Tetesan Air Mata Surga

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’:109).

– ”Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82).

– “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58).

– “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhan: 29).

– “Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43).

– “Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 60).

– Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah; …(dan disebutkan diantaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendiriannya kemudian air matanya mengalir” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya ).

– Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu ibu (yang sudah diminum oleh anaknya) kembali ke tempat asalnya (payudaranya-pent).” (HR.at-Tirmidzi no.2311, sanad hasan)

– Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak” (HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih).

– Dari Abu Hurairah , Nabi bersabda Shallallahu’alaihi wa sallam, “Semua mata pada hari Kiamat nanti akan menangis kecuali (ada beberapa mata yang tidak menangis), pertama : mata yang dijaga dari hal-hal yang diharamkan Allah, kedua : mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah, ketiga : mata yang darinya keluar sesuatu (menangis) walau (air mata yang keluar) hanya sekecil kepala seekor lalat karena takut pada Allah” (HR.Ashbahani).

– Dari Ibnu Mas’ud , Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Setiap mukmin yang meneteskan air mata karena takut kepada Allah walau hanya sekecil kepala seekor lalat, lalu air matanya itu membasahi pipinya niscaya Allah haramkan neraka untuk menyentuhnya.” (HR.Ibnu Majah, al-Baihaqi).

– Dari al-Abbas Bin Abdul Muthallib , Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah.” (HR. At-Thabrani).

– Dari Uqbah bin Amir , dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah bagaimana caranya agar selamat? Rasulullah bersabda: ‘Kendalikan lisanmu, hendaknya rumahmu membuatmu merasa nyaman (untuk beribadah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR: At-Tirmidzi, hadits hasan, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

– Dari Zaid Bin Arqom , dia berkata, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam , “Ya Rasulullah dengan apa aku membentengi diri dari api neraka? Rasulullah menjawab, “Dengan air matamu, karena mata yang menangis karena takut pada Allah niscaya neraka tidak akan menyentuhnya selama-lamanya” ( HR. Ibnu Abi Dunya dan Ashbahany ).

– Dari Abu Hurairah , Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR: Al-Bukhari di Adabul Mufrad, dan Ibnu Majah dengan sanad jayyid).

AIR MATA RASULULLAH

– Diriwayatkan dari Abdullah bin Syukhair dia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah yang sedang shalat, dan (aku mendengar) dari rongga dadanya ada gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau” (HR.Abu Daud dan at-Tirmidzi).

– Anas bin Malik menceritakan, suatu ketika sampai berita kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tentang sahabat-sahabatnya. Rasulullah lalu berkata, “Aku ditawarkan Surga dan Neraka, namun aku tidak pernah melihat perihal kebaikan dan keburukan seperti yang kulihat hari ini. Seandainya kalian semua mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Anas melanjutkan, “Maka tiada hari paling berat yang dialami oleh para sahabat selain dari hari itu. Kepala mereka tertunduk sambil menangis.” (HR: Muslim, no.2359).

– Ubaid bin Umar pernah berkata kepada ‘Aisyah , “Beritahukanlah pada kami perkara yang paling menakjubkan dari yang Anda lihat pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.” Ubaid menuturkan bahwa ‘Aisyah diam sejenak lalu berkata, “Pernah pada suatu malam Rasulullah berkata, ‘Wahai ‘Aisyah! Biarkan aku beribadah kepada Rabb-ku malam ini!’ Aku berkata, ‘Demi Allah, ingin sekali aku dekat denganmu dan membuatmu gembira.’ ‘Aisyah berkata lagi, maka Rasulullah bersuci, melakukan shalat dan terus menangis hingga airmatanya membasahi janggutnya. Beliau terus menangis hingga membasahi tanah. Lalu datanglah Bilal mengumandangkan Adzan Subuh. Ketika ia melihat Rasulullah menangis, Bilal berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah anda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam berkata, ‘Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang bersyukur?! Telah diturunkan padaku satu ayat, maka celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau memikirkannya, ‘Sesungguhnya dalam panciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ (Al-Imran: 190).” (Lihat Ibnu Hibban, 523 dan At-Targhib, 2/372).

