Lahirilah Kita, Adalah Cerminan Wajah Kita

BANYAK hal yang bisa menjelaskan siapa kita. Kita bisa saja mengaku dan memberi penjelasan tentang diri sendiri. Namun orang lain di sekitar kita tentu memiliki pandangan berbeda tentang kita.

Karena memang untuk menjelaskan siapa kita, banyak hal yang bisa menjadi cerminan kita.

Orang bisa menilai kita secara lahiriyah. Karena memang menilai seseorang secara batiniyah akan sulit dilakukan. Tetapi biasanya, apa yang tampak secara lahir merupakan gambaran dari yang batin. Kedua unsur tersebut, yaitu lahir dan batin, akan senantiasa berhubungan untuk memberi informasi tentang kesejatian kita.

Dalam kacamata Islam, batin sangat berhubungan dengan niat dan keyakinan. Sedangkan sisi lahir berhubungan dengan ucapan dan amal perbuatan. Banyak dalil yang menunjukkan keterhubungan keduanya. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tentang amal yang harus disertai dengan niat. Atau baik buruknya anggota badan (lahiriyah) tergantung pada baik buruknya hati (batiniyah).

Oleh sebab itu, banyak hal lahiriyah yang dapat menceritakan dan menyimpulkan wajah kita, yang sesungguhnya bersumber dari batin kita. Meskipun kesimpulan-kesimpulan yang dibuat orang tentang kita melalui cermin lahiriyah tidak mutlak tepat, namun di sinilah kita juga harus bijak memahami dan memperhatikan cerminan wajah kita tersebut.

Pertama, ucapan kita

Saat kita bicara, dalam hal ini juga menulis, maka kadar dan kualitas kita akan terbaca. Melalui susunan dan pemilihan diksi akan tergambar secara nyata siapa kita pada orang dan siapa orang pada kita. Bisa saja tampilan seseorang tampak cerdas, tapi persepsi itu bisa keliru setelah kita mengetahui bagaimana kualitas pembicaraannya.

Ucapan yang tumpah keluar melalui lisan adalah standar orang menilai ketulusan, intelektual, emosional, adab, dan lainnya yang berkaitan dengan kita. Karena sesungguhnya saat kita bicara dan menulis, saat itu kita juga menyertakan isi batin berupa pikiran dan perasaan. Oleh sebab itu, setiap kata yang diucapkan bisa menjadi nilai kepribadian. Maka, air kotor di dalam teko tidak mungkin keluar menumpahkan madu.

Dalam Islam, menjaga lisan dari ucapan yang tak berguna memiliki keutamaan. Bahkan ia standar keimanan seorang Muslim kepada Allah ta’ala dan hari kemudian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau jika tidak hendaklah diam.” (HR Bukhari).

Kedua, teman pergaulan kita

Teman sangat mempengaruhi bagaimana cara seseorang menjalani kehidupan. Teman baik akan mengingatkan kesalahan dan kekurangan, serta menambahkan kebaikan pada diri. Sedangkan teman jahat hanya akan menambah keburukan. Maka dengan demikian, teman akrab sehari-hari merupakan cermin yang jernih tentang diri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam mengingatkan bahwa,

“Seorang mukmin adalah cerminan bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya.” (HR. Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga mengibaratkan teman yang baik bagaikan minyak wangi yang mengharumkan, sedangkan teman buruk bagaikan asap bakar yang menempelkan bau di badan. Intinya, saling mempengaruhi. Bahkan, bagaimana agama seseorang dipengaruhi oleh teman yang menjadi pilihan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu, Islam memerintahkan agar senantiasa bergaul dan berkumpul dengan orang-orang baik agar disebut dan menjadi orang baik.

Dalam hal ini Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkumpullah bersama orang-orang yang baik.” (QS At Taubah: 119).

Ketiga, pemimpin kita

Siapa pemimpin yang dipilih sejatinya cerminan dari wajah-wajah masyarakat yang memilih pemimpinnya. Dalam alam demokrasi, pemimpin cerminan kualitas kebanyakan orang yang memilih. Baik buruk pemimpin adalah gambaran baik buruknya yang memilih pemimpin. Dari pemimpin kita bisa berkaca siapa kebanyakan kita sebenarnya.

Dalam Al-Quran dijelaskan, bahwa Allah menjadikan pemimpin bagi orang-orang fasiq tidak jauh, bahkan lebih fasiq dari mereka, yaitu Fir’un.

Allah ta’ala berfirman:

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْماً فَاسِقِينَ

“Maka Fir’un mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasiq.” (QS. Az Zukhruf: 54).

Allah ta’ala juga berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah, Kami jadikan orang-orang yang dzolim itu menjadi teman (pemimpin) sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS: Al An’am: 129).

Imam Thabrani pernah meriwayatkan dari Hasan Al Bashri rahimahullah, bahwa ia pernah mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk Al Hajjaj, seorang pemimpin yang dzolim di zamannya, lantas ia berkata; “Jangan kamu lakukan itu! Kalian diberi pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir jika Al Hajjaj digulingkan atau meninggal, maka kalian akan di pimpin oleh kera atau babi. Sebagaimana telah diriwayatkan, bahwa pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian, dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.” (Kitab Kasyfu al Khafa, dikutip dari As Sunnah, Edisi 06, 2014).

Dalam konteks Indonesia kekinian, banyak hal berharga yang menjadi pelajaran. Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, tapi yang tergilas dan tertindas. Karena kualitas masyarakat yang rendah, hilangnya ghirah menilai sesuatu dari sisi agama, akibat abainya dengan nasihat ulama, tanpa kritis, akhirnya memilih pemimpin sesuai arus pencitraan media. Padahal, pencitraan lebih dekat dengan kepalsuan.

Tidak perlu menepuk air di dulang, karena akan memercik kepada wajah sendiri.

Bagaimana pemimpin kita sekarang, adalah cerminan kualitas kebanyakan orang, termasuk kita. Tidak perlu meratapi apa yang terjadi, karena kesadaran memang selalu datang belakangan. Sebab itu, jika ingin wajah kita tampak bersih, maka mulailah memperhatikan cerminan diri seperti ucapan, teman pergaulan, dan pemimpin yang akan dipilih.

Maka, jika kita melihat carut-marut Negara dan Bangsa kita, juga kualitas pemempin kita yang kurang membanggakan, mungkin itulah cerminan kualitas kita sendiri yang ditunjukkan Allah kepada kita semua. Wallahu A’lam!*/Lidus Yardi, Sekretaris Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kuansing Riau


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s