Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)“ [Igaatsatul lahfaan” (1/37)].

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan):

  • Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,
  • kepayahan yang tiada henti, dan
  • penyesalan yang tiada berakhir.

Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“[HSR al-Bukhari (no. 6072) dan Muslim (no. 116)].

[“Igaatsatul lahfaan” (1/37)]

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”[Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah]

Al Hasan mengatakan,“Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Allah adalah anda lebih meyakini apa yang ada ditangan daripada apa yang ada di tangan-Nya”.

Al Fudhai bin ‘Iyadh mengatakan, “Akar zuhud adalah ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla.” [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (960, 3045); Abu ‘Abdirrahman As Sulami dalam Thabaqatush Shufiyah (10)].
Beliau juga mengatakan, “Qana’ah (puas atas apa yang diberikan oleh Allah ta’ala) merupakan sikap zuhud dan itulah kekayaan yang sesungguhnya.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya, maka hendaklah dia lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya.” [Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha’i dalamMusnad Asy Syihab (367 & 368) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas].

‘Ali radhiallahu ‘anhu,“Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya.”

Ibnu Mas’ud, “Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 644-646.]

Ada seorang tabi’in mulia, bernama ‘Aun bin ‘Abdullah ia berkata:

“Dulu, orang-orang baik satu sama lain menuliskan dan menasehatkan tiga kalimat berikut:

  1. Siapa yang beramal untuk akheratnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan mencukupi dunianya.
  2. Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah Ta’ala, Allah akan memperbaiki hubungan dirinya dengan manusia yang lain.
  3. Dan siapa yang memperbaiki keadaan batinnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memperbaiki keadaan lahirnya.

Barang siapa akherat menjadi aktivitas yang menyibukkannya dan selalu menjadi harapannya, maka tak akan pernah terlewatkan satu haripun melainkan ia mengingat kemana ia akan kembali. Ia tidak akan melihat urusan dunia kecuali pasti mengaitkannya dengan akherat. Ia tidak berkumpul dengan keluarganya kecuali mengingatkannya akan berkumpulnya penduduk surga. Ia tidak mengenakan pakaian kecuali teringat akan pakaian sutra milik penghuni surga. Ia tidak menyeberangi sebuah jembatan kecuali teringatkan akan titian shiroth di atas neraka jahanam. Ia tidak mendengar suara yang keras melainkan mengingatkannya akan tiupan sangkakala. Ia tidak pernah berbicara tentang suatu pembicaraan, melainkan ada bagian yang terkaitkan dangan akherat.”

Ibnu Jauzi rahimahullah ketika beliau mengatakan, “Dunia itu ibarat bayangan, jika anda berpaling dari bayangan, ia justru menguntit anda, tetapi jika anda mencari-carinya, ia justru malas mendatangi anda.”

Sahabat Usman bin Affan radhiyallahu’anhu berkata: “Harapan terhadap dunia adalah kegelapan dalam hati, sedang harapan kepada akherat adalah cahaya dalam hati.”

Hatin Al-Asham mengatakan:
=======================

“Barang siapa yang hatinya kosong dari mengingat empat masa yang mendebarkan, maka ia termasuk orang yang tertipu dan tidak akan selamat dari kebinasaan:

Pertama: Saat mendebarkan ketika hari mitsaq (diambil perjanjian) tatkala dikatakan, ‘Golongan ini berada di surga dan aku tidak perduli, dan golongan yang ini berada di neraka dan aku tidak perduli, sementara ia tidak mengetahui masuk golongan manakah dirinya?’

Kedua: saat mendebarkan tatkala ia diciptakan dalam tiga kegelapan; lalu malaikat menyerukan akan kesengsaraan atau kebahagiaan, sementara ia tidak mengerti apakah ia termasuk orang yang sengsara atau orang yang berbahagia?

Ketiga: Ketika ia di perlihatkan kepada amalanya, sementara ia tidak tau apakah ia akan mendapat kabar gembira memperoleh ridho Allah atau kemurkaan-Nya?

