Karena Waktu Kita Begitu Berharga

Renungan Pertama : 
Waktu dalam pandangan Islam
        Orang barat mengatakan “Time is Money“, “Waktu adalah Uang”.  Sebuah semboyan yang setidaknya benar-benar menggambarkan pola pikir mereka yang individualis, materialistis, dan kapitalis dalam menyikapi arti sebuah waktu. Yang setidaknya hal ini juga tercermin didalam pola bermuamalah yang mereka terapkan.
Sedangkan orang arab mengatakan di dalam pepatahnya :
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك ، ونفسك إن لم تشغلها بالحلال شغلتك بالحرام والوقوع في الآثام
“Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu, Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”, tentunya sebuah semboyan yang sangat indah serta menyentuh jiwa.
Lalu seperti apakah ajaran agama Islam dalam memandang dan menyikapi waktu ??, Berikut ini adalah ulasannya secara singkat,

Pertama : Islam menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Alloh  yang telah bersumpah dengan nama waktu di dalam banyak ayat, diantaranya dalam firmanNya  :
{ وَالْعَصْرِ,  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ }
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”  (QS. Al-`Ashr: 1-2 )
{ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى,  وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى }
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang” ( QS. Al-Lail : 1-2 )
{ وَالضُّحَى,  وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى }
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”  (QS. Adh-Dhuha : 1-2)
            Dan tidaklah Alloh  bersumpah di beberapa ayat dengan nama waktu, melainkan hal tersebut menunjukkan atas kemuliaan serta keagungan hal tersebut, yaitu dalam hal ini adalah waktu. 
Kedua : Islam mendorong seseorang untuk menggunakan waktu dengan baik, agar orang tersebut bisa mengambil pelajaran dan bersyukur atas nikmat waktu yang Alloh  anugerahkan kepadanya.
Alloh Subhanahu wa ta’ala telah berfirman :
{ وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا }
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62 )
Yaitu dengan perputaran waktu, maka manusia dapat mengambil pelajaran yang sangat penting mengenai tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah  serta menjalankan Syariat-Nya, mengingat ajal yang pasti akan menjemputnya, dan mempersiapkan bekal bagi kehidupan di akhiratnya yang kekal dan abadi. 
Ketiga : Islam telah memberikan pujiannya serta mensifati orang-orang yang mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan dijalan Alloh  dengan sebutan Ulil Albab  (Orang yang berakal).
Alloh  Ta’ala telah berfirman :
{ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ }
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ” (QS. Ali Imran : 190)
Berdasarkan ayat diatas, maka orang-orang yang tidak bisa mensyukuri serta mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan dijalan Alloh  maka tidaklah pantas untuk sikatakan sebagi manusia yang berakal, wal `iyadzu billah.  
Keempat : Waktu adalah nikmat & karunia Alloh  yang terlupakan oleh kebanyakan manusia.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :
(( نعمتانِ مغْبونٌ فيهما كثيرُ من الناس : الصِحةُ والفراغُ ))
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya : Kesehatan dan Waktu Luang ” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, sangat disayangkan sekali, banyak sekali manusia yang lalai akan kedua nikmat ini. Dan merekapun baru menyadari akan besarnya nikmat ini setelah mereka kehilangannya. Kehilangan kesehatan yang telah berganti dengan sakit menahun yang berkepanjangan tidak diketahui ujungnya, dan kehilangan Waktu luang yang telah berganti dengan kegiatan dan kesibukan yang tiada henti dan datang secara bertubi-tubi, wal `iyadzu billah.     

