Muroqobah Menuai Mahabbah

Alloh Ta’ala Maha Mendengar setiap kata yang terucap dan melihat setiap tubuh yang bergerak. Semua diketahui oleh Alloh Ta’ala dengan pasti, karena Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Gerak gerik, tutur kata, dan besitan hati semuanya tidak luput dari pantauan Alloh Ta’ala yang mengawasi. Alloh Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Alloh dan Dia yang Maha mendengar serta Maha Melihat.” (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Ucapan lisan, amalan anggota badan, dan hati seseorang senantiasa diperhatikan oleh Alloh Ta’ala untuk dinilai. Setelah diadakan penilaian, maka Alloh Ta’ala  akan memberikan balasan kebaikan untuk mereka yang bernilai baik dan keburukan untuk mereka yang bernilai buruk.

Jika demikian yang terjadi dan pasti akan terjadi, maka sudah sepantasnya bagi orang yang beriman untuk senantiasa berhati-hati ketika berucap dan bertindak. Seorang yang beriman harus senantiasa merasa diawasi oleh kedua mata Alloh Ta’ala. Pandangan-Nya begitu tajam dan tidak terhalang oleh sesuatu apapun. Sehingga, sudah seharusnya manusia selalu bertakwa kepada Alloh Ta’ala di manapun dan kapanpun. Wasiat seperti ini juga pernah disampaikan oleh Rosulullloh shollallohu alaihi wasallam, beliau bersabda:

اِتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, serta bersahabatlah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR.Tirmidzi, Hasan Shohih)

Kata “Takwa” telah banyak didefinisikan oleh para ulama, dan sepertinya semua definisi seputar pada melaksanakan ketaatan kepada Alloh dan menjauhi larangan-larangan Alloh. Tolq bin Habib rohimahulloh mendefinisikannya sebagai berikut:

اَلتَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطاَعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابِ اللهِ

“Takwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Alloh, berdasarkan ilmu serta pengharapan pahala dari-Nya; juga meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh, berdasarkan ilmu serta rasa takut terhadap siksaan-Nya.”

Perintah takwa kepada Alloh Ta’ala berarti melaksanakan perintah-perintah-Nya seperti sholat, puasa, zakat, dan lainnya serta meninggalkan larangan-laranyan-Nya seperti zina, minum khomer, pembunuhan tanpa hak dan lainnya. Sifat takwa seperti ini, diperintahkan lalu dipertahankan di manapun dan kapanpun, baik saat berada di hadapan manusia, maupun ketika manusia lain tidak ada. Hal ini dikarenakan Alloh Ta’ala senantiasa mendengar dan melihat, dan yang akan menilai ibadah seseorang adalah Alloh Ta’ala bukan manusia.

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam pernah berdoa kepada Alloh Ta’ala agar diberikan rasa takut kepada-Nya baik di saat sendiri atau di saat berhadapan orang lain. Dalam doanya beliau bermunajat:

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي، أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

“Ya Alloh, dengan ilmu-Mu yang mengetahui perkara ghoib, dan keperkasaan-Mu atas semua makhluk, Hidupkanlah aku jika Engkau mengetahui itu baik untukku, dan matikanlah aku, jika kematian baik untukku. Aku memohon rasa takut kepada-Mu baik pada saat sendiri maupun berada di hadapan orang lain.” (HR. Ahmad, shohih)

Memiliki rasa takut kepada Alloh Ta’ala baik dalam keadaan sepi ataupun di keramaian orang adalah akhlak yang akan menyelamatkan pemiliknya. Ini sebabnya mengapa setiap muslim harus memiliki sifat muroqobah atau merasa diawasi oleh Alloh Ta’ala.

Akan tetapi sifat muroqobah tidak dapat langsung dimiliki oleh seseorang. Ada syarat yang harus dimiliki olehnya, yaitu dia harus mengerti dan meyakini bahwa Alloh Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sempurna, di antaranya keyakinan bahwa Alloh Ta’ala Maha Mendengar dan Maha Melihat, Alloh Ta’ala tidak ngantuk dan tidak mati, Alloh Mengutus malaikat untuk mencatat semua yang terucap dari lisan, dan lain sebaginya dari sifat kesempurnaan Alloh Ta’ala.

Orang yang berkepribadian baik di saat menyepi, menunjukkan kemuliaan dirinya. Bahkan orang seperti ini biasanya sudah memiliki sifat muroqobah yang tinggi. Imam Syafi’i rohimahulloh berkata:

أَعَزُّ اْلأَشْيَاءِ ثَلاَثَةٌ: اَلْجُوْدُ مِنْ قِلَّةٍ وَاْلوَرَعُ فِيْ خَلْوَةٍ وَكَلِمَةُ اْلحَقِّ عِنْدَ مَنْ يُرْجَى وَيُخَافُ

“Ada tiga hal yang teramat istimewa: dermawan di waktu pailit, bersikap waro di waktu sendiri, dan berkata benar di hadapan orang yang diharapkan pemberiannya atau dikhawatirkan kejahatannya.”

Seseorang yang senantiasa bertakwa kepada Alloh Ta’ala karena merasa gerak-geriknya diawasi oleh Alloh Ta’ala, maka ia akan mendapatkan mahabbah atau kecintaan dari Alloh Ta’ala. Sebab Alloh Ta’ala sangat mencintai orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Wallohu Ta’ala alam

Disusun oleh: Ustadz Solahudin Ibrahim, Lc., M.A.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s