Beginilah Sikap Muslim Terhadap Orang Miskin

Di antara perbedaan yang sangat menonjol antara ajaran Islam dengan selainnya adalah cara Islam menilai kedudukan seorang manusia. Manusia yang tidak memahami hakikat Allah dan dirinya akan menilai derajat orang lain sebatas pada kekayaan yang dimilikinya.

Tetapi, Islam sama sekali tidak memandang manusia pada atribut dhohirnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَباكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بالتَّقْوَى، أَبلَّغْتُ؟ “، قَالُوا: بلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ

Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang ‘Arab atas orang ‘Ajam (non-‘Arab), tidak pula orang ‘Ajam atas orang ‘Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketaqwaan. Apakah aku telah menyampaikannya ?”. Mereka menjawab : “Rasulullah telah menyampaikannya…..” [Shahih. HR. Ahmad]

Oleh karena itu, keadilan, kesamaan hak di hadapan hukum dan seluruh bidang kehidupan antara orang miskin dan orang kaya, pejabat dan rakyat, semuanya sama.

Pernah suatu ketika Amr bin Ash menjalankan program pengembangan pembangunan kantor gubernur di Mesir. Ternyata, upaya pembangunan kantor tersebut terkendala oleh sebuah rumah reot milik seorang Yahudi.

Entah kenapa si Yahudi tetap pada pendiriannya, tidak mau rumah miliknya dibebaskan apalagi digusur demi pembangunan kantor gubernur. Amr bin Ash pun mengambil tindakan seperti awal, melanjutkan pembangunan dan berencana menggusur rumah si Yahudi itu baik setuju maupun tidak.

Menyadari hal tersebut, Yahudi itu merasa dirinya diperlakukan tidak adil. Tanpa pikir panjang, ia pun bergegas ke Madinah menemui Khalifah Umar bin Khathab guna mencari keadilan atas apa yang telah dialaminya. Si Yahudi pun menghadap amirul mukminin kedua itu dan dari ayah Hafshah itu, Yahudi kembali ke Mesir dengan membawa tulang yang digoreskan garis lurus oleh Umar bin Khathab.

Setiba di Mesir, Yahudi itu pun bergegas menemui Amr bin Ash dan menyampaikan perihal tulang yang dipesankan Umar bin Khathab untuk dirinya. Melihat itu, keringat dingin bercucuran dari tubuh Amr bin Ash disertai badan yang bergetar hebat. Sejurus kemudian, Amr bin Ash mencabut intruksi penggusuran rumah Si Yahudi.

Demikianlah sekelumit sikap pemimpin Muslim terhadap orang miskin, meskipun orang miskin itu bukan seorang Muslim. Keadilan dan kesamaan hak di depan hukum sangat dihormati dan dimuliakan. Hal ini karena Islam sebagai ajaran tidak menempatkan kemuliaan atas atribut kebendaan. Dan, secara langsung Rasulullah amat sayang dan cinta kepada orang-orang miskin.

Rasulullah bersabda:

وعن أُسامَة رضي اللَّه عنه عن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « قُمْتُ عَلَى بابِ الْجنَّةِ ، فَإِذَا عامَّةُ مَنْ دخَلَهَا الْمَسَاكِينُ ، وأَصْحابُ الجَدِّ محْبُوسُونَ غيْر أَنَّ أَصْحاب النَّارِ قَدْ أُمِر بِهِمْ إِلَى النَّارِ . وقُمْتُ عَلَى بابِ النَّارِ فَإِذَا عامَّةُ منْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ » متفقٌ عليه .

Dari Usamah ra., Nabi bersabda : ” Aku berdiri di pintu surga, sedangkan yang aku lihat masuk ke dalamnya kebanyakan orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya itu masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Orang-orang yang ahli neraka telah diperintah masuk neraka. Dan berdiri dipintu neraka, ternyata kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah perempuan.” (Muttafaq’Alaih)

Hadits ini menceritakan bagaimana kelak keadaan orang-orang miskin yang taat kepada Allah, dimana mereka mendapat kesempatan lebih awal masuk surga di banding orang-orang kaya karena ringannya hisab yang mereka alami. Sedangkan orang-orang kaya tertahan lebih lama karena panjangnya hisab kekayaan yang mereka peroleh dan kemana dibelanjakan.

