Membunuh Yahudi dan Kontroversi Syaikh Al-Halabi

Di tengah aksi perlawanan terhadap kezaliman Israel, publik dikejutkan dengan sebuah “fatwa” yang muncul dari ulama Yordania, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi. Dalam sebuah rekaman video, Syaikh yang beberapa kali menjadi tamu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) ini tampak sedang menjawab beberapa pertanyaan.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah tentang “Hukum Membunuh Orang Yahudi”. Penanya tersebut berkata, “Sebagian orang berkata bahwa orang-orang Yahudi boleh dibunuh secara mutlak, bagaimana menurut Anda?”

Dengan kalimat retorik, Al-Halabi berkata, ”Seorang yang memberikan Anda jaminan keamanan, memberi Anda listrik, air, uang, Anda bekerja untuknya, Anda mengambil upah darinya, walaupun dia seorang Yahudi, apakah Anda mengkhianatinya?”

Kemudian Syaikh ini pun meneruskan, “Membunuh Yahudi diperbolehkan saat bertemu di medan perang, saat perang terbuka (Mu’lanah). Adapun jika Anda meminta jaminan keamanan mereka, lalu mereka memberikan jaminan keamanan kepada Anda, kemudian Anda mengkhianati dan membunuh mereka, hal seperti ini tidak boleh.”

Lalu dia pun melanjutkan, “Subhanallah! Syaikh Bin Baz mengirim surat kepada Syaikh Ahmad Syakir di waktu penjajahan Inggris di Mesir. Ahmad Syakir berkata, ‘Siapapun yang mendapati orang Inggris, maka hendaklah dia membunuhnya.’ Sementara Syaikh Bin Baz berkata bahwa hal ini tidak diperbolehkan, karena di sana ada perjanjian syar’i yang menjaga hak-hak dan darah. Ketahuilah, timbangan terkait perasaan dan timbangan ilmiah adalah dua hal yang berbeda.”

Belum puas dengan jawaban tersebut, seseorang mencoba menyangkal jawaban Syaikh, ia berkata, “Wahai Syaikh! perkataan Syaikh Bin Baz ini terkait dengan rakyat sipil, sementara tentara yang membawa senjata, apa hukumnya?”

Secara spontan Syaikh Al-Halabi berkata, “Jawabannya sama! Sekarang saya mau bertanya, ‘Apakah tentara yang membawa senjata ini membunuh setiap muslim yang dia lihat’?” tegas Al-Halabi dalam video yang diunggah sebulan lalu di Youtube dan kembali diramaikan oleh pengguna media sosial pada Ahad (01/11).

Pernyataan Syaikh Al-Halabi di atas sontak menuai kecaman dari berbagai kalangan. Pasalnya di tengah puncak aksi perlawanan penduduk Palestina terhadap kezaliman Israel, tiba-tiba muncul sebuah pernyataan dari ulama yang mengaku bermanhaj salaf tentang larangan membunuh Zionis Israel jika mereka tidak menyerang.

Meskipun dalam keterangan berikutnya Syaikh Al-Halabi mengakui bahwa jihad rakyat Palestina adalah wajib, tetapi tampaknya dia masih keukeuh dengan pendapat larangan menyerang Israel secara mutlak, karena kondisi kaum Muslimin di Palestina berada di bawah kekuasaan mereka.

Pembagian Orang-orang Kafir dan Status Hukumnya

Membaca dasar dalil yang disampaikan oleh Syaikh Al-Halabi terlihat tidak ada yang salah. Dalam video yang lain pun ia berpendapat bahwa jihad rakyat Palestina adalah wajib demi membela diri yang terzalimi, aksi bunuh membunuh hanya dilakukan ketika berada dalam pertempuran. Sedangkan dalam kondisi normal, Syaikh Al-Halabi tidak memperbolehkan rakyat Palestina untuk membunuh tentara Yahudi jika mereka tidak menyerang duluan.

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi

Untuk memahami status hukum yang sesungguhnya, yang perlu dipertanyakan terlebih dahulu adalah status orang Yahudi itu sendiri, yaitu sejak pertama kali mereka mendirikan negara Israel di Palestina. Maka, sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami terlebih dahulu status memerangi orang kafir itu sendiri dalam Islam.

Ibnu Qayyim berkata, “Orang kafir terbagi menjadi dua; Ahlul Harb dan Ahlul ‘Ahd. Sedangkan Ahlul ‘Ahd ini terbagi lagi menjadi tiga golongan; (1) Ahlu Dzimmah, (2) Ahlu Hudnah, (3) Ahlu Aman. Sebutan “adz-dzimmah” dan“al-‘ahd” pada asalnya mencakup tiga jenis orang kafir di atas.”

