Ramadhan, Seindah Munajat Rasulullah SAW

Syarat mendapatkan jaminan ampunan dari Allah SWT adalah mengikuti Rasulullah SAW.Inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnyabagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(Al-Hasyr:7). Dalam ayat lain, Allah SWT menjelaskan;

Muslim manapun pasti mencintai Allah SWT.Ini adalah syarat sah iman.Dan Allah SWT menjadikan ittiba’ (beruswah) kepada Rasulullah SAW sebagai tanda cinta kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Qs. Ali Imran: 31)

Baginda Nabi SAW pun telah mengabarkan, ittiba’ juga merupakan syarat diterimanya sebuah amal bahkan ia menjadi tiket masuk ke dalam surga Allah SWT kelak di hari kiamat.

كُلُّ أُمّتي يَدْخُلُونَ الجنَّةَ إلا مَنْ أَبَى”.قَالُوا: يَا رَسولُ الله! وَمَنْ يَأبَى؟ قَالَ:”مَنْ أطَاعَني دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى

“Setiap umatku pasti akan masuk surga, kecuali yang enggan.Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang enggan masuk surga?”Rasulullah SAW menjawab, “Siapa yang taat kepadaku pasti masuk surga.Dan siapa yang bermaksiatkepadaku, maka dia telah enggan –masuk surga-.”  (HR. Bukhari)

Ittiba’ kepada Rasulullah SAW tidak terealisasi dalam diri seorang muslim kecuali dengan tunduk secara sukarela dan penyerahan diri secara total kepada aturan Rasulullah SAW di seluruh sisi kehidupan. Baik dalam perkara yang nampak maupun tersembunyi, disertai dengan sikap pasrah, tidak protes, apalagi melawannya, (Tafsir IbnKatiser, 1/521)

Jalan menuju ittiba’ kepada Rasulullah SAW adalah dengan mengkaji petunjuk dan tuntunan-tuntunan beliau dalam setiap permasalahan serta keadaannya.Sebab tuntunan beliau ada pada setiap masalah yang kita hadapi, utamanya permasalahan ibadah.

Pun dalam masalah shiyam. Seorang muslim yang hendak meraih pahala tak terbatas, harus mengkaji petunjuk nabi SAW dalam melaksanakan shiyam. Sebab, nabi SAW manusia yang paling kenal Robbnya; sehingga beliau menjadi manusia yang paling takut dan taat kepada Robbnya.

Beliau SAW pun paling semangat menenuaikan hak-hak Allah SWT.Sangat antusias meraih ridho Allah SWT.Sebab, semakin mengenal Allah SWT, maka seorang hamba semakin ingin dekat dengan Rabbnya, dan semakin takut bermaksiatkepada-Nya.

Sahabat Abdullah bin Syukhair RA berkata, saya pernah melihat Rasulullah SAW shalat dari dadanya terdengar suara gemuruh seperti bunyi gemuruh penggilingan gandum, ini karena tangisan yang tertahan saat shalat.

Kisah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud RHM ini menunjukkan keseriusan nabi Muhammad SAW dalam bertaqarrub kepada Allah SWT.Di bulan Ramadhan banyak sekalituntunan-tuntunan Rasulullah SAWagar umatnya bisa melalui Ramadhan dengan penuh arti danberpahala.

Kesungguhan Dalam Shiyam

RasulullahSAW adalah manusia yang paling antusias mencari pahala pada bulan Ramadhan.Misalnya dalam puasa beliau SAW senantiasa menjaga adab-adab berpuasa agar bisa mendekat kepada Allah SWT lebih maksimal.

Diantaranya, beliau selalu melaksanakansahur  ,dan menyegerakan berbuka. Sebab, kata beliau SAW , pada sahur terdapat barokah. Beliau SAW bersabda;

تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah, sesungguhnya di dalam sahur itu ada barokah.”(HR. Muslim)

Diantara tuntutan beliau adalah mengakhirkan sahur.Perbuatan beliau ini diikuti oleh para sahabatnya. Ulama tabi’in bernama Maiumun bin Mahran berkata, “Adalah sahabat-sahabat Muhammad SAW orang-orang yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”

Pada waktu berbuka, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk berdo’a, beliau SAW juga mencontohkannya. Ibnu Umar RA berkata, “Jika berbuka puasa, Rasulullah SAWberdo’a:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dahaga telah berlalu, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.”(HR. Abu Dawud).

