Titik-titik lemah manusia

Pemateri: Ust. Farid Ahmad Oqbah, MA

Manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala tentu mempunyai tujuan. Apa yang dilakukan manusia semuanya diarahkan oleh Allah. Tapi banyak manusia hidup tanpa arah dan tujuan. Akhirnya, pada saat hadir di dunia, tidak membawa apa-apa. Dan ketika pulang ke negeri akhirat pun idak membawa apa-apa. Persis seperti gendang, kedua sisinya tertutup tapi tengahnya kosong. Rugi banget orang seperti ini.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (المؤمنون: 115)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al Mu’minun: 115)

Peringatan-peringatan yang ada dalam alquran dimaksudkan agar manusia mengenali dan mengendalikan dirinya. Untuk tujuan mulia sebagai hamba Allah Ta’ala sebagaimana yang senantiasa kita ucapkan dalam shalat-shalat kita “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.

Jangan pernah terputus dengan Allah, jangan sampai hidup ini tidak terkait dengan Allah! Semua amalan, perhatian, konsentrasi yang tidak tertuju kepada Allah, sia-sia. Oleh karenanya, kita harus tershibghah dengan islam. Sehingga keyakinan, cara berpikir, tindakan dan pembicaraan, semuanya terkait dengan Allah Ta’ala. Kalaupun itu urusan dunia atau perempuan, harus terkait dengan Allah. Berurusan dengan apa saja, jangan sampai tidak terkait dengan Allah.

Ada tiga cara untuk mengungkap manusia. Pertama, melalui sang Pencipta yaitu Allah yang Maha Kuasa. Kedua, melalui ilmu pengetahuan. Baik diungkap dengan ilmu kesehatan maupun psikologi.

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ )الذاريات: 21(

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Adz Dzariyat: 21)

Dalam diri manusia masih banyak sisi yang belum bisa diungkap oleh ilmu pengetahuan. Yang tidak mungkin mampu diungkap adalah tentang ruh (nyawa). Karena mengenal ruh saja tidak mampu, apalagi menganalisanya. Mengungkap manusia melalui ilmu pengetahuan ada batasnya dan belum tentu akurat.

Ketiga, dengan uji coba (Trial anda Error). Sebagaimana banyak dilakukan oleh kalangan Tasawuf bahkan orang non muslim.

Apa yang menjadi titik lemah manusia dipengaruhi oleh faktor kelemahan manusia itu sendiri. Sebab itu, kita diberikan kekuatan oleh Allah melalui tiga tahapan.

Pertama, alam ruh.

Ketika Allah menyebutkan tentang fisik manusia, ia dikaitkan dengan tanah. Namun ketika menyebutkan tentang ruh, ia dikaitkan dengan Allah.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِن طِينٍ{71} فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ{72}

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”.  (Shad: 71-72)

Maka dari itu, ruh tidak akan sehat kecuali terhubung dengan Allah. Atas dasar itulah, para Malaikat diperintahkan sujud kepada Nabi Adam Alaihissalam. Sehingga, jangan sampai kita melupakan perjanjian ruh kita dengan Allah Ta’ala.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (الأعراف: 172)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”. (Al A’raf: 172)

Kedua, ketika diciptakan di dunia

Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam), mempunyai naluri dan insting sempurna. Maksudnya, dilahirkan dalam kondisi siap, apabila pikirannya terbuka dan diperkenalkan Islam dan ajaran kepadanya, maka ia lebih mendahulukan Islam, memilih Islam untuk menjadi agamanya. Sehingga orang yang menyimpang dari fitrahnya, berarti ia telah tergoda oleh syetan, baik dari kalangan jin maupun manusia.

Oleh karenanya, tutup semua pintu syetan jin dalam diri kita. Namun, setiap orang mempunyai satu qarin (syetan yang membisikkan untuk berbuat maksiat). Setiap kemaksiatan dilakukan, maka jin dalam dirinya menjadi syetan. Jika seseorang makan dengan tangan kiri, maka sebenarnya itu adalah dorongan jin dalam dirinya yang menjadi syetan untuk mempengaruhinya.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (الزخرف: 36)

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az Zukhruf: 36)

Kita harus senantiasa waspada dari syetan jin dan manusia. Karena mereka tidak pernah lengah menggoda dan merayu bahkan ketika manusia tidur.

