Rindu Syahid

🏇 Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur.Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

🏇 Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar.Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya.”Wahai Suamiku, aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

🏇 Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu,tapi Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said. ”Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

🏇 Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara.

🏇 Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

🏇 Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan umynya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup. ”Ummi, salam dari Rasulullah.”

🏇 Berkata lagi si penunggang kuda,”Suami ummi, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid….”

🏇 Nasibah tertunduk sebentar, ”Inna liLlahi wainna ilaihi raaji’uun,” gumamnya,”Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

🏇 Setelah pemberi kabar itu meninggalkan rumah tersebut, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,”Amar, kaulihat Ibu menangis..? Ini bukan air mata
sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ummi mu bahagia..?”

🏇 Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

🏇 ”Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

🏇 ‘Mata Amar bersinar-sinar.”Terima kasih, ummi, inilah yang aku tunggu sejak dari tadi, aku was-was seandainya ummi tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

🏇 Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya.

🏇 Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. ”Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

🏇 Rasulullah dengan terharu memeluk anak muda itu. ”Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar..! Allah memberkatimu.”

🏇 Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore.

🏇 Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita.

🏇 ”Ada kabar apakah gerangan kiranya..?” serunya gemetar, ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, ”apakah anakku gugur..?”

🏇 Utusan itu menunduk sedih,”Betul.”

🏇 ”Inna liLlahi wainna ilaihi raaji’uun.” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

🏇 ”Kau berduka, ya Ummu Amar..?” tanya utusan itu.

🏇 Nasibah menggeleng kecil. ”Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan..? Saad masih kanak-kanak.”

🏇 Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping umminya menyela, “Ummi, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

🏇 Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya.”Kau tidak takut, nak..?”

🏇 Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

🏇 Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya.

🏇 Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, ”Allahu akbar..!”

🏇 Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya.

🏇 ”Hai utusan,” ujarnya, ”Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

🏇 Sang utusan mengerutkan keningnya. Tapi engkau perempuan, ya Ummi.”

🏇 Nasibah tersinggung, ”Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad..?”

🏇 Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.

🏇 ”Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

🏇 Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di kepalanya.

🔹Ia menegok, Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir. Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu di lihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu, dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk.

🏇 Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

🏇 Peperangan terus saja berjalan, medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya.

🏇 Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, ”Istri Said-kah engkau..?”

🏇 Nasibah samar-samar memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, ”bagaimana dengan Rasulullah..? Selamatkah beliau..?”

”Beliau tidak kurang suatu apapun.”

🏇 ”Engkau Ibnu Mas’ud, bukan..? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku.”

”Engkau masih luka parah, Nasibah.”

”Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkir-balikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir.

🏇 Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasullullah kemudian berkata kepada para sahabatnya, ”Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan..?

🏇 Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

🏇 Subhanallah. Semoga kita di beri kekuatan oleh allah untuk bisa mencontoh Ummu Nasibah. Aamiin….
[29/12/2015, 17:24] +62 896-5091-9169: Ahok terguncang logika agamanya ,curhat didepan para petingginya bisa jadi dalam suasana natal.
Garis besar dialognya:
…..Saya pasti masuk sorga
Ajaran kristen itu konyol.
Kalau Islam realistis, masuk sorga masih di timbang timbang mana pahala mana dosa, dan tidak berani mengatakan mati bakal masuk sorga.
” Itu konyol nya kristen enggak perlu bayar hutang enggak capek capek puasa mati masuk sorga.”
“Hanya ngandelin Yesus yang mau di salib jadi tuhan dan kalau penganutnya mati di jamin masuk sorga.”
” Siapa yang menciptakan agama kayak begini.”
“Hebatnya gua yang berpendidikan tinggi percaya lagi dengan hal begini..
Karena gua mati di jamin masuk sorga.”
Makanya Mao Zedong menulis agama itu racun …
Bagaimana orang mati nyanyi nyanyi dan mati masuk sorga.”
[29/12/2015, 17:33] Tengku: 😁😁😁


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s