Beliau melanjutkan, “Demikian juga lafadz “ash-shulhu”, merupakan lafadz yang umum dan mencakup seluruh perjanjian, baik yang diadakan oleh sesama kaum Muslimin, maupun yang diadakan dengan orang-orang kafir.”

Namun, istilah ini kemudian menjadi istilah yang sering dipakai oleh ulama fiqih. Dalam istilah mereka, Ahludz Dzimmah adalah sebutan untuk orang kafir yang menunaikan jizyah  (upeti), sehingga mereka mendapatkan perlindungan dari kaum Muslimin sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mereka mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin untuk memberlakukan hukum Allah dan rasul-Nya terhadap diri mereka karena menetap di negeri Islam.

Berbeda lagi dengan Ahlul Hudnah, mereka adalah golongan yang mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin –baik berbentuk materi ataupun tidak— di negeri masing-masing. Hukum Islam tidak diberlakukan pada mereka sebagaimana Ahludz Dzimmah, namun mereka berkewajiban untuk tidak memerangi kaum Muslimin. Golongan inilah yang dinamakan Ahlul ‘Ahd, Ahlush Shulh atau Ahlul Hudnah.

Adapun al-musta’man (yang mendapat jaminan keamanan) adalah golongan yang mengunjungi negeri kaum Muslimin namun tidak menetap di sana. Golongan ini terbagi menjadi empat jenis, yaitu:

1. Para utusan
2. Para pedagang
3. Orang-orang yang meminta perlindungan kepada kaum Muslimin sehingga punya kesempatan untuk mempelajari Islam dan Al-Qur’an kepada mereka. Jika mau, mereka dapat masuk Islam, jika tidak, mereka dapat kembali ke negara masing-masing.
4. Orang-orang yang berkepentingan di negeri kaum muslimin, seperti orang kafir yang berkunjung (turis) dan semisalnya.

Keempat golongan di atas tidak boleh diperangi atau dibunuh serta tidak diberlakukan jizyah terhadap mereka. Orang yang meminta perlindungan dari golongan ini ditawari untuk masuk Islam. Apabila menerima, hal itu sesuai harapan, namun jika tidak, dia dapat kembali ke negeri asalnya dan tidak ditawarkan kembali untuk masuk Islam sampai tiba di negerinya. Apabila dirinya telah sampai di negeri asalnya, maka statusnya kembali menjadi Ahlul Harb yang boleh diperangi.” (Ibnu Qayyim, Ahkamu Ahlidz Dzimmah, 2/873)

Dari penjelasan Ibnu Qayyim di atas, dapat disimpulkan bahwa status asli orang-orang kafir adalah boleh dibunuh, kecuali jika mereka memiliki ikatan perdamaian dengan kaum muslimin, membayar jizyah (upeti) atau mereka yang mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintahan Islam. Sehingga dengan ikatan tersebut jiwa, harta dan kehormatan mereka terlindungi.

Wanita muda Palestina yang menyerang Israel dengan pisau

Wanita muda Palestina yang menyerang Israel dengan pisau

Bahkan Rasulullah SAW, dalam banyak riwayat, mengingatkan umatnya tentang besarnya dosa seseorang yang membunuh tiga golongan orang kafir yang mendapat perlindungan di atas. Di antaranya beliau bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda,

ذِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ

“Dzimmah kaum muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah (sekalipun).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian dalam ayat Al-Qur’an, Allah ta’ala menguatkan sabda Nabi SAW di atas dengan firman-Nya,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (At-Taubah: 6)

Lalu, siapakah yang dimaksud dengan kafir harbi yang boleh dibunuh?

Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, kafir harbi adalah orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan orang musyrik yang menolak seruan Islam. Mereka tidak memiliki ikatan perjanjian dan jaminan keamanan serta tinggal di wilayah perang, yaitu daerah yang tidak ditegakkan hukum Islam. Mereka adalah musuh kaum Muslimin. Jihad harus ditegakkan terhadap mereka, minimal satu atau dua kali dalam setahun. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 7/121)

Terhadap kafir harbi yang menolak seruan Islam dan tidak mau tunduk kepada syariat Islam, Allah SWT berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّاعَلَى الظَّالِمِينَ

“Maka perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah sehingga agama itu hanya milik Allah, jika mereka berhenti maka tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan,

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Surat At-Taubah: 29)

Senada dengan firman di atas, Rasulullah SAW bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka beraksi bahwa tidak ada Illah yang haq diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan hisab (perhitungan) mereka diserahkan kepada Allah.”(HR. Bukhari-Muslim)

0,,17700020_303,00

Seorang warga Palestina berhadapan muka dengan seorang tentara Israel

Jadi, secara global hukum asal orang kafir adalah halal darahnya. Kecuali jika mereka mengikat perjanjian damai, memohon jaminan keamanan dengan syarat-syarat yang berlaku, atau tunduk di bawah hukum Islam dengan membayar jizyah.

