Bersaudara Karena Allah

RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam memberi motivasi untuk bersaudara karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Barang siapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan meninggikan derajat orang itu di surga, yang mana derajat tersebut tidak bisa diperoleh dengan amal perbuatannya.” (Dari hadist Anas dengan sanad dha’if).

Abu Idris al-Khaulaniy berkata kepada Mu’adz (bin Jabbal), “Sungguh aku mencintaimu karena Allah.” Lalu Mu’adz berkata kepadanya, “Aku sangat bahagia, aku sangat bahagia! Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Di hari kiamat nanti ada sekelompok manusia yang ditempatkan di kursi-kursi yang berada di sekeliling Arsy, kursi-kursi tersebut memiliki mimbar dari cahaya. Di dalam kelompok manusia itu terdapat sebuah kaum yang wajah mereka bersinar bagaikan bulan purnama. Orang-orang meminta tolong, namun mereka tidak. Orang-orang merasa takut, namun mereka tidak merasa takut sedikit pun. Mereka itu adalah para kekasih Allah yang tidak ada rasa takut pada dirinya, mereka juga tidak pernah bersedih hati.”

Lalu ditanyakan kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah? ” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang orang yang saling cinta karena AllahSubhanahu wa Ta’ala dan saling duduk bersama karena Allah.” (An-Nasa’i).

Abu Hurairah yang meriwayatkan hadits di atas, dalam hal ini ia berkata. “Sesungguhnya di sekeliling ‘Arsy terdapat beberapa mimbar yang terbuat dari cahaya. Di atas mimbar itu terdapat sebuah kaum yang pakaian mereka terbuat dari cahaya dan wajah mereka bersinar. Mereka itu bukan para nabi dan juga bukan para syuhada’, para nabi dan para syuhada’ menginginkan kedudukan seperti mereka.”

Lalu Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkan sifat mereka kepada kami.” Lalu Rasulullah bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling cinta karena Allah, selalu duduk bersama (membahas perihal agama) karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (An-Nasa’i).

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tiada dua orang yang saling cinta karena Allah kecuali (di antara mereka berdua) yang paling cinta kepada Allah itulah yang paling mencintai temannya.” (Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Anas).

Dikatakan, “Sesungguhnya dua orang yang bersaudara dan berteman karena Allah, jika salah satu dari mereka berdua memiliki kedudukan yang lebih tinggi di akhirat, maka Allah akan mengangkat yang lain bersamanya hingga mencapai kedudukan seperti yang lain. Allah akan mempertemukan mereka sebagaimana anak cucu bertemu dengan kedua orangtuanya.

Hal ini karena, jika persaudaraan dijalankan karena Allah maka ia melebihi hubungan kerabat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal perbuatan mereka.” (at-Thur: 21)

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman (dalam hadits Qudsi): ‘Cinta kasih-Ku ditetapkan pada orang-orang yang saling bersilaturahim karena-Ku, cinta kasih-Ku juga ditentukan untuk orang-orang yang saling kasih sayang karena-Ku, cinta kasih-Ku ditetapkan pada orang-orang yang saling mencurahkan kekuatannya karena-Ku, dan cinta kasih-Ku diberikan kepada orang-orang yang saling menolong karena-Ku.’” (Ahmad dari Ubadah bin al-Shamit).

Dan Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya, besok di hari kiamat AllahSubhanahu wa Ta’ala berkata, ‘Di mana orang-orang yang saling cinta karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku menaunginya di dalam naungan-Ku, (hari ini) adalah hari dimana tiada naungan kecuali hanya naungan-Ku.” (Muslim).

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Terdapat tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dengan naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, (tujuh golongan tersebut) adalah; imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah, orang yang hatinya selalu bergantung pada masjid ketika ia keluar dari masjid hingga ia datang kembali, dua orang yang saling menyayangi karena Allah, mereka berdua berkumpul karena Allah dan berpisah juga karena Allah, orang yang ingat Allah di waktu sunyi lalu kedua matanya meneteskan air mata, seorang lelaki yang diajak oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia menjawab; Sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.” (Bukhari dan Muslim).

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang lelaki mengunjungi saudaranya karena Allah, maka Allah akan menyediakan seorang malaikat untuknya. Lalu malaikat itu berkata, ‘Kemana kamu ingin pergi?’ Ia berkata, ‘Saya ingin mengunjungi saudaraku yang bernama Fulan.’ Lalu malaikat itu bertanya, ‘Untuk hajatmu yang ada padanya?’ la menjawab, ‘Tidak.’ Malaikat bertanya lagi, ‘Karena hubungan kerabat antara dirimu dan ia?’ la menjawab, ‘Tidak.’ Lalu malaikat itu bertanya lagi, ‘Untuk mengantar kenikmatan miliknya yang masih ada padamu?’ la menjawab, ‘Tidak.’ Lalu malaikat bertanya, ‘Lalu untuk apa kamu mengunjunginya?’ la menjawab, ‘Saya menyayanginya karena Allah.’ Lalu malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutusku untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa Allah benar-benar telah mencintai kamu karena rasa cintamu kepadanya, dan Allah telah menetapkan surga untukmu. ‘”

MALIK bin Dinar berkata: “Barangsiapa yang berakal, tapi tidak mengambil pelajaran dari dunia maka hatinya telah tertutup.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Pada suatu malam, Ibrahim al-Taimi hendak membuang air seni. Ia keluar dan setelah itu ia tidak bisa tidur. Ketika ditanya tentang hal itu, ia menjawab: “Ketika aku ingin kencing aku teringat ahli neraka dan yang menimpanya di sana. Mereka terus ditimpa rantai dan tali kekang sampai pagi, sehingga aku tidak bisa tidur.”

Fatimah, istri Umar bin Abdul Aziz berkata: “Demi Allah, Umar tidak diracun dan tidak dibunuh, tetapi ia meninggal karena takut kepada Allah dan khawatir masuk neraka.”

Tsabit al-Banani berkata: “Pada suatu ketika Dawud ‘alaihissalam melewati api unggun yang berkobar, ia teringat neraka dan seluruh persendian tubuhnya bagaikan terlepas kemudian pingsan. Orang-orang menyadarkannya lalu ia berkata, “Ya Allah, kami tidak kuat terhadap panas matahari-Mu, bagaimana nanti kami kuat menahan sengatan api neraka-Mu.”

Setiap hari Yazid bin Murtsad mengucurkan air mata. Ketika orang bertanya tentang keadaannya, ia menjawab: “Seandainya Allah mengizinkanku untuk memasukkan diriku ke dalam bak mandi jika aku berbuat maksiat, pasti itu tak seberapa karena neraka yang dijanjikan bagi para pendosa itu sangat panas dan pedih.”

Nabi Isa ‘alaihissalam melewati kompleks pekuburan. Ia mendengar seseorang berkata: “Sudah berapa banyak tubuh yang sehat, wajah yang bersinar dan lidah yang fasih antar generasi, tetapi mereka tetap menjerit di sini.”

Ahmad bin Harb berkata: “Banyak manusia bernaung dari sengatan panas matahari dan mereka lupa bernaung pada panas api neraka.”

Renungkanlah wahai saudaraku. Jadikanlan anggota tubuhmu sebagai pengambil i’tibar atas kehidupan dunia.*/Abdul Wahhab Al-Sya’rani, dari bukunya Lentera Kehidupan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s