Khutbah Jumat tentang Adab

PADA 13 Mei 2016, saya mendapat kesempatan memberikan khutbah Jumat di Mahkamah Konstitusi (MK).  Meskipun berkhutbah sudah menjadi aktivitas rutin, tetapi saya merasa, khutbah Jumat di Mahkamah Konstitusi ini merupakan kesempatan penting yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Apalagi hadir ketua dan sebagian hakim Konstitusi.  Sebab, dalam sistem kenagaraan kita, Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang yang sangat besar, lembaga lembaga tinggi negara yang diberi kepercayaan untuk menjaga Konstitusi.

Khutbah Jumat merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan-pesan penting dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh umat Islam.  Karena itu, kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk menyampaikan konsep adab yang penerapannya dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara. Ini sangat relevan dengan lembaga MK.

Sebab, dalam pembukaan UUD 1945 ada tiga kata kunci dalam penegakan adab, yaitu “hikmah”, adil”,  dan “adab”.  Dalam konsep adab yang dirumuskan Prof. Naquib al-Attas, adab terlahir dari hikmah, dan jika adab ditegakkan, maka terwujudlah “al-‘adalah” (keadilan),   yakni suatu kondisi dimana segala sesuatu berada tempatnya yang betul, sesuai harkat dan martabat yang ditentukan Allah SWT.

Dalam khutbah itu saya sampaikan, keberadaan tiga istilah (konsep) itu dalam Konstitusi Indonesia adalah luar biasa. Siapa sebenarnya perumus konsep tersebut? Mungkin KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari, penulis Kitab Adabul ‘Alim wal-Muta’allim.  Saya pernah sampaikan hal itu kepada KH Shalahuddin Wahid, saat acara bedah buku “Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab” di Surabaya.  Sayang sekali, belum ditemukan catatan notulen hasil rapat  Panitia Sembilan yang merumuskan naskah Piagam Jakarta, dan kemudian ditetapkan sebagai Pembukaan UUD 1945, dengan sedikit perubahan.

Dengan konsep adab itu, maka seorang hakim, secara otomatis adalah orang yang beradab. Sebab, hakim adalah orang yang mendapatkan hikmah. Dengan hikmah, hakim  bisa memutuskan perkara dengan benar dan tepat.  Tentunya, kita berharap, para hakim benar-benar bersungguh-sungguh mencari hikmah, sehingga bisa membuat keputusan dengan benar dan tepat.

Perintah menegakkan adab ini begitu kuat ditegaskan dalam al-Quran, hadits Nabi dan kitab-kitab para ulama.  QS at-Tahrim ayat 6  memerintahkan kita menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka.  Caranya adalah dengan menjadikan diri dan keluarga kita menjadi manusia beradab dan berilmu.  Para ulama pun menekankan pentingnya adab dan ilmu. Bahkan, adab wajib ditanamkan sebelum ilmu.  Sebab, orang yang memiliki ilmu tetapi tidak punya adab akan menjadi manusia biadab yang merusak. Ia tidak tahu bagaimana menggunakan ilmunya dengan betul.  Ilmunya akan digunakan untuk merusak diri, masyarakat, dan lingkungan.

Karena begitu pentingnya masalah adab, maka KH Hasyim Asy’ari menyatakan, bahwa orang yang tidak beradab, maka ia tidak bersyariat, tidak punya iman dan tidak bertauhid.  Syariat menjadi tidak bernilai jika dilaksanakan tanpa adab. Syariat adalah hukum Islam yang menjelaskan masalah wajib, sunnah, mubah, makruh, halal-haram.  Pelaksanaannya memerlukan adab . Seorang suami punya kuasa untuk memerintahkan istrinya agar taat kepadanya. Tetapi, perintah taat itu harus disampaikan dengan adab yang baik. Bukan dengan sok kuasa dan angkuh. Seorang guru yang beradab akan mendidik muridnya dengan sungguh-sungguh dan kasih sayang, agar muridnya menjadi manusia yang baik, yang taat pada guru.

Begitulah, kedudukan adab yang begitu penting, sehingga Ibnul Mubarak, mengatakan, bahwa porsi adab adalah dua pertiga agama.  Beliau mencari adab selama 30 tahun. Dua puluh tahun kemudian, sang ulama mencari ilmu. Itu artinya, memang tidak mudah meraih adab.  Perjuangan meraih adab harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga Allah memberikan hikmah.

