Telah banyak ditinggalkan di zaman ini, menyembunyikan ibadah

Seperti ‘Abdurrahman Bin Abi laila yang apabila ia sholat sunnah di rumahnya kemudian merasa ada seseorang yang melihatnya maka ia membatalkan sholatnya dan segera berbaring di atas ranjangnya seakan-akan sedang tidur. Sampai orang yang melihatnya menyangka ia adalah orang yang banyak tidur. Tidak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya ia banyak mendirikan sholat sunnah.

 

Seperti Ibrahim An Nahkho’i yang menghabiskan waktunya untuk membaca Al Qur’an, maka apabila ada seseorang laki-laki masuk ke rumahnya ia segera menutup mushab dan berkata,
“Supaya ia tidak melihatku membaca mushaf setiap saat”

 

Seperti Daud Bin Abi Hind disebutkan bahwa ia telah berpuasa selama 40 tahun tanpa ada seorang pun dari keluarganya yang mengetahuinya, karena bila pagi hari ia berangkat kerja, ia membawa bekal dari rumahnya. Maka keluarganya menyangka ia tidak berpuasa, ketika di jalan ia menyedekahkan bekalnya, dan ketika pulang di penghujung hari, ia ikut makan malam bersama keluarganya.

 

Atau kisah Ayyub As Sakhiitani rahimahullah yang mendirikan sholat sepanjang malam dan menyembunyikannya, sehingga apabila bangun di pagi hari, ia mengeraskan suaranya seakan-akan baru saja bangun tidur.

 

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini, menyembunyikan kekhusyukan dan kezuhudan
Seperti Abuh Hasan Muhammad bin Aslam At Thowusi yang sering menangis ketika membaca Al Qur’an, maka setiap kali hendak keluar rumah ia selalu mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas menangis.

 

Atau seperti Ibrahim bin Adham, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Mubarak,
“Orang yang suka menyembunyikan amal, aku tidak pernah melihatnya mengeraskan suara tasbih atau memperlihatkan amal sholih”
Dan tidaklah ia makan bersama dengan orang-orang kecuali ia yang terakhir mengangkat tangannya dari makanan, untuk menampakkan ia bukan termasuk orang yang zuhud.

Atau sebagian salaf yang ketika tersentuh dengan makna ayat Al Qur’an dengan makna ayat Al Qur’an atau hadits dan menangis ia akan berkata,
“Aku sedang sakit flu parah”

 

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini, menyembunyikan sedekah
Seperti Ali Bin Husein Zainal Abidin memanggul makanan dan kebutuhan orang-orang miskin Madinah setiap malam diatas punggungnya dan meletakkannya di depan pintu rumah mereka selama beberapa tahun, tanpa ada seorang pun yang mengetahui. Ketika ia meninggal, barulah orang-orang mengetahui hal itu, karena terputuslah sedekah dan terdapat bekas kehitaman pada punggungnya.

 

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini, menuliskan ilmu tanpa berharap dikenal manusia
Seperti Imam Mawardi, pengarang kitab-kitab tafsir, fiqh, dan lainnya. Selama hidupnya beliau tidak pernah menunjukkan kitab karangannya pada siapa pun. Sampai ketika beliau merasa ajal sudah dekat, beliau memanggil orang kepercayaannya dan berkata,
“Sesungguhnya kitab-kitab di rumah fulan adalah tulisanku, maka apabila telah tiba sakaratul maut, genggamlah tanganku, apabila tangan ini menggenggam tanganmu berarti amalku itu tidak diterima sedikitpun, maka buanglah seluruh kitabku ke sungai pada malam hari, tetapi apabila tangan ini terbuka, berarti amalanku diterima”
Maka ketika ia wafat ternyata tangannya terbuka, dan tersebarlah kitab-kitab beliau sejak saat itu.

 

Atau Imam Syafi’i yang berkata,
“Saya ingin orang-orang mengambil ilmuku tanpa menisbatkannya kepadaku”

Itulah sekelumit gambaran Salaf dalam menyembunyikan amal mereka untuk menjaga niat, karena mereka adalah orang-orang yang paling sadar bahwa tidaklah berharga suatu amal tanpa niat yang ikhlas, sehingga mereka sangat berhati-hati dari segala yang dapat merusaknya, salah satunya adalah pujian dan pandangan manusia. Pujian dan ketenaran adalah sesuatu yang mereka jauhi dan benci, bahkan dianggap sebagai musibah.

 

Berkata Ibrahim bin Adham,
“Tidaklah jujur kepada Allah, hamba yang menyukai ketenaran”

 

Sedangkan Basyar bin Al Harits berkata,
“Tidak akan merasakan kenikmatan akhirat, seorang yang suka dikenal oleh manusia”

Tak heran apabila Allah lah yang membalas keikhlasan mereka dengan pahala yang sempurna, dengan kecintaanNya, membanggakan mereka dan memberikan kenangan yang baik diantara manusia sesudahnya sampai zaman selanjutnya.

Ummu Shalih,
Di kota Al-Madinah An-Nabawiyyah

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s