– Dari Ibnu Mas’ud , bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Bacakanlah Al-Qur’an untukku.” Ibnu Mas’ud balik bertanya, “Wahai Rasulullah! Akankah aku membacakan Al-Qur’an untukmu, padahal padamulah Al-Qur’an diturunkan.” Rasulullah berkata lagi, “Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain.” Ibnu Mas’ud membacakan surat An-Nisa’ sampai ayat 41, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berkata, “Cukup sampai di situ!” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku lalu menoleh padanya. Tiba-tiba kedua matanya bersimbah airmata.” (HR:Bukhari dan Muslim).

– Dari Ali , “Suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam di masjid. Tiba-tiba muncul Mush’ab bin Umair . Tidak ada yang beliau pakai kecuali selimut hitam yang penuh tambalan. Ketika Nabi melihatnya, beliau menangis. Ia membandingkan ketika Mush’ab hidup berkecukupan dahulu dengan kondisinya sekarang. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Bagaimana jika diantara kalian pada pagi hari sudah tersedia pakaian, juga di waktu petang lalu diletakkan dihadapannya hidangan lezat. Setelah itu, hidangan diangkat kembali. Lalu kalian tutupi rumah kalian seperti ka’bah yang ditutupi kain?” Para sahabat menjawab, ‘Wahai Rasulullah. Pada saat itu, kami lebih baik dari sekarang sebab bisa beribadah dengan tenang dan tidak sibuk mencari kebutuhan hidup.’ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak! Kalian saat ini lebih baik daripada saat itu.” (HR: At-Tirmidzi, 2476).

– Dari Abu Hurairah , ketika turun ayat (An-Najm: 59-60), para Ahli Suffah (sahabat-sahabat Nabi yang tinggal di halaman masjid karena miskin dan tidak punya keluarga-pent) menangis hingga airmata mengalir di pipi mereka. Ketika Nabi mendengar isakan mereka, Nabi menangis bersama mereka, maka kamipun ikut menangis bersama Nabi (ket: Abu Hurairah termasuk Ahli Suffah). Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena takut dalam (melakukan) maksiat, seandainya kalian tidak melakukan dosa, niscaya Allah akan datangkan kaum yang melakukannya (dosa-pent) sehingga mereka meminta ampun, lantas Allah mengampuni mereka.” (HR: Al-Baihaqi 1/489, no. 799 dan kitab Syu’ab al-Iman).

– Ibnu Saad berkata, Ibrahim bin Muhammad bin Syarhabil Al-Abdari menceritakan pada kami dari ayahnya, “Mush’ab bin Umair membawa bendera di hari Uhud. Ketika tentara Muslim bertebaran di segala sisi, tinggallah Mush’ab bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu datanglah Ibnu Qumai’ah yang berkuda dan menebasnya sehingga memutuskan tangan kanannya. Mush’ab lalu membaca ayat: ‘Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.” (Al-Imran: 144). Tangan kirinya mengambil bendera itu dan menggantikannya dengan tangan kanannya. Musuhpun terus mendekatinya, lalu menebas tangan kirinya hingga terputus. Tak berhenti sampai disini, dengan kedua lengannya ia memeluk erat bendera dan merapatkannya pada dadanya. Ia terus membaca ayat tersebut. Datanglah musuh yang ketiga lalu melepaskan anak panah yang menembus jantungnya. Ia pun roboh dan jatuh bersama bendera pasukan Islam tersebut. Demikianlah Mush’ab mengulang-ulang ayat tersebut. Usai peperangan, Rasulullah beserta para sahabatnya mengitari medan peperangan untuk mengenali dan mencari para syuhada yang gugur. Ketika sampai pada jasad Mush’ab, bercucuranlah air mata Rasulullah dan para sahabat. Khabbab bin Al-Art berkata, “Kami berhijrah bersama Nabi dengan mengharap ridha Allah dan balasan dari-Nya. Sementara sebagian dari kami telah wafat dan tidak menikmati dunianya. Diantara mereka adalah Mush’ab bin Umair yang gugur pada perang Uhud. Saat itu tidak ada yang dapat dijadikan kain kafan baginya selain baju yang bergaris-garis yang dikenakannya. Jika hendak menutup kepalanya, maka terlihatlah kakinya. Jika hendak menutup kakinya maka terlihatlah kepalanya. Lalu Rasulullah berkata, ‘Jadikanlah kain itu sebagai penutup kepalanya dan tutuplah kakinya dengan tumbuhan adzar (tumbuhan wangi).” Bercucuranlah airmata Rasulullah . Dengan hati sedih, beliau memandangi baju yang dikenakan oleh Mush’ab sebagai kafannya seraya bersabda, ‘Aku telah melihatmu di Makkah dengan segala keindahan pakaian yang engkau kenakan. Tidak ada yang menandingi penampilanmu. Tapi pada hari ini rambutmu tidak teratur dan berkafankan burdah.” (Al-Ishabah no. 6/98).