Jadi, mengapa kita mesti memandang orang miskin dengan kehinaan, sedang jika ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kelak mereka akan lebih awal masuk surga.

Selain itu, penting juga dicatat, hadits ini tidak berarti menjadi rekomendasi bahwa umat Islam harus hidup miskin. Jelas ini bukan perintah yang demikian. Sebab dalam Islam ada perintah zakat dan sedekah. Artinya, memiliki harta adalah kesempatan mempercepat diri mendapat ridho-Nya yang secara sosial juga menciptakan keharmonisan kehidupan kemasyarakatan.

Oleh karena itu, kemiskinan dalam Islam bukan sebuah fakta yang bebas dieksploitasi dan dimarginalkan dalam tatanan kehidupan. Sebaliknya, adanya orang-orang miskin itu adalah kesempatan emas kita yang diberikan kecukupan rizki dalam bentuk kekayaan untuk juga meraih kemuliaan dari sisi-Nya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ لِلْمَسَاكِيْنَ وَ تَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَ مَنْ لَمْ تَعْرِفْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Engkau memberi makan orang miskin dan memberi salam kepada orang yang kau kenal maupun tidak kau kenal.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Bahkan, Rasulullah sampai memberikan suatu hadits yang berisi pelajaran amat berarti bagi para pemimpin.  “Sebusuk-busuk makanan, adalah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya dan meninggalkan orang fakir miskin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, jika sebuah tempat, daerah atau kota dengan sengaja orang miskinnya dipinggirkan, dianiaya, dikebiri hak-haknya, dengan beragam alasan yang dibuat-buat, maka sungguh Allah dan Rasul-Nya akan sangat murka.

Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah akan memberikan siksaan berat kepada orang-orang yang menyiksa orang-orang lemah.” (HR. Muslim)

Orang Miskin dalam Islam

Subhanallah, betapa hebat dan indahnya ajaran Islam. Sejauh mereka umat Islam yang benar-benar teguh imannya, kemiskinan tidak akan membawa mereka pada perilaku hina dengan meminta-minta kepada manusia.

“Bukannya seorang miskin yang keliling meminta-minta hingga tertolak dari satu dua biji kurma atau satu dua suap makanan. Tetapi orang miskin yang sesungguhnya adalah yang tidak mempunyai sesuatu yang mencukup kebutuhannya, dan tidak diingati (mencari perhatian) orang untuk disedekahinya, dan tidak keluar meminta-minta pada orang.” (HR. Bukhari Muslim).

Kemiskinan dalam Islam bukanlah hal hina. Oleh karena itu, mari kuatkan kepedulian kita terhadap sesama, terutama terhadap hamba-hamba Allah yang diuji dengan kemiskinan. Kita jangan sampai tertipu merasa diri lebih disayang Allah hanya karena segala benda kita punya. Andai pun itu ada dalam genggaman kita, membantu mereka adalah langkah cerdas untuk selamat dunia-akhirat.

Rasulullah bersabda, “Orang yang berusaha membantu para janda dan orang miskin, bagaikan orang yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari Muslim).

Dan, termasuk pendusta agama adalah orang yang tidak memberikan perhatian kepada orang-orang miskin. Padahal, di dalam diri orang miskin ada berkah yang sangat besar bila kita ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka. Dan, perlu dicatat, doa orang-orang miskin yang terzalimi sangat makbul; ampuh dan dijawab langsung oleh Allah Ta’ala.

أَرَءَيۡتَٱلَّذِىيُكَذِّبُبِٱلدِّينِ (١) فَذَٲلِكَٱلَّذِىيَدُعُّٱلۡيَتِيمَ (٢) وَلَايَحُضُّعَلَىٰطَعَامِٱلۡمِسۡكِينِ (٣)

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (QS. Al-Ma’un [107]: 1 – 3). Wallahu a’lam.*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s