Wasiat Sang Ibu untuk Seorang Anak yang Telah Menelantarkannya

Ayah anak itu akhirnya meninggal dunia, setelah sakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Kini, tinggallah sang ibu menjadi orang tua satu-satunya.

Waktu terus berjalan, hingga saatnya anak itu menjadi dewasa sedangkan ibunya telah menua.

Si anak kemudian menikah dan dikaruniai 3 orang putra. Ia memiliki rumah dan hidup bersama keluarganya. Sang ibu pun ikut serta tinggal di rumahnya tersebut.

Hidup bersama ibunya, ia merasa tak jenak. Ia lantas berfikir untuk menitipkan ibunya yang sudah tua renta di panti jompo. Supaya keluarganya bisa hidup bebas tanpa kehadiran ibunya yang dinilai merepotkan jika harus mengurusnya setiap hari.

Dan, niatnya pun terlaksana, ibunya juga menurut demi memenuhi hasrat anaknya dan supaya anaknya lebih berbahagia dengan keluarganya. Saat di panti jompo, anaknya hanya sesekali menjenguk sang ibu tanpa memperhatikan kondisi dan keperluannya.

Suatu ketika, ia mendapat kabar dari panti jompo bahwa ibunya dalam kondisi hendak “udzur”. Ia pun bergegas pergi ke panti untuk bertemu sang ibu untuk mendengar permintaan terakhirnya.

Ia bertanya kepada sang ibu, “Wahai ibu, apa yang bisa terakhir kali dapat aku lakukan untukmu? Apa yang engkau pinta wahai ibu?”

Ibunya menjawab, “Aku ingin kamu memasang kipas angin dan lemari es beserta isinya di sini wahai anakku. Selain itu, aku ingin engkau menyediakan tukang masak untuk memenuhi kebutuhan perutku. Karena, ketika rasa lapar menghampiri, tak ada yang bisa aku makan.”

Ia heran dengan permintaan ibunya lalu berkata, “Bukankah kondisimu sedang seperti ini ibu, apakah engkau dapat memanfaatkan itu semua?”

Mendengar jawaban anaknya, terlihat raut muka kesedihan dalam diri sang ibu. Ia lantas berkata, “Iya wahai anakku, aku butuh itu semua. Aku di sini berulangkali merasakan kepanasan dan kelaparan. Aku khawatir dirimu tak sanggup menahan itu semua, di saat nantinya engkau telah menua dan ditinggalkan anakmu di panti jompo ini.”

Bagai tersengat listrik. Penuturan sang ibu membuatnya terhenyak. Sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah. Ia telah menelantarkan dan tidak memperhatikan kebutuhan sang ibu. Padahal menjelang akhir hayatnya, sang ibu masih saja memikirkan kebutuhan anaknya, agar nantinya tidak mengalami kesusahan di usia senja.

Sumber: yupnop.blogspot.com

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Berbuat baik kepada keduanya ketika mereka telah lanjut usia

Allah berfirman, ”Wahai Muhammad, Tuhanmu telah menetapkan, “Janganlah kamu menyembah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak kamu. Jika ibu bapak kamu, salah satu dari keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaan kamu, janganlah kamu berkata, “ah” kepada mereka dan janganlah membentak mereka. Akan tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang menyenangkan mereka. Tundukan dirimu kepada ibu bapakmu dengan sikap rendah hati lantaran kasih sayang dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, kasih sayangilah ibu bapakku, sebagaimana mereka telah memeliharaku dengan kasih sayang sewaktu aku masih kecil (QS Al-Israa [7]23-24)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s