Lapang Menerima Nasehat

“Bila kalian ingin melihat seorang syahid yang masih hidup, maka lihatlah Thalhah (bin Ubaidillah).” Demikian sabda Rasulullah SAW setelah berakhirnya perang Uhud yang membuat kaum muslimin pilu.

Di perang itu, kesetiaan Thalhah pada Rasulullah mengalami puncaknya. Dialah yang melindungi Rasul saat musuh gencar menyerangnya, sampai-sampai tersiar kabar Beliau SAW telah wafat. Akibat perang tersebut, selain mendapat seratus lebih luka, Thalhah menjalani sisa hidupnya dengan tubuh yang pincang. Pujian Rasul rupanya membuat penyakit bersemayam dalam hati Thalhah. Tak banyak yang menyadari, termasuk dirinya sendiri.

Adalah Umar bin Khattab ra -dalam beberapa kasus firasatnya selalu mendekati kehendak Allah- yang mengungkapnya. Menjelang wafat, Umar mengumpulkan pemuka Sahabat, kandidat pengganti dirinya sebagai khalifah, termasuk Thalhah.

Di depan mereka, Umar berkata, “Wahai Thalhah, engkau salah satu penghuni surga. Bagaimana aku mengingkarinya sementara Rasulullah mengatakan engkau syahid yang masih hidup. Namun sejak Rasulullah bersabda demikian, aku melihat al-kibr (rasa lebih tinggi dari yang lain) selalu berada dalam hatimu.” Thalhah tersentak, para sahabat pun terpana.

Marahkah Thalhah? Tidak. Dengan kerendahan hati dan kesadaran penuh, ia menangis di depan para sahabatnya, berterima kasih kepada Umar yang telah mengingatkannya, dan menyesali mengapa baru sekarang penyakit hatinya terungkap.

Apa kira-kira reaksi kita jika berada dalam posisi Thalhah? Mungkin kita langsung menolak, mengatakan kita tidak seperti itu karena memang tidak merasa begitu. Mungkin ada yang memandang nasehat itu sebagai upaya mempermalukan dirinya karena disampaikan di depan banyak orang dan yang dinilai adalah urusan hati. Mungkin juga ada yang menyikapinya dengan rendah diri hingga menganggap dirinya begitu hina, kemudian membenci pemberi nasehat dan mengubah sikap terhadapnya.

Namun Thalhah mengajarkan kita cara luar biasa menyikapi nasehat. Ia justru menunjukkan kemuliaan hatinya. Nasehat dari Umar ia anggap bukan pengungkapan aib, melainkan peringatan yang bisa jadi ia tak menyadarinya selama ini.

Thalhah berterima kasih karena Umar telah mengingatkannya. Ia tahu, itulah wujud cinta Umar kepadanya. Ia menangis karena selama ini betul-betul tak menyadari kekurangan dirinya. Sesudah itu, Thalhah beraktivitas seperti biasa, namun demi memperbaiki diri dan memohon ampunan Allah ia memperbanyak ibadah dan sedekah.

Sikap Thalhah ini tentu memudahkan kita untuk membiasakan bertawashau (saling menasehati) sebagaimana perintah Allah di surat Al-Ashr. Reaksi sebaliknya malah akan mempersulit kita merealisasikan perintah Allah itu. Maka, lapang menerima nasehat merupakan cermin dari kesehatan dan kebersihan hati dan jiwa kita. Wallahu a’lam

 

Sumber : Majalah Ummi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s