Kelima : Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh  akan waktu yang telah kita pergunakan.
          Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjelaskan hal ini didalam sabdanya  :
 لنْ تزُولَ قدما عبد يوم القيامة حتى يُسألُ عن أربع ))
 عن عمره فيما أفناه ، وعن شبابه فيما أبلاه ، وعن علمه ماذا عمِل به ،
 (( وعن ماله من أين أخذه وفيما أنفقه 
“Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa,  Ilmunya; apakah diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya” (Hadist Hasan, Riwayat Tirmidzi )
Dan sebagai bahan perenungan bersama,
Apakah umur, masa muda, serta waktu kita telah dipakai untuk menggapai keRidhoan Alloh  ??
Ataukah justru kita biarkan berlalu dan terbuang dengan sia-sia dengan berbagai kemaksiatan ??
Renungkanlah sebelum terlambat….., 
Keenam : Umat manusia benar-benar berada didalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah  seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.
{ وَالْعَصْرِ,  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ, إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3). 
Renungan Kedua : 
Memahami Karakteristik Waktu Sebelum Melangkah Lebih Jauh…
Setelah kita memahami arti pentingnya waktu dalam pandangan ajaran Islam, maka diperlukan adanya sebuah kiat-kiat yang tepat untuk mengaturnya seoptimal dan seefisien mungkin. Dan tidak lain hal ini dilakukan dengan tujuan supaya kelak kita bisa mempertanggung jawabkannya dihadapan Alloh.
Sebelum melangkah, setidaknya ada beberapa karakteristik waktu yang harus kita pahami dengan baik agar kita bisa mengaturnya dengan baik, diantaranya adalah :
  • Pertama : Waktu akan habis dan berlalu dengan cepat.
  • Kedua : Waktu yang telah habis tak akan pernah kembali dan tak mungkin dapat diganti.
  • Ketiga : Waktu adalah modal terbaik bagi manusia. Karena waktu adalah wadah bagi setiap amal perbuatan manusia.
  • Keempat : Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh  atas waktu yang telah kita pergunakan. 

 

Renungan Ketiga :  
Sebuah Potensi Yang Sama

 

Setiap manusia diberikan oleh Alloh  bekal serta potensi yang sama untuk bisa meraih tujuan serta cita-citanya. Namun, walaupun diberikan bekal serta potensi yang sama, kenapa pada kenyataannya ada segolongan manusia yang sukses didalam hidupnya dan ada juga segolongan manusia lain yang justru gagal dan terpuruk ??

Kuncinya adalah pada bagaimanakah sudut pandang serta sikap seseorang dalam memandang arti pentingnya sebuah waktu dan cara-cara mengoptimalkannya. Karena secara umum, manusia terbagi menjadi dua golongan : Golongan manusia sukses dan Golongan manusia gagal. Kesuksesan dan kegagalan seseorang sangat erat sekali kaitannya dengan kemampuannya di dalam mengoptimalkan waktu yang dimilikinya.

Jika seseorang mampu mengoptimalkan waktu yang Allah  anugerahkan kepadanya untuk selalu meningkatkan keimanan, ilmu, amal shaleh, dan berdakwah di jalan Allah, maka tentunya dia akan menjadi orang yang sukses dan beruntung di dunia serta di akhirat.

Namun sebaliknya, jika ia gagal mengoptimalkan waktu yang ia lewati untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ilmu, amal shaleh dan berdakwah di jalan Alloh , maka ia dipastikan akan menjadi orang yang merugi di dunia dan terlebih lagi di akhirat kelak. 

Renungan Keempat : 
Beberapa Metode Untuk Mengoptimalkan Waktu Yang Kita Miliki
Dan berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan waktu kita yang terbatas ini dengan sebaik mungkin,
Pertama : Jangan biarkan waktu kita kosong dan berlalu begitu saja tanpa adanya aktifitas yang bermanfaat.
Dikatakan dalam pepatah :
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك ، ونفسك إن لم تشغلها بالحلال شغلتك بالحرام والوقوع في الآثام
“Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu, Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”

Dalam pepatah lain dikatakan :

الفراغ للرجال غفلة ، وللنساء غلمة
”Waktu yang kosong bagi laki-laki adalah sebuah kelalaian, dan bagi wanita akan menjerumuskan kepada hal-hal yang buruk (syahwat).”

Oleh karena itu, bukanlah hal yang mengherankan jika Nabi Yusuf  pernah dirayu untuk berbuat zina oleh istri seorang pejabat di zamannya. Yang semua ini disebabkan karena kekosongan hati dan jiwa yang bersumber dari kosongnya waktu dari berbagai aktifitas yang bersifat positif.

Begitu pula kita bisa melihat dampak dari kekosongan waktu yang menimpa para pengangguran di negeri ini.  Yang ternyata dengan meningkatnya angka pengangguran ternyata berbanding lurus dengan peningkatan angka kriminalitas dan tindak pidana.
Kedua : Jangan pernah menunda-nunda sebuah amalan / pekerjaan. Kerjakanlah semua amalan / pekerjaan pada tempat serta waktu yang tepat.
Terkait dengan larangan untuk menunda-nunda sebuah amal pekerjaan, Rosululloh Shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :
(( بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ,  فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ, يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا, أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا
يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ))
“Bersegeralah dalam beramal (sholih), sesungguhnya datangnya fitnah sebagaimana malam yang gelap gulita.  Seseorang beriman dipagi hari lalu menjadi kafir pada sore harinya, dan seseorang beriman pada sore hari lalu menjadi kafir pada pagi harinya, menukar agamanya dengan kehidupan dunia” (HR. Muslim)