Keempat: Dari ketika manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, sementara ia tidak tau jalan mana yang hendak ia tempuh?”

Hasan Al-Bashri, “Tidaklah seseorang itu memperbanyak mengingat kematian malainkan akan terlihat dalam amalannya, dan panjangnya angan seorang hamba itu pasti terlihat dari buruknya amalan dia.”

Hasan Al-Bashri, dalam sebuah kisahnya disebutkan bahwa bia pernah melewati seseorang yang tertawa, maka ia berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku, apakah anda pernah melewati Shiroth?” tentu saja ia menjawab, “Belum ” Hasan  Bashri pun berujar, ” lantas tahukah anda, kesurga ataukah keneraka anda akan pergi?” lelaki itu menjawab lagi, “Tentu saja tidak” Beliau berkata, “semoga Allah melimpahkan kesejehteraan pada anda, lalu mengapa anda sempat-sempatnya tertawa padahal urusan begitu mengerikan.”

“Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain.” (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)
“Al Qodhi mengatakan: Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/376)

“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya” (Muqaddimah Shahih Muslim, 12/1)

“Cukuplah kematian sebagai peringatan (berharga).” (Al Fudahil bin Iyadh dalam Az Zuhd-Al Baihaqi)

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Imam Abu Hanifah)

“Akhir perkataan Ibrahim ketika dilemparkan dalam kobaran api adalah “hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai penolong dan sebaik-baik tempat bersandar)” (HR. Bukhari)

“Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri” (Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, 1/147)

“Umar bin Abdil Aziz mengatakan: Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.” (Al Amru bil Maruf, Ibnu Taimiyah, 15)

“Ibnu Mas-ud berkata: Rasa takut kepada Allah Ta-ala, sudah cukup dikatakan sebagai ilmu. Anggapan bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan seseorang, sudah cukup dikatakan sebagai kebodohan” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, no. 34532)

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri,

“Sesungguhnya engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, namun engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah)

al Hasan al Bashri pernah berkata, “wahai anak adam sesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari-hari, maka jika telah berlalu hari, maka seakan-akan sebagian dari dirimu telah pergi”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata:

“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad)

al Hasan al Bashri pernah berkata, “wahai anak adam sesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari-hari, maka jika telah berlalu hari, maka seakan-akan sebagian dari dirimu telah pergi”

Berhati-Hatilah dalam Pergaulan

Ibnu al-Jauzy berkata: Salah satu kesalahan fatal adalah terlalu percaya kepada manusia dan membukakan seluruh rahasia kepada teman-teman dekat. Ketahuilah, musuh yang paling berbahaya adalah kawan yang berbalik menjadi musuh, karena ia telah tahu seluk-beluk temannya temannya tersebut.

Seorang penyair berkata:

Berhati-hatilah terhadap musuhmu sekali
Namun berhati-hatilah terhadap kawanmu seribu kali
Karena mungkin temanmu berbalik
Maka ia tahu dari mana harus menukik

[Sumber: Shaidul Khatir (edisi Indonesia) oleh Ibnu al-Jauzy]

Perang Badar
============

Pada waktu perang Badar, Rasulullah shallallahu’aaihi wa sallam memberikan spirit kepada pasukan Muslimin untuk berperang, seraya berkata, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun yang ikut memerangi mereka hari ini, lalu dia terbunuh dalam keadaan bersabar dan mengharap pahala dari Allah, menyongsong (musuh) dan tidak mundur, melainkan Allah memasukkannya ke dalam surga.”

Beliau berkata lagi: “Berangkatlah menuju surga yang luasnya seisi langit dan bumi.”

Ketika itu berkatalah al-Humaim bin al-Hamam, “Wah, Wah!”

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan wah, wah?”

Dia menjawab, “Demi Allah, tidak apa-apa wahai Rasulullah, selain aku berharap menjadi salah seorang penghuni surga tersebut.”

