Hal-Hal Yang Menghiasi Sunnah

Pemateri Ust.Oemar Mita, Lc

 

Hari ini banyak orang senantiasa menjalankan sunnah tapi lupa berhias dengan perkara-perkara yang dibutuhkan oleh sunnah. Para ulama’ menjelaskan perkara yang dapat menghiasi sunnah supaya ia menjadi barang yang berharga dan istimewa. Apa itu hiasan-hiasan sunnah?

Perkara yang paling cepat memberatkan timbangan amal seseorang adalah akhlak yang baik. Sebaliknya, perkara yang paling cepat merusak amal ibadah adalah akhlak buruk.

اِنَّ الْخُلق السَّيِّئ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ.

“Sesungguhnya perangai yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.”

Lebah menghasilkan madu dengan mengorbankan seluruh wujudnya; namun beberapa tetes cuka saja dapat menghancurkan semua manisnya madu. Dari sini, bisa kita pahami bahwa sunnah membutuhkan hiasan akhlak, supaya betul-betul lahir manusia yang memahami sunnah dengan akhlak yang baik. Karena banyak orang lahir dari sunnah tetapi tidak melahirkan akhlak yang baik. Padahal sunnah dengan akhlak tidak berseberangan.

Perhatian ulama’ terhadap adab dan akhlak sangat besar sebagaimana perhatian mereka terhadap suatu ilmu. Banyak sekali riwayat dan penukilan yang menjelaskan kedudukan adab dalam pandangan mereka. Diantaranya adalah:

Abdullah bin Mubarak Rahimahullah berkata: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan para salaf dahulu, mempelajari adab kemudian belajar ilmu”.

Karena itu juga, Ruwaiyim -seorang alim yang shalih- berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, jadikanlah amalmu ibarat garam dan adabmu ibarat tepung. Yakni, perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam – dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada banyak amal dengan sedikit adab.” (Al-Faruq, IV/272) Tidaklah beliau mengatakan hal ini melainkan beliau melihat bahwa porsi akhlak lebih banyak daripada ilmu.

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Jawabannya, sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bahkan membenci orang alim yang tidak punya adab dan akhlak. Beliau Rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang ingin Allah membukakan hatinya atau meneranginya, hendaklah ia ber-khalwat (menyendiri), sedikit makan, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh, dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki inshaf (sikap obyektif) dan adab.” (Muqaddimah al-Majmuu’ Syarah Muhadzdzab, I/31)

Syari’at ini benar-benar memperhatikan adab. Dalam sebuah hadits terkenal disebutkan,

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ النَّارِ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, seseorang telah bertanya kepada Rasulullah: fulanah diceritakan memiliki shalat, puasa dan shodaqoh yang banyak, tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab: dia di neraka. Lalu bertanya lagi: wahai Rasulullah si fulanah diceritakan memiliki puasa dan shodaqoh serta shalat sedikit. Dia bershodaqoh sedikit dari tepung gandum dan tidak mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab dia di syurga”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Hadits ini menggambarkan betapa sunnah membutuhkan adab. Siapapun yang mencoba beribadah, tetapi tidak berakhlak, maka sungguh ia menjadi orang bangkrut dihadapan Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana hadits berikut,

‏عَنْ ‏أَبِي هُرَيْرَةَ ‏، عَنْ النَّبِيِّ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ : هَلْ تَدْرُونَ مَنْ ‏الْمُفْلِسُ ؟ قَالُوا ‏: الْمُفْلِسُ فِينَا ، يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ . قَالَ ‏: ‏إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصِيَامٍ وَصَلَاةٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ عِرْضَ هَذَا ، وَقَذَفَ هَذَا ، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا ، فَيُقْعَدُ ‏، ‏فَيَقْتَصُّ ‏‏هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ مِنْ الْخَطَايَا أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?”. Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. Nabi bersabda: “Muflis diantara umatku itu ialah seseorang yang kelak di hari qiyamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka.(HR. Muslim)

Inilah yang menjadikan kita khawatir kalau sampai kita dibenci karena akhlak, sebab merupakan sebuah musibah. Sebaliknya, jika dibenci karena melaksanakan kebenaran, itu adalah anugrah.

Apa Definisi Akhlak?

