Nilai Pengorbanan dalam Dakwah dan Jihad

Allah telah menurunkan sebuah ayat di surat kedua dalam Al-Qur-an, yaitu Surat Al Baqarah. Dia berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّ‌اءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّ‌سُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ‌ اللَّـهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ‌ اللَّـهِ قَرِ‌يبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqarah : 214)

Harga dakwah itu sangat mahal menurut firman Allah Ta’ala serta menurut lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengemban prinsip dan mengimplementasikan teori ke dalam praktik memerlukan banyak pengorbanan untuk benar-benar bisa menjadikannya nyata.

Harga Dakwah

Dakwah tidak akan mencapai kemenangan jika tidak diiringi pengorbanan. Baik itu Dakwah Ardliyah (dari manusia) atau Dakwah Samawiyah (dari Allah). Darah, tubuh, tulang belulang, nyawa, dan syuhada, itu semua adalah api yang menyalakan peperangan, perang ideologi maupun perang pemikiran. Ayat di atas memperingatkan kita pada persoalan penting di kancah peperangan ini, yakni bahwa tidak ada Jannah bagi orang yang tidak mau berkorban dan berkontribusi.

Apakah kita menyangka bahwa kita akan masuk Jannah padahal kita belum merasakan seperti yang pernah dirasakan para pendahulu kita? Kemudian Allah Rabbul Izzati mengisyaratkan persoalan penting, bahwa kita sekalian tidaklah semulia hamba yang paling dicintai-Nya, kita tidak lebih baik dari hamba-hamba pilihan-Nya.

اللَّـهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُ‌سُلًا وَمِنَ النَّاسِ

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia”. (QS. Al Hajj : 75)

Tak ada satupun manusia di bumi ini yang lebih utama daripada MuhammadShallallahu ‘alaihi wa sallam. Kendati demikian sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, mereka (umat terdahulu) beserta Rasulnya merasakan ditimpaal ba’saa’ artinya al harbu (peperangan), adh dharaa’u artinya asy syiddaa’u wal faqru (kesempitan dan kemiskinan), dan lain-lain yang serupa….wa zulziluu ( dan mereka digoncangkan). Coba perhatikan diri manusia ketika mereka dalam keadaan tergoncang. Gemetar seluruh tubuhnya seakan-akan ia dilanda gempa bumi, sehingga tidak mampu menguasai diri untuk tidak jatuh. Mereka digoncangkan, kemudian goncangan itu membuat makhluk yang paling sabar di muka bumi, yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan penuh ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Mataa nashrullah? (Kapankah pertolongan Allah itu akan tiba?)

Beliau adalah manusia yang paling sabar, tawadhu’, khusyu’, Aminullah(kepercayaan Allah) di muka bumi, selalu bertemu Aminus Sama’ (Jibril Alaihis salam) pagi dan petang, senantiasa dimantapkan oleh Al Qur’an sepanjang siang dan malam, itupun masih tergoncang sampai berdoa kepada Allah dengan sepenuh hati dalam munajatnya kepada Allah ta’ala. Beliau berkata, “Kapankah pertolongan Allah itu akan tiba?”

حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّ‌سُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُ‌نَا

“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami”. (QS. Yusuf : 110)

Masalah tersebut menjadikan para Rasul hampir putus harapannya. Mereka tidak mempunyai harapan namun belum sampai pada putus asa, karena:

إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّ‌وْحِ اللَّـهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُ‌ونَ

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS Yusuf : 87)

Jadi ikhwan sekalian…. Kesulitan, hambatan, godaan bahkan ancaman dalam dakwah itu adalah suatu keniscayaan. Di era yang begitu gegap gempita ini pun segalanya menjadi semakin kompleks. Bentuk-bentuk godaan dan cobaan pun bertrasnformasi menjadi semakin menantang. Meskipun demikian, ingatlah bahwa Allah ta’ala selalu bersama kita. Usaha kita mendakwahkan dien ini adalah tugas mulia yang tidak sembarang orang terketuk hati untuk menjalaninya. Berbahagilah para pengemban dakwah… Kalian adalah orang yang terpilih dari sekian milyaran manusia… Segalanya akan dipermudah Allah taala jika kita senantiasa teguh di jalan-Nya.

Pengorbanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Qur’an bukan hiburan dan bukan untuk kesenangan di waktu-waktu senggang. Al-Qur’an bukan pula kitab musiman yang hanya dibaca ketika Ramadhan menjelma. Akan tetapi, Al-Qur’an adalah manhaj (petunjuk jalan) bagi para Da’i yang menempuh jalan Dien ini sampai hari kiamat, mengikuti jejak langkah penghulu para Rasul, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan pemimpin semua umat manusia.

Meskipun demikian, keadaan beliau saat itu seperti apa yang diceritakan sendiri dalam sebuah hadits shahih:

لَقَدْ أُخِفْتُ فِى اللَّهِ وَمَا يُخَافُ أَحَدٌ وَلَقَدْ أُوذِيتُ فِى اللَّهِ وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ وَلَقَدْ أَتَتْ عَلَىَّ ثَلاَثُونَ مِنْ بَيْنِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ وَمَا لِى وَلِبِلاَلٍ طَعَامٌ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلاَّ شَىْءٌ يُوَارِيهِ إِبْطُ بِلاَلٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. – وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ حِينَ خَرَجَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَارًّا مِنْ مَكَّةَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ إِنَّمَا كَانَ مَعَ بِلاَلٍ مِنَ الطَّعَامِ مَا يَحْمِلُهُ تَحْتَ إِبْطِهِ.

“Sungguh aku pernah disakiti karena menyampaikan risalah Allah dan tak seorangpun pernah disakiti seperti itu, aku pernah diteror karena menyampaikan risalah Allah dan tak seorangpun pernah diteror seperti itu. Dan pernah pula berlalu pada diriku tiga puluh hari tiga puluh malam, sementara aku dan Bilal tak mempunyai sesuatu yang dapat dimakan kecuali sedikit makanan yang hanya dapat menutupi ketiak Bilal.” (Hadits Hasan Shahih riwayat At Tirmidzi dan Ahmad dan selainnya).

Sungguh berat apa yang telah dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamsemasa dakwahnya. Jadi, tidak mengherankan jika dakwah kepada Al-Haqakan tersendat dengan hambatan dan penuh cabaran. Jika selama ini dakwah berjalan mulus tanpa hambatan, perlu dipertanyakan apakah dakwah tersebut sudah lurus dan benar sesuai tuntunan-Nya?

Menyampaikan dakwah bukanlah hal mudah atau perjalanan yang penuh kesenangan. Allah ta’ala berfirman,

لَوْ كَانَ عَرَ‌ضًا قَرِ‌يبًا وَسَفَرً‌ا قَاصِدًا لَّاتَّبَعُوكَ ۚ

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu”. (QS. At Taubah : 42)

Kita lihat, suatu kali pernah dihidangkan makanan yang lezat di depan Abdurrahman bin Auf. Melihat itu iapun menangis dan kemudian berdiri lalu berkata, “Sungguh sahabat-sahabat kami telah meninggal dunia, namun mereka belum pernah melihat yang seperti ini. Dan sungguh dahulu, Mush’ab bin ‘Umair lebih baik daripada kami, tetapi dia belum pernah melihat makanan yang seperti ini.”

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diwafatkan oleh Allah, sedangkan beliau belum pernah menikmati daging kambing bakar.” (HR. Bukhari)

“Tak pernah sekalipun keluarga Muhammad makan roti dari Sya’ir (jenis gandum) sampai kenyang selama dua hari berturut-turut”.

“Aisyah berkata, “Demi Allah, kami belum pernah makan korma sampai kenyang kecuali sesudah penaklukan Khaibar.” (HR. Muslim)

Apakah kalian mengira bahwa prinsip dan keimanan itu hanya merupakan mainan atau senda gurau atau kesenangan yang disampaikan seorang manusia lewat khutbah yang dihiasi dan dirangkai dengan kata-kata yang indah, atau ditulis dalam sebuah buku lalu dicetak dan kemudian disimpan di perpustakaan? Itu sama sekali bukan jalan para Ashabud Da’wah (penyampai da’wah)!