Kepada para jamaah shalat Jumat di MK, saya mengajak untuk merenungkan sejarah perjuangan bangsa kita, sampai kita berhasil mengusir penjajah dan meraih kemerdekaan. Meskipun mengalami tantangan yang berat dalam melawan penjajah, para ulama di Indoensia dan Nusantara pada umumnya tak henti-hentinya menanamkan pendidikan adab kepada umat Islam.  Para ulama menulis berbagai kitab tentang aqidah, syariah, adab, dan jihad, untuk menanamkan iman dan adab kepada umat Islam.

Dengan itulah, umat Islam memiliki resistensi yang tinggi terhadap penjajahan pemikiran dan upaya pemurtadan yang dilakukan kaum penjajah. Itu artinya, konsep adab yang ditanamkan melalui kitab-kitab keislaman yang diajarkan di pesantren-pesantren telah berhasil menjaga dan menumbuhkan kepribadian muslim yang hebat. Itu bisa dilihat bagaimana dahsyatnya pengaruh fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari terhadap ribuan santri dan kaum muslimin dalam melawan penjajah yang berusaha mencengkeramkan kukunya kembali di Indonesia tahun 1945.

Karena itu, seyogyanya, pemerintah dan para tokoh Islam mengkaji kembali konsep adab dan mengembangkan serta menerapkannya dalam dunia pendidikan di Indonesia.  Sungguh ironis, jika kemudian pemerintah, sekolah, dan pesantren, justru mengambil konsep pendidikan karakter yang sekuler untuk diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Kerusakan akhlak

Masih terkait dengan konsep adab, pada 19 Mei 2016, saya mendapat kesempatan untuk mengisi seminar tentang Psikologi Islam di Universitas Negeri Makasar.  Acara ini disertai juga dengan pelantikan pengurus Asosiasi Psikologi Islam (API) Makasar, dilakukan oleh Dr. Bagus Riyono,  dosen psikologi UGM Yogyakarta.

Saya diminta membahas tentang kerusakan moral di Indonesia dan solusinya.  Maka, pada kesempatan yang sangat berharga tersebut, saya kembali menawarkan perlunya diberlakukan pendidikan adab (ta’dib) di Indonesia agar berbagai krisis moral yang sedang mendera bangsa kita bisa teratasi dengan mendasar dan sistematis. Apalagi, seminar itu berlangsung di kampus yang dulunya dikenal sebagai IKIP Makasar.

Bidang keilmuan psikologi bisa dikatakan menempati posisi strategis untuk mengatasi perbagai persoalan bangsa secara mendasar. Sebab, nilai seorang manusia ditentukan oleh jiwanya.   Kerusakan moral atau akhlak terjadi karena kerusakan jiwa. Benahilah jiwa manusia, jika ingin memperbaiki akhlaknya.  Pendidikan akhlak tidak bisa dilakukan dengan model pengajaran biasa. Akhlak harus ditanamkan ke dalam diri manusia dengan cara yang benar dan penuh hikmah. Itulah yang disebut sebagai bentuk penanaman adab (inculcation of adab).

Sukses tidaknya penanaman nilai adab sangat tergantung kepada faktor guru, niat dan kesungguhan siswa, serta metodenya. Islam mempunyai konsep dan metode penanaman nilai adab yang kokoh dan teruji dalam sejarah.  Sebagian konsep itu telah dilaksanakan oleh sebagian negara dalam bentuk pendidikan karakter.  Kita bisa melihat kisah sukses berbagai negara dalam menerapkan pendidikan karakter.  Kesuksesan pendidikan karakter ditentukan faktor keteladanan, pembudayaan/pembiasaan, dan penegakan aturan.

Berbeda dengan pendidikan karakter sekuler, penanaman nilai-nilai adab harus dilakukan dengan berbasis keimanan.  Seorang  warga sekuler takut buang sampah sembarangan karena kebiasaan dan takut melanggar aturan. Seorang siswa muslim tidak mahu membuang sampah sembarangan karena bisa berakibat hukuman di Akhirat; bukan hanya karena kebiasaan dan takut aturan.  Karena itulah, saya mengusulkan, agar para pakar psikologi Islam merumuskan konsep pendidikan jiwa untuk menghasilkan manusia-manusia beradab.  Jangan sampai psikologi Islam terjebak sibuk pada urusan seminar dan penerbitan karya ilmiah, tanpa mempraktikkan konsep-konsep pembinaan jiwa (tazkiyatun nafs) untuk membentuk manusia beradab atau manusia baik.

