Ramadhan dan Akhlak Kita

Oleh: Rudi Agung

Suatu ketika Khalifah Abu Bakar berselisih dengan Rabi’ah bin Ka’ab. Beliau mencaci Rabi’ah, lalu menyesal tiada kira. Abu Bakar meminta Rabi’ah membalas cacian yang serupa. Tapi, Rabi’ah menolak. Abu Bakar melaporkan ke Rasulullah.

Rasul bertanya,”Rabi’ah ada apa antara engkau dan Abu Bakar Ash Siddiq? Rabi’ah menjawab, “Ya Rasul, dia minta aku memakinya sepeti dia memakiku, tetapi aku tidak mau.” Rasul bersabda: “Benar engkau, sebaiknya katakanlah ‘Allah memaafkan engkau’ Abu Bakar.” Rabi’ah mengikuti sabda Rasul: “Allah memaafkan engkau Abu Bakar.”

Lalu, Abu Bakar menangis. Sambil terisak, ia mengucap, “Terima kasih banyak Rabi’ah.. Terima kasih banyak, Rabi’ah.. Terima kasih banyak, Rabi’ah bin Ka’ab.”

Kisah di atas satu potret keindahan akhlak mulia yang dimiliki generasi awal umat muslim. Generasi terbaik sepanjang zaman.

Usai mencaci, Abu Bakar menyesal bukan kepalang. Beliau takut, pengorbanannya untuk agama, kedekatannya pada Rasul, kegemarannya ibadah akan sia-sia: bila hubungan sosialnya ternoda.

Takut, bila hablumminanass nya masih menyisakan luka jiwa pada manusia. Takut, menebar dendam di dada Rabi’ah. Beliaupun berterima kasih saat Rabi’ah memaafkan dan mendoakannya. Seperti terima kasihnya seseorang yang nyawanya diselamatkan.

Sebaliknya, Rabi’ah enggan membalas cacian. Meski sudah ditawarkan, Rabi’ah memilih mendoakan dengan kebaikan. Rabi’ah mengajarkan kita: di atas hukum adalah kebijaksanaan. Di atas keutamaan ibadah individu adalah kokohnya akidah, akhlak mulia dan kegemarannya beribadah sosial.

Ia yakin Allah akan mengganti rasa sakitnya dengan yang jauh lebih baik. Karenanya memaafkan dan mendoakan. Karenanya ia hilangkan dendam untuk bersihkan hati dan jiwa.

Betapa lapang hati Rabi’ah. Begitu besar rasa sesal Abu Bakar lantaran menyakiti Rabi’ah. Agama adalah akhlak. Kedua sahabat itu langsung praktik. Begitulah mereka mengajarkan kita.

Sahabat hidup tanpa sekat. Tanpa melihat pangkat. Tanpa memilih strata sosial. Dengan kelapangan dada dan akhlak mulia yang sempurna. Meminta maaf dan memaafkan dengan ketulusan. Menebar kebaikan tanpa harap imbalan. Berperilaku dengan dasar karena Sang Maha. Demi ridha Nya. Inilah satu keindahan Islam yang dibangun para Sahabat.

Di setiap Ramadhan kita kerap menemui atau dikirimkan kata-kata memantik hati. Mulai ucapan selamat Ramadhan sampai permintaan maaf jelang dan usai Ramadhan.

Di sepanjang jalan, baliho, spanduk, hingga iklan kita temui hal sama. Slogan ajakan-ajakan positif memenuhi hari-hari kita jelang dan saat Ramadhan.

Bahkan slogan sosial tak melulu ditemui ketika Ramadhan. Di luar Ramadhan kita kerap menemui hal sama, ajakan kebaikan. Melalui broadcast dan semisalnya. Ceramah-ceramah agama juga memenuhi layar kaca.

Tapi, di lapangan: kerusakan sosial makin menggurita. Ramadhan ini pun dihiasai bentrok massa dan aparat. Ada apa? Kenapa slogan dan ceramah tidak menggerakan? Di luar konteks akhir zaman, kenapa ajakan kebaikan tidak mengubah peradaban? Tidak memperbaiki keadaan?

Apakah kita hidup hanya cukup dengan slogan-slogan? Atau hidup dengan kepalsuan?

Sejenak kita menengok ke belakang: Usai perang Uhud, wanita-wanita Quraisy memasuki medan perang. Mereka mencari jenazah Muslimin yang syahid sebagai syuhada. Para wanita itu ada yang membelah dada, merobek perut, memotong hidung, mencungkil mata jenazah mujahiddin.

Di antara potongan-potongan tubuh itu, seperti potongan telinga, hidung, mata; ada yang dijadikan perhiasan kalung dan cincin. Begitulah sadisnya wanita kafir Quraisy, begitulah dahsyatnya memelihara dendam hingga akal sehat dan nurani tertutup.

Dendam, menyebabkan terjadinya perang, rusaknya peradaban, hancurnya kepribadian seseorang. Banyak sekali fakta lapangan menunjukan: perpecahan dan kerusakan sosial diawali dari dendam.

Dendam masa kecil, dendam perceraian, dendam sosial, dendam persaingan, dendam asmara, dendam ekonomi, dendam kehidupan, dan pelbagai dendam lain.

Dendam seseorang, menghancurkan kehidupannya. Hidup gelisah, jauh dari ketenangan. Jauh dari kebahagiaan abadi. Walau sehari-hari dihujani limpahan materi. Walau setiap hari beribadah pada ilahi Rabbi. Namun ketika hati masih menyimpan dendam, hidup masih diterpa kegelisahan, jauh dari ketenangan. Bahkan dendam sering kali merugikan pihak lain.

Jangan-jangan ucapan permohonan maaf kita di hari Ramadhan dan Hari Raya hanya sebatas slogan. Bermaafan karena momentum bukan dari hati terdalam. Bermaafan sebatas uluran tangan atau sepatah lisan. Sedang hati kita masih memiliki dendam. Jangan-jangan nilai kemanusiaan dalam hati kita masih berwarna kelam.

Akibatnya, di depan manis tapi di belakang sinis. Sosialisasi dan bertutur sapa hanya basa basi, sekadar pemanis. Ibadah jalan, dendam ditanam. Nilai kemanusiaan bukan lagi muncul dari keimanan, bukan timbul karena agama, tapi dari rasa suka tak suka. Berkahlak dengan like dan dislike.

Padahal bukankah agama itu sendiri akhlak dan kekokohan akidah? Bukankah salah satu tugas Rasulullah untuk membumikan tauhid dan membenahi akhlak? Bisa jadi akhlak kita masih tersekat, kita bukan berperilaku dengan bahasa keimanan, melainkan memilah atas nama martabat dan keduniawian.

Jangan-jangan cerai berainya kelompok-kelompok Islam karena masing-masing merasa lebih baik, lalu melempar atau menyimpan dendam. Jangan-jangan, kita mudah dipecah belah lantaran mudah sekali menanam dendam.

Bukankah seluruh agama mengingatkan: dendam lebih cepat dari api membakar kayu. Dendam sangat cepat menghanguskan seluruh amalan kita. Memusnahkan segala kebaikan kita. Lalu untuk apa Ramadhan kita? Untuk apa ibadah-ibadah kita?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s