Mata yang Menangis Karena Allah

Nabi Muhammad. Manusia pilihan Allah itu maksum dan dijamin masuk surga. Kendati begitu, Nabi Muhammad saja masih meneteskan air mata. Kedua pipinya basah. Matanya sembab. Hatinya dipenuhi selaksa takut kepada Tuhannya: takut jika tidak bisa menjadi hamba yang bertakwa dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Air matanya tumpah di ujung-ujung tempat sujud di seperti tiga malam. Air mata itu luruh dan membasahi wajahnya.  Pahadal, tiada celah keburukan pada dirinya. Semua yang dilakukannya adalah amal saleh yang menakjubkan dan jadi suri tauladan manusia.

Sampai-sampai seorang sahabat bertanya kepada Aisyah, “Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang luar biasa pada diri Rasulullah yang pernah engkau lihat,” Aisyah pun menjawab, “Manakah perbuatan beliau yang tidak luar biasa?” Pernah pada suatu malam beliau berbaring bersamaku, lalu beliau berkata, “Sekarang biarkanlah aku beribadah kepada Allah.” Beliau bangun dari tempat tidurnya, lalu mengerjakan salat. Baru saja selesai salat, beliau langsung menangis bercucuran air mata sehingga membasahi dada beliau.

Kemudian beliau ruku sambil menangis, dan bangun dari sujud pun masih menangis hingga Bilal datang mengumandangkan azan shubuh. Aku berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis seperti itu, bukankah engkau orang yang ma’sum dan Allah telah berjanji akan mengampuni dosa-dosamu, baik yang akan datang dan yang telah lalu (jika ada)?” Nabi Muhammad Saw lalu menjawab, “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Lalu kemudian nabi bersabda, “Mengapa aku tidak berbuat demikian? Padahal Allah telah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang sungguh merupakan bukti-bukti kebenaran adanya Allah bagi ulil albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika, duduk atau berbaring dan mau memikirkan penciptaan langit dan bumi lalu berkata, “Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” QS. Ali Imran [3]: 190-191.

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Yakub yang memiliki kekuatan yang besar dan ilmu yang tinggi. Sungguh Kami telah menyucikan mereka dengan menganugerahkan akhlak yang tinggi keadaanya, yaitu selalu mengingatkan manusia kepada negeri akhirat. Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shad [38]: 45-47).

Tidak hanya Nabi Muhammad yang mudah menangis karena-Nya. Hati orang beriman yang lembut, bersih, dan penuh rasa takut kepada-Nya akan senantiasa mudah menangis. Hatinya mudah sekali tersentuh. Seperti yang terjadi kepada orang-orang saleh berikut ini yang ditulis Supriyanto Abdullah dalam buku Meraih Kemuliaan dengan Takwa.

Salman Al-Farisi adalah orang beriman yang menghabiskan usianya untuk Islam. Di saat wafat, air matanya luruh membasahi wajahnya. Air mata itu membuat sahabatnya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia lalu menjawab, “Aku menangis bukan karena mencintai kehidupan dunia. Tetapi karena Rasulullah Saw berpesan kepada kami agar kami cukup berbekal dalam kehidupan dunia ini seperti bekal orang yang bepergian.” Betul saja. Dia tidak banyak memiliki harta. Setelah meninggal dunia, harta yang ditinggalkannya pun dihitung. Ternyata, hanya berjumlah beberapa dirham.

Tsabit Al-Banani mengisahkan tentang seorang wanita dari generasi awal yang bernama Burdah. Ia adalah perempuan yang memiliki hati yang bening, dan lembut. Rasa khawatir dan takut kepada-Nya memenuhi relung kalbu. Dia takut akan azab neraka yang begitu dahsyat. Burdah pun lebih banyak menangis hingga penglihatannya terganggu.

Lalu dikatakan kepadatanya, “Tidakkah engkau takut penglihatanmu akan hilang?” Ia menjawab, “Biarkan aku menangis, sebab jika aku termasuk ahli neraka, maka Allah akan menjauhkan diriku dan menjauhkan penglihatanku. Jika aku ahli surga, maka Allah akan memberi ganti untukku dua mata yang lebih baik daripada kedua mataku.”

Ahmad bin Abu Al Hawari berkata, “Bahwa Abdullah Al Anthaki berkata kepadanya, “Fudhail dan Imam At tsauri suatu ketika berkumpul dalam sebuah majelis. Keduanya saling mengingatkan, lalu Sufyan tersentuh hatinya dan menangis, kemudian ia berkata, “Aku berharap majelis ini mendatangkan rahmat dan berkah kepada kita.”

Kemudian Fudhail menyahut, “Wahai Abdullah—panggilan akrab Sufyan Ats-Tsauri—takut majelis ini justru lebih banyak membawa keburukan daripada rahmat dan berkah. Tidakkah engkau lega telah menyampaikan pembicaraan terbaikmu dan aku menyampaikan pembincaraan terbaikku, lalu engkau merasa bangga terhadapku dan aku merasa bangga terhadapmu?” Mendengar kata-kata sahabatnya ini, Ats-Tsauri menangis dan berkata, “Engkau telah menghidupkan kesadaranku, semoga Allah menghidupkan kesadaranmu.”