Sesungguhnya dakwah itu selalu akan memperhitungkan bahwa generasi pertama yang menyampaikan dakwah, mereka itu adalah tumbal bagi tegaknya risalah yang didakwahkan. Sayyid Quthb rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya generasi pertama, mereka berlalu sebagai bahan bakar api dakwah dan sebagai bekal untuk menyampaikan kalimat dakwah yang tidak akan hidup kecuali dengan hati dan cucuran darah.”

Sesungguhnya dakwah itu akan tetap mati seperti boneka yang tak bergerak. Sampai kita berjuang hingga mati, barulah dakwah akan bangkit dan hidup. Setiap kalimat yang hidup, maka ia akan bersemayam di hati manusia yang hidup, sehingga hiduplah ia bersama-sama mereka yang hidup. Orang-orang yang hidup tidak akan ingin berdampingan dengan orang-orang yang mati, mereka hanya mau menerima orang-orang yang hidup. Adapun mayat itu akan tetap di kubur di bawah tanah, walaupun ia adalah mayat orang yang terhormat”.

Jalan Dakwah

Jalan dakwah diliputi dengan “makarih” (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya; dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya.

Dan barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah untuk tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yang terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para Rasul dan para da’i yang menjadi pengikut mereka, sejak Dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini.

Berapa banyak orang-orang komunis yang mengorbankan diri mereka untuk mengadakan revolusi merah? Berapa lama Lenin dipenjara dan dibuang?

Dan betapa kagumnya kita saat ini dengan demokrasi barat? Bagaimana perundang-undangan Barat tersebut dapat menundukkan seluruh manusia? Bagaimana perundang-undangan tersebut dapat menyeret penguasa ke depan pengadilan, serta dapat menang atau mengalahkan kasusnya? Undang-undang dan hakim tidak terbebas dari intervensi siapapun. Apakah kita mengira bahwa undang-undang tersebut ditegakkan dengan main-main?

Apakah kita mengira bahwa undang-undang tersebut datang dengan tiba-tiba? Mereka memperolehnya dengan pengorbanan darah serta tulang belulang para pemikir. Telah dibunuh tiga ratus ribu orang di tangan algojo dinas Intelijen, dan tiga puluh ribu diantaranya dibakar hidup-hidup. Mereka yang dibunuh itu ingin mengeluarkan orang-orang Barat dari cengkeraman gereja yang lalim dan membebaskan mereka dari belenggunya yang kuat dan kokoh.

Bruno telah dibunuh, Copernicus dipenjara dan Galileo disiksa karena mereka meneriakkan prinsip mereka dengan lantang. Tatkala Bruno diajukan ke mahkamah gereja dan kemudian dijatuhi hukuman mati hanya karena mengatakan bahwa bumi itu bulat, maka Bruno berkata, “Walau bagaimanapun, bumi itu tetap bulat.” Walaupun terbukti bahwa bumi itu memang bulat, tetap saja dia dihukum mati.

Selama tiga abad berturut-turut para pemikir Barat berjuang, seperti Montesqueau, John Lock, JJ. Russou, John Liel dan lain-lain. Mereka telah banyak berkorban untuk mengeluarkan pengikut mereka dari doktrin pendeta yang bertentangan dengan akal fikiran dan ilmu pengetahuan. Pihak gereja menggiring manusia yang membangkang ke neraka penyiksaan dengan cambuk gereja yang kuat.

Lihatlah para sahabat betapa gigihnya orang-orang kafir ini memperjuangkan keyakinan mereka. Padahal keyakinan yang mereka perjuangkan tidak akan meyelamatkannya dari panasnya api neraka. Sedang kita sebagai seorang muslim yang berkewajiban mendakwahkan dien ini dan menerapkan syariatnya, seharusnya lebih pantang menyerah dari mereka. Karena Jannah Allah telah menanti kita kelak di akhirat sana.