Titik-Titik Lemah Manusia

  • Manusia Bersifat Zhalim Dan Bodoh

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh”. (Al Ahzab: 72)

  • Manusia Bersifat Lemah

يُرِيدُ اللّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An Nisa’: 28)

  • Manusia Selalu Tergesa-Gesa

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (Al Anbiya’: 37)

  • Manusia Mudah Putus Asa

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (Al-Israa’: 83)

Allah juga berfirman:

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (Ar-Ruum: 36)

  • Manusia Mudah Sombong

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاء بَعْدَ ضَرَّاء مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

“Dan jika kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.” (Hud: 10)

Kapan biasanya manusia sombong?? Ketika ia lepas dari kesulitan dan mendapatkan kenikmatan. Dan indikasi sombong ada dua yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

  • Manusia Bersifat Ingkar

 

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-‘Adiyat: 6)

Keingkaran ini terkait dengan ketidak pandaian manusia dalam bersyukur atas seluruh nikmat yang diperoleh. Pertanyaan yang patut kita kemukakan adalah, mengapa manusia bisa ingkar atau tidak mensyukuri apa yang dianugerahi Allah? Jawaban yang bisa kita kemukakan adalah bisa jadi karena orang itu menganggap bahwa apa yang bisa diraihnya itu adalah semata karena usaha dan upayanya. Semua kesuksesan dan keberhasilannya tidak dilandasi dan tidak dikaitkan dengan kemudahan dari Allah Ta’ala sebagai Yang Maha Pemberi.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (النحل: 53)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An Nahl: 53)

Tidak ada satupun nikmat yang kita peroleh melainkan datang dari Allah. Terutama menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya. Jangan gunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيباً إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَاداً لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلاً إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ (الزمر: 8)

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”. (Az Zumar: 8)

  • Manusia Suka Berdebat Dan Berbantah-Bantahan

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

“Manusia diciptakan dari air mani, kemudian tiba-tiba ia jadi pembangkang (pembantah) yang nyata”. (An Nahl: 4)

Ayat ini memang menjelaskan tentang bangkangan atau bantahan sebagian manusia tentang hakikat dirinya yang keras kepala dalam menghadapi siapapun. Mereka membantah tentang keesaan Allah. Mereka membantah adanya hari kebangkitan. Mereka mempertanyakan siapa yang menghidupkan tulang-belulang yang sudah berserakan ini?. Dia tidak menyadari bahwa dirinya juga berasal dari setetes mani yang sangat remeh dan menjijikkan jika dilihat dari keadaan zhahirnya.

Sifat membangkang, menentang atau membantah ini juga sebetulnya tidak tertuju kepada Tuhannya saja, namun juga berlaku umum yang bisa disaksikan dalam kehidupan masyarakat. Banyak pihak, baik secara sadar maupun tidak, baik secara terlihat maupun tersembunyi, yang enggan menerima kebenaran. Dia asyik dengan idealismenya yang egois dan hampa itu. Memang sifat membangkang itu merupakan ciri orang yang tidak tahu diri. Dan parahnya lagi bahwa pembangkangan itu sudah menjadi nyata, artinya bahwa prilakunya itu dilakukan tanpa merasa khawatir atau takut dinilai negatif oleh orang lain. Maka untuk mengekang prilaku negatif ini, seseorang harus tahu dari apa dia berasal, untuk apa ia dicipta dan akan kemana ia setelah tiada. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dikaji oleh siapapun agar memahami makna hidup lebih dalam.

  • Manusia Suka Berkeluh Kesah

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً{19} إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً{20} وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً {21}

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (Al Ma’arij: 19-21)

Manusia diciptakan oleh Allah dengan sifat keluh kesah dan kikir ketika mereka sedang ditimpa musibah dan cobaan. Tetapi jika mereka mendapatkan nikmat, maka kebanyakan dari mereka lupa akan siapa yang telah memberikan segala nikmat tersebut. Oleh karena itu, hendaknya kita melakukan introspeksi terhadap diri kita masing-masing.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan solusi agar terbebas dari belenggu keluh kesah ini yaitu dengan bersabar dan bersyukur.

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu).

– See more at: http://darussalam-online.com/10400-2/#sthash.IWSnQxeQ.W4R1EPFz.dpuf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s