Suatu hari, ketika sedang merenungi diri, Taubah bin Ash Shumah telah berusia enam puluh tahun. Lalu ia menghitung hari-hari yang telah dilaluinya, ternyata menurut hitungan bulan komariyah ia telah berumur dua puluh satu ribu lima ratus hari. Menyadari kenyataan ini, ia lalu terkejut seraya menjerit lalu berkata, “Bagaimana aku harus menemui Allah yang Maha Raja dengan membawa dosa sebanyak dua puluh satu ribu lima ratus dosa?” Bagaimana jika setiap hari aku melakukan ribuan dosa? Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia pun keluar dan pingsan. Ketika didekati, ternyata ia telah meninggal dunia.

IBNU ABDI QAIS adalah ulama shalih dari kalangan tabi’in yang dikenal dengan ibadah shalatnya. Pada saat hendak wafat, para sahabat beliau menyaksikan beliau menangis. Salah satu dari mereka pun bertanya,”Apakah engkau takut kematian?”

Beliau pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak menangis karena takut mati atau menginginkan kehidupan dunia. Akan tetapi aku menangis karena tidak bisa berlapar-lapar karena puasa dan tidak bisa mendirikan shalat malam di saat musim dingin.” (Sifat Ash Shafwah, 3/202)

Ali bin Ma’bad, seorang muhaddis berkata, “Aku pernah tinggal di sebuah rumah sewaan. Ketika sedang menulis, aku perlu mengeringkan tinta secepatnya. Sedangkan dinding rumah terbuat dari tanah liat. Maka terlintas dalam pikiranku untuk mengeringkan tinta dengan mengambil sedikit tanah di tembok. Kemudian aku berpikir lagi, “Ini rumah sewaan (disewa untuk ditempati bukan untuk diambil tanahnya).” Sejurus kemudian, aku berpikir lagi, “Tetapi apa salahnya kuambil sedikit saja. Ini masalah sepele.”

Akhirnya, aku mengikis sedikit dinding itu. Pada malam harinya aku bermimpi. Dalam mimpiku, kulihat seseorang berdiri dan berkata kepadaku, “Esok pada hari kiamat. Kamu akan mengetahui ucapanmu yang menganggap tidak mengapa mengambil yang sedikit itu.” Ucapan, ‘Esok kamu akan mengetahui’ merupakan derajat ketakwaan yang sangat tinggi. Kesempurnaan takwa adalah selalu berhati-hati walaupun pada umumnya benda yang remeh itu masih dibolehkan.

Subhanallah. Sungguh rasa takut dan khawatir orang-orang saleh tersebut mengalirkan ketakwaan dalam diri mereka. Hati mereka pun jadi lembut, bening, dan mudah tersentuh. Dunia bagi mereka tidak ada artinya. Yang ada dalam benak mereka hanya satu: akhirat dan bagaimana selamat dari siksa neraka. Lalu bagaimana dengan kita? Mari kita bandingkan.

Sungguh kita masih sangat jauh dibanding mereka. Amal saleh kita masih sedikit. Iya, kalau diterima. Kalau tidak? Ibadah kita tidak sehabat mereka. Jangankan seperti Rasulullah. Seperti para sahabat nabi saja masih sangat jauh. Ilmu agama kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Begitu pula kualitas ibadah kita yang lain: sedekah kita, bacaan Al-Qur’an (tilawah) kita, salat tahajud kita, dan kualitas menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan oleh-Nya. Sungguh kita masih sangat jauh sekali.

Mata kita jarang sekali menangis karena-Nya. Jangankan jarang. Bahkan, boleh jadi, seumur hidup tidak pernah bermunajat di sepertiga malam dan menangisi dosa dan kesalahan yang telah diperbuat setiap hari. Kita justru lebih banyak tertawa dan bersendau gurau; seolah-olah akan hidup selamanya dan  tidak sadar jika dosa terus menumpuk dan menggunung. Kita justru jarang memohon ampun kepada-Nya. Padahal, kita tidak tahu kapankah malaikat maut menjemput ajal kita. Astaghfirullahal ‘azim.

Mata kita justru sering menangis untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Hati kita lebih mudah tersentuh hanya gara-gara soal sepele. Kita lebih sensitif dan reflektif terhadap hal-hal keduniawian. Entah itu karena soal pekerjaan, cinta, kesuksesan, kebahagiaan, dan penderitaan. Hati mudah tersentuh untuk sifatnya hura-hura. Menangis histeris ketika melihat idolanya datang dan berkalang kesuksesan.

Sedangkan untuk dosa yang telah menggunung mata kita enggan untuk berurai air mata. Kita enggan untuk bersujud, berkeluh kesah, dan memohon ampun kepada-Nya. Jangan-jangan hati kita telah tertutup cahaya ilahiyah. Jangan-jangan hati kita mati karena tertutup oleh banyaknya dosa yang tidak terampuni dan teristighfari. Nauzubillah min dzalik.  Semoga AllahSubhanahu Wata’ala menjaga kita dari hal demikian ini dan senantiasa memancarkan cahaya di dalam hati kita. Sehingga mata kita pun akan berurai air mata karena-Nya. Bukan karena yang lain.*/Syaiful Anshor, seorang guru


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s