18 Wasiat Untuk Para Penghafal Al-Quran 

Segala puji bagi Allah yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan sempurna. atas segala karunia dan kemuliaan-Nya lah sebagian besar saudari-saudariku yang baik dapat menghafal kitab-Nya, kami telah melihat pada diri mereka realisasi janji Allah berupa kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an dan mengambil pelajaran, sebagaimana firman Allah ta’aala:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Qamar: 17)

  1. Maka aku ucapkan selamat kepadamu wahai penghafal Al-Qur’an, karena Allah telah mempergunakanmu untuk menghafal kitab-Nya di muka bumi ini. engkau adalah salah seorang yang Allah telah merealisasikan janji-Nya dengan mereka. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya;

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al hijr: 9) 2. Wahai penghafal Al-Qur’an. . . janganlah engkau merasa remeh terhadap apa yang telah engkau perbuat, karena sesungguhnya diantara dua sayapmu adalah ilmu. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

”Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu”(QS. Al-Ankabut: 49).

Di dalam dadamu ada kitab yang tidak bisa dicuci oleh air. sifat umat seperti ini telah disebutkan di dalam kitab-kitab suci yaitu “generasi mereka ada di dalam dada mereka”.

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an. . . engkau adalah orang layak mendapat iri secara benar, semua makhluk diperbolehkan iri kepadamu. Sifat iri yang datang kepadamu adalah diperbolehkan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“tidak ada rasa iri kecuali terhadap dua orang yaitu: (1) seseorang yang Allah karuniai Al-Qur’an kemudian ia membacanya di penghujung malam dan siang, sehingga tetangganya mendengarkannya. Lalu tetangga tersebut berkata, “kalaulah aku diberikan karunia seperti si fulan, niscaya aku akan beramal seperti yang ia amalkan” dan (2) seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, ia menghabiskan hartanya dalam kebenaran, lalu seseorang berkata, “kalaulah aku dikaruniai seperti yang dikaruniakan kepada si fulan, maka aku akan beramal seperti yang ia amalkan”. (HR. Bukhari)

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an. . . wahai buah limaunya dunia. . . Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah limau, baunya harum dan rasanya enak”. (HR. Bukhari no 5007 dan Muslim no 1328) bisa dilihat di dalam shahih muslim yang berjudul: BAB KEUTAMAAN PENGHAFAL AL-QUR’AN

Perkataan “(rasanya enak dan baunya harum)”, dikhususkan dengan sifat IMAN (sebagai rasa) dan sifat bacaan (sebagai bau), karena rasa itu akan tetap ada dan lebih tahan dibandingkan dengan bau/aroma.

Hikmah pengkhususan buah limau sebagai perumpamaan dibandingkan dengan buah-buah yang lainnya yang sama-sama memiliki rasa yang enak dan bau yang harum adalah dikarenakan kulitnya bisa dipergunakan untuk berobat dan bijinya bisa mengeluarkan minyak dan berbagai macam manfa’at. dikatakan juga: bahwa jin tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat buah limau, maka cocok sekali bila Al-Qur’an diperumpamakan dengannya, yang mana syetan tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada bacaan Al-Qur’an. Kulit luarnya berwarna putih disesuaikan dengan hati seorang mukmin dan di dalamnya juga terdapat keistimewaan yang banyak, diantaranya bentuknya besar, terlihat bagus, warnanya membuat orang senang, sentuhannya halus, dan jika dimakan rasanya enak, dan membaguskan pencernaan otak dan lambung.

  1. Wahai penghafal alqur’an. . . apakah engkau tahu seberapa tinggi kedudukanmu? telah diriwayatkan oleh ibunda ‘Aisyah -semoga allah meridhainya- dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(( مثل الذي يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة )) رواه البخاري 4556

“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia menghafalnya akan dibersamakan dengan para malaikat yang mulia dan berbakti/ta’at”. (HR. Bukhari no 4556)

Kata “as safarah” memiliki beberapa arti, diantaranya adalah: – Para utusan, karena mereka diutus kepada manusia dengan membawa risalah Allah – Para penulis.

Adapun kata “al bararah” artinya adalah orang-orang yang ta’at, yaitu berasal dari kata “al birru” yang artinya ta’at.