Beliau berkata, “Benar, sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.”

Seketika dia langsung mengeluarkan kurma dari sisinya, lalu memakan sebagiannya kemudian berkata,“Jika aku hidup hingga memakan kurma-kurma ini sampai habis, sungguh merupakan hidup yang panjang.” Lantas dia membuang semua kurma-kurma tersebut, kemudian berperang hingga akhirnya gugur sebagai syahid. (HR Muslim)

[Sumber; Ar-Rahiq al-Makhtum (id) oleh Syaikh Mubarakfuri, hal. 316-317.]

Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa yang mencintai seseorang tapi bukan karena Allah, maka bahaya teman-temannya lebih besar daripada bahaya musuh-musuhnya.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 575).

Abu Ishaq al-Fazari berkata, “Sesungguhnya ada di antara manusia orang yang menyukai pujian kepada dirinya padahal dirinya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk.” (Ta’thir al-Anfas, hal. 573).
Baiknya Memberi Ilmu Dari Kecil
============================

Ma’mar berkata: “Aku mendengar dari Qotadah, ketika itu usiaku 14 tahun: “Tidak ada sesuatu yang aku dengar pada seusia ini melainkan seperti terpatri dalam dadaku.” [Siar a’lam an-Nubala V/7-18.]

Ummu Darda berkata: “Pelajarilah ilmu dari kecil, ketika besar engkau akan mengamalkannya. Sesungguhnya apa yang dipetik adalah apa yang dulu ditanam.” [Siar a’lam an-Nubala XII/615.]

Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata: “Tersesatnya orang berilmu dikarenakan tidak memiliki teman, tersesatnya orang bodoh karena kepicikan akalnya, dan yang paling sesat adalah mereka yang berteman dengan orang yang tidak ada akalnya. [Siar a’lam an-Nubala XVII/278.]

As-Sho’luki berkata: “Jika ridha makhluk keterbatasannya tidak dapat diketahui, maka ridha Allah keluasannya tidak ada batasnya. Kita membutuhkan 10 teman untuk 10 waktu.”[ Siar a’lam an-Nubala XVII/208.] 

Lapar dan Dahaga Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu
========================================

Nadhr bin Syumail -rahimahullah-  berkata, ”Seseorang tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu, hingga ia merasakan lapar (ketika menuntut ilmu), namun melupakan laparnya.” [At Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz DZahabi -rahimahullah- ,1/314].

Baqi bin Mikhlad Al Andalusy -rahimahullah- yang pernah berkeliling ke berbagai negara di dunia dengan hanya berjalan kaki !!!, Beliau berkata,”Sungguh , saya mengetahui seseorang yang ketika menuntut ilmu lewat berhari-hari tidak memiliki makanan, kecuali daun kubis yang sudah terbuang.” [Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 2/630]

Ibnu Kharras -rahimahullah- berkata,” Saya minum kencing saya sendiri ketika saya dalam perjalanan menuntut ilmu, hal ini terjadi lima kali !! (seseorang tidak akan meminum kencingnya sendiri kecuali dalam keadaan sangat haus yang haus ini dapat mengakibatkan kematian)”. [Al Ibar Khoiri Man Ghabar, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 2/70].

Abu Ali Al Hasan bin Ali Al Balkhi -rahimahullah- berkata,” Aku pernah tinggal di Asqolan untuk belajar dari Ibnu Mushahhih -rahimahullah- dan lainnya. Bekal nafkah saya semakin menipis hingga beberapa hari saya tidak bisa makan. Saya ingin menulis pelajaran, namun tidak bisa (karena perut sangat lapar). Saya kemudian pergi ke toko roti dan duduk di dekat roti tersebut hingga mencium aromanya agar saya punya tenaga. Kemudian Alloh Azza wa Jalla membantu saya.” [Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 4/1173]