AIR MATA SALAFUS SHALIH

– Dari Salim bin ‘Ubaid berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengalami pingsan dalam sakitnya. Setelah beliau sadar, beliau bertanya, ‘Sudah tibakah waktu shalat?’ Orang-orang menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan! Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang untuk shalat!” Salim berkata, “Kemudian beliau pingsan, kemudian sadar. Beliau bertanya, ‘Sudah tibakah waktu shalat?’ Orang-orang menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan! Perintahkan pula Abu Bakar agar mengimami orang-orang untuk shalat!” Aisyah pun berkata, ‘Sesungguhnya ayahku seorang pria yang asiif (yaitu mudah bersedih), apabila ia menempati kedudukan itu (yaitu sebagai imam-pent), ia pasti menangis, sehingga tidak bisa (meneruskan shalatnya karena banyak menangis-pent). Bagaimana andaikata anda menyuruh orang lain?” Salim berkata, “Kemudian beliau pingsan, kemudian sadar. Beliau bertanya, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan! Perintahkan pula Abu Bakar agar mengimami orang-orang untuk shalat! Sesungguhnya kalian seperti perempuan-perempuan sahabat Yusuf!” (HR: Ibnu Majah, An-Nasa’i dan Ath-Thabrani dengan sanad yang shahih).

– Dari Ibnu Abbas , bahwa Umar bin Khaththab menceritakan, “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika itu ia sedang berada diatas tikar. Akupun duduk dan ternyata beliau hanya memakai kain, tanpa yang lainnya. Ternyata tikar tersebut membekas di punggungnya. Lalu aku melihat segenggam gandum, tumbuhan yang telah disamak (kiriz) di sudut kamar, juga kulit binatang yang tergantung. Akupun meneteskan airmata. Lalu RasulullahShallallahu’alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnu Al-Khaththab?” Umar menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Bagaimana aku tidak menangis?! Tikar ini telah membekas di punggungmu. Dan lemarimu tidak ada sesuatu apapun didalamnya selain yang aku lihat. Lalu disana para raja dan kaisar bermewah-mewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai. Padahal engkau adalah seorang Nabi utusan Allah dan hamba terbaiknya, tapi hanya ini yang engkau punya?’ Nabi menjawab, ‘Wahai Ibnul Khaththab apakah engkau tidak rela jika kami mendapatkan akhirat sedang mereka mendapatkan dunia?!” (HR: Ahmad 1/301, dengan sanad shahih).

– Dari Anas , Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam berkata kepada Ubay bin Ka’ab, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membacakan untuk kalian semua surat Al-Bayyinah.” Lalu Ubay berkata, “Apakah Allah menyebut namaku padamu?” Nabi berkata, “Ya.” Dan Ka’ab pun menangis.” (HR: Bukhari no. 3809, 4959).

– Diriwayatkan bahwa ketika penduduk Yaman datang berkunjung (ke Madinah-pent) pada masa pemerintahan Abu Bakar dan mendengar bacaan Al-Qur’an, seketika mereka menangis. Abu Bakar berkata, “Seperti itulah kami dahulu. Lalu kemudian hati-hati manusia ini menjadi keras.” (Lihat Kanz Al-Ummal, 2/203).

– Anas bin Malik berkata, adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sedang berkhutbah disamping sebongkah kayu, beliau menyandarkan pada kayu itu. Tatkala jumlah orang mulai banyak, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallambersabda, buatlah mimbar untukku, mimbar itu mempunyai dua anak tangga.’ Ketika Rasulullah berdiri diatas mimbar untuk berkhutbah, kayu itu merintih rindu kepada Rasulullah.” Anas melanjutkan, “Saya berada di masjid, sedang kayu itu bersuara layaknya suara anak kecil.” Kayu itu terus saja bersuara hingga Rasulullah turun lalu mendekapnya, kemudian kayu itu diam. Mubarak bin Fadhalah berkata, “Apabila Hasan meriwayatkan hadits ini, dia menangis, kemudian berkata, ‘Wahai hamba-hamba Allah, kayu itu merintih karena rindu kepada Rasulullah karena kedudukan beliau disisi Allah, padahal kalian lebih berhak untuk rindu bertemu dengan beliau.” (HR: Ahmad dan lainnya. Riwayat asal di dalam Ash-Shahihain).