Dan kata “al maahiru” artinya adalah orang yang sangat pandai dan mempunyai hafalan secara sempurna dan tidak berhenti serta kekuatan bacaan dan hafalannya sangat kuat.

Al Qadhi berkata: kemungkinan diartikan dengan “para malaikat” dikarenakan seorang penghafal Al-Qur’an di akhirat nanti memiliki kedudukan yang di situ mereka ditemani para malaikat, disebut para utusan karena sifat mereka yang membawa kitab Allah.

Dan orang yang mahir tentu lebih utama dan lebih banyak mendapatkan pahala, karena ia bersama para malaikat dan mempunyai pahala yang sangat banyak, kedudukan ini tidak diperuntukkan untuk selainnya. Maka, Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah memperhatikan Al-Qur’an, tidak menghafalnya dan tidak banyak membacanya seperti orang yang mahir bisa dimasukkan ke dalam golongan yang bersama para malaikat???!!

Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: bacalah, naiklah ke tempat yang tinggi dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau telah membacanya dengan tartil di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca”. (Hadits Hasan Shahih)

Berikut beberapa tafsir dari hadits di atas:

“akan dikatakan” yaitu ketika mau masuk surga.

“kepada ahli Al-Qur’an” yaitu orang yang senantiasa membaca dan mengamalkannya.

“naiklah ke tempat yang tinggi” yaitu naiklah ke tingkatan-tingkatan atau tangga-tangga yang ada di surga.

“bacalah” artinya bacalah dengan tartil dan jangan tergesa-gesa dalam membacanya.

“sebagaimana engkau telah membacanya dengan tartil di dunia” artinya membaca dengan bertajwid dan mengetahui tanda-tanda waqaf (tanda berhenti).

“karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca” Al Khaththabi berkata: dalam sebuah atsar disebutkan bahwa jumlah ayat Al-Qur’an itu sesuai dengan jumlah tangga atau tingkatan yang ada di surga di akhirat kelak. Maka dikatakanlah bagi penghafal Al-Qur’an, naiklah ke tangga sesuai dengan ayat yang telah engkau baca dari ayat Al-Qur’an. Barang siapa yang mempunyai bacaan atau hafalan semua ayat Al-Qur’an, maka ia akan menduduki tangga yang tertinggi dari surga di akhirat kelak. Dan barang siapa yang membaca satu juz dari Al-Qur’an, maka ia akan menduduki tangga sesuai dengan bacaannya tersebut. Oleh karena itulah, akhir pahala yang didapatkan ada pada akhir bacaan yang ia baca.

 

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an…berbahagialah karena engkau telah memakmurkan hatimu dengan perkataan Allah dan telah menyambut hidangan-Nya.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن هذا القرآن مأدبة الله فخذوا منه ما استطعتم فإني لا أعلم شيئا أصغر من خير من بيت ليس فيه من كتاب الله شيء و إن القلب الذي ليس فيه من كتاب الله شيء خرب كخراب البيت الذي لا ساكن له”. رواه الدارمي: 3173

Dari Abdullah bin mas’ud –semoga Allah meridhainya- berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka ambillah darinya semampu kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih kecil dari kebaikan dari pada sebuah rumah yang di dalamnya tidak terdapat sesuatu pun dari bacaan kitaabullah. Dan sesungguhnya hati yang di dalamnya tidak terdapat sesuatu pun dari kitaabullah, maka ia bagaikan rumah yang roboh, seperti rumah yang tidak ada penghuninya”. (HR. Ad Daarimi: 3173)

 

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an. . semoga Allah memberkahimu, jika sekarang engkau telah selesai menghafalkan berarti anda selamat dari api neraka.

