Kisah Utsman bin Talhah: Mendahulukan Cinta dari Kebencian

Ketika Nabi berhijrah dari Mekah ke Madinah, kunci Ka’bah di Mekah dipegang Utsman bin Talhah—yang kala itu belum memeluk Islam. Kunci tersebut telah dipegang oleh keluarganya selama beberapa generasi.

Suatu hari Nabi meminta kunci itu kepada Utsman, tapi ia menolak memberikannya dan berkata kasar kepada Nabi. Beliau mendengarkan perkataan Utsman sampai selesai, lalu Nabi berkata: “Utsman, semoga kau terus hidup sampai pada hari ketika aku memegang kunci tersebut di tanganku. Aku akan mempunyai hak untuk memberikannya kepada siapa pun yang kukehendaki.”

Utsman kala itu tidak percaya dengan kerasulan Nabi Muhammad. Karena itu, dia tidak akan membuka pintu Ka’bah.

Ali bin Abi Thalib akhirnya berhasil merebut kunci Ka’bah dari tangan Utsman. Ali lalu membuka pintunya dan Rasulullah pun masuk ke dalam Ka’bah. Seiring dengan kedatangan Rasulullah, orang-orang Mekah kemudian banyak yang masuk Islam.

Ketika kunci tersebut telah benar-benar berada di tangan Nabi, Rasulullah kemudian memerintahkan Ali agar mengembalikan kunci itu kepada Utsman dan berpesan agar Ali meminta maaf karena sudah merebutnya dari tangan Utsman.

Ali pun menghadap Utsman seraya berkata, “Ya Utsman, ini kuncinya. Dan kami menyampaikan permohonan maaf karena kami salah telah merebut kunci itu darimu.” Ustman pun kaget bukan kepalang.

Ali mengatakan bahwa sudah turun ayat Al-Quran dari Allah yang memerintahkan agar kunci itu dikembalikan kepada pemiliknya. Karena itu, kunci tersebut dikembalikan kepada Utsman. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa:58).

Mendengar penjelasan Ali, Utsman bin Talhah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat, menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasul-Nya.

 

Kisah Umar bin Khattab: Mengkritik Tanpa Melukai

 

Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menurunkan Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai Gubernur Syiria. Nashirah bin Sahmi meriwayatkan, Khalifah Umar memberikan khotbah di Jabiya, menjelaskan keputusannya itu.

“Aku memerintahkan agar kekayaan negara dipelihara untuk para pendatang miskin, tapi dia (Khalid bin Walid) membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berstatus tinggi dan yang memuji-mujinya. Itu sebabnya aku bebas tugaskan dia dan kutunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menggantikannya.”

Abu Amr bin Hafs, kerabat Khalid, yang hadir ketika itu, tiba-tiba melompat sampai ke kaki Umar dan berkata, “Demi Allah, tidak ada pembenaran atas tindakan menggusur seseorang yang ditunjuk oleh Rasulullah sendiri, sebagaimana tidak ada alasan menyarungkan pedang yang telah dihunus Nabi, ataupun meletakkan bendera yang telah ia tegakkan. Engkau perlakukan kerabatmu sendiri dengan motif balas dendam.”

Umar mendengarkan ucapan Abu Amr hingga selesai. Kemudian ia menjawab dengan lemah-lembut: “Engkau adalah kerabat Khalid, dan kau masih sangat muda. Kau bela dia mati-matian semata-mata karena dia adalah anak pamanmu.”

Sumber: Disunting dari buku Buku Kecil Kearifan Islam – Kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat yang Penuh Ilham dan Mencerahkan/ Maulana Wahiduddin Khan (Puslaka Alvabet, 2005)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s