– Anas bin Malik berkata, “Abu Bakar berkata kepada Umar setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, ‘Mari kita pergi mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana dahulu Rasulullah mengunjunginya.’ Setelah kami bertemu Ummu Aiman, dia menangis. Abu Bakar dan Umar berkata kepadanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Tidakkah kamu mengetahui apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah?’ Ummu Aiman menjawab, ‘Saya menangis bukan karena tidak mengetahui bahwa apa yang ada disisi Allah adalah lebih baik bagi Rasulullah, tetapi saya menangis karena wahyu telah terputus dari langit.’ Ucapannya itu mendorong Abu Bakar dan Umar menangis, hingga mereka menangis bersama-sama Ummu Aiman.” (HR: Muslim).

– Demikian juga Abu Bakar As-Shiddîq , beliau sangat mudah tersentuh dengan bacaan Al-Qur’an dan selalu menangis tatkala melantunkan bacaan al-Qur’an. Juga Umar bin Khattab apabila menjadi imam shalat Isya dan Subuh, beliau sering membaca surat Yusuf, dan setiap kali membaca surat ini maka beliau menangis dan suara tangisannya terdengar hingga shaf yang paling belakang. Abdullah bin Isa berkata, “Terdapat di wajah Umar bin Khaththab dua garis hitam bekas tangisan (karena sangat banyaknya menangis-pent).”

– Qatadah berkata, “Ala bin Ziyad adalah orang yang banyak menangis hingga matanya menjadi rabun, kalau dia ingin berbicara atau membaca, kedua matanya mulai menitikkan airnya.”

MENYEMBUNYIKAN TANGISAN

Dengan menyembunyikan tangisan akan dapat membebaskan seseorang dari Riya’ yang akhirnya dapat menghapus semua amalannya, dan juga dapat menjaga diri dari sifat ujub (membanggakan diri) yang menyeret pelakunya pada sifat sombong. Paling utama dan tiada yang dapat menandinginya adalah keselamatan agama seseorang (dari segala sesuatu yang menghancurkannya).

– A’masyi berkata, “Hudzaifah menangis dalam shalatnya, ketika selesai dia menoleh ke belakang, ternyata ada seseorang dibelakangnya, dia berkata, ‘Jangan kau ceritakan kejadian ini kepada siapapun.”

– Dari Bastham bin Huraits berkata, “Ayyub (Ayyub bin Abi Tamimah Al-Sikhtiyani-pent) pernah merasa terenyuh dan airmatanya mulai mengalir. Namun dia berusaha menyembunyikannya dari para sahabatnya dengan memegang hidungnya seakan sedang pilek (dalam riwayat lain, sambil dia berkata, ‘Alangkah beratnya pilek ini’). Jika dia tidak sanggup menahan isak tangisnya, dia pun berdiri.”

– Dari Al-Qasim bin Muhammad, dia berkata, “Kami mengadakan perjalanan jauh bersama Ibnul Mubarak. Acapkali aku berkata didalam hati, ‘Karena apa orang ini lebih utama dari kami (yaitu Ibnul Mubarak-pent), hingga dia terkenal sedemikian rupa di tengah manusia? Kalaupun karena shalatnya, toh shalatnya juga sama dengan kami. Kalaupun dia berpuasa, kami juga berpuasa yang sama. Kalaupun berperang, kami juga berperang. Kalaupun karena haji, kamipun menunaikan haji seperti dirinya.’ Suatu malam ketika kami sedang makan malam di sebuah rumah di Syam, tiba-tiba lampu padam. Maka sebagian diantara kami bangkit dan mengambil lampu, lalu keluar untuk menyalakan lagi. Tak seberapa lama kemudian dia kembali dengan lampu itu. Aku melihat ke wajah Ibnul Mubarak dan jenggotnya, yang ternyata sudah basah karena airmata. Aku berkata dalam hati, ‘Karena ketakutan seperti itulah dia lebih utama daripada kami. Boleh jadi ketika lampu padam hingga suasana menjadi gelap, maka diapun mengingat hari kiamat.” Al-Mawarzy berkata, “Aku mendengar Abu Abdullah, Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Allah tidak meninggikan Ibnul Mubarak melainkan karena rahasia yang dia simpan.” (Shifatush Shafwah, 4/27).