عن أبي أمامة أنه كان يقول: ” اقرؤا القرآن ولا يغرنكم هذه المصاحف المعلقة فإن الله لن يعذب قلبا وعى القرآن “. (رواه الدارمي: 3185)

Dari Abu umamah, sungguh ia pernah berkata: “bacalah Al-Qur’an dan janganlah kalian tertipu oleh lembaran-lembaran yang tergantung ini, karena sesunguhnya Allah tidak akan menyiksa hati yang selalu memperhatikan Al-Qur’an”. (HR. Ad Daarimi: 3185)

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an. . berbahagialah dengan syafa’at yang engkau dapatkan dari kitaabullah yang ada pada dirimu dan pada hari kiamat engkau akan dipakaikan sesuatu yang lebih agung dari apa yang engkau pakai sekarang.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” يجيء القرآن يوم القيامة فيقول يا رب حله فيلبس تاج الكرامة ثم يقول يا رب زده فيلبس حلة الكرامة ثم يقول يارب ارض عنه فيرضى عنه فيقال له اقرأ وارق و تزاد بكل أية حسنة “. رواه التؤمذي: 2839 و قال هذا حديث حسن

Dari Abu hurairah, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “pada hari kiamat Al-Qur’an akan datang kemudian berkata: wahai tuhanku pakaikanlah ia!, maka dipakaikanlah mahkota kemuliaan. Kemudian berkata lagi: wahai tuhanku tambahkanlah!, maka dipakaikanlah pakaian kemuliaan. Kemudian berkata lagi: wahai tuhanku ridhailah ia!, maka Allah pun meridhainya. Maka dikatakan kepadanya: bacalah. . dan naiklah ke tempat yang tinggi. Dan ditambahkanlah setiap satu ayat satu kebaikan”. (HR. Tirmidzi: 2839. Ia mengatakan ini adalah hadits hasan)

 

  1. Wahai ibu penghafal Al-Qur’an. . selamat untukmu dikarenakan anakmu. dalam hadits panjang disebutkan dari Buraidah ia berkata: dahulu aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian aku mendengar beliau bersabda: Pelajarilah surat Al Baqarah sebab mempelajarinya adalah keberkahan & meninggalkannya adalah kerugian. Para penyihir tak mampu mengalahkannya. Kemudian beliau diam sesaat, lalu bersabda:

“Pelajarilah surah Al Baqarah dan surah Ali Imran, sesungguhnya kedua surat itu dinamakan ‘az zahrawan’ dan kedua surat itu juga akan menaungi pembacanya pada hari kiamat. Seakan-akan kedua surat itu seperti dua buah awan atau dua benda yg biasa menaungi manusia atau dua kelompok burung yg membentangkan sayapnya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menemui pembacanya pada hari kiamat ketika kubur terbelah seperti seorang laki-laki pucat karena takut. Ia berkata kepada pembacanya; Apakah engkau mengenalku? Ia menjawab; Aku tak mengenalmu. Ia berkata; Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yg menghilangkan haus pada siang hari yang panas dan membuatmu begadang di malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapatkan laba dari perdagangannya. Sesungguhnya hari ini engkau mendapatkan pahala dari setiap perdagangan (yang telah engkau lakukan). Lalu kerajaan diberikan di tangan kanan pembaca Al-Qur’an itu dan keabadian di tangan kirinya, serta diletakkan mahkota ketenangan di kepalanya. Sementara kedua orang tuanya diberi dua perhiasan yg tak ternilai harganya di dunia. Kedua orang tuanya berkata; Karena apa kami diberi perhiasan ini? Dikatakan kepada keduanya; Karena anak kalian mempelajari Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepadanya; Bacalah & naiklah ke tangga-tangga surga & kamar-kamarnya. Maka ia pun terus naik selama ia membaca, baik secara cepat maupun secara lambat”. (HR. Ahmad: 21892 dishahihkan oleh Ibnu Katsir di dalam Silsilah Shahihah Syaikh Albani: 2829)

  1. wahai penghafal Al-Qur’an…. sesungguhnya penjagaan terhadap sesuatu yang tinggi lebih sulit dari pada usaha ketika mencapainya.

عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: تعاهدوا القرآن فو الذي نفسي بيده لهو أشد تفصيا من الابل في عقلها ”

“Dari Abu musa –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jagalah Al-Quran ini, karena demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dalam ikatannya”. (HR. Bukhari 4645).

Kata “ta’aahaduu” artinya ulang-ulangilah Al-Qur’an dan peliharalah di dalam membacanya serta mintalah pada diri kalian untuk selalu mengulanginya. Janganlah lalai dari menjaga dan mengulang-ulangnya. . sebagaimana seekor unta ia meminta agar tidak terlepas sebisa mungkin. Maka, kapan saja kita tidak mengikatnya, ia akan lari. Begitu juga dengan seorang penghafal Al-Qur’an, jika ia tidak betul-betul menjaganya, maka hafalannya akan hilang bahkan lebih dahsyat lagi dari pada itu.

