Kesalahan Yang Menjamur Di Bulan Ramadhan

Di antara kesalahan yang umum dan bahkan menjamur di kalangan masyarakat yang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah :

A. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

“ Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” ( Qs. an-Nahl: 43 ).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِد اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُ فِي الدِّيْنِ

“ Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” ( HR. Muttafaqun ‘alaih ).

B. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan hura-hura dan bermain-main

Padahal yang seharusnya adalah menyambut bulan yang mulia tersebut dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena diberi umur bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Lalu hendaknya ia bertobat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta melakukan muhasabah nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang Hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.

C. Mengenal Allah hanya pada bulan Ramadhan saja

Sebagian orang, bila datang bulan Ramadhan mereka bertobat, shalat dan puasa. Tetapi jika bukan Ramadhan telah berlalu, mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat lagi. Alangkah celaka golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali di bulan Ramadhan. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Rabb bulan-bulan pada sepanjang tahun adalah satu jua? Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui perbuatan mereka di setiap saat dan tempat?

Karena itu, hendaknya mereka bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tobat nashuha (benar-benar tobat), meninggalkan maksiat, serta menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Selanjutnya, berkemauan kuat tidak mengulanginya di kemudian hari. Dengan demikian, insya Allah tobat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka akan diampuni.

D. Kesempatan bermalas-malasan

Anggapan sebagian orang bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malas di siang hari, bergadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka bergadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala, berhura-hura, bermain yang sia-sia, menggunjing, adu domba dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri

Sesungguhnya hari-hari bulan Ramadhan merupakan saksi taatnya orang-orang yang taat dan saksi maksiatnya orang yang ahli maksiat dan lupa diri.

E. Sedih jika Ramadhan tiba

Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Ramadhan dan bersuka cita jika keluar dari padanya. Sebab mereka beranggapan, bahwa bulan Ramadhan mengahalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekadar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu, mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain dari pada bulan Ramadhan. Padahal ia adalah bulan penuh barakah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari neraka bagi setiap muslim yang melakukan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.

F. Mengisi malam-malam Ramadhan dengan hal yang dimurkai Allah

Banyak orang yang bergadang pada malam-malam bulan Ramadhan dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung makan sahur dan tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk shalat subuh berjamaah pada waktunya. Ada banyak kesalahan dari perbuatan semacam ini:

Bergadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isya’ agar dapat ngobrol setelahnya, kecuali dalam hal perbaikan. Dalam hadits Riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Tidak boleh berbincang-bincang kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian.” ( Hadits dihasankan as-Suyuti ).

Menyia-nyiakan waktu, padahal waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Setiap orang akan menyesali setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya.

Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan sahur pada akhir malam sebelum terbit fajar.

Musibah terbesar mereka adalah tidak dapat menunjukkan shalat Shubuh berjamaah tepat pada waktunya. Betapa tidak, sebab pahala Shubuh berjamaah menyamai shalat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Barangsiapa shalat Isya’ berjamaah maka seakan-akan ia shalat separuh malam dan barangsiapa shalat Shubuh berjamaah, maka seakan-akan ia shalat sepanjang (satu) malam.” (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu).

Orang yang meninggalkan shalat Shubuh secara berjamaah tersebut berkarakter sebagaimana orang-orang munafik, mereka tidak melakukan shalat kecuali dalam keadaan malas, mengakhirkan waktunya dan tidak berjamaah. Mereka mengharamkan dirinya dari mendapatkan keutamaan serta pahala yang besar.

G. Hanya sekadar menahan lapar dan haus

Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah seperti makan, minum dan menggauli istri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara maknawiyah seperti menggunjing, adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalan, di toko, di pasar di televisi, gambar dan sebagaimanya.

Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang shalat Tarawih, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali bergadang dan payah saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلِ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“ Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” ( HR. al-Bukhari ).

H. Meninggalkan shalat Tarawih

Padahal telah dijanjikan bagi orang yang menjalankan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan shalat Tarawih berarti meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini.

Ironisnya, banyak umat Islam yang meninggalkan shalat Tarawih. Barangkali ada yang ikut shalat sebentar, lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah akhir bulan. Alasan mereka, shalat Tarawih hanya sunnah belaka.

Benar, tetapi ia adalah sunnah mu’akkadah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khulafaur Rasyidin dan para Tabi’in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia adalah salah satu bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan salah satu sebab bagi ampunan dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Orang yang meninggalkan berarti tidak mendapatkan bagian dari padanya sama sekali. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melakukan shalat Tarawih itu bertepatan dengan turunnya lailatul qadar, maka ia akan beruntung dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

I. Melalaikan shalat wajib

Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat atau hanya shalat ketika bulan Ramadhan saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat, sebab shalat adalah tiang dan pilar utama agama Islam.

J. Melakukan perjalanan agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir.

Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh, tidak tersembunyi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala tipu daya orang-orang yang suka menipu. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari yang demikian.

K. Berbuka dengan sesuatu yang haram

Seperti rokok, minuman yang memabukkan dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan atau minum dari sesuatu yang haram tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula doanya dikabulkan. (Lihat Khuthab Minbariyyah oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/381-382 dan Bulettin al-Hujjah Risalah no. 37, Tahun II, bulan Sya’ban 1420 H).

Sumber: Panduan dan Koreksi Ibadah-ibadah di Bulan Ramadhan, Arif Fathul Ulum, Majelis Ilmu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s