Kemudian setelah itu, hal terpenting yang harus diperhatikan dalam beramal dan beraktifitas adalah bukan sekedar bekerja dan beraktifitas sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kualitas amalan. Akan tetapi kita juga harus melihatnya dari sisi waktu dan tempatnya. Apakah suatu amalan yang kita kerjakan sudah sesuai dengan tempat serta waktu yang seharusnya, ataukah tidak . Dikatakan didalam sebuah pepatah :

لكل مقام مقال, ولكل مقال مقام
“Di setiap kondisi ada ucapan (yang layak untuk diucapkan), dan setiap ucapan ada waktunya (yang cocok)”

Oleh sebab itu, disebutkan oleh para ulama bahwa amalan yang paling utama adalah amalan yang dikerjakan sesuai dengan waktunya. Sebagai contoh, ketika datang waktu sholat, maka yang paling utama adalah melakukan sholat, ketika datang waktu Ramadlan, maka amalan yang paling utama dikerjakan adalah puasa. Ketika datang waktu haji, maka yang paling utama dikerjakan adalah haji . Dan ketika waktu ujian, maka amalan yang paling utama dikerjakan adalah belajar untuk menghadapi ujian.

Dan terkait pembahasan ini, kita bisa merujuk kepada kitab :
لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف

(Pengetahuan tentang amalan-amalan bagi setiap musim ) karya Ibnu Rajab Al-Hambali (736-795 H) yang menerangkan tentang amalan-amalan berdasarkan urutan waktunya.

Ketiga : Beramal pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan.
Waktu yang diberikan oleh Alloh  begitu terbatas, sedangkan kewajiban yang harus kita tunaikan begitu banyak. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mensiasati keterbatasan waktu yang dimilikinya dengan cara memperhatikan beberapa waktu khusus yang telah Alloh  siapkan bagi para hambanya.
Sesungguhnya Alloh dengan rahmatnya telah menyiapkan waktu-waktu tertentu yang mempunyai keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lainnya. Dan hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi seorang hamba untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pundi-pundi pahala dan amalan-amalan kebaikan dengan cara yang cukup instan. Diantaranya :
a. Keutamaan bulan Ramadhon, di dalamnya terdapat 10 malam terakhir yang yang apabila kita bersungguh-sungguh beribadah didalamnya, maka kita akan mendapatkan Lailatul Qadr yang keutamaannya melebihi 1000 bulan pada malam-malam lainnya.
b. Keutamaan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, puncaknya pada tanggal 10 Dzulhijjah,
(( ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله منه في هذه الأيام العشر))
قالوا : ولا الجهاد في سبيل الله !!
قال : (( ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء ))
“Tidak ada hari, amal shalih padanya yang lebih Allah cintai daripada sepuluh hari (Dzul Hijjah).” Mereka berkata; wahai Rasulullah, tidak pula berjihad di jalan Allah? Beliau berkata: “Tidak pula berjihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali membawa sesuatupun.” (HR. Abu Dawud)
c. Hari Jum’at, merupakan hari terbaik tiap pekan dan terdapat di banyak keutamaan didalamnya. Di dalamnya suatu waktu yang jika seorang muslim berdoa, maka Allah akan mengabulkannya.
 خيرُ يومٍ طلعت عليه الشمسُ يوم الجمعة ))
(( فيها ساعةٌ لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا, إلا أعطاه إياه 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan pada hari Jumat dengan bersabda: “Di dalamnya terdapat satu waktu, tiada seorang hamba muslim yang menepatinya dengan berdiri shalat memohon sesuatu pada Allah, melainkan Allah pasti akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhori)
d. Sepertiga malam terakhir (Waktu Sahur).
(( ينزلُ الله كل ليلة إلى سماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر, فيقول:
من يدعوني فأستجيب له،  ومن يسألني فأعطيه،  ومن يستغفرني فأغفر له))
“Rabb Tabaaraka wa Ta’ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni”. (Muttafaqun Alaihi)
Oleh karenanya, para ulama menggambarkan sholat 5 waktu sebagai timbangan harian, hari Jum’at sebagai timbangan mingguan, bulan Ramadhon sebagai timbangan tahunan, sedangkan haji sebagai timbangan seumur hidup.
Oleh karenanya, mereka begitu memperhatikan bagaimana hariannya bisa terjaga dengan baik, setelah berhasil maka mereka berusaha menjaga mingguannya, setelah berhasil maka mereka berusaha untuk menjaga tahunannya, setelah berhasil mereka menjaga umurnya, dan itulah penutup yang baik. 
Keempat : Mensiasati keterbatasan waktu dengan  cara menjalankan beberapa aktifitas didalam satu waktu yang sama.
Aktifitas, kebutuhan, tuntutan hidup, kewajiban, serta tujuan yang hendak diraih oleh manusia sangatlah banyak. Akan tetapi waktu yang tersedia sangatlah terbatas dan seakan berputar dengan sangat cepat.
Oleh karenanya, agar tidak terus tertinggal dari yang lain dan agar tidak tergerus oleh waktu, maka ada baiknya kita bercermin dari kisah para ulama terdahulu yang sampai saat ini nama mereka masih harum mengenai bagaimana mereka mensiasati keterbatasan waktu yang mereka miliki.
Mari kita lihat bersama, bagaimana seorang Khatib Al-Baghdadi senantiasa berjalan dengan sebuah buku yang senantiasa dibawa dan dibaca olehnya.
Kita lihat juga, bagaimana Abu Al-Wafa’ Ibnu `Uqail Al-Hambali yang menyingkat waktu makan dengan memilih makanan yang praktis, beliau bisa memanfaat perbedaan waktu makan roti kering dengan roti yang diberi air, untuk membaca 50 ayat Al-Qur’an.
Dan bagaimana Abul Barakat Majiduddin (kakek dari Abul Abbas Ibnu Taimiyah) jika ia masuk kamar mandi/WC, ia menyuruh saudaranya untuk membacakan sebuah buku dengan suara keras agar dia bisa mendengarnya.
Kelima : Menjadikan waktu kita lebih lebih diberkahi oleh Alloh dengan cara menjadikan aktifitas kita bermanfaat bagi orang banyak.
Misalnya dengan cara mengisi aktifitas kita dengan mencari ilmu yang bermanfaat, kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, serta menjadikan diri kita lebih bermanfaat bagi orang banyak. Rosululloh Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Jabir :
((خير الناس أنفعهم للناس ))