Beliau juga memperbolehkan bersiwak pada saat puasa, asalkan tidak masuk ke dalam tenggorokan.Sebab siwak sangat dicintai Allah SWT. Beliau berkata, “Aku telah diperintahkan untuk bersiwak, sampai-sampai aku mengira akan ada ayat alQur’an atau wahyu  -lain- yang akan memerintahkan siwak.” (HR. Ahmad)

Sahabat Amir bin AbiRabi’ah berkata, “Saya berkali-kali melihat Rasulullah SAW melakukan siwak, disaat beliau berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Ini semua dilaksanakan demi meraih ridho Allah SWT.Dan tentunya pahala ibadah-ibadah di atas dilipatgandakan pada bulan Ramadhan. Imam Bukhari RHM berkata, “Hadits Amir di atas, menunjukkan bahwa bersiwak bagi orang-orang yang berpuasa adalah sangat utama.” (Ibnu Khuzaimah, 3/247)

Sedangkan dalam kondisi yang sangat menyengsarakan, Rasulullah SAW memberi tuntunan agar berbuka. Misalnya dalam keadaan safar. Berpuasa disaatsafar boleh, namun jika memberatkan maka berbuka lebih baik. Hal ini juga dilaksanakan demi meraih ridho dan cinta dari Allah SWT.Sebab, Allah sangat mencintai orang yang mau menerima rukhsoh (dispensasi) dariNya.

Rasulullah SAW menyebut musafir yang memaksakan diri berpuasa saat kelelahan, kelaparan dan kehausan menimpanya sebagai pelaku kemaksiatan, (HR. Muslim).

Tuntunan  RasulullahSAW dalam Tarawih

Dalam rangka mencari pahala pada bulan Ramadhan, Rasulullah SAW tidak menyia-nyiakan waktu malamnya.Beliau melakukan shalat tarawih dengan penuh khusyu’.Beliau memanjangkan shalatnya.

Sahabat Nu’man bin Bisyr RA mengisahkan, pernah beliau melaksanakan shalat malam (tarawih) bersama Rasulullah SAW. Beliau memanjangkan shalatnya hingga menjelang waktu sahur.Padahal beliau shalat tidak lebih dari sebelas atau tiga belas rekaat.(HR.  An-Nasa’iy dan Bukhari)

Namun Rasulullah SAW tetap menganjurkan para imam untuk meringankan bacaannya.Sebab, besar kemungkinan diantara jama’ah ada yang sudah tua, sakit, anak-anak atau memiliki keperluan yang mendesak. Dikhawatirkan, shalat yang panjang akan membuat mereka terbebani. Sehingga semangat untuk tarawihberjama’ah akan mengendor. Padahal pahala shalat bersama imam sama dengan shalat semalam suntuk. (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda,

“Siapa yang mengimami shalat, maka hendaklah ia meringankannya.Sebab diantara mereka ada yang lemah, sakit, maupun orang tua.Jika ia shalat sendiri, hendaklah ia memperpanjang shalat, sesuai kemauannya.” (HR. Bukhari)

Sunnah beliau ini diikuti oleh para sahabat sesudahnya. Pada masa Umar RA, umar memerintahkan Ubay bin Ka’b dan Tamim Ad-Dariy untuk menjadi imam tarawih. Keduanya terkadang mengimami dengan bacaan yang panjang.Begitu panjangnya, ada diantara sahabat yang bersandar pada tongkat. Demikian juga pada masa Utsman bin Affan RA, (SunanKubro, 2/496)

I’tikaf dan Berkhalwat dengan Allah

Diantara bukti keseriusan beliau SAW dalam bertaqarrub dan bermunajat kepada Allah SWT adalah beliau melaksanakan i’tikafdi sepuluh akhir bulan Ramadhan.Sebelumnya beliau sempat I’tikaf pada sepuluh awal, dan sepuluh pertengahan Ramadhan. Semuanya diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT , lebih khusus lagi mencari lailatulqodr, (HR. Muslim).

