benar-benar berharap Allah tidak mengabulkan akhir doanya sebagaimana Dia telah mengabulkan awal doanya.” Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits shahih sesuai dengan syarat al-Bukhariy dan Muslim seandainya tidak mursal.” Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini sebagai hadits mursal yang shahih.

[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/411, Muslim 12/95, Ahmad dalam Musnad 6/142 dari ‘Aisyah ra

[9] al-Ishabah, Ibnu Hajar 3/461.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s