Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid (3/7): 9 Amalan Penyubur Cinta kepada Allah

Salah satu tanda seseorang benar-benar mencintai Allah adalah senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Kebanyakan manusia sibuk mencari apa yang dicinta dan ketenangan hidup. Tetapi, seorang muslim tentunya menemukan jalan yang pasti menuju kehidupan dan ketenangan jiwa. Mencintai Allah dengan bertaqarrub dengan-Nya adalah jalan utamanya.

Fenomena-fenomena yang terjadi terkadang bisa mengernyitkan dahi. Tak jarang seseorang melakukan tindakan-tindakan aneh untuk mencari ketenangan. Melakukan hal-hal fantastis namun tidak wajar dan menyimpang. Ketika tujuan telah tercapai, bukannya ketenangan yang didapat, justru kepuasan semu yang hadir menemani.

Oleh karena itu, Islam sebenarnya sudah memberi solusi. Amalan-amalan mendekatkan diri kepada Allah bisa menjadi pengobat rasa sepi dan gundahnya hati. Bersimpuh di hadapan Rabbul Izzati sebagai solusi penentram hati. Cara-cara inilah yang paling tepat untuk meraih kebahagiaan diri.

Surga di dunia ini adalah ketika seorang hamba senantiasa mengingat Allah. Tentu saja, sebelum ia masuk ke surga akhirat, lebih baik jika ia merasakan surga dunia. Terkhusus bagi para mujahid yang berada di kancah pertempuran,taqqarrub pada Allah adalah senjata utama untuk mengharap pertolongan-Nya.

الجهاد44-

Lantas, amalan-amalan seperti apa yang bisa menghantarkan seorang mujahid untuk meraih cinta Allah, sehingga ia pun dekat dengan-Nya dan mendapatkan pertolongan-Nya? Amalan-amalan mulia itu antara lain:

1. Shalat

Salah satu bentuk persiapan sebelum berjihad adalah perhatian yang serius terhadap urusan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah. Sebab shalat adalah induk segala ibadah, ia mencegah dari perbuatan keji dan mungkar jika dilaksanakan secara benar. Betapa banyak dari kaum muslimin yang masihenjoy dalam bermaksiat padahal shalat telah ia tunaikan.

Kesalahan bukan terletak pada ibadah shalatnya, namun kesalahan ada pada diri yang mengerjakannya. Selain itu, shalat akan menjadi bekal ketika menempuh jalan yang berat dan panjang. Shalat yang dilaksanakan dengan benar akan membantu dalam menghadapi berbagai beban berat dan aral melintang saat terjun di perhelatan dunia jihad.

Allah Ta’ala berfirman

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

”Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah : 45)

Sayyid Quthb mengomentari ayat ini, “Saat waktu berjalan begitu lama,keletihan semakin memberatkan, terkadang kesabaran berkurangatau bahkan habis sama sekali jika tidak ada amunisi atau penopangnya. Oleh karena itu, shalat disebut bersamaan dengan sabar, karena shalat adalah mata air yang tak akan kering dan amunisi yang tak mungkin habis untuk memperbarui kekuatan. Ia adalah bekal bagi hati sehingga tali kesabaran kembali terulur dan tidak jadi putus, kemudian setelah itu akan muncul sikap ridha, kebahagiaan, rasa tenang, tsiqah dan yakin…”

Shalat juga penentu awal sikap seorang kepada amalan yang lain. Jika dalam urusan shalat berani meninggalkan, maka sudah dapat dipastikan dalam amalan lain pasti lebih meremehkan. Marilah kita senantiasa menjaga shalat kita.

761964341

2. Shiyam

Shiyam termasuk ibadah mulia yang disukai Allah Ta’ala. Shiyam membiasakan seseorang untuk berlaku sabar, bertekad kuat dan menaklukkan syahwat. Lebih dari itu shiyam adalah ibadah yang pahalanya langsung diberikan oleh Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadist qudsi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (Shahih Al-Bukhari 7054, Shahih Muslim 1511)

Maksud shiyam di sini yang pertama adalah shiyam wajib, yakni melaksanakannya sebaik mungkin dan menjaga dari pembatalnya. Kemudian shiyam sunnah yang banyak pilihannya, seperti shiyam senin-kamis, hari Arafah, Asyura dan lain-lain.

