Nasihat Salaf dalam Menjaga Waktu

SEORANG hamba saleh Hamdun bin Ahmad rahimahullahditanya, “Mengapa ucapan salaf lebih berguna daripada ucapan kita?” Dia menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan ridha Ar-Rahman. Sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan ridha manusia.”

Salafus saleh telah menyadari mahalnya waktu dan berharganya usia, maka mereka berlomba-lomba mengisinya dengan ketaatan. Mereka mendorong dan memberi nasihat kepada saudara-saudara mereka kaum muslimin, semata-mata sebagai wujud pelaksanaan terhadap kewajiban nasihat kepada kaum muslimin secara umum dan khusus. Maka nasihat-nasihat mereka diliputi kebenaran dan keikhlasan, didasari oleh keinginan terhadap kebaikan bagi orang lain.

Marilah kita sama-sama menelaah sebagian kata-kata indah dan nasihat-nasihat emas mereka:

Dari Abdullah bin Abdul Malik rahimahullah, ia berkata, “Kami berada di rombongan bapak kami. Dia berkata kepada kami, ‘Bertasbihlah hingga kalian sampai di pohon itu.’ Maka kami bertasbih sehingga kami mendatanginya. Apabila pohon lain telah nampak kepada kami dia berkata, ‘Bertakbirlah hingga kalian mendatangi pohon itu.’ Abdullah berkata, “Begitulah yang dia lakukan kepada kami.”

Beginilah semestinya pendidikan kepada anak.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Hai bani Adam, engkau hanyalah hari-hari. Setiap satu hari pergi, pergi pula sebagian (umur)mu.”

Renungkanlah bagaimana Al-Hasan mengatakannya dengan ‘hari-hari’, bukan ‘bulan-bulan’ atau ‘tahun-tahun’. Untuk mengingatkan kita bahwa umur itu pendek dan cepat berlalu.

Ibnul Jauzi memberi nasihat kepada anaknya, “Hai anakku, ketahuilah bahwa hari-hari membentangkan kesempatan-kesempatan. Kesempatan membentangkan hembusan-hembusan nafas. Setiap hembusan nafas adalah laci simpanan, maka jagalah agar hembusan nafasmu tidak berlalu tanpa apapun (tanpa faedah). Maka pada hari Kiamat engkau mendapati lacimu kosong, engkau pun menyesal.

Dan lihatlah kesempatan yang engkau miliki, dengan apa ia pergi? Jangan biarkan ia pergi, kecuali dengan sesuatu yang paling berharga. Jangan lalaikan dirimu. Biasakanlah ia terhadap amal yang paling mulia dan paling baik. Kirimkan ke peti kuburmu sesuatu yang membahagiakanmu pada hari engkau sampai di sana.”

Alangkah indahnya kata-kata ini. Andai saja setiap pribadi menjadikannya sebagai nasihat bagi keluarga, anak-anak, dan teman-temannya.

Dengarkanlah suara Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj rahimahullah yang berkata, “Janganlah Anda duduk dengan hampa karena maut mencarimu.”

Ahmad bin Khalaf Al-Andalusi, seorang penyair yang penuh gelora semangat, mendorong kita menjaga waktu. Dia berkata,

“Apabila aku mengetahui dengan yakin bahwa seluruh hidup seperti sesaat
Mengapa aku tidak memanfaatkannya dengan baik dan menjadikannya untuk taat kepada Tuhanku.”

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Sesungguhnya siang dan malam bekerja padamu maka beramallah Anda padanya.” Benar siang dan malam mengurangi umurmu dan mendekatkan ajalmu, maka beramallah untuk kebajikan siang dan malammu!

Seorang sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud berucap, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku terhadap satu hari yang mataharinya telah terbenam, umurku berkurang tapi amal kebaikanku tidak bertambah.” Benar, inilah kerugian hakiki yang tidak mungkin tergantikan untuk selama-lamanya. Adapun kerugian lain, maka untuk menggantikannya adalah mudah dan gampang. Bisakah kita mengambil pelajaran?*

DENGARKANLAH Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengetuk hatimu, “Tidak ada satu hari yang melewati bani Adam kecuali ia berkata, ‘Hai bani Adam saya adalah hari baru, sebagai saksi atas amalmu. Apabila saya pergi darimu, saya tidak bisa kembali kepadamu. Maka siapkanlah apa yang Anda inginkan (ketaatan), niscaya Anda akan mendapatkannya di hadapanmu (di alam kubur dan di hari Kiamat). Dan tundalah apa yang Anda inginkan, karena ia tidak akan kembali kepadamu untuk selama-lamanya (Anda tidak bisa mengganti waktu-waktu Anda yang hilang)’.”

Rabiah berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, “Anda hanyalah hari-hari yang berbilang. Apabila satu hari pergi, pergi pula sebagian dirimu. Apabila sebagian telah pergi, maka seluruhnya juga pergi. Anda telah mengetahui, maka beramallah!”

Alangkah sedihnya bila waktu pergi bukan dalam ketaatan kepada Allah. Betapa mirisnya hati atas kesempatan-kesempatan yang hanya digunakan untuk pembicaraan dan perbuatan yang tidak berguna.