Dakwah Islamiyah telah menyumbangkan keteladanan yang tiada bandingannya. Putra-putra Islam telah banyak berkorban di jalan ini sepanjang sejarah. Darah mereka menjadi api obor bagi generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Hasan Al Banna telah dibunuh di jalan protokol terbesar di kota Qahirah, yakni di lapangan Ramses kemudian nyawanya dihabisi di kamar bedah rumah sakit. Tidak ada yang menyalati jenazahnya selain empat orang perempuan saja. Namun, darahnya menghidupkan generasi-generasi sesudahnya di bumi ini.

Jika tokoh lain sekaliber Abdul Qadir Audah, Muhammad Farghali, Yusuf Thal’at, Handawi Dawir, Ibrahim Thayyib, Mahmud Lathif, Sayyid Quthb, Abdul Fattah Isma’il, Muhammad Yusuf Hawwasy, Shalih Sirriyah dan Karim Al Anadluli serta yang lain dapat mereka bunuh, namun darah mereka tidak hilang sia-sia. Darah mereka laksana api yang membakar dada-dada generasi Islam yang berusaha untuk menegakkan Dien Allah.

Mereka telah menerangi kita dengan nyala api untuk kita pegang dalam melangkah di atas jalan dakwah. Darah-darah mereka merupakan menara petunjuk bagi generasi-generasi yang mau mencari petunjuk.

Basyir Al Ibrahim mengatakan, “Pernah suatu ketika aku berada di dekat raja Faruq (raja Mesir waktu itu). Aku mendengar mereka tengah berbisik-bisik tentang rencana pembunuhan Hasan Al-Banna. Maka aku segera pergi menemui Hasan Al-Banna dan kukatakan kepadanya,

وَجَاءَ رَ‌جُلٌ مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُ‌ونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُ‌جْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. (QS. Al Qashash : 20)

Maka dia menjawab : “Apakah engkau berfikir begitu (diulangnya tiga kali), ketahuilah :

إِنَّ اللَّـهَ بَالِغُ أَمْرِ‌هِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّـهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرً‌ا

“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Ath Thalaq : 3)

“Sesungguhnya jika Allah sudah menentukan kematian, kewaspadaan tidak akan dapat menyelamatkan!” Sungguh bentuk ketawakkalan tingkat tinggi dari para pendahulu kita. Bentuk cobaan dalam berbagai model akan kita hadapi jika kita menempuh jalan dakwah ini. Tentu setiap orang akan berhadapan dengan cobaan yang berbeda-beda tingkat kerumitannya. Tugas kita adalah bersabar dan tawakkal seperti yang telah dicontohkan para pendahulu.

Teladan dari Afghanistan.

Marilah berkaca pada bangsa Afghan yang telah memberi banyak contoh tentang kepahlawanan. Suatu kepahlawanan yang belum pernah terjadi dalam lembaran tarikh Islam selama lima abad terakhir ini. Sesungguhnya pengorbanan yang telah diberikan bangsa Afghan, secara keseluruhan tidak dapat disamakan dengan jihad dan perang bangsa-bangsa Islam pada abad-abad terakhir ini. Kesabaran mereka mengagumkan, pengorbanan mereka demi Islam sungguh membanggakan.

Mereka tidak mempunyai persediaan makanan untuk kehidupan sehari-hari. Ada orang Arab yang kaya meminang anak gadis mereka. Namun mereka menolak menikahkan anak gadis mereka, hanya karena tidak ingin ada yang mengatakan, ia menikahkan anak gadisnya pada masa kesulitan dengan orang-orang kaya.

Di Maidan Propinsi Wardak, Rusia mengadakan serangan –biasanya Rusia meningkatkan serangannya dengan gencar pada hari I’edhul Adha— mereka membantai semua yang hidup, dan tidak menyisakan penduduknya kecuali tiga puluh wanita. Yang lainnya mereka bantai habis.