Beliau SAW mengajarkan kepada umatnya untuk bertaqarrub dan berkhalwat dengan Allah SWT.Sehingga bisa merenung dan mentadabburi ragam ayat Allah SWT, baik quraniyah maupun kauniyah.

Oleh sebab itu, pada saat I’tikaf sebisa mungkin menghindari banyak interaksi dengan manusia. Ibnu Qayyim al-Jauziyah RHM menjelaskan, intisari dan ruh I’tikaf adalah berkhalwat dengan Allah SWT, fokus berdzikir dan mentadabburi ayat-ayat Allah SWT, dan memisahkan diri dari kehidupan dunia, termasuk berinteraksi dengan manusia, (ZaadulMa’ad, 2/90)

Bisa jadi penggunaan Hp dan internet saat I’tikaf untuk tujuan yang bersifat duniawi termasuk hal yang bertentangan dengan nilai-nilai I’tikaf.

I’tikaf seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau masuk I’tikaf pada sore hari ke- 20 Ramadhan dan keluar setelah subuh satu Syawwal. Dalam riwayat imam Bukhari, ummulmukmininAisyah RA mengisahkan, selama kurun ini, beliau tidak menjenguk orang sakit, tidak mengantar jenazah, tidak bercumbu dengan istri-istrinya, dan juga tidak berhubungan suami-istri. Semuanya ini dilakukan untuk bisa meraih intisari I’tikaf.

Beliau juga menghasung istri-istrinya untuk I’tikaf. Sedangkan beliau sendiri, selama  di Madinah, tidak pernah meninggalkan I’tikaf. Pernah suatu waktu beliau tidak bisa melaksanakan I’tikaf karena urusan jihad.Maka di tahun berikutnya beliau melaksanakan I’tikaf selama 20 hari untuk menqodho’ tahun lalu (HR. Ibnu Hibban).

Berburu Pahala di Sepuluh Akhir

Diantara anugerah agung yang Allah SWT berikan kepada umat ini adalah mereka dianuegerahi sebuah malam ‘kulakan’ pahala.Malam ini lebih baik dari seribu bulan.Al-Qur’an dan as-Sunnah itu.Al-Qur’an dan Assunnah menyebut malam ini denganlailatulQodr.

Allah SWT berfirman:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (Qs. al-Qadr: 3)

Malam ini turun pada sepuluh akhir bulan Ramadhan, dan seringkali pada malam ganjil.Oleh sebab itu, pada sepuluh akhir bulan Ramadhan ini, RasulullahSAW bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Istri beliau, ibunda Aisyah RA mengisahkan, “Pada sepuluh akhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengerahkan kesungguhannya yang tidak beliau lakukan pada selain Ramadhan.” (HR. Muslim)

Beliau RA juga mengisahkan, “Dulu, jika sudah memasuki sepuluh akhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan tali sarungnya.” (HR. Muslim)

Nash-nash ini menjelaskan kesungguhan dan keseriusan RasulullahSAW dalam beribadah. Jika pada dua puluh malam sebelumnya, beliau masih menyempatkan diri tidur pada malam hari. Namun pada sepuluh malan terakhir, beliau menjauhi tempat tidur. Seluruh malamnya dihabiskan untuk berdzikir, tilawah, shalat dan aktifitas ibadah mahdoh lainnya.

Dalam sebuh riwayat Aisyah RA berkata, “Jika pada dua puluh malam awal bulan ramadhan, beliau masih menyempatkan diri tidur, tetapi pada sepuluh malam terakhir beliau mengencangkan tali sarungnya dan menghidupkan malam seluruhnya.”

Walau hadits ini dhaif, tetapi ia menafsirkan riwayat-riwayat sebelumnya yang menjelaskan tentang kesungguhan Rasulullah SAW dalam beribadah.

Beginilah Tadarus dan  Tilawah

Diantara ibadah yang menjadi rutinitas utama Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan adalah tilawahalQur’an serta mengkajinya.Dalam beberapa riwayat disebutkan, pada setiap malam di bulan Ramadhan, JibrilAS datang ke Rasulullah SAW untuk mengkaji alQur’an bersama beliau SAW.