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (Mu`jam al-Ausath:6/58)

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim hendaknya kita selalu memilih kegiatan dan amalan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Karena amalan yang bermanfaat bagi orang banyak jauh lebih utama dan memiliki nilai manfaat yang lebih besar bila dibanding dengan amalan yang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri.
Salah satunya adalah At-Tafaqquh fi Dien (belajar agama) jauh lebih utama dibanding dengan sholat malam atau puasa sunnah, karena manfaat ilmu yang didapatnya tersebut akan bisa dirasakan oleh orang lain. Sedang sholat malam dan puasa sunnah manfaatnya hanya terbatas pada diri sendiri. Disamping itu, ilmu adalah pemimpin bagi amalan karena dengan ilmu amalan bisa diluruskan, lain halnya orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia akan terus menerus tenggelam dalam ibadat yang salah, dan otomatis tidak akan diterima oleh Allah.
Dikatakan oleh Abu Darda :
لأنْ أتعلَّمَ مسألةً أحبُّ إليَّ من قيام ليلة

“Sungguh, aku mempelajari satu masalah (dalam pembahasan Ilmu) adalah lebih aku sukai dari pada sholat semalaman”

Dan dikatakan juga oleh Al-Hasan Al-Bashri :

لأنْ أتعلَّمَ باباً من العلم فأعلِّمُه مسلما أحبُّ إليَّ من أن تكونَ ليِ الدنيا كلُّها في سبيل الله

“Sungguh, aku mempelajari ilmu satu bab, lalu aku ajarkan kepada seorang Muslim,
hal itu lebih aku cintai daripada aku memiliki dunia seluruhnya lalu saya infakkan di jalan Alloh”

Dan pada akhirnya nanti, kebaikan ilmu serta faidah yang telah diberikannya untuk orang lain akan kembali kepada dirinya sendiri, sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu’alaihi wa sallam:

(( إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ))

“Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara : Shodaqoh Jariyah, atau Ilmu yang bermanfaat, atau anak Sholih yang mendoakannya” (HR. Muslim)

Keenam : Setiap orang punya waktu & kesempatan yang sama, akan tetapi tidak semua orang bisa mem-PRIORITAS-kan waktunya untuk menggapai cita-cita serta tujuan hidupnya.