Di sebuah desa di Propinsi Lugar, kaum komunis Afghan menyembelih empat puluh tiga orang yang terdiri para lelaki jompo, ulama, kaum wanita dan anak-anak, kemudian jenazah tersebut mereka bakar pada hari I’edhul Adha atau beberapa hari sebelumnya. Dalam pembantaian itu ada anak laki-laki berusia dua belas tahun bersembunyi di bawah tempat tidur.

Orang-orang Rusia masuk ke dalam rumah dan menggeledah isinya. Secara kebetulan mereka mendapati Mushaf Al Qur’an, lantas mushaf tersebut dibanting dengan keras sebagai penghinaan atasnya. Tiba-tiba anak yang bersembunyi tadi bergerak dari bawah tempat tidur dan keluar ke depan Rusia yang membanting mushaf tadi dan memegang erat mushaf tersebut dengan kedua tangannya. Lantas dia berkata, “Ini adalah kitab Rabb kami, kitab ini adalah kemuliaan dan syiar kami.”

“Buang kitab itu!” perintah syetan tersebut.

Maka dia menjawab, “Meski engkau potong-potong tubuhku, demi Allah aku tidak akan melepaskannya dari tanganku.” Karena hormatnya anak tersebut kepada agama ini, maka si Rusia pun menghormati anak tersebut. Lantas dia sembelih semua yang ada dalam rumah dan membiarkan anak tersebut tetap hidup.

Betapa banyak rumah tangga yang tidak tersisa di dalamnya kecuali seorang anak kecil saja. Ibu-ibu dibunuh, bapak-bapak dibunuh, pemuda-pemudi disembelih dan yang lain hilang di bawah reruntuhan tanah akibat bombardir pesawat tempur musuh. Berita-berita semacam ini tidak disebarkan di dunia Islam. Yang tersebar justru perselisihan yang terjadi antara dua atau tiga orang yang hidup di Peshawar. Padahal mujahidin meninggalkan lembaran-lembaran sejarah yang bersinar. Lembaran sejarah umat manusia yang penuh dengan pengorbanan darah, nyawa dan tulang-belulang.

Sebuah nasehat dari Syaikh Abdullah Azzam kepada para mujahidin yang ingin berkhidmat untuk jihad Afghan ini layak kita renungkan. Sebenarnya bukan terbatas pada waktu itu, namun bisa menjadi pembelajaran sepanjang zaman dan di berbagai bumi jihad.

Pertama : Janganlah kita membawa perpecahan dan perselisihan ke bumi Afghan. Cukuplah mereka menghadapi musibah, problema-problema serta perselisihan di antara mereka sendiri. Tanah ini bukan tanah kita dan kawasan ini bukan kawasan kita. Maka hendaknya kita mengangkat tinggi syi’ar ini dan hendaklah kita semua menyatukan visi berupa “BERKHIDMAT KEPADA JIHAD”. Adapun perselisihan kecil di antara kita, yakni khilaf dalam cabang-cabang Fiqih (masalah furu’iyah), atau perselisihan dalam hal cara pengamalan, apakah diambil dari madzhab ini atau dari madzhab itu, maka perkara-perkara ini harus dikesampingkan di medan perang ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatukan orang-orang yang rela berkorban demi membela dien ini dengan sebuah mizan, mizan kebaikan dan kesalahan. Ketika diketahui bahwa Ibnu Abi Balta’ah mengirim surat (memberitahu) kepada kaum musyrikin Quraisy tentang rencana Nabi menyerang mereka, ‘Umar bangkit dari tempat duduknya dan berkata dengan lantang, “Izinkanlah saya ya Rasulullah, untuk memenggal leher orang ini. Sungguh dia telah berbuat nifak.”

Beliau bersabda, “Tidakkah engkau tahu wahai ‘Umar bahwa dia ikut serta dalam peperangan Badar. Boleh jadi Allah telah melihat (hati) para ahli Badar, lalu Dia berfirman : “Berbuatlah sekehendak kalianmu, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu”.(HR. Al Bukhari)

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memilih amal terbaik dari sahabat ini sebagai dasar pertimbangan untuk meredam gejolak kemarahan dalam hati ‘Umar dan para sahabat yang lain.