– Dari Rabi’ bin Shabih, ketika Hasan sedang memberikan nasehat, ada seseorang yang menangis. Hasan berkata, “Sungguh Allah akan menanyakanmu di hari Kiamat kelak, apa yang kau inginkan dari perbuatanmu itu?”

– Hasan bin Rabi’ berkata, “Bila Ibnu Mubarak merasa tersentuh hatinya dan tidak mau jika hal itu diketahui orang lain, dia langsung berdiri atau mengalihkan pembicaraan.”

– Ma’mar berkata, “Ada seseorang yang menangis disamping Hasan, diapun berkata, ‘Pernah ada orang yang bila dia menangis maka teman sebelahnya tidak mengetahui hal itu.”

– Muhammad bin Wasi’ berkata, “Aku telah bergaul dengan bermacam manusia. Diantara mereka ada yang tidur bersama istrinya diatas satu bantal, bantal itu pun basah karena tangisannya, namun sang istri tak menyadari hal itu. Banyak juga yang shalat berjamaah lalu airmatanya mengalir di pipinya sedang orang yang disebelahnya tidak mengetahui.”

Menurut penulis (Syaikh Shalih bin Shuwailih Al-Hasawi-pent), kisah-kisah seperti ini -mungkin- yang dimaksud adalah dirinya sendiri. Begitu pula orang yang diceritakannya, padahal sebenarnya adalah dirinya sendiri. Mereka menceritakannya kepada orang lain dengan cara mengaburkan jati diri mereka, atau mereka hanya melihat tanda-tanda bekas tangisan sekalipun tidak menyaksikan langsung dia yang menangis. Maka dari itu, sangat dianjurkan bagi seseorang untuk menyembunyikan tangisan sesuai kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, seseorang berbaik sangka bila mengetahui orang lain yang tengah menangis. Makhul berkata, “Saya menyaksikan ada seseorang yang sedang mendirikan shalat, setiap kali ruku’ dan sujud dia menangis. Saya menuduhnya sebagai orang yang melakukan Riya’ dengan shalatnya itu, setelah itu saya tidak dapat menangis selama satu tahun.” (Al-Khasyyah wal Buka” oleh Shalih bin Shuwailih Al-Hasawi).

Berbeda halnya dengan majelis-majelis tangisan atau dzikir yang dibuat oleh sebagian orang-orang yang mengaku dirinya ulama atau syaikh atau kiai atau ustadz dan lainnya kemudian diikuti oleh khalayak ramai. Mereka berkumpul kemudian melakukan ritual-ritual tertentu sambil berdzikir dan menangis secara berjama’ah. Mereka hiasi dzikir dan tangis tersebut seindah-indahnya agar seolah-olah manusia mengira mereka adalah yang terbaik dan yang paling taqwa. Itu sangat jauh bertentangan dengan sunnah dan manhaj para salafus shalih terdahulu. Sehingga perbuatan tersebut dapat terjerumus kedalam perkara-perkara bid’ah yang dhalalah maupun riya’. 

Ibnul Jauzi mengatakan:”Iblis telah membuat suatu tipuan terhadap kebanyakan orang awam. Mereka hadir dalam majelis dzikir, menangis dan cukup dengan itu. Dalam keadaan menyangka bahwa hadir dan menangis itulah tujuan mereka. Hal ini karena mereka tahu keutamaan hadir di majelis dzikir. Seandainya mereka tahu bahwa tujuan sesungguhnya adalah amalan dan apabila mereka tidak mengamalkan apa yang mereka dengar akan semakin kuat hujjah (alasan) terhadap mereka (untuk menghukum mereka).” Wallahu’alam.


(Diambil dari kitab “Mukhtashar Asy-Syamaa’il Muhammadiyah” oleh Imam At-Tirmidzi, diringkas dan ditahqiq oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Juga kitab “Al-Khasyyah wal Buka’” oleh Shalih bin Shuwailih Al-Hasawi. Dan kitab “Dumu’ Ash-Shalihin” oleh Abul Fida’ M. Izzat M. Arif)

Sumber: Facebook Abu Fahd NegaraTauhid

http://alqiyamah.wordpress.com/2010/05/04/tetesan-air-mata-surga/#more-10201


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s