Ibnu Rajab Al Hanbali menyatakan bahwa akhlak itu ada tiga bentuk. Pertama, orang yang mudah untuk meringankan beban saudaranya

Allah Ta’ala paling senang terhadap ibadah yang manfaatnya kembali kepada orang lain daripada hanya untuk diri sendiri. Sampai Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

…..أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ ، شَهْرًا

…..Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah engkau menggembirakan hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid Madinah ini (masjid Nabawi) selama satu bulan penuh.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, Al-Mu’jam Ash-Shaghir, dan Al-Mu’jam Al-Kabir. Dinyatakan hasan li-ghairih dalam tahqiq Al-Mu’jam Al-Kabir dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2623. Dinyatakan shahih li-ghairih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 906)

Manfaat yang dimaksud bukan sekedar manfaat materi, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pemberian harta atau kekayaan dengan jumlah tertentu kepada orang lain. Manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain bisa berupa: ilmu, harta benda, waktu dan tenaga, tutur kata dan sikap baik.

Suatu ketika Abdullah bin al-Mubarak menjalani salah satu ritual haji, setelah selesai, beliau beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya beliau bermimpi melihat dua Malaikat yang turun dari langit. Beliau mendengar percakapan mereka,

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya Malaikat kepada Malaikat lainnya. “Tujuh ratus ribu,” jawab Malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” “Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua Malaikat itu.

“Namun ada seorang yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”. “Itu Kehendak Allah”. “Siapa orang tersebut?”. “Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, Abdullah langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Syiria. Sesampainya di sana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.

Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namannya Sa’id bin Muhafah. “Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Ketika sampai pada alamat yang ditunjukkan, Abdullah menemukan tukang sol sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda yang bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama’ itu. “Betul, siapa tuan?” “Aku Abdullah bin Mubarak”

Sa’id pun terharu, “Anda adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama’ itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?” “Wah saya sendiri tidak tahu!”. “Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini”

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar:

Labbaika Allahumma labbaika.

Labbaika la syarika laka labbaika.

Innal hamda wanni’mata laka

wal mulka laa syarika laka.

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.

Tiada sekutu bagiMu.

Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.

Tiada sekutu bagiMu.

 

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis.

Ya allah aku rindu Mekah

Ya Allah aku rindu melihat kabah

Ijinkan aku datang.

ijinkan aku datang ya Allah.

 

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

 

“Saya sudah siap berhaji”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”

 

Sa’id bin Muhafah menceritakan pada Abdullah akan permintaan istrinya pada suatu hari.

“Suamiku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini? “ya sayang”.“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”.

Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda yang mempunyai enam anak. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.

Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “tidak boleh tuan”.

“Dijual berapapun akan saya beli”. “Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata. Akhirnya saya tanya kenapa?

Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: “Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?”

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.

Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk kalian”.

Uang peruntukan haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

“Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.”

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air matanya.(Disarikan dari Kitab Irsyadul ‘Ibad ila Sabiili Rasyad)

Kisah di atas merupakan pelajaran tentang Itsar (mengutamakan orang lain) daripada diri sendiri. Para sahabat Radhiyallahu Anhum juga teladan paling baik dalam hal itsar.

Kedua, Tidak Menyakiti Orang Lain

Salah satu dosa yang tidak bisa dinikmati, namun dosanya besar adalah menjatuhkan kehormatan seorang mukmin tanpa bukti. Cukuplah orang itu dikatakan shalih, bila menjaga kehormatan seorang mukmin.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

Ketiga, Sabar Bila Terzhalimi

Akhlak baik akan tampak betul pada diri seseorang, ketika ia terzhalimi. Dahulu para Salafus Shalih memiliki banyak kisah dan cerita tentang kesabaran mereka dalam menahan amarahnya, memaafkan, bahkan bisa berbuat kebajikan saat menahan amarah. Diantaranya adalah Zainal Abidin yang dahulu mempunyai budak yang selalu mengucurkan air dari sebuah kendi yang terbuat dari tembikar untuk berwudhu. Suatu saat, kendi itu jatuh menimpa kaki Zainal Abidin sampai pecah, dan kaki Zainal Abidin berdarah. Budak itu serta merta mengatakan, “Tuanku, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (Ali Imran: 134)

Zainal Abidin menjawab, “Aku telah berusaha menahan amarahku.” Budak itu melanjutkan: “Dan memaafkan (kesalahan) orang.” (Ali Imran: 134)

Zainal Abidin menjawab, “Aku telah memaafkanmu.” Budak itu melanjutkan: “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

Zainal Abidin menjawab, “Sekarang aku memerdekakan engkau karena Allah.

 

Karena memang pada dasarnya tidak ada manusia di muka bumi ini yang dicintai oleh semua orang.

  • Sabar menjalankan sunnah
  • Paham tentang ilmu yang dipelajari. Diantaranya memahami perbedaan pendapat di antara ulama’

Wallahu Ta’ala A’lam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s