Marilah kita bertemu di dalam syi’ar “Kami ingin berkhidmat kepada jihad”, dan marilah kita bertemu di dalam syi’ar lain “Meninggalkan perselisihan”,tolong menolong dalam masalah yang pokok dan meninggalkan perselisihan dalam masalah cabang (furu’). Kita semua datang untuk berkhidmat kepada dien ini dan keluar dari negeri kita, berhijrah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

وَمَن يَخْرُ‌جْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرً‌ا إِلَى اللَّـهِ وَرَ‌سُولِهِ ثُمَّ يُدْرِ‌كْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُ‌هُ عَلَى اللَّـهِ ۗ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah”. (QS. An Nisaa: 100)

Kedua : Kita bertemu untuk berkhidmat kepada jihad. Dan masing-masing bekerja di bidangnya sendiri-sendiri. Masing-masing dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya. Sebagaimana kalian semua tidak membuat penilaian atas penguasa di negeri kalian (penguasa di negeri kalian tidak lebih baik dari para pemimpin jihad), maka yang demikian itu tidak selayaknya kita menilai pemimpin jihad tersebut dengan pengamatan dan wawasan politik yang ada.

Ketiga : Kita datang dengan tujuan mengambil yang baik dari suatu kaum dan meninggalkan hal-hal yang buruk. Kita bermaksud mengambil hal-hal positif yang membangkitkan harapan dalam hati. Dan betapa banyaknya hal-hal yang positif itu, betapa sedikitnya hal-hal yang negatif itu. Maka janganlah kalian sibuk menghitung-hitung aib kaum muslimin.

“Wahai segenap orang yang hanya beriman di bibir sedangkan iman belum merasuk ke dalam hatinya. Janganlah kamu sekalian meggunjing kaum muslimin dan jangan pula mencari-cari aurat mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aurat saudaranya muslim, maka Allah akan mencari-cari auratnya dan barangsiapa yang Allah mencari-cari auratnya, maka Dia akan menelanjangi auratnya itu meski di dalam rumahnya sendiri.”( Shahih Al jami’ Ash Shaghir : 7984)

Jadi, tiga poin inilah yang dinasihatkan Syaikh Abdullah Azzam kepada siapa saja yang ingin terlibat dalam jihad Afghan dan mungkin poin-poin ini dapat kita apresiasikan jika kita siap berkecimpung dalam kancah jihad dimanapun itu medannya. Misalnya di dalam jihad Syam yang belakangan ini benar-benar menjadi sorotan utama. Kita lihat bagaimana terjadi kesalahpahaman di antara para mujahidin hingga menimbulkan beberapa tragedi dan syubhat. Semestinya hal ini tidak perlu terjadi jika mereka disatukan dalam niat dan tujuan untuk memerangi Syiah Nushairiyah dan antek-anteknya. Apalagi AS telah menggaungkan perang melawan segenap mujahidin di Suriah. Semestinya para mujahidin bersatu untuk menghadapi musuh bersama ini, yaitu AS dan koalisi bentukannya.

Untuk kita yang belum mempunyai kafa’ah untuk melangkahkan kaki menuju medan jihad, marilah kita realisasikan nasihat-nasihat dari tokoh jihad global ini. Mari kita praktikan dalam dunia dakwah sebagai rintisan menuju jihad sebagai wasilah untuk meninggikan kalimat-Nya. Sungguh, menjadi tugas seorang muslim untuk memperjuangkan dien Islam sesuai dengan kemampuannya. Allah pasti membalas semua yang kita kerjakan untuk memuliakan dien-Nya ini. Wallahu a’lam bi showab.

Disarikan dari buku Tarbiyah Jihadiyah Syaikh Abdullah Azzam Kitab 1 Bab At-Tadhiyah wal Ghada

Oleh: Dhani el-Ashim


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s