Imam Asy-Syaukani berkata, “Adapun orang kafir, maka darah mereka sejatinya adalah boleh ditumpahkan sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat saif (pedang), apalagi jika mereka mengobarkan perang.” (As-Sailu Al-Jarrar 1/946).

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm, ia berkata, “Allah Tabaraka wa Ta’ala membolehkan membunuh orang kafir dan mengambil hartanya kecuali jika dia membayar jizyah atau meminta jaminan keamanan hingga waktu tertentu.” (Al-Umm, 1/302)

Al-Kasani berkata, “Asal hukumnya adalah siapapun yang termasuk ke dalam ahlu qital (ahlul harb), maka ia halal dibunuh baik ia itu berperang atau tidak.”(Bada’ius Shana`i, 7/101)

Syaikh Utsaimin berkata, “Kafir harbi tidak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan dari kaum Muslimin.” (Huquq Da’at Ilaiha al-Fithrah Wa Qarraraha asy-Syari’at, Ibnu Utsaimin, hal. 16) 

Hukum Membunuh Warga Kafir Sipil

Para ulama sepakat bahwa salah satu bentuk larangan dalam syariat jihad adalah menyerang rakyat sipil secara umum, anak-anak, perempuan, dan tua renta yang tidak terlibat dalam perperangan. Kaum Muslimin tidak boleh menyerang mereka kecuali jika terlibat dalam memerangi umat Islam.

Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Umar disebutkan, bahwa ada seorang perempuan yang terbunuh pada salah satu peperangan yang diadakan oleh Nabi SAW. Maka beliau melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam lafadh yang lain disebutkan “Maka Rasulullah SAW mengingkari pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak. (HR. Bukhari-Muslim)

Imam An-Nawawi berkata, “Para ulama telah berijmak untuk mengamalkan hadits ini, yaitu tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak selama mereka tidak ikut memerangi. Namun jika mereka ikut berperang, maka jumhur berpendapat mereka boleh dibunuh.” (Syarh Shohih Muslim, 12/48)

Kemudian dalam riwayat lain, dari Samuroh bin Jundab dari Nabi SAW, beliau bersabda:

اقتلوا شيوخ المشركين واستحيوا شرخهم

“Bunuhlah orang-orang tua musyrikin dan biarkanlah anak-anak mereka hidup.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ada pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Suatu ketika Nabi SAW melewati Abwa’ dan Waddan. Saat itu beliau ditanya tentang hukum menyerang sebuah penduduk negeri, dan serangan itu mengenai perempuan dan anak-anak mereka. Beliau pun menjawab bahwa mereka (wanita dan anak-anak) itu termasuk golongan mereka.

Hamas-summer-camp-1

Anak Pelestina memegang senjata

Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut, yaitu jika serangan tersebut dilakukan dalam kondisi darurat. Adapun hadits sebelumnya (riwayat Ibnu Umar) tentang larangan membunuh perempuan dan anak-anak, adalah larangan ketika mereka terpisah dari pasukan perang musuh.” (Syarh Shohih Muslim, 12/48)

Masih banyak riyawat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa prinsip dasar dalam syariat jihad adalah haram membunuh anak-anak, wanita, tua renta, dan masyarakat sipil secara umum kecuali jika mereka ikut terlibat dalam perperangan. Baik dengan cara membantu pasukan kafir secara langsung, memotivasi mereka untuk berperang, atau memperbanyak jumlah mereka dalam memerangi kaum muslimin. (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni 9/232, Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal: 133-132, Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Fathul Bari, 6/146, Ibnu Abdil Bar, Al-Istidzkar, 14/74).

Status Yahudi Israel di Palestina

Telah jamak diketahui, status Yahudi yang sampai hari ini menduduki negara Palestina adalah sebagai penjajah. Proses berdirinya negara Israel penuh dengan konspirasi dan cara-cara yang zalim. Wilayah yang sejatinya milik bangsa Palistina diklaim sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka.

Efeknya, sampai hari ini rakyat Palestina terus mengalami penindasan. Tanah-tanah mereka dirampas, berbagai bentuk kezaliman mereka alami, penyiksaan dan pembunuhan menjadi teror sehari-hari yang mereka hadapi.

Maka, jika ditinjau dari jenis golongan orang kafir di atas, status Yahudi yang ada di Palestina jelas termasuk kafir harbi yang boleh dibunuh bahkan harus diusir dari wilayah tersebut. Mereka tidak lain sebagai penjajah yang merampas tanah kaum muslimin.