Ibnul Bathal mengatakan: hadits ini sesuai dengan dua ayat dari firman Allah ‘Azza Wa Jalla yaitu:

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”. (QS. Al Muzzammil: 5).

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (QS. Al Qamar: 17) artinya: barang siapa yang menyambut Al-Qur’an dengan penjagaan yang kuat, maka akan dimudahkan baginya. Dan barang siapa yang berpaling darinya, maka ia akan lepas. (Fathul Baari).

وعن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مثل القرآن مثل الابل المعلقة إن تعاهدها صاحبها بعقلها أمسكها عليه وإن أطلق ذهبت

“Dari ibnu umar –semoga Allah meridhainya- berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “perumpamaan Al-Qur’an adalah seperti unta yang diikat, jika pemiliknya menjaganya dengan tali pengikatnya, maka ia akan tetap ada (tidak lari). Dan jika pemiliknya membiarkannya, maka ia akan lari”. (HR. Bukhari 4643)

 

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an…. janganlah engkau menjauhkan dirimu dari derajat yang tinggi ini setelah engkau mendapatkannya.

Ibnu hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata di dalam Fathul Baari: “para salafush shalih berselisih di dalam masalah melupakan Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang menjadikannya termasuk dosa-dosa besar. Adh Dhahhak bin muzahim berkata: tidaklah salah seorang mempelajari Al-Qur’an kemudian ia melupakannya, melainkan disebabkan dosa yang ia lakukan, karena Allah subhaanahu wata’aala berfirman: ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (QS. Asy Syura: 30), dan melupakan Al-Qur’an adalah merupakan musibah paling besar!

Abu ‘Aliyah –semoga Allah merahmatinya- berkata: “kami memasukkan ke dalam dosa-dosa yang paling besar adalah seseorang mempelajari Al-Qur’an kemudian tidur darinya sehingga ia melupakannya”. Dan sanadnya baik.

Dan dari jalan ibnu sirin dengan sanad yang shahih tentang orang yang melupakan Al-Qur’an, mereka sangat membencinya dan mengatakan tentang mereka dengan perkataan yang keras… dan berpaling dari membacanya dapat menyebabkan ia melupakan Al-Qur’an, adapun melupakannya berarti menunjukkan bahwa ia tidak memperhatikannya dan menganggap remeh dengan urusan tersebut.. dan meninggalkan penjagaan terhadap Al-Qur’an dapat mengakibatkan ia kembali kepada kebodohan.. adapun kembali kepada kebodohan setelah mendapatkan ilmu adalah perkara yang sangat besar.

Ishaq Bin Rahawaih berkata: “seseorang itu dibenci jika ia melewati empat puluh hari tidak membaca Al-Qur’an sedikit pun”.

  1. wahai penghafal Al-Qur’an…. bangkitlah dan perbanyaklah mempelajarinya, niscaya engkau akan hidup dengannya.

Adz dzahabi berkata di dalam siyarnya: abu Abdullah bin bisyr berkata: “aku tidak pernah melihat perselisihan yang sangat baik di saat ia menginginkan satu ayat dari Al-Qur’an dari pada Abu Sahl Bin Ziyad, ia adalah tetangga kami, ia selalu melakukan shalat malam dan membaca Al-Qur’an. karena banyaknya mempelajari Al-Qur’an seakan-akan Al-Qur’an itu berada diantara kedua matanya”.

  1. wahai penghafal Al-Qur’an…selama engkau menjaganya di dalam hatimu, maka jagalah ia dalam anggota badanmu.

Imam Al Qurthubi –semoga Allah merahmatinya- berkata di dalam tafsirnya: “wajib bagi seorang penghafal Al-Qur’an dan pencari ilmu untuk bertaqwa kepada Allah di dalam dirinya dan mengikhlaskan niat hanya untuk Allah. Jika sesuatu yang ia benci mendahuluinya, maka bersegeralah untuk taubat dan kembali kepada Allah serta mulailah ikhlas di dalam menuntut dan mengamalkannya. dan sesuatu yang selayaknya bagi penghafal Al-Qur’an adalah menjaganya lebih dari yang selazimnya dari pada yang lainnya sebagaimana ia mendapatkan pahala yang tidak didapatkan oleh selainnya.

