Pijar Cita-cita

Tulisan ini terinspirasi saat guru kami, Ustadz Budi Ashari, Lc  bertutur menyampaikan fungsi sejarah. Salah satunya adalah fungsi motivasi. Beliau mengajarkan bagaimana belajar sejarah yang menyenangkan. Belajar cara mendalami sejarah agar lebih bersemangat. Belajar mengambil ibrah dari kisah-kisah bernilai tinggi. Mari bersama kita selami betapa dahsyatnya sejarah masuk ke relung jiwa kita.

Kisah ini dimulai seperti yang tertulis di dalam Kitab Syiar A’lam An-Nubala’. Imam Adz Dzahabi sang penulisnya menceritakan kisah pertemuan empat pemuda istimewa. Pemuda pertama adalah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khottob. Ketiga pemuda lainnya adalah putra Zubair bin Awwam yang dilahirkan dari rahim Asma’ binti Abu Bakar-shahabiyah yang disebut Nabi sebagai Dzatun Niqatain-. Mereka adalah  Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, dan Mush’ab bin Zubair.

Mereka berkumpul di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang ada di Ka’bah. Kemudian mereka duduk bersama. Ini pertemuan yang unik karena mereka membukanya dengan sebutan tamannaw yang berarti “berharaplah!”. Ya, ini adalah pertemuan berharap. Majelis harapan. Majelis impian. Majelis asa. Majelis cita-cita.

Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair, “Saya ingin kekhilafahan.”

Masya Allah… Anak muda yang ingin menjadi khalifah. Sejak muda telah berfikir cita-cita dan tanggung jawab yang besar.

Selanjutnya  Urwah bin zubair berkata, “Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu.”

Keinginannya sangat mulia, ingin menjadi seorang ulama, seorang ilmuan besar.

Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, ”Saya ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.”

Lihatlah! Mush’ab bercita-cita dua hal sekaligus: menjadi pemimpin di Iraq dan menikahi wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik di zamannya. Keduanya putri dari sahabat-sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Terakhir, sebuah asa disampaikan Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.”

Sebuah pinta yang terkesan sederhana, tapi sesungguhnya bermakna sangat dalam dan didamba tiap insan bertaqwa.

***

Detik demi detik berganti. Waktu pun berlalu. Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita tulus yang mereka katakan ternyata Allah sampaikan pada takdirnya.

Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih sembilan tahun. ‘Urwah sungguh menjadi ulama besar di Kota Madinah. Banyak sanat haditsdarinya yang diambil dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mu’minin yang merupakan bibinya. Mush’ab pun benar menjadi pemimpin di Iraq dan bisa menikahi dua wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik tesebut.

Masya Allah… kekuatan keinginan, cita, dan asa yang Allah ijabah. Allah izinkan harapan-harapan itu terwujud.

Keinginan yang belum bisa kita lihat adalah ketercapaian cita-cita Abdullah bin Umar. Allah yang memiliki segala rahasia. Apakah Allah mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar seperti yang ia sampaikan di majelis itu? Tapi Imam Adz Dzahabirahimahullah menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan. Aamiin, semoga…

Bagaimana rasanya ketika kisah ini dibaca? Bukankah banyak pelajaran mahal  yang bisa diambil?

Majelis cita-cita yang di bahas di atas bukan sebuah pertemuan yang sangat formal. Mereka “hanya” sedang duduk bersama. Berbicara ringan namun syarat makna. Mereka membincang asa yang berorientasi kemuliaan hidup di akhirat, bukan saja di dunia.

Benarlah bahwa perkataan muslim adalah doa. Doa-doa yang akhirnya Allah wujudkan menjadi nyata. Maka hendaklah tiap muslim menjaga lisannya. Perkataan empat pemuda istimewa ini bukan komentar tak jelas arah. Bukan pula omong kosong, atau bualan belaka seperti yang dilakukan sebagian pemuda hari ini di saatkongkow mereka. Kata-kata yang hanya menggambarkan hidup tanpa kejelasan visi disertai kerontangnya ruhiyah, naudzubillah…

Merekalah pemuda-pemuda dengan sentuhan Nabi yang ditempa dengan keimanan dan Quran. Para pemuda yang dibina dengan pendidikan terbaik. Mereka tumbuh menjadi pemuda yang berani bercita-cita dan mewujudkan apa yang mereka inginkan. Dengan keimanan yang menghujam, yakin seutuhnya atas izin dan pertolongan Allah. Maka ini jadi PR para orang tua dan pendidik untuk melahirkan kembali generasi gemilang seperti ini.

Benarlah pula bahwa salah satu fungsi sejarah adalah motivasi. Tidakkah ini memotivasi kita? Renungkan! Siapapun punya kesempatan istimewa.

Siapalah Abdullah bin Zubair? Sehingga kemudian ia bercita-cita ingin menjadi khalifah. Ia bukan dari keluarga istana (meski keluarganya adalah keluarga sahabat Nabi yang mulia). Namun ia tetap berani bercita-cita, dan yang terpenting berani untuk berusaha meraihnya.

Maka, berharaplah! Bercita-citalah! Setiap orang berhak memiliki impian dan asa. Ia boleh menggantungkannya setinggi langit, tapi ia harus siap untuk memperjuangkannya sekuat tenaga.

Pun bedakan dengan orang-orang yang hanya berkhayal. Perbedaan orang yang bercita-cita dan berkhayal adalah ketika dia melaksanakan, mencoba berupaya maksimal untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan orang yang hanya bermimpi dan berkhayal adalah yang tetap dalam tempat tidurnya. Tidak kemana-mana. Tidak bergerak sama sekali. Maka bagaimana mungkin ia akan meraih impian-impiannya?

Manusia boleh bercita-cita. Biarkan pijar semangat meraihnya terus berkobar dan menyinari kehidupan kita. Jangan biarkan padam! Mari bersama semaksimal mungkin dalam upaya menjadi hamba Allah yang mulia, sholih, dan berilmu. Sampai suatu hari kita akan menyaksikan hadits Nabi “bekerja”:

“Bekerjalah kalian! setiap kalian akan dimudahkan menuju takdirnya masing-masing.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s