Kunci-Kunci Rizki (2)

5.  Melanjutkan Haji dengan Umroh

Bagi kawan sekalian yang diberi kelapangan rizki oleh Allah Ta’ala untuk melaksanakan haji atau umroh, alangkah baiknya untuk melanjutkan haji anda dengan umroh atau sebaliknya. Karena perbuatan tersebut dijadikan Allah  termasuk kunci-kunci rizki sebagaimana tersebut dalam hadits berikut:

a.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Lanjutkan haji dengan umroh, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga” [1]

Dalam hadits diatas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa buah melanjutkan haji dengan umroh atau sebaliknya adalah hilangnya kemiskinan dan dosa. Imam Ibnu Hibban memberi judul hadits ini dalam kitab shahihnya dengan; “Keterangan Bahwa Haji dan Umroh Menghilangkan Dosa-dosa dan Kemiskinan dari Setiap Muslim dengan Sebab keduanya” [2].

b.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hadits riwayat Imam An-Nasa’i dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Lanjutkan haji dengan umroh atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi” [3].

Sekali lagi, bagi saudara-saudari yang menginginkan untuk dihilangkan kemiskinan dan dosa-dosanya oleh Allah Ta’ala, marilah kita lanjutkan haji kita dengan umroh atau umroh kita dengan haji. Semoga kita dimudahkan oleh-Nya untuk mengamalkannya.

6.  Silaturrahim

Diantara pintu-pintu rizki selanjutnya adalah silaturrahim. Al-hafidh Ibnu Hajar berkata; “Ar-rahim” secara umum dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak. Sedangkan silaturrahmi, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qori adalah kinayah (ungkapan/ sindiran) tentang berbuat baik kepada para karib kerabat dekat, -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan-, berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka [4].

Beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menjadikan silaturrahim termasuk diantara sebab kelapangan rizki adalah:

a.  Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (Imam Bukhari)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; ‘Aku mendengara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) [5], maka hendaklah ia menyambung silaturrahim” [6]

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senada dengan hadits diatas;

“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim” [7].

Dalam hadits yang mulia diatas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal; kelapangan rizki dan bertambahnya usia.

Demikianlah, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits tersebut diatas dengan “Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim” [8]. Artinya dengan sebab silaturrahim [9].

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan; “Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim” [10].

b.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

“Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia” [11].

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan tiga hal, diantaranya adalah ianya menjadi sebab banyaknya harta.

c.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabrani)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahmi” [12]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya menjelaskan manfaat silaturrahim, diantaranya adalah keluasan rizki.

d.  Atsar Shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata;

“Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, niscaya dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan rizkinya dan dicintai oleh keluarganya” [13].

e.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnu Hibban)

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda;

“Sesungguhnya ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiatpun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian (kekurangan)” [14]

Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta benda dan menjauhi kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat sekalipun, karena disebabkan silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran karena karunia Allah Ta’ala.

Untuk pembahasan lebih detil mengenai apa saja sarana untuk silaturrahim dan tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat, silahkan merujuk ke kitab yang berfaedah ini, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

To be continued inshaAllah…

—————

[1].  Al-Musnad, no. 3669, 5/244-245. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Hajj, bab Ma Ja’a fi Tsawabul Hajj wal Umrati, no. 807, 3/454 dan lafazh ini miliknya. …

[2].  Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, 9/6.

[3].  Sunan An-Nasa’i, kitab Manasikil Hajj, Fadhul Mutaba’ati Bainal Hajj wal ‘Umrati, 5/115. Syaikh Albani berkata shahih. (Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/558)

sumber : https://meilana.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s