Orang yang gagal dalam menggapai tujuan serta cita-cita dalam hidupnya selalu terjebak dalam sugestinya sendiri : ”Saya tidak mampu”, “Mustahil”, “Tidak Mungkin”, “Susah”, “Bisa….Tapi..” dan sejenisnya. Dan hal ini disebut Mental Blocking, yaitu faktor penghambat bagi seseorang dalam mencapai kesuksesannya.
Namun sebaliknya, orang yang sukses adalah seseorang yang mampu menyediakan waktu dan komitmen di dalamnya dirinya untuk menggapai tujuannya. Dan mereka adalah orang-orang yang mempunyai tekad serta semangat yang kuat untuk menggapai impian mereka.
Selain itu, kita juga harus mengetahui urutan ibadah dan (skala) prioritas sebuah amalan. Karena hal ini termasuk dari faktor penting yang dapat menunjang seseorang dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal serta terhindar dari kesemrawutanitas aktifitas.
Ketujuh : Buatlah Target, Rencana, dan Tujuan yang hendak diraih beserta dengan langkah-langkahnya yang nyata.

Percayalah, bahwa kita hanya bisa mencapai tujuan dan sasaran hidup dengan setapak demi setapak, dan tidak bisa seketika. Oleh karena itu, ketika kita menghimpun kesuksesan, maka kitapun menghimpunnya secara setapak demi setapak.
Dan disinilah peran penting dari sebuah rencana dalam kehidupan kita. Sebuah perencana yang tersusun dengan baik akan memandu kita untuk melakukan tindakan demi tindakan yang akan menghasilkan sukses-sukses kecil sebelum pada akhirnya sukses-sukses kecil itu terakumulasi menjadi sebuah kesuksesan besar.
Jadi, keberadaan sebuah perencanaan hidup sangatlah vital. Karena hidup dengan perencanaan adalah pilihan yang memberi peluang sukses daripada hidup tanpa perencanaan sama sekali. Dan rencana hidup yang kita buat akan membuat kita bertindak secara lebih terarah, efektif, dan efisien. Artinya bahwa kita hanya akan melakukan tindakan-tindakan kehidupan yang semakin mendekatkan anda kepada sasaran/ tujuan hidup kita. Disisi lain, rencana hidup juga akan meningkatkan tingkat efesiensi serta efektifitas hidup seseorang.

Dengan sebuah perencanaan, kita akan terbimbing untuk melakukan tindakan-tindakan/hal-hal yang semakin mendekatkan kita kepada tujuan hidup serta melakukan tindakan-tindakan yang mendorong produktifitas harian. Jika sudah demikian, maka masalah hasil, Insya Alloh tinggal menunggu waktunya saja, biidzinillah Ta`ala.

Kedelapan : Tulislah sekarang juga RENCANA HIDUP/KEGIATAN yang kita inginkan…….!!!
Misalnya :
a. Membuat perencanaan 1 tahun kedepan,
(mencakup aspek-aspek yang ingin kita raih dan kita tuju, seperti contohnya aspek Pendidikan, Keagamaan, Keluarga, Karir/Bisnis, dan sebagainya)
Lalu, Rencana 3 tahun kedepan…….
Lalu, Rencana 5 tahun kedepan…….
Lalu, Rencana 10 tahun kedepan…..
b. Kita juga dapat membuat sebuah simple autobiografi (Curriculum Vitae) yang berisikan gambaran perjalanan hidup yang ingin kita raih dimasa yang akan datang.
Kita dapat membuatnya di setiap lembarnya dengan cara mengisinya dengan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang ingin kita wujudkan nantinya, Yang nantinya dapat kita buka-buka kembali dikala senggang.
Pada akhirnya nanti hal ini diharapkan dapat memotivasi kita untuk lebih giat dan fokus pada target, tujuan, dan impian yang kita raih.
c. Kita juga bisa membuat Check List atas kegiatan rutin yang harus kita lakukan, serta menyiapkan sebuah diary untuk mencatat hal-hal yang terjadi pada aktifitas keseharian.
Dan pada akhirnya, selamat mencoba dan selamat menyambut kesuksesan yang telah Alloh Ta`ala siapkan untuk kita bersama….(Tamat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s