  1. wahai penghafal Al-Qur’an…janganlah engkau tertipu dengan hafalanmu sehingga engkau tidak mengamalkannya.

Telah ada dalam riwayat Syu’bah dari Qatadah, ia merupakan tambahan yang terperinci dari makna yang dimaksud. Dan perumpamaan yang disebutkan adalah orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak menyelisihi apa yang terkandung di dalamnya dari hal perintah, larangan dan bukan hanya bacaan saja. “orang mukmin yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya , maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti”.

  1. wahai penghafal Al-Qur’an…. hargailah kedudukan yang ada di dalam dadamu dan berikanlah hak dan derajatnya. Sebagaimana engkau telah naik ke tingkat yang paling tinggi dengan hafalan Al-Qur’an, maka di hadapanmu ada tanggung jawab dan kewajiban yang setara dengan itu. Sesungguhnya hafalan itu bukanlah piagam yang digantungkan atau dipajang, dan bukan syahadah yang dibanggakan dan bukan pula pendapatan yang membedakan, akan tetapi hafalan merupakan amanah yang wajib ditunaikan haknya.
  2. Selayaknya bagi penghafal Al-Qur’an mempunyai sebaik-baik akhlak dan keadaan.

Fudhail Bin Iyadh berkata: “penghafal Al-Qur’an adalah pembawa panji islam, tidak selayaknya baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa, dan berkata yang tidak bermanfa’at bersama orang yang berkata tidak bermanfaat, sebagai bentuk pengagungan akan hak Al-Qur’an”.

Ia adalah hati yang tetap dan Penegak kebenaran

  1. wahai penghafal Al-Qur’an…. janganlah engkau sombong terhadap orang yang tidak menghafalkan Al-Qur’an, karena bisa jadi orang yang lebih sedikit hafalan disebabkan ada alasan tertentu itu lebih beruntung dari pada seorang penghafal yang tertipu lagi merugi.

Dari Abdullah Bin ‘Amr berkata: Seorang pria datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ajarkan saya apa yang harus saya lafalkan, ya Rasulullah!” Nabi berkata: ”Ucapkan tiga dari mereka) yang dimulai (dengan huruf Alif, Lam, Ra ‘) Pria itu kemudian berkata kepadanya,’ Aku telah menjadi tua di usia, hati saya sudah mengeras dan lidahku menjadi keras. ‘ Nabi berkata: “(Kemudian membaca dari orang-orang) yang dimulai (dengan huruf Ha-Mim. ) Pria itu mengatakan hal yang sama seperti yang telah dikatakan sebelumnya, sehingga Nabi berkata,: “Ucapkan tiga dari Musabbihat tersebut. ) Pria itu kembali mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan sebelumnya. Orang itu berkata, `Melainkan memberi saya sesuatu untuk membaca yang bersifat menyeluruh (dari semua ini), wahai Rasulullah. ” Jadi Nabi menyuruhnya untuk melafalkan: surah Az Zalzalah, Kemudian tatkala dia (Nabi) selesai membacakan Surah kepadanya orang itu berkata, ‘Dengan Dialah yang telah mengirimkan Anda dengan kebenaran sebagai Nabi, saya tidak akan menambah apa pun untuk itu. ‘Kemudian pria itu berbalik dan kiri, dan Nabi berkata,: (Laki-laki kecil telah berhasil, pria kecil telah berhasil. ) Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no: 1191, para perowinya adalah terpercaya. Isa Bin Hilal As-Shadafi telah dikuatkan oleh Ibnu Hibban. Al-Hafid Ibnu Hajar berkata dalam At-Taqrib: “shoduq”. Imam Bukhari dan Abu Hatim berkata: “tidak shahih hadits”. (dibawakan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dhaif Sunan Abu Dawud no: 300).

  1. Wahai penghafal Al-Qur’an…. janganlah engkau menunggu pujian dan sanjungan dari manusia, akan tetapi bersungguh-sungguhlah untuk tidak terpengaruh oleh pujian mereka kemudian kau palingkan mereka untuk ikhlas kepada Allah saja.

