Jalan Dakwah, Bukan Pilihan Mudah

Kita adalah apa yang sudah dipilih di masa lalu.” Begitulah ucapan dari Ustaz Felix Siauw, seorang muallaf yang menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk Islam; untuk Allah. Memang ucapan beliau bisa jadi benar adanya. Jika sekarang di antara kita ada yang menjadi mahasiswa misalnya, alasannya karena dulu kita memilih untuk kuliah. Ah, bukan, saya dipaksa orang tua untk kuliah. Memang benar jika dilihat secara sepintas seperti dipaksa, padahal pada hakikatnya kita sudah memilih untuk taat pada paksaan orang tua untuk kuliah.
Kebebasan memilih adalah nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Kita bebas memilih kita mau jadi apa, menikah dengan siapa, punya cita-cita apa, dan sebagainya. Bahkan yang kita beriman pun adalah sebuah pilihan.

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Q.S. Al-Kahf [18] : 29).

Hidup adalah pilihan. Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi orang yang baik atau buruk. Mau menjadi ustaz atau preman, atasan atau bawahan, semua itu tergantung kepada pilihan kita. Jika kita ingin menjadi orang yang baik, maka mintalah kepada Allah supaya diberi kemudahan untuk berproses menjadi orang yang baik, kemudian berazam (bertekad), lalu berikhtiar sekuat tenaga memperbaiki diri menjadi Muslim yang lebih baik. Jika pilihan ini kita kaitkan dengan dakwah, maka siapa saja yang memilih jalan dakwah ini, dia akan menghadapi tantangan yang malang melintang yang menghalangi tujuan dakwah; mengajak kembali supaya manusia beriman kepada Allah.
Dakwah memang bukan pilihan mudah, masih sedikit orang-orang yang mau mengambil jalannya. Banyak di antara kita yang masih enggan untuk mengambil jalan ini, mengapa? Berikut ada beberapa asumsi-asumsi yang mengganjal pada diri seorang Muslim untuk mengambil jalan dakwah sebagai wadah berjuang demi tagaknya Islam.
Pertama, tidak mau (atau belum mau) dakwah. Ada sebuah peribahasa yang mengatakan “Nak seribu daya, tak nak seribu dalih.” Dalam Bahasa Indonesia berarti jika mau maka dia akan mengeluarkan seribu daya, jika dia tidak mau maka dia akan membuat seribu alasan. Jika kemauannya kuat untuk dakwah, pasti dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menegakkan Islam.
Kedua, merasa belum pantas. Memang dakwah ini “menuntut” kepantasan dari seseorang dalam menyampaikan Islam kepada orang lain. Kepantasan di sini di antaranya adalah kepantasan ilmu dan kepantasan akhlak. Karena seorang aktivis dakwah selain berkewajiban menyampaikan Islam juga dia berkewajiban menjalankan syariat lebih dari orang lain, mengapa? Karena sebagai contoh bagi masyarakat yang sedang atau akan didakwahi.
Ketiga, merasa belum siap. Hampir sama seperti alasan ketiga di atas. Merasa belum pantas di sini adalah ilmunya dan akhhlaknya yang dirasa belum sesuai dengan Al-Quran dan sunah.
Ketiga alasan ini mungkin bisa jadi sebuah alasan yang logis. Dakwah membutuhkan kesiapan dan kepantasan seorang Muslim untuk kemudian Islam disampaikan kepada orang lain. Namun, pola pikir yang harus kita ubah adalah, seorang aktivis dakwah itu bukanlah orang yang salih secara sempurna, tapi orang yang ingin salih dengan cara mendakwahkan Islam kepada orang lain. Karena dengan berdakwah, maka seorang Muslim akan mempunyai tuntutan kepada diri sendiri untuk melakukan apa yang akan dia dakwahkan.
Alasan tidak mau dakwah, harus dipahamkan dulu akan pentingnya berdakwah. Bayangkan jika tidak ada yang berdakwah, bagaimana keadaan masyarakat nanti? Bagaimana mungkin nilai-nilai Islam bisa sampai kepada manusia jika tidak ada yang berdakwah kepadanya? Bagaimana masyarakat akan menjadi maju peradabannya jika tidak ada yang mau berdakwah? Bahkan, dakwah adalah salah satu perintah Allah.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran [3] : 104).

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl [16] : 125).

Allah pun menyebutkan keutamaan orang yang berdakwah di jalan-Nya.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Q.S. Fushshilat [41] : 33).

Untuk yang alasannya karena merasa belum siap atau belum pantas. Saya pernah bertanya kepada seorang ustaz, “Dalam berdakwah, apa kita harus menunggu menjadi baik dulu?”. Kemudian beliau menjawab dengan pertanyaan, “Apa setelah menjadi baik, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk berdakwah?”. Dari sini beliau menjelaskan bahwa untuk berdakwah tidak harus menjadi baik dulu, dakwah dan proses perbaikan diri dilakukan berbarengan. Kita berdakwah sambil kita memperbaiki diri dengan apa yang kita dakwahkan. Karena mungkin bisa jadi Allah tidak memberi kita kesempatan (khususnya kesempatan hidup) berdakwah jika dakwah ditunda-tunda.
Dakwah bisa diibaratkan sebagai “panggung pertunjukan”. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa kita hanya akan menjadi penonton saja, atau menjadi aktor dalam dakwah? Pastinya, aktor inilah yang mempunyai banyak “bayaran” (berupa pahala dan ampunan dari Allah), sedangkan para penonton membayar tiket dan hanya duduk-duduk menanti kemenangan Islam. Mana yang lebih beruntung, penonton ataukah aktor?
Jalan dakwah bukan pilihan mudah. Di dalamnya kita akan menemui tanjakan yang berbatu, bahkan berduri. Bukan hanya batu dan duri, di jalan ini ada lubang yang bisa membuat kita terperosok jatuh ke dalamnya. Pengorbanan jiwa, raga, harta dan waktu harus kita lakukan untuk menempuh jalan ini. Sulit memang, namun di balik tanjakan ini ada turunan yang menanti berupa janji Allah yang mustahil Dia ingkari.
Mari kita perjuangkan Islam dengan sekuat tenaga. Jangan takut dicela manusia, karena sesungguhnya Allah senantiasa bersama kita. Mari kita azamkan diri untuk sensntiasa siap berjuang di jalan-Nya. Apapun resikonya, Allah pasti akan memberikan pertolongan.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Q.S. Ash-Shaff [61] : 10-13).

Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s