Ibnu Abbas RA berkata, “Jibril AS menemui nabi Muhammad SAW setiap malam di bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW akan membacakan alQur’an di hadapan Jibril AS.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat imam Bukhari di lain tempat disebutkan  RasulullahSAW mengkaji alQur’an bersama Jibril AS. Sesekali Jibril yang membaca alQur’an, di lain waktu nabi Muhammad SAW yang membacanya.

Ibnu Hajar RHM berkata, “Maksud tilawahalQur’an adalah, menghadirkan  hati untuk mentadabburinya serta memahaminya.” (alFath, 9/13)

Ibnu Bathol RHM berkata, “Pembelajaran alQur’an yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAWbersamJibrildimaskudkan untuk menambah kecintaan terhadap akherat dan kezuhudan terhadap dunia.” (SyarhalBukhari, IbnBathol, 1/13)

Jadi orientasi semua aktifis ibadah Rasulullah SAW adalah mendulang ridho Allah SWTdan untuk menambah kecintaannya terhadap akhirat.Bukan sekedar aktifitas yang kosong dari nilai akherat.

Hadits-hadits di atas menunjukkan urgensi berteman dengan orang-orang yang baik.Kwalitas ibadah dan iman seseorang sangat terpengaruh dengan teman dekatnya. Kwalitas iman Rasulullah SAW sangat tinggi, Sebab salah satu teman akrabnya adalah malaikat Jibril AS. Untuk meraih ampunan dan ridho Allah SWT, seyogyanya seseorang memilih teman atau tempat I’tikaf yang baik dan berkwalitas.

Kedermawanan Rasulullah SAWdi Ramadhan

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW sangat zuhud dalam kehidupan dunia. Anas bin Malik RA pembantu Rasulullah SAW mengisahkan, “Rasulullah SAW berbuka sebelum berangkat shalat, beliau berbuka dengan beberapa biji ruthob (kurma basah), jika tidak ada dengan beberapa biji tamr(kurma kering), jika tidak ada beliau mencukupkan diri dengan beberapa teguk air putih.” (HR. Bukhari)

Demikian juga saat sahur, beliau SAW orang yang sangat sederhana dalam berpenampilan dan makanan.Anas RHM mengatakan, seringkali Rasulullah SAW sahur dengan menggunakan kurma kering dan beberapa teguk air.

Kecintaan beliau terhadap akhirat, membuat beliau sangat dermawan.Terutama pada bulan Ramadhan.Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW adalah manusia yang sangat dermawan.Dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.Saat Jibril AS datang menemuinya.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Taimiyah RHM  menjelaskan kedermawan Rasulullah SAW , “Rasulullah SAW telah mengumpulkan berbagai macam kedermawanan. Seperti; menginfakkan ilmu, jiwa dan harta di jalan Allah SWT. Semuanya dalam rangka menegakkan Islam, memberi petunjuk kepada umatnya, dan menyampaikan semua bentuk kebaikan kepada umatnya dengan berbagai macam cara. Baik dengan mengajarkan ilmu kepada yang jahil, memenuhi kebutuhan orang yang butuh, dan memberi makan orang yang lapar.” (Majmu’ 20/262)

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Disunnahkan bagi setiap muslim untuk lebih dermawan pada bulan Ramadhan, sebagai bentuk iqtida(mencontoh) Rasulullah SAW. Sebab pada bulan ini, umat Islam lebih membutuhkan harta untuk kemashlahatan mereka, selain itu kesibukkan orang untuk shalat  dan berpuasa, membuat penghasilan mereka berkurang.” (Ma’rifahSunanwalAtsar, 7/307)

Beginilah sekilas munajat dan taqarrub Rasulullah SAW kepada Rabbnya di bulan Ramadhan.Kemuliaan dan kesuksesan kita di bulan Ramadhan, ditentukan dengan sejauh mana kesungguhan kita untuk meneladani beliau dalam bertaqarrub kepada Allah SWT.WallahuA’lamBishshowab* (Akrom Syahid) (Dikutip dari Majalah Annajah edisi 104 rubrik tema utama 1)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s