Imam Abu Hatim Ar Razi -rahimahullah- (Imam dan ulama besar dalam bidang Jarh Wa Ta’dil) pernah bercerita,”Saya tinggal di bashrah delapan bulan dan kehabisan bekal nafkah. Saya menjual baju saya satu demi satu, hingga tidak punya apa-apa. Saya bersama teman pergi ke rumah Masyayikh (guru) untuk belajar hingga sore hari, kemudian saya pulang kerumah yang sepi untuk minum air karena lapar tidak punya makanan. Saya lakukan hal ini selama dua hari, Pada hari ketiga seorang teman berkata, ” Mari kita pergi ke rumah guru!”, Saya menjawab” Saya lemah dan tidak bisa (berdiri)”, Dia berkata lagi” Kenapa kamu lemah?”, Saya katakan kepadanya” Saya tidak akan merahasiakannya, sudah dua hari saya tidak makan.” Dia berkata,” Saya masih memiliki satu Dinar dan saya berikan kepadamu setengahnya.” [Al Jarh Wat Ta’dil, Imam Abu Hatim Ar Razi -rahimahullah-]

Imam Muhammad bin Thahir Al Maqdisi -rahimahullah- , yang menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu dan kesulitan yang beliau alami, beliau berkata,” Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al Haddad -rahimahullah- , bekal saya semakin menipis hingga tersisa hanya satu dirham. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis pelajaran. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut hingga tiga hari (beli roti atau beli kertas –red), selama itu pula Saya tidak merasakan makanan sama sekali. Pada hari keempat, dalam hati saya berkata, ”Kalau saya punya kertas, maka saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar. Saya taruh uang satu dirham tersebut di mulut dan saya putuskan untuk keluar dan membeli roti. Tiba-tiba tanpa terasa uang satu dirham tersebut tertelan oleh mulut ke dalam perut, kemudian saya tertawa. Abu Thahir -rahimahullah- mendatangi saya dan bertanya,”Apa yang membuatmu tertawa? Saya menjawab, ”Khoir (sesuatu yang baik).” Beliau meminta saya untuk menceritakannya , namun saya tolak. Ia terus memaksa sehingga saya ceritakan kejadiannya, lalu Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.” [Tadzkiratul Huffadh, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 4/1246]

Imam Al Bukhori -rahimahullah- berkata,”Saya menemui Adam bin Abi Iyyas di Asqolan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan.” 

Produktifitas Ulama Salaf dalam Ilmu

Al Khatib Al Baghdadi -rahimahullah- berkata,” Saya mendengar As Samsami menceritakan bahwa Imam Ibnu Jarir At Thabari -rahimahullah- tinggal selama 40 tahun dan setiap harinya menulis 40 lembar. Muridnya, Abu Muhammad Al Farghani -rahimahullah- bercerita bahwa beberapa murid Ibnu Jarir menghitung hari-hari dari hidup beliau semenjak baligh hingga wafat dalam usia 86 tahun. Kemudian mereka membagi karyanya dengan usianya, hingga berjumlah 14 lembar setiap hari. Ini sesuatu yang tidak akan mungkin dilakukan oleh seseorang makhluk tanpa bimbingan yang baik dari Alloh Azza wa Jalla .” [Tarikh Baghdad, Al Baghdadi 2/162]

Imam Muhammad bin Thahir Al Maqdisi berkata,” Saya menulis Shahih Al Bukhori, Shahih Muslim dan Abu Daud tujuh kali. dan saya menulis Sunan Ibnu Majah sepuluh kali .”[Tarikh Baghdad, Al Baghdadi 6/31]

Imam Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata,” Saya telah menulis dengan tangan saya ini 2000 jilid kitab. Dan orang-orang yang bertaubat melalui tangan saya ini mencapai 100.000 orang [Tadzkiratul Huffadh, Adz Dzahabi -rahimahullah- 4/1242]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata,” Syaikh Abul Faraj (yakni Imam Ibnul Jauzi ) seorang mufti yang banyak menulis. Beliau memiliki karya tulis dalam tema-tema beragam. Saya mencoba menghitungnya dan saya melihatnya lebih dari 1.000 karya tulis.” [Tadzkiratul Huffadzh, Adz Dzahabi -rahimahullah- 1/415]

Imam Ibnu Rajab Al Hambali ketika menulis biografi Imam Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata,” Tidak ada disiplin ilmu yang ada kecuali beliau memiliki karangan seputarnya. beliau (Ibnul Jauzi) ditanya tentang jumlah karangannya, beliau menjawabnya lebih dari 340 Kitab .”

