Urgensi Adab (akhlak) menururt salafusholeh

Abu Bakar Al-Mithwa’i rahimahullah berkata: “Aku bolak-balik kepada Abu ‘Abdillah -yakni Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah – selama sepuluh tahun. Beliau membacakan kitab Al-Musnad kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satu pun hadits darinya. Aku hanya melihat kepada adab dan akhlak beliau.” (Siyar A’laamin Nubalaa’, XI/316).

Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan: “Bahwasanya majelis Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri oleh 5000 orang. 500 di antaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak, dan adab beliau.” (Ibid).

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata: “Aku mempelajari adab selama 30 tahun dan aku mempelajari ilmu selama 20 tahun. Adalah para salaf mempelajari adab, kemudian mempelajari ilmu.”

Al-Qarafi rahimahullah berkata ketika menjelaskan kedudukan adab:

“Ketahuilah bahwasanya SEDIKIT ADAB LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK AMAL. Oleh karena itulah, Ruwaiyim – seorang alim yang shalih – berkata kepada anaknya: “Wahai, anakku, jadikanlah amalmu ibarat garam dan adabmu ibarat tepung. Yakni, perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada banyak amal dengan sedikit adab.” (Al-Faruq, IV/272)

Ibu Imam Malik menekankan pentingnya belajar adab pada anaknya yang kelak menjadi salah satu dari imam mazhab terbesar ini. Imam Malik berkata, “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan akumismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”

Habib al Jalab menuturkan, “Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak, ‘Apakah sebaik-baik perkara yang diberikan kepada seseorang?’ Beliau menjawab, ‘Akal yang cerdas.” Aku bertanya, ‘Kalau tidak bisa?’ Beliau menjawab, ‘Adab yang baik.’ Aku bertanya, ‘Kalau tidak bisa?’ Beliau menjawab, ‘Saudara yang penyayang yang selalu bermusyawarah dengannya.’ Aku bertanya, ‘Kalau tidak bisa?’ Beliau lantas menjawab, ‘Diam yang panjang.’ Aku bertanya lagi, ‘Kalau tidak bisa?’ Beliau menjawab, ‘Kematian yang segera.’”

Imam asy-Syafi berkata, “Barang siapa ingin Allah membukakan hatinya atau meneranginya, hendaklah ia berkhalwat (menyendiri), sedikit makan, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh, dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki inshaf (sikap objektif) dan adab.”

Ibnu Sirin berkata, “Para Salaf mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

Al Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki keluar untuk menuntut ilmu adab baginya selama dua tahun, kemudian dua tahun.”

Habib bin asy-Syahid mengatakan kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab dari ilmu.”

Mukhallad bin al-Husain berkata kepada Ibnul Mubarak, “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits.”

 

Abu Bakar al-Mithwa’o menuturkan, “Aku bolak-balik kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) selama 10 tahun. Beliau membacakan kitab karyanya, al-Musnad, kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satu pun hadits darinya. Aku hanya melihat pada adab dan akhlak beliau.”

Adz-Dzahabi menyebutkan, “Majelis Imam Ahmad dihadiri oleh lima ribu orang. Lima ratus di antaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak, dan adab beliau.”

Ibnul Mubarak berkata.

Sekian lama aku telah menempa diriku

Dan adab adalah yang terbaik baginya setelah takwa

Adab itu sangat penting dalam segala kondisi

Bahkan ia lebih baik daripada menahan rasa dari dusta

Juga lebih baik daripada menahan lidah dari ghibah

Dan ghibah memang diharamkan Allah di semua kitab-Nya

Aku katakan pada diri ini “Taatlah” dan kupaksa ia untuk itu

Ketahuilah, kesantunan dan ilmu adalah perhiasan orang terhormat

Wahai jiwaku, seandainya ucapanmu itu seperti perak

 

“Sanad Akhlak”

IMAM QAHDI IYADHL AL MALIKI menyebutkan bahwa Abu Ali Ats Tsaqafi mengambil akhlak dari prilaku Muhammad bin Nashr Al Marwazi hingga perlu bermukim di Samarkand selama 4 tahun.

 

Sedangkan Muhammad bin Nashr mengambil dari Yahya bin Yahya, kemudian Yahya mengambil dari Imam Malik hingga bermukim bersama Imam Malik selama setahun setelah beliau mengambil periwayatan hadits.

 

Tatkala ada yang bertanya mengenai hal itu, maka Yahya bin Yahya menjawab,”Sesungguhnya aku bermukim dalam rangka mempelajari akhlaknya, sesungguhnya akhlaknya mencerminkan ahklak sahabat dan tabi’in.” (Tartib Al Madarik, 1/117)

Dengan demikian, tidak hanya ilmu fiqih atau periwatan hadits yang “bersanad”, mempelajari akhlak pun demikian, sehingga tidak cukup teori tapi perlu belajar melalaui “model hidup” dan ini perlu lama berinteraksi dengan ulama untuk mempelajari akhlak mereka.

 

khlak Ahlul Hadits

AL KHATIB AL BAGHDADI ketika membahas mengenai adab dan akhlak mereka yang menuntut hadits mengisahkan mengenai adap perawi yang bernama Ali bin Shalih bin Hayyi dan Al Hasan bin Shalih bin Hayyi.

 

Ali dan Al Hasan ini merupakan saudara kembar, hanya saja Ali lahir sesaat lebih dulu daripada Al Hasan. Al Hasan pun amat menghormatinya meski usia mereka hampir sama.

 

Al Hasan pun tidak pernah memanggil Ali dengan namanya, namun dengan kuniyahnya yakni Abu Muhammad. Jika Al Hasan duduk bersama Ali, maka Al ia tidak duduk di sampingnya, namun duduk lebih rendah dari posisi sang kakak. Al HAsan sangat hormat kepada Ali, meski umur Ali lebih tua sesaat! (Al Jami’ li Al Ikhlak Ar Rawi wa Adab As Sami’, 1/171)

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s