14 Kesalahan Umum Selama Bulan Ramadhan

MESKI secara teori kita memahami benar makna berpuasa di bulan Ramadhan adalah bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah untuk memperoleh ketakwaan, yang terjadi malah puasa hanyalah rutinitas tahunan yang biasa saja. Tidak ada gairah keimanan di dalamnya. Kita berpuasa karena semua orang di sekeliling kita berpuasa. Seakan lupa bahwa inilah saatnya membersihkan jiwa dari segala bentuk penyakit hati dan dosa.

Memang benar, kita tidak boleh makan dan minum, tapi kita juga harus merencanakan target kebaikan di bulan penuh ampunan dan pahala ini. Pun sebaiknya kita menghindari hal-hal yang tidak berorientasi kepada ibadah. Berikut kesalahan umum yang terjadi di bulan Ramadhan.

  1. Terlalu fokus dengan makanan berbuka

Pemandangan lumrah bagi sebagian orang di bulan Ramadhan dikelilingi makanan-makanan pembuka yang menggoda. Bahkan sebagian orang membuat makanan khusus yang hanya bisa ditemui di bulan Ramadhan. Ada juga yang membuat daftar khusus makanan baru apa yang mau dicoba setiap harinya saat berbuka. Sebenarnya tidak masalah jika ingin mencari rezeki di bulan Ramadhan (dan tidak menipu atau menjual makanan sisa yang diolah lagi kepada pembeli) atau menyantap hidangan spesial saat iftar.

Tapi jika ini yang justru lebih diutamakan ketimbang memperbanyak shalat sunnah, membaca al-Qur’an, dan ibadah lainnya, maka ini sebaiknya dihindari. Banyak juga dari saudara muslimah kita yang saat Ramadhan, jam dapurnya malah lebih lama daripada hari-hari biasa. Akhirnya, karena kelelahan, sampai tidak ikut shalat sunnah tarawih, tadarus, atau malah mengakhirkan shalat. Astaