Arab Spring, Khilafah yang Dinanti dan Bagaimana Mensikapi Tandhim Al-Baghdadi

Krisis yang melanda jihad Suriah, mengundang pemimpin Al-Qaidah, Syaikh Aiman Az-Zawahiri untuk urun bicara. Dalam sebuah rekaman yang beredar luas di internet, mantan pemimpin Jamaah Jihad Mesir itu menyampaikan pokok-pokok pikiran sekaligus saran yang ditawarkan untuk mencari solusi dari benang kusut yang masih membelit jihad di bumi Syam.

Bagian awal tulisan tersebut dengan tegas mengingatkan bahwa fenomena Arab Spring, “berakhir dengan kemenangan kekuatan jahat yang diharapkan keruntuhanya oleh umat.” Umat akhirnya mengetahui bahwa sekulerisme, kekuatan mayoritas, kezaliman hawa nafsu, negara nasionalis, ikatan kebangsaan—yang banyak harakah Islam menggunakannya sebagai jalan—hanya mengantarkan umat kepada kerugian dunia dan akhirat.

“Mudah-mudahan sekarang sudah jelas bagi umat bahwa jalannya para mujahidin dan dai yang ikhlas, yang senatiasa menasehati umat dan memperingatkan mereka, bahwa jalan keluar dari semua krisis adalah jalan dakwah dan jihad. Dan semoga umat juga mengetahui bahwa itulah jalan yang benar yang sesuai dengan Al-Qur’an, As-sunnah dan bukti nyata dalam realita sejarah,” tegasnya.

Selanjutnya, Syaikh Aiman mendeklarasikan tujuan dakwah dan jihad yang sebenarnya. “Harakah jihad dan dakwah yang berjihad demi meninggikan kalimat Allah, sama sekali tidak sedang berupaya untuk mengkafirkan umat.” Sebaliknya, tujuan yang ingin diraih adalah tegaknya khilafah rasyidah yang berada di atas manhaj Nabi SAW.

“Mereka tidak sedang berusaha menegakkan kekuasaan raja yang zalim (mulkan adhudh) yang memperoleh kekuasaan setelah mengarungi lautan darah, tumpukan tengkorak dan potongan daging umat Islam,” imbuhnya.

A10101

Definisi khilafah yang ingin diraih, menurut Az-Zawahiri ditegaskan dalam penuturan selanjutnya:

  • Kami menginginkan khilafah yang yang berjalan di atas manhaj Khulafaur Rasyidin—radiyallahu anhum—yang saat Rasulullah SAW wafat, beliau ridha terhadap mereka. Bukan hukum yang menjadikan Hajjaj bin Yusuf dan Abu Muslim Al-Khurasani sebagai contoh.
  • Kami tidak mau hukum yang pengikutnya berkata sambi menghunuskan pedang, “Inilah Amirul Mukminin, jika dia meninggal maka ini penggantinya. Barangsiapa yang menolak maka pedang ini untuknya.”
  • Bukan pula yang para pengikutnya berkata, “Barangsiapa yang merebut sehelai benang dari baju khilafah ini dari kami, maka akan kami jadikan dia sarung bagi pedang ini.”
  • Bukan pula kekhalifahan yang para kesatrianya berkata, “Sesungguhnya ketegasan dan semangat bajalah yang menyerahkan cambuk kepadaku, keduanyalah yang menggantikanku pedangku. Gagangnya cemeti di tanganku, gantungannya di leherku. Ujung cemeti adalah belenggu bagi orang yang membangkang kepadaku.”
  • Bukan pula kekhalifahan yang pemimpinnya berkata, “Kami mengambil khilafah ini dengan ketajaman pedang secara paksa, dengan peledakan, pengeboman dan kekerasan.”

Tanpa menyebut nama, semua tahu bahwa yang dimaksud oleh Az-Zawahiri di atas adalah kelompok Tandhim Daulah (ISIS) pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi. Memang, di bagian selanjutnya Az-Zawahiri juga menyampaikan pandangannya terhadap ISIS; mulai dari sejarah kebersamaan hingga api fitnah yang memisahkan.

Yang menarik adalah sikap pimpinan Al-Qaidah itu terkait Tandhim Daulah. Simak tulisannya pada poin ini: “Saya ingin menyampaikan kepada saudara saya seruan untuk saling bekerjasama bagi para mujahidin di Irak dan Syam. Akan tetapi sebelumnya saya ingin menjelaskan perkara yang penting, yaitu walaupun kami tidak mengakui khilafah Al-Baghdadi, dan kami melihat bahwa khilafahnya bukanlah khilafah ala manhajin nubuwwah, bukan berarti kami mengingkari setiap pekerjaan yang ia lakukan bagi diri dan bagi saudara-saudaranya.”

Kapan Bersama dan Kapan Berpisah dengan ISIS?

Dalam padangan Az-Zawahiri, tidak ada sikap mutlak dalam menghadapi ISIS. Ia menganjurkan mujahidin untuk membersamai Tadhim Al-Baghdadi itu saat melawan Amerika, Rafidhah, Nushairiyah maupun kelompok Sekuler. Namun, bila ada prinsip Islam yang dilanggar, Zawahiri meminta untuk tidak ragu memerangi mereka.

  • Jika mereka mendirikan pengadilan-pengadilan syariat, kami mendukungnya. Akan tetapi apabila mereka tidak mau berhukum dengan syariat (untuk memutuskan perkara yang terjadi) di antara mereka maupun antara mereka dan jamaah lain dengan berbagai alasan, maka kami menentang mereka.
  • Apabila mereka membunuh para pembesar kejahatan, maka kami bersama mereka. Namun apabila mereka mengatakan kami tidak bisa dimintai pertanggungjawaban terkait pembunuhan Abu Khalid As Suri –rahimahullah- maka kami menentang mereka.
  • Apabila mereka memerangi Salibis, Rafidhah, dan sekuler, maka kami bersama mereka. Akan tetapi apabila mereka menguasai makas-markas mujahidin dan meledakkannya, dan menguasai harta (dengan paksa) hai’ah syar’iyyah, maka kami menentang mereka.
  • Jika mereka membebaskan tawanan kaum muslimin dan mengeluarkan mereka dari penjara, maka kami bersama mereka. Namun apabila mereka membunuh tawan kafir yang masuk Islam, maka kami menentangnya.
  • Apabila mereka mendukung dan membantu saudara mereka kaum Muslimin di setiap tempat, maka kami bersama mereka. Akan tetapi apabila mereka berusaha untuk memecah belah barisan jamaah jihad dengan pengakuan khilafah yang sebenarnya tidak terbukti, maka kami menentang mereka.
  • Apabila mereka menyeru untuk mendirikan khilafah, maka kami bersama mereka. Namun apabila mereka ingin memaksakan kepada umat Islam kekhilafahan tanpa permusyawaratan, bahkan dengan paksaan, pengeboman dan kekerasan, maka kami menentang mereka.
  • Jika mereka menzalimi kami, kami akan berlaku adil kepada mereka. Dan jika mereka bermaksiat kepada Allah terkait hak-hak kami, maka kami akan tetap mentaati Allah terkait menunaikan hak-hak keimanan mereka.

Jihad

“Walaupun dengan kesalahan yang besar seperti ini, saya tetap menyeru seluruh mujahidin di Syam dan Irak untuk saling bekerjasama, mengkoordinasikan usaha-usaha mereka agar mereka mampu berdiri satu shaf dalam menghadapi Salibis, Sekuler, Nushairiyah, dan Shafawi—bahkan walaupun kalian (mujahidin) tidak setuju dengan keabsahan negaranya Baghdadi, kelompoknya, apalagi dengan khilafahnya.”

“Sebab, permasalahan (melawan Salibis, sekuler dan Syiah) lebih besar dari hanya sekadar mengakui keabsahan negara mereka (ISIS) atau bahkan khilafah versi mereka. Permasalahan sekarang ini adalah umat sedang menghadapi serangan Salibis yang kita wajib bergerak untuk melawan serangan musuh.”

 

“Di sini saya tekankan tanpa keraguan lagi, bahwa jika terjadi perang antara Salibis, Shafawi dan sekuler dengan kelompok manapun dari kalangan mujahidin, termasuk di dalamnya kelompok Al-Baghdadi, pilihan kita hanya satu: berdiri di barisan kaum muslimin yang berjihad.”

5 Usulan untuk Jihad Syam

Syaikh Aiman Az-Zawahiri juga mengusulkan lima poin terkait jihad di Syam. Usulan yang diharapkan dapat segera menutup luka yang kini menganga, agar kesatuan tubuh Mujahidin dapat bangkit dan fokus melawan musuh utama mereka dari kalangan Salibis, Rafidhah-Nushairiyah dan kelompok Sekuler.

  1. Menghentikan konflik fisik di antara mujahidin sesegera mungkin.
  2. Menutup celah fitnah dan provokasi yang dapat mencerai-beraikan kekuatan mujahidin.
  3. Membentuk Mahkamah (pengadilan) Syariah yang independen dan melingkupi seluruh faksi mujahidin yang ada—seperti yang pernah diusulkan oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi.
  4. Melakukan islah massal.
  5. Melakukan proyek bersama di antara faksi mujahidin pada jenis-jenis pekerjaan yang memungkinkan. Seperti pengobatan korban luka, menampung tahanan, menyimpan persenjataan, pengadaan dana dan amunisi dan operasi bersama.

Waziristan dan Pakistan

Di bagian akhir seruannya, Az-Zawahiri juga mengecam kerjasama Pakistan dalam membantu Amerika menyerang wilayah Waziristan. “Amerika menyerang penduduk Waziristan dan mujahidin dari udara, sementara pasukan Pakistan menyerang mereka dengan tank dan pesawat mereka dari darat dan udara. Menyebabkan ribuan perempuan, anak kecil, orang tua dan pemuda meninggal, sementara sekitar 1 juta penduduk pergi mengungsi.”

Ia juga mengingatkan, “Waziristan mencatatkan pertempuran baru di sejarah Islam, mereka memaksa Inggris keluar sebagaimana pendahulu mereka memaksa Inggris. Maka kabar gembira bagi umat Islam atas kemenangan yang akan diukir di Afghanistan, bentengnya umat Islam. Inilah kemenangan yang akan membuka lembaran baru bagi kemenangan, penaklukan dan tamkin bagi Islam dalam waktu dekat, dengan izin Allah.”

 

Penulis: Miftahul Ihsan

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s