Iman, Jembatan Bagi Muslim untuk Saling Mencintai

Iman harusnya menjadi jembatan indah antara dua hati hamba Allah SWT untuk saling bersaudara dalam pelukan kasih sayang. Iman juga harusnya mengubah dua saudara layaknya pakaian yang saling menutupi ketika ada aib dan cela saudaranya ketika terbuka, layaknya pakaian yang menutup celah aurat untuk tidak terlihat.

Ia pun menjadi sebab terindah untuk menjadikan setiap hamba Allah SWT berkasih sayang dalam iman untuk saling menguatkan dan bukan untuk saling melemahkan karena saudara iman selalu mengokohkan, bukan untuk merapuhkan.

Iman pula yang harusnya menjadikan setiap mukmin mengerti tentang kewajiban memberikan akhlaq terbaik kepada saudaranya walaupun terkadang berbeda dalam permasalahan ijitihadiyah.

Iman tak pernah pula menjadikan pemiliknya menjadi sombong dan angkuh menerima sesuatu yang berbeda dari saudaranya sebagaimna para sahabat kadang mereka berbeda tapi mereka tetap saling mengasihi.

Maka, berikanlah akhlaq terbaik yang engkau miliki kepada sesama mukmin. Karena sesungguhnya generasi terbaik umat ini mereka belajar untuk berakhlaq sebelum mereka belajar untuk perkara lainnya. Apabila engkau dibenci karena kebenaran maka itu anugerah. Dan apabila engkau dibenci karena akhlaqmu, maka itu adalah musibah.

Betapa mulia kehidupan akhlaq bagi setiap mukmin, dengannya dia akan belajar menghargai sesama mukmin lainnya, sehingga bersama menuju kepada Allah SWT dengan saling menguatkan dan tidak saling merasa angkuh untuk menerima kebenaran serta bersikap menghargai segala perbedaaan apabila dia mengerti bahwa masalah yang ada memang bersumber kepada dalil-dalil yang ada.

Marilah belajar akhlaq sebelum belajar perkara lainnya. Bukankah Ibnu Sirrin mengatakan bahwa para sahabat mempelajari adab bersamaaan dengan mereka mempelajari ilmu? (lihat Kitab Tadzkirotus Samii’ wal Mutakallimin 1/2, Kitab Mausuuah Adab Assyariyyah Abdul Fathi Sayyid Nada 1/5)

Karena, sesungguhnya seoarang mukmin memperhias dirinya di hadapan mukmin lainnya dengan adab dan akhlaqnya. Bukan dengan ringan lisannya dengan menjatuhkan vonis kepada saudaranya tanpa disertai kema’rufan dan membiarkan orang-orang kafir yang memerangi Islam selamat dari lisan mereka dan tindakan mereka.

Bukankah Imam Syafii menguraikan, “Barang siapa yang ingin Allah SWT membukakan hatinya dan meneranginya, maka hendaklah ia sering bersendirian dengan Allah SWT. Sedikit makannya, meninggalkan perkataan orang yang bodoh dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki sikap bijaksana dan beradab.” (lihat Kitab Tadzkirotus Samii’ wal Mutakallimin 1/2)

Dengarkanlah renungan dari perkataan generasi terbaik.

Ruwaiyim mengatakan kepada anaknya, “Wahai anakku jadikanlah amalmu ibarat garam dan akhlaqmu ibarat tepung -perbanyaklah olehmu akhlaq yang mulia hingga perbandingan sebagaimana perbandingan tepung dan garam dalam satu adonan. Karena banyak akhlaq walaupun sedikit amal itu lebih mulia dari pada banyak amal tapi miskin akhlaq. (lihat Kitab Al-Faruq III/96)

Ibnu Mubarak pun menyampaikan, “Tidaklah aku mendapati sesuatu yang paling bermanfaat setelah taqwa daripada akhlaq dan adab yang mulia.”

Ya Allah, muliakanlah akhlaq kami, luruskanlah lisan kami, santunkanlah sikap kami kepada saudara kami, dan indahkanlah ucapan kami kepada saudara-saudara kami….
Oemar Mita, pendakwah tinggal di Jakarta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s