Para ulama telah bersepakat bahwa bila sejengkal tanah kaum Muslimin dijajah oleh musuh mereka, maka ketika itu jihad menjadi fardhu ‘ain atas penduduk negeri tersebut dan penduduk sekitar yang berdekatan dengannya. Jika mereka tidak mampu atau kemampuannya terbatas, maka kewajibannya terus meluas hingga terbebani kepada seluruh kaum muslimin. (Lihat: Al-Mughni, 9/163, Al-Iqna’, 2/510)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (Al-Anfal: 15)

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Bila musuh telah menyerang ke suatu negeri kaum muslimin, maka tidak ada khilaf di kalangan ulama, bahwa mencegah bahaya musuh terhadap agama, jiwa dan kehormatan kaum muslimin adalah wajib.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 4/607)

Adakah Warga Sipil Israel?

Menjawab pertanyaan tersebut, DR. Abdul Wahhab Al-Masiri, salah seorang profesor kelahiran Mesir, dalam Ensiklopedi Yahudi dan Zionisme menjelaskan, bahwa peran masyarakat Yahudi berbeda dengan masyarakat dunia lain pada umumnya. Mereka memiliki kelebihan dari segi militer. Seluruh warga Yahudi memiliki kemampuan dalam menggunakan senjata. Baik laki-laki maupun wanita, semuanya diwajibkan untuk belajar menggunakan senjata. Bahkan, mereka menamai dirinya dengan “masyarakat bersenjata”.

Israel

Lembaga militer Israel pun dibentuk dari berbagai unsur yang direkrut dari masyarakat, mulai dari perekrutan tentara, pejabat profesional, pembentukan intelijen dari berbagai kalangan, lembaga penelitian strategis, berbagai organisasi yang berada dalam pengawasan militer, dan resimen yang dibentuk dari mantan perwira untuk ditempatkan di posisi-posisi strategis di seluruh negara dan sebagainya. Sehingga, peran masyarakat di sana layaknya seorang tentara yang selalu terlibat dalam membangun negara jajahannya.

Maka, dapat disimpulkan bahwa warga Yahudi yang menempati Palestina, sejatinya tidak ada warga sipil. Mereka semua adalah masyarakat militer yang memiliki peran dan kedudukan yang berbeda-beda. Semua warga, baik laki-laki maupun perempuan yang sudah mampu mengangkat senjata akan dibekali ilmu militer. Mereka diwajibkan untuk membela wilayah mereka yang berhasil direbut dari tangan kaum Muslimin.

Selain itu, di antara mereka juga tidak sedikit yang terlibat langsung dalam agresi-agresi militer untuk membunuh kaum Muslimin di Palestina. Bahkan sejak tahun 1948, telah muncul sebuah slogan di antara mereka “Setiap wilayah adalah medan tempur, setiap rakyat adalah tentara”. Oleh karenanya, tidak salah jika setiap warga Yahudi membekali dirinya dengan senjata.

Dengan demikian, argumentasi Syaikh Al-Halabi yang tidak memperbolehkan menyerang warga Yahudi adalah tidak berdasar, apalagi terhadap tentara yang jelas-jelas mengangkat senjata. Sementara pernyataan Syaikh Bin Baz yang dijadikan dalil untuk menguatkan argumentasinya sangat tidak bisa dibenarkan.

Hal tersebut selain karena waktu dan obyek yang berbeda, Syaikh Bin Baz secara khusus telah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban jihad bagi rakyat Palestina atas penjajahan Israel. Beliau menyatakan bahwa jihad bagi penduduk Palestina adalah wajib, mereka harus melakukan pembelaan terhadap agama, jiwa, dan keluarga. Mereka juga harus mengusir musuh-musuh tersebut dari negeri mereka dengan mengarahkan kekuatan semampu mungkin. Demikian juga terhadap negeri kaum Muslimin lainnya, wajib membantu mereka agar bebas dari penjajahan musuh dan bisa menduduki kembali negara mereka yang terjajah.

Kemudian di antara poin penting lainnya dalam tema ini adalah status warga Yahudi itu sendiri. Ketika mereka menempati wilayah Palestina, sejatinya mereka sedang merampas hak kaum Muslimin. Mereka bergabung dalam barisan tentara Israel yang merebut tanah kaum muslimin. Pada saat itu, kewajiban kaum Muslimin adalah mengamalkan seruan Allah SWT, yaitu mengusir mereka dari bumi Palestina “…Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian…” (At-Taubah: 5). Wallahu A’lam Bis Shawab.

Penulis: Fahrudi

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s