Memang benar, kita harus menghormati penghafal Al qur’an, karena di tenggorokannya ada kalaamullah (perkataan Allah). Dan salah satu tanda pengagungan terhadap Allah adalah dengan memuliakan penghafal Al-Qur’an dengan tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak pula meremehkannya. Ibnu Abdil Barr –semoga Allah merahmatinya- berkata: “para penghafal Al-Qur’an mereka adalah yang diliputi rahmat Allah , yang mengagungkan kalaamullah, dan yang dipakaikan cahaya Allah. Barang siapa yang mencintai mereka berarti mencintai Allah, dan barang siapa yang memusuhi mereka, maka ia telah menganggap remeh hak Allah. Pemilik kitab Al Fawakih Ad Dawaani telah menukil perkataan ahli ilmu: “bahwa sesungguhnya menggunjing orang yang berilmu dan penghafal Al-Qur’an itu lebih besar (dosanya) dari pada menggunjing selain keduanya”.

Walaupun demikian, seorang penghafal Al qur’an hendaklah tidak tertipu oleh penghormatan yang datang kepadanya, karena barangkali ketidak ikhlasannya akan mengeluarkannya dari antara mereka.

Jika seseorang telah keluar dari lembaga hafalan Al-Qur’an dan masa perpisahan dengan sekolah dan para guru sudah dekat, maka selayaknya ia mengingat usaha yang telah ia curahkan dan menghargai kedudukannya sesuai dengan kadarnya serta diakhiri dengan wasiat yang sesuai. Inilah kalimat Abdullah bin mas’ud ketika beliau melepaskan murid-muridnya di kufah setelah beliau bersungguh-sungguh mengajari dan menghafalkan Al-Qur’an untuk mereka dan beliau hendak pergi ke kota madinah: Dari Abdurrahman bin ‘abis ia berkata: ”telah mengabarkan kepada kami seseorang dari Hamadan salah seorang sahabat Abdullah bin mas’ud –semoga Alah meridhainya- ia berkata: “ketika Abdullah bin mas’ud hendak pergi ke kota madinah, beliau mengumpulkan semua para sahabatnya dan berkata: ”Demi Allah, sungguh aku berharap hari ini ada orang diantara kalian yang menjadi lebih utama diantara para prajurit kaum muslimin dalam urusan agama, fiqh dan ilmu Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan di atas huruf-huruf, barang siapa yang membacanya di atas sesuatu dari huruf-huruf tersebut yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka janganlah ia tinggalkan karena kebencian (ketidaksukaan) terhadapnya, karena sesungguhnya siapa yang menentang satu ayat dari padanya berarti ia menentang seluruhnya”. (HR. Ahmad 3652)

“Ya Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi, Wahai Pemilik kebesaran dan karunia. Kami memohon kepada-Mu Ya Allah Wahai Yang Maha Pengasih dengan kemuliaan-Mu dan cahaya Wajah-Mu agar memberi petunjuk kepada mereka yang telah menghafalkan kitab-Mu, dan menetapkan hati mereka untuk selalu menjaga hafalan kitab-Mu sebagaimana yang telah Engkau ajarkan, serta memudahkan mereka untuk selalu membacanya sesuai dengan apa yang Engkau ridhai.

“Ya Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi, Wahai Pemilik kebesaran dan karunia. Kami memohon kepada-Mu Ya Allah Wahai Yang Maha Pengasih dengan kemuliaan-Mu dan cahaya Wajah-Mu, agar Engkau menerangi pandangan mereka dengan kitab-Mu dan meluruskan lisan mereka dengannya, mensucikan hati mereka dengannya, melapangkan dada mereka dengannya dan membebaskan kesedihan mereka dan seluruh kaum muslimin dan muslimin dengannya”.

Shalawat dan salam senantiasa kami haturkan kepada Nabi kita Muhammad.

Diterjemahkan dari buku kecil berjudul “Washaayaa Li Haafidzaati Kitaabillah”, karya, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Daar Al Wathan Lin Nasyr, cetakan pertama, tahun 1420 H/ 1999 M

Alih bahasa:

Al faqiirah ilaa ‘afwi Rabbiha Ummu Fayha, Anisah

Makkah Al Mukarramah 7 Sya’ban 1434H

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s