Nilai penting shiyam dalam persiapan jihad adalah sebagai penguat iman dan meningkatkan ketakwaan sehingga seorang hamba terpacu untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

3. Kedermawanan dan mudah berkorban di jalan Allah Ta’ala

Kedua akhlak ini tumbuh dari seseorang yang berani untuk berkorban dan memberikan kebaikan kepada sesama. Sebab ketika seseorang berani mendermakan nyawanya di jalan Allah akan mudah baginya mendermakan hal-hal yang berharga lainnya.

698196201681

Oleh karena itu orang yang bakhil, di saat yang sama biasanya dia seorang pengecut dan penakut. Bakhil dan penakut adalah pasangan, sebagaimana kedermawanan dan sifat berani. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammensejajarkan antara sifat pengecut dan bakhil dalam doanya.

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْن

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sifat kikir, aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut.” (Shahih Al-Bukhari : 6004)

Oleh karena itu, jiwa ini harus dilatih mengorbankan sesuatu yang dia cintai. Ia harus terbiasa memberi, mengutamakan orang lain dan menyukai kebaikan bagi kaum muslimin. Juga, rela mengorbankan kedudukan untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.

Ini adalah perkara yang dibutuhkan seorang mujahid fi sabilillah. Situasi jihad adalah situasi yang menuntut pengorbanan, sehingga mau tidak mau seseorang dituntut untuk mengutamakan orang lain. Saling bahu-membahu dan tolong menolong antar sesama mujahidin. Dalam jihad dan kalangan mujahidin, tidak ada ruang bagi orang-orang yang suka menang sendiri, kikir, egois dan bakhil.

4. Marah karena Allah, berani, maju pantang mundur, mengorbankan nyawa di jalan Allah

 

Seorang mujahid fi sabilillah adalah sosok yang benar-benar mencintai Allah dan siap berkorban apapun demi Sang Pencipta. Maju tanpa ragu menjual nyawa untuk Rabb-Nya serta hanya mengharap ridha dan jannah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍۢ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍۢ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah : 54)

FSA-mujahideen1

 

Kemarahan dan keberanian yang tidak pada tempatnya harus selalu diwaspadai. Sebab hal itu mengakibatkan hilangnya pahala, tertundanya kemenangan, mengundang perpecahan, perselisihan dan merusak citra mujahidin. Di antaranya keberanian yang ceroboh adalah sebagai berikut:

    • Bersikap berani dan marah karena Allah dari luarnya, padahal sebenarnya keberanian itu hanya didorong karena hawa nafsu. Marah karena Allah adalah marah ketika perkara-perkara haram dilanggar, sedangkan marah karena nafsu pribadi adalah marah ketika keinginan dan ambisi pribadi tidak terpenuhi.
    • Berubahnya keberanian menjadi sikap ngawur dan serampangan tanpa mengkaji akibat. Perubahan ini bisa terjadi dipicu oleh rasa jenuh dan kurang sabar menghadapi keadaan. Akibatnya, ia dengan sengaja mendatangi tempat-tempat berbahaya dan mengundang kematian untuk melepaskan diri dari kepenatan.

Keberanian diri terkadang juga berubah menjadi sikap kasar dan kaku kepada teman sendiri, baik teman itu dari kalangan dai maupun sesama mujahidin, tak jarang juga berujung kepada perang saudara padahal sama-sama dalam satu barisan.

5. Menjaga amanah, menepati janji dan berkata jujur

Dalam firman-Nya Allah Ta’ala memuji akhlak ini. Secara tersirat, Dia menyatakan cinta kepada orang yang menyadangnya

بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ وَٱتَّقَىٰ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ

“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”(Ali Imron : 76)

Di kalangan mujahidin, akhlak ini harus mendapat perhatian lebih dan berusaha menghilangkan sifat kebalikannya. Seorang mujahid seringkali menghadapi posisi-posisi yang menuntutnya untuk menjalin perjanjian dan akad dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam jihad.