Al Muwaffaq Abdul latif -rahimahullah- berkata “ Ibnul Jauzi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya sedikitpun, Beliau menulis dalam sehari empat buah buku tulis, dan setiap tahunnya karya tulis beliau dicetak 50-60 Jilid.”

Syaikh Al Qummi -rahimahullah- menyebutkan bahwa serbuk pena ‘ Imam Ibnul jauzi” (yakni apa yang jatuh dari pensil ketika di raut digunakan untuk menulis hadits, dikumpulkan hingga banyak sekali. Ibnu jauzi mewasiatkan agar digunakan untuk memanasi air yang akan dipakai kelak untuk memandikan mayatnya. Kemudian wasiat itu ditunaikan dan cukup (untuk memanaskan air) dan masih ada yang tersisa darinya.” [Dzail Thabaqotil Hanabilah , Imam Ibnu rajab -rahimahullah- 1/412]

Imam Yahya bin Ma’in -rahimahullah- berkata,” Saya telah menulis dengan tangan saya ini satu juta hadits,” kemudian Adz Dzahabi mengomentari dan berkata,” yaitu jumlah ini untuk satu hadits.” [Al Kuna Wal Qaab, Al Qummy 1/242]

Al Kautsari berkata,” Tafsir Abu Yusuf Al Qozwaini yang berjudul “ Hadaaiq Dzaata bahjah” dikatakan paling kurang ada 300 jilid. Al hafidz Ibnu Syahin juga memilki tafsir sebanyak 1.000 Jilid. Al Qadli Abu Bakar Ibnul Arabi -rahimahullah-  (catatan: Beliau bukanlah Ibnu Arabi –sufi sesat- red ) memiliki kitab Anwaarul Fajr dalam bidang tafsir sebanyak 80.000 lembar, dan Ibnu An Nuqaib Al Maqdisi memiliki tafsir sekitar 100 Jilid.” [lihat : Maqalatul Kautsari]

Profesor Muhammad Al hajawi berkata,” Imam Abid Dunya -rahimahullah-  meninggalkan 1.000 Kitab, Imam Ibnu Asakir -rahimahullah-  menuliskan kitabnya’ Tarikh Al Dimasqi” dalam 80 Jilid. Imam Abu Abdillah Al Hakam Al Naisaburi -rahimahullah- menulis 1.500 juz. Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menulis 300 Kitab dalam berbagai disiplin ilmu yang dimuat dalam 500 Jilid. Muridnya yaitu Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah -rahimahullah- menulis 500 Kitab, Imam Al Baihaqi -rahimahullah- menulis 1.000 Jilid hadits , Imam Abu bakar Ibnul Arabi Al maliki -rahimahullah-  menulis tafsirnya yang besar dalam 80 Juz. Imam Abu Ja’far Ath Thahawi -rahimahullah- menulis 1.000 lembar hanya membahas satu masalah yaitu apakah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam melaksanakan haji Qiran, Tamattu atau Ifrad ?, kemudian Imam Abdul malik bin Habib -rahimahullah- seorang ulama Andalusia memiliki karangan 1.000 Kitab .” [Al Fikrus Sami’ fi Tarikhil Fiqhil Islamy oleh Muhammad Al Hajwi].

Bagaimana dengan antum ya akhi ??? sudah berapa banyak kitab yang engkau tulis, kalaupun engkau belum sanggup menulis atau setidaknya sudah berapa banyak yang sudah engkau baca


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s