KU TEMUKAN CINTA DENGAN RASA MALU

Rasa malu adalah akhlak seorang wanita.
~

Kisahnya berawal dari sumber mata air sebuah negeri bernama Madyan. Di sana ada seorang laki-laki yang gagah nan perkasa sedang duduk berlelah di bawah pohon berdaun kecil.

Musa.

Nama laki-laki itu adalah Musa.

Lelahnya belum hilang. Keringatnya masih basah mengalir. Nafasnya memburu. Perutnya melilit oleh rasa lapar yang amat sangat.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Musa berjalan dari negeri Mesir ke negeri Madyan tanpa bekal makanan, kecuali sayur dan daun-daun pepohonan. Musa berjalan tanpa alas kaki. Karena ketika sampai negeri Madyan, rusak sudah sepasang sandalnya. Musa duduk di tempat yang teduh dan ia adalah makhluk pilihan Allah. Perutnya melekat ke punggungnya karena lapar. Dan hijau sayuran tak berguna bagi perutnya, Musa membutuhkan makanan.”

Ketika berteduh di bawah pohon, Musa melihat sekelompok manusia yang sedang meminumkan ternaknya. “Ketika mereka telah selesai,” demikian papar Abu Bakar Ibnu Syaibah dari ‘Umar bin al-Khaththab r.a di dalam Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Qashash: 23-24 “mereka hendak mengembalikan batu besar (sebagai penutup sumur) itu ke sumur tersebut dan tidak ada yang mampu mengangkatnya kecuali oleh 10 orang laki-laki.”

Kemudian Musa melihat dua wanita yang sedang menahan binatang ternaknya.

Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat seperti itu)?”
Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (QS. 28: 23)

Musa.

Dalam lelah payahnya di negeri yang tak dikenali. Dalam lapar hausnya yang menguras energi. Musa masih sanggup menawari. Musa bantu kedua gadis Madyan itu.

Dari sinilah Musa disifati oleh salah seorang gadis itu sebagai orang yang kuat. (QS. 28: 26)

Musa kemudian mendatangi batu tersebut dan mengangkatnya seorang diri. Padahal bagi penduduk setempat, batu tersebut hanya dapat diangkat oleh 10 lelaki kuat.

Setelah Musa memberikan minum seember air yang mengenyangkan bagi kambing-kambing kedua wanita tersebut. Musa kembali meneju teduhannya.

Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdo’a: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. 28: 24)

“Lagi-lagi Musa membuktikan kekuatannya,” demikian tulis Salim A. Fillah di dalam buku Lapis-Lapis Keberkahan, “bahwa pria perkasa tidak mengharapkan imbalan dan ganjaran dari manusia.”

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari ‘Atha bin as-Saib, ia berkata: “Ketika Musa berdo’a: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,’ wanita itu lantas mendengarnya.”

Dalam kebaikan, ada alur yang Allah kehendakkan. Dia selalu membersamai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sampai di sini, kita telah belajar banyak hal dari Nabi Musa ‘alayhissalam.

Musa tidak tergoda untuk melampui batas niatnya untuk menolong gadis Madyan.

Musa dalam keterasingan memasrahkan kebaikan kepada Allah semata.

Musa mengajarkan adab dalam berdo’a.

Musa mengajarkan segalanya.

~

Sekarang, kita akan belajar cinta dalam rasa malu kepada gadis Madyan dalam surah Al-Qashash ini.

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, (QS. 28: 25)

Inilah jalan wanita terhomat. Tak centil, tak merayu, tak menggoda.

Sebagaimana diriwayatkan dari Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab r.a., ia berkata: “Dia datang dengan menutupkan pakaiannya ke wajahnya.”

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Amr bin Maimun berkata, ‘Umar bin al-Khaththab r.a., ia berkata:“Dia datang berjalan dengan malu-malu dengan menutup pakaian ke wajahnya, dia bukanlah tipe wanita yang amat berani bukan pula wanita yang sering keluar rumah.”

Sanad shahih.

Gadis tersebut berjalan malu-malu. Menyingkapkan sebahagian pakaiannya tuj menutup muka. Sementara Musa dengan sigap menundukkan pandangannya. Lalu gadis tersebut berkata:

“Sesungguhnya ayahku memanggilmu, agar beliau dapat memberi balasan terhadap kebaikanmu yang telah memberi minum ternak kami.” (QS. 28: 25)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa hal ini merupakan sikap beradab dalam bertutur kata, dimana gadis tersebut tidak memintanya secara mutlak, yang tidak menimbulkan rasa curiga.

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai siapa ayah gadis tersebut. Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat, salah satunya berpendapat bahwa ayahnya itu adalah Syu’aib ‘alayhissalam, seorang Nabi yang diutus kepada penduduk Madyan. Inilah pendapat yang mahsyur di kalangan banyak ulama. Juga dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri dan selainnya.

Musa kemudian memenuhi permintaan ayah gadis tersebut. Menujulah mereka ke rumah Nabi Syu’aib.

Ketika si gadis berjalan di depan. Musa mencegah. Maka dari sinilah, gadis tersebut mensifati Musa sebagai orang yang terpercaya. (QS. 28: 26)

“Berjalanlah di belakangku,” sahut Musa, “dan berilah isyarat terhadap arah yang mau kita tuju.” tulis Salim A. Fillah di dalam bukunya Lapis-Lapis Keberkahan. “Sungguh memang, betapa terpercaya lelaki muda yang tetap menjaga pandangannya, pada gadis asing jelita, yang mendatanginya untuk kemudian berjalan hanya berdua.”

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Syuraih al-Qadhi, Abu Malik, Qatadah, Muhammad bin Ishaq, dan yang selainnya berkata bahwasanya ketika wanita itu berkata:“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk pekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya,” maka ayahnya berkata kepadanya, “Apa yang kamu ketahui tentang hal itu?” Wanita itu berkata: “Dia telah mengangkat sebuah batu besar yang tidak mampu diangkat kecuali oleh 10 orang laki-laki. Dan saat aku datang bersamanya, aku berjalan di depannya, lalu ia berkata kepadaku: ‘Berjalanlah di belakangku.’ Jika ia berbeda jalan denganku, ia memberikan sebuah tanda dengan batu kerikil agar aku mengetahui kemana ia berjalan.”

“Yaa Abati, wahai ayah, ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja pada kita ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. 28: 26)

Sufyan ats-Tsauri berkata dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata: “Manusia paling cerdik adalah tiga orang; Abu Bakar ketika mengangkat ‘Umar (sebagai penggantinya), majikan Yusuf ketika ia berkata: ‘Berikanlah kepadanya tempat yang baik,’ dan wanita yang mendatangi Musa ketika berkata: ‘…(QS. 28: 26)…’”

Sedari itu, berubahlah hidup Musa. Sang pelarian dari negeri Mesir menemukan tambatan hidup di rumah seorang bapak tua dari negeri Madyan.

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua anakku ini.” (QS. 28: 27)

Satu pendapat mengatakan, wanita itu adalah yang berjalan di belakang Musa.

~

Semoga secuil kisah dan ilmu ini dapat kita ambil pelajaran. Bahwa rasa malu adalah keniscayaan, bukan penghalang.

Rasa malu ada agar kita selalu pada jalur yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.

Tak terasa, kita telah belajar banyak hal dari Quran Surah Al-Qashash ayat 21 hingga ayat 28.

Banyak cara untuk mempelajari Al-Qur’an. (setapaklangkah.wordpress.com/)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s