Pada kesempatan seminar tersebut, muncul sejumlah pertanyaan.  Seorang sarjana Fisika bertanya, apakah dia boleh melanjutkan pendidikan jenjang magister di bidang psikologi Islam.  Pertanyaan seperti ini masih sering muncul, karena pemahaman tentang “linierisme” yang masih meluas.  Saya menjelaskan perlunya kita memahami konsep dan adab ilmu dalam Islam.  Bahwa, seorang muslim wajib mencari ilmu yang fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional.  Jenjang pendidikan linier diperlukan untuk urusan administrasi dan mungkin keperluan profesionalitas di suatu bidang tertentu.  Ini bisa bersifat mubah, sunnah, atau fardhu kifayah.  Tapi, ilmu yang fardhu ain wajib dikejar untuk diraih.

Sebagai contoh adalah ‘ilmu psikologi Islam’.  Ilmu ini wajib dicari setiap muslim, agar setiap muslim memahami, bagaimana dia bisa membersihkan jiwanya agar menjadi jiwa yang tenang. Sebab, QS asy-Syams menjelaskan, sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya.  Inilah pendidikan jiwa yang wajib ditanamkan secara sistematis dan sungguh-sungguh dalam diri setiap insan. Jika pemerintah saat ini mengajukan konsep revolusi mental, sejatinya Islam mempunyai konsep yang sangat jitu dan jelas dalam membangun jiwa manusia.

Pendidikan adab dalam Islam  bertujuan membentuk manusia beradab jiwa dan raga.  Konsep inilah yang telah berhasil mengubah bangsa Arab menjadi bangsa paling unggul di zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.  Sebagai contoh adalah konsep adab kepada sesama manusia. Menurut Islam harkat dan martabat sesuatu adalah berdasarkan pada ketentuan Allah, dan bukan pada manusia. Misalnya, kriteria orang yang mulia, menurut al-Quran adalah orang yang paling taqwa. (Inna akramakum ’indallaahi atqaakum/QS 49:13). Maka, seharusnya, dalam masyarakat yang beradab, kaum Muslim harus menghormati seseorang karena keimanan dan ketaqwaannya. Bukan karena jabatannya, kekayaaannya, kecantikannya, atau popularitasnya. Itu baru namanya beradab, menurut al-Quran.

Begitu juga ketika al-Quran memuliakan orang yang berilmu (QS 35:28, 3:7, 58:11),  maka sesuai konsep adab, seorang Muslim wajib memuliakan orang yang berilmu dan terlibat dalam aktivitas keilmuan. Masyarakat yang beradab juga masyarakat yang menghargai aktivitas keilmuan. Tentu menjadi tidak beradab, jika aktivitas keilmuan dikecilkan, sementara aktivitas hiburan diagung-agungkan. Tidak mungkin suatu bangsa akan maju jika tidak menjadikan tradisi ilmu sebagai bagian dari tradisinya. Imam Syafii dalam sejumlah syairnya berkata: Wa’lam bi-anna al-ilma laysa yanaaluhu, man hammuhu fi math’amin aw malbasin. (Ketahuilah,  ilmu itu tidak akan didapat oleh orang yang cita-cita hidupnya hanya untuk makanan dan pakaian); Falaw laa al-ilmu maa sa’idat rijaalun, wa laa ’urifa al-halaalu wa laa al-haraamu. (Andaikan tanpa ilmu, maka seorang tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan tidak dapat mengetahui mana halal dan mana haram).

Umat Islam dan bangsa Indonesia tidak mungkin akan menjadi umat dan bangsa besar jika mengabaikan tradisi ilmu ini. Jika budaya santai, budaya hedonis, budaya jalan pintas, terus dikembangkan, maka hanyalah mimpi saja untuk berangan-angan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar yang disegani dunia.

Dalam perspektif Islam, manusia beradab haruslah yang menjadikan aktivitas keilmuan sebagai aktivitas utama mereka. Sebab soerang Muslim senantiasa berdoa: ”Rabbi zidniy ’ilman” (Ya Allah, tambahkanlah ilmuku). Lebih dari itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallamjuga mengajarkan doa, agar ilmu yang dikejar dan dimiliki seorang Muslim adalah ilmu yang bermanfaat. Hanya dengan ilmulah, maka manusia dapat meraih adab, sehingga dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala.

Demikianlah catatan tentang pentingnya pendidikan adab yang saya sampaikan dalam khutbah Jumat di MK dan seminar tentang psikologi Islam di Universitas Negeri Makasar. Semoga bermanfaat.*/Makassar, 20 Mei 2016

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s