Mengikat Kata dengan Amal

Oleh Aris Sholikah

”Nanti pada hari kiamat ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka, maka keluarlah usus perutnya dan beputar-putar di dalam neraka sebagaimana berputarnya kedelai yang sedang berada dalam penggilingan.

Lantas, para penghuni neraka berkumpul seraya berkata, ”Wahai Fulan, mengapa Anda seperti itu? Bukankah Anda dulu menyuruh untuk berbuat baik dan melarang berbuat mungkar?’ Ia pun segera menjawab, ”Benar, saya dulu menyuruh untuk berbuat baik, tapi saya sendiri tidak mengerjakannya dan saya melarang dari perbuatan mungkar, tapi saya sendiri malah melakukannya.”

Merupakan kemestian, bagi seorang Mukmin mengikat kata-kata yang ia ucapkan dan tuliskan dengan amal. Setiap kata yang keluar darinya cermin kemurnian, keikhlasan dan ketulusan hati, pikiran serta keimanannya. Lisan dan tulisan sejalan perbuatannya. Ketika ia menyuruh orang lain melakukan kebaikan, maka dialah yang pertama melakukannya. Pun ketika melarang berbuat mungkar, ia sendiri melakukannya.

”Mengapa kalian menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri. Padahal kalian membaca Alquran (Al Kitab). Apakah kalian tidak berpikir?” (QS Al-Baqarah (2): 44). Rasulullah SAW contoh paling nyata dalam hal ini. Setibanya hijrah di Madinah, Rasulllah memerintahkan para sahabat untuk mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan umat.

Tak sekadar menyuruh, Rasulullah ikut terjun langsung dalam pembangunannya. Bersama sahabat, beliau memecah batu, memikul, dan menyusunnya. Beliau bukan hanya pandai memerintah, melainkan juga melakukan pertama kali apa yang beliau serukan.

”Barangsiapa yang mula pertama melakukan kebaikan dalam Islam, maka ia mendapat pahala kebaikan itu sendiri dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mula pertama melakukan kejahatan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Imam Muslim).

Wibawa dan kepercayaan seseorang jatuh hanya karena kata-kata. Imam Ali Zainal Abidin meriwayatkan hadis Rasullulah, ”Jauhilah berkata bohong, baik untuk hal sepele maupun hal yang besar, baik serius maupun bergurau. Karena seseorang jika ia telah berani berbohong untuk hal-hal kecil, ia akan berani berbohong untuk hal yang besar.”

Begitu pula kewibawaan umat Islam runtuh salah satunya, karena mayoritas umat cakap berkata-kata namun tak mengikatnya dalam amal perbuatan keseharian. ”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS Ash-Shaff (61): 2-3).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s