Al-Mawardi rahimahullah berkata, “Umur setiap manusia mengalir ke satu titik, yang di situlah masa ajalnya habis dan buku catatan amalnya ditutup. Maka ambillah dari dirimu untuk dirimu. Lihatlah hari ini dengan cermin hari kemarin. Hentikanlah kejahatanmu. Tingkatkan kebaikanmu sebelum masa ajalmu habis dan engkau tidak mampu lagi meningkatkan usaha dan amalmu.”

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya bertemu orang-orang sufi. Saya tidak mengambil manfaat, kecuali dua kata. Pertama: Waktu seperti pedang. Apabila Anda tidak memenggalnya (memanfaatkannya), maka ia yang akan memenggalmu Kedua: Apabila Anda tidak menyibukkan dirimu dalam kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Benar, waktu tidak berdiri menjauh (menghindar). Waktu bisa menjadi nikmat untukmu, atau kesengsaraan atasmu.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Hai bani Adam, siang harimu adalah tamumu, maka perlakukan ia dengan baik (yakni, dengan memanfaatkannya untuk kebaikan). Karena apabila Anda memperlakukannya dengan baik, niscaya ia pulang dengan memujimu. Dan apabila Anda memperlakukannya dengan buruk (dengan menggunakannya untuk hal-hal haram atau tidak berfaedah), niscaya ia akan berpamitan dengan mencelamu. Begitu pula malam harimu.”

Al-Ashmu’i berkata, ‘Suatu pagi saya pergi mengunjungi salah seorang kawan. Saya bertemu dengan Abu Amru bin Al-Ala’. Dia bertanya kepadaku, ‘Hendak ke mana?’ Saya menjawab, ‘Mengunjungi teman.’ Dia berkata, ‘Lakukan apabila untuk faedah (yakni, mengkaji ilmu atau mengambil manfaat darinya), atau meja makan (yakni menghadiri walimah di mana Anda diundang), atau untuk menjenguk (yakni menjenguk orang sakit). Kalau bukan maka jangan. (Maksudnya apabila kunjunganmu dengan keperluan salah satu di antara tiga di atas maka alangkah indah dan mulianya. Tetapi apabila demi hal-hal yang tidak berguna dan ucapan-ucapan tidak bermanfaat, maka tinggalkanlah).

PARA salafus saleh mengingkari orang-orang yang membuang-buang waktu dan memacu mereka untuk memanfaatkan umur mereka. Di antaranya adalah Syuraih Al-Qadli rahimahullah yang melewati sekelompok orang yang bermain-main, berbuat iseng, dan berbicara tanpa manfaat.

Dia bertanya kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami sedang menikmati waktu luang.” (Yakni, kami memiliki waktu luang, maka kami menggunakannya untuk ngobrol dan bermain-main). Dia berkata, “Apakah orang yang mempunyai waktu luang diperintahkan begini?” (Yakni, apakah diperintahkan untuk main-main dan ngobrol?) Kemudian dia membaca firman Allah, “Apabila Anda telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya Anda berharap.” (Alam Nasyrah: 7-8).

Arti dari kedua ayat ini: Apabila Anda memiliki waktu luang, maka bersungguh-sungguh dan berpayah-payahlah dalam ketaatan kepada Tuhanmu serta ikhlaskanlah amalmu hanya untuk-Nya. Alangkah mulianya pemahaman terhadap Kalamullah seperti ini. Begitulah Al-Qur’an, selalu mengiringi kita dalam segala segi kehidupan kita.

Abu Ja’far As-Samak mendatangi As-Sari As-Saqti rahimahullah. Dia melihat beberapa orang pemalas dan penganggur sedang berbincang-bincang dalam perkara yang tidak berguna bersama As-Sari. Abu Ja’far menolak duduk dan berkata, “Hai Sari, engkau telah menjadikan dirimu sebagai tumpangan bagi para pemalas.” Dia lalu pulang tanpa duduk dan membenci keberadaan mereka di sisi As-Sari.”

Begitulah orang-orang saleh sebelum kita. Kalau sekarang, orang yang menjaga waktunya menjadi sesuatu yang langka.

Ingatlah Perdana Menteri Ibnu Hubairah ketika dia menggambarkan keadaan kita dan sikap kita yang meremehkan waktu dengan ucapannya,

“Waktu adalah barang termahal yang harus engkau jaga dengan penuh perhatian
Dan saya melihat bahwa ia adalah barang termudah yang lenyap darimu.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Dunia hanyalah tiga hari; Kemarin yang telah berlalu; esok yang bisa jadi engkau tidak mendapatkannya; dan hari ini, yang inilah bagianmu. Maka berkaryalah.”

As-Sari bin Al-Mughallas rahimahullah berkata, “Apabila Anda bersedih karena hartamu yang berkurang maka menangislah lantaran umurmu pun berkurang.” Alangkah indahnya, apabila kita menjaga waktu kita seperti halnya kita menjaga harta kekayaan kita. */Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih, dari bukunya 125 Kiat Salaf Menjaga Waktu Produktif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s