الجهاد-1

Kadangkala juga diberi amanah berupa informasi-informasi rahasia, mendapat amanah untuk menggali dan menyalurkan dana jihad, serta tugas-tugas serupa lainnya. Oleh karenanya, seorang mujahid dituntut untuk senantiasa ikhlas, bertakwa, jujur dan merasa diawasi Allah Ta’ala.

6. Memaafkan dan mengendalikan amarah

Seorang hamba yang mencintai Allah Ta’ala akan melakukan perbuatan yang dicintai oleh-Nya. Allah berfirman,

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran : 133-134)

Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang termasuk penopang kesabaran. Sebab kemampuan mengendalikan nafsu dan tidak melampiaskan dendam termasuk pertanda sehatnya hati.

Seorang mujahidin sangat membutuhkan akhlak mulia ini, dimana dengannya rasa saling cinta dan persatuan terjalin dan usaha setan untuk memicu perpecahan menjadi pupus.

7. Bersikap santun, hati-hati dan lemah lembut

Di tengan situasi jihad, mujahidin akan terbina dan terbiasa dengan akhlak mulia. Hal ini terjadi karena situasi jihad adalah situasi sabar, menahan diri dan mengekang urat saraf. Hanya dengan sikap bijak, kedewasaan sajalah semua situasi itu dapat teratasi dengan baik.

Jika akhlak ini melemah di tengah mujahidin –apalagi di kalangan para pemimpin, maka kerusakan besar yang menimpa jihad dan mujahidin. Kerusakan itu bisa timbul di kalangan intern mujahidin, maupun hubungan mereka dengan musuh.

8. Menjaga lisan

Musibah lisan sangatlah banyak, tapi di antara yang paling berbahaya adalah berkata dusta, ghibah, namimah, melecehkan orang lain, menghina dan mencaci, banyak bicara serta berkata-kata kotor. Seorang mujahid fi sabilillah sejati harus menjauhi akhlak tercela ini.

Jordanians shout slogans during a protest against Israel's military offensive  in the Gaza Strip and in support of Gaza's people on August 1, 2014 in the Jordanian capital Amman. Thousands of Jordanians marched towards Jordanian Prime Minister's office asking for the Israeli Ambassador to Jordan to be expelled as Israel's offensive in Gaza continues.  AFP PHOTO/ KHALIL MAZRAAWI        (Photo credit should read KHALIL MAZRAAWI/AFP/Getty Images)

Akhlak ini dapat membuat Allah murka dan menunda datangnya kemenangan. Padahal, seorang mujahid keluar ke medan jihad, tak lain untuk menjual nyawanya kepada Allah Ta’ala dan karena cinta kepada Allah.

Menjaga lisan juga membantu menyatukan kalimat, membuat hati kompak dan saling mencintai. Sekaligus menjadi penghalang terjadinya perpecahan, permusuhan dan kebencian yang seringkali terjadi karena tidak menjaga lisan.

9. Menyesuaikan keadaan hati dengan kenyataan, antara yang lahir dengan yang batin.

Islam akan dimenangkan dengan kejujuran. Perbedaan antara lahir dan batin, antara yang dirahasiakan dengan yang dinyatakan merupakan sebuah kemunafikan. Allah berfiman,

يَقُولُونَ بِأَفْوَٰهِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

“Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”(Ali Imron : 167)

Tidak diragukan lagi, mujahid lebih butuh terhadap akhlak ini daripada orang lain. Sebab keselarasan antara lahir dan batin adalah pertanda orang-orang jujur, di mana Allah memerintahkan kita untuk berpihak bersama mereka.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah : 119 )

 

Penulis : Dhani El_Ashim

Disarikan dari kitab Tazkiyatun Nafs Mujahid karya Dr. Muhammad bin Faishal Al-Ahdhal

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s