Orang-orang yang terlibat dalam jihad adalah kaum yang beruntung:

Wahai mujahidin…

Demi Alloh, kalian dalam kondisi yang sangat beruntung sehingga banyak orang yang patut iri kepada kalian. Bukan seperti dikatakan para mukhodzil dan pelemah semangat yang hanya melihat pada ukuran materi saja, yang merasa ngeri dengan berita-berita yang disebar luaskan media-media informasi di seluruh dunia dan arab, yaitu kemenangan pasukan sekutu dan mundurnya para mujahidin. Sungguh, perang tidak diukur dengan jumlah dan persenjataan, bukan dengan kemenangan dan keunggulan. Sebab itu kemungkinan-kemungkinan yang pasti terjadi. Tetapi, di suatu hari nanti kemenangan dan kekuasaan di muka bumi akan datang jua, walaupun setelah waktu yang lama.

Ketika menceritakan kondisi persekutuan pasukan Tartar, orang-orang munafik, dan lain sebagainya, untuk menyerang kaum muslimin di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata,

“Fitnah ini telah memecah manusia kepada tiga kelompok:

  1. Thô’ifah Manshûroh (kelom-pok yang ditolong Alloh); mereka adalah para mujahidin yang berjihad melawan bangsa perusak itu.
  2. Thô’ifah Mukhôlifah (ke-lompok yang menyelisihi); mereka adalah orang-orang berpikiran kacau yang bergabung dengan pasukan Tartar tapi masih mengaku muslim.
  3. Thô’ifah Mukhôdzilah (ke-lompok pelemah semangat dan tidak mau membantu mujahidin); mereka adalah orang-orang yang duduk dari jihad melawan Tartar, walaupun keislaman mereka benar.

Maka hendaknya setiap muslim melihat di mana posisi dirinya, apakah termasuk Thô’ifah Manshûroh, Thô’ifah Mukhôdzilah, ataukah Thô’ifah Mukhôlifah; karena tidak ada kelompok yang keempat. Dan ketahuilah, dalam jihad ada kebaikan di dunia dan akhirat. Sedangkan meninggalkannya adalah kerugian dunia akhirat. Alloh Ta‘ala berfirman:

“Katakanlah (Hai Muhammad): Kalian tidak menunggu dari kami selain dua kebaikan,” [1] dua kebaikan itu adalah kemenangan atau kesyahidan dan surga.

Maka siapa saja yang hidup bersama mujahidin, ia adalah orang mulia dan berhak mendapatkan pahala di dunia serta kebaikan pahala akhirat. Bagi yang meninggal atau terbunuh, ia akan menuju surga.

Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

(يُعْطَى الشَّهِيْدُ سِتَّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ بِأَوَّلِ قَطْرَةِ دَمٍ مِنْ دَمِهِ , وَيَرَى مَقْعَدَهُ فيِ اْلجَنَّةِ, وَيُكْسَى حُلَّةً مِنَ اْلإِيْمَانِ, وَيُزَوَّجُ بِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ, وَيُوْقَى فِتْنَةَ الْقَبْرِ, وَيُؤْمَنُ مِنَ اْلفَزَعِ اْلأَكْبَرِ)

“Orang yang mati syahid diberi enam perkara: Dosanya di ampuni ketika pertama kali darahnya menetes, diperlihat-kan tempatnya di surga, diberi pakaian keimanan, dinikahkan dengan 72 bidadari bermata jeli (huurun ‘Iin), dilindungi dari fitnah kubur, dan diamankan dari kegoncangan hari kebang-kitan.”

Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

(إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَمِائَةَ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ وَالدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالىَ لِلْمُجَاهِدِيْنَ فيِ سَبِيْلِهِ)

“Sesungguhnya di surga ada 100 derajat, jarak satu derajat dengan derajat lainnya sama dengan jarak langit dan bumi, yang Alloh Ta‘ala sediakan bagi para mujahidin di jalan-Nya.” [2]

Inilah ketinggian derajat di surga sejauh 50.000 tahun [3] perjalanan, bagi orang-orang yang berjihad…”

Hingga Syaikhul Islam mengatakan,

“Para ulama juga telah sepakat –sejauh yang kuketahui— tidak ada amalan sunnah yang lebih baik daripada jihad; jihad lebih baik daripada ibadah hajji, puasa, dan sholat, yang sunnah. Berjaga di perbatasan (ribath) lebih baik daripada tinggal di Mekkah, Madinah, atau Baitul Maqdis. Sampai-sampai Abu Huroiroh ra mengatakan: Sungguh berjaga-jaga (ribath) di jalan Alloh satu malam saja lebih aku sukai daripada aku berada di samping Hajar Aswad ketika Lailatul Qodar.

Di sini, beliau lebih memilih ribath satu malam daripada beribadah di malam terbaik dan di jengkal tanah terbaik.”

Beliau berkata, “Ketahuilah, semoga Alloh memperbaiki Anda semua, bahwa kemenangan itu milik orang-orang beriman, hasil akhir milik orang-orang bertakwa, dan Alloh bersama orang-orang bertakwa lagi berbuat baik. Musuh itu pada dasarnya tertundukkan dan tertindas, Alloh Ta‘ala adalah Dzat yang meme-nangkan kita atas mereka, membalaskan dendam kita kepada mereka, dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Alloh Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Maka terimalah kabar gembira berupa pertolongan Alloh Ta‘ala dan hasil akhir yang baik, “Dan janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kalian adalah lebih tinggi jika kalian beriman.” [4]

Selanjutnya beliau berkata lagi, “Ketahuilah –semoga Alloh senantiasa memperbaiki diri kalian—, nikmat terbesar bagi orang yang Alloh ‘Azza Wa Jallaehendaki kebaikan pada dirinya adalah ketika Alloh menghidupkannya sekarang ini, di zaman ketika Alloh tengah memperbaharui agama-Nya, menghi-dupkan kembali syiar kaum muslimin, menghidupkan ihwal kaum mukminin dan para mujahidin; sehingga keadaannya mirip dengan As-Sabiqunal Awwalin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Maka siapa saja yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Maka sudah selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Alloh atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah mulia dari Alloh Ta‘ala ini, seharusnya mereka mensyukuri terjadinya fitnah yang di dalamnya mengandung nikmat besar ini. Hingga seandainya para shahabat As-Sabiqûnal Awwalûn dari kalangan Muhajirin dan Anshor, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan yang lainnya, mereka hadir di tempat ini, tentu amalan paling utama yang mereka lakukan adalah berjihad melawan orang-orang jahat itu. Dan tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharamkan untuk mendapatkan bagian besar dari dunia dan akhirat; kecuali orang yang mendapatkan udzur dari Alloh, seperti orang sakit, fakir, buta, dan lain sebagainya.”

Syaikhul Islam juga mengatakan,

“Puncak  Islam adalah jihad di jalan Alloh, sesungguhnya jihad adalah perkara dicintai Alloh dan rosul-Nya yang paling tinggi. Dan orang-orang yang mencela jihad ini banyak jumlahnya. Sebab kebanyakan orang yang di dalam hatinya ada iman sekalipun, mereka membenci jihad. Kemungkinannya, kalau bukan sebagai mukhodzil yang melemahkan semangat dan keinginan untuk berjihad, atau menjadi pembuat kekacauan dan pelemah kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Walaupun, perbuatan tersebut termasuk kemunafikan.”


[1] QS. At-Taubah: 52.

[2] HR. Bukhori

[3] Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam menyatakan, jarak antara satu langit ke langit berikutnya adalah perjalanan 500 tahun, pent. (Lihat Kitabut Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. terakhir)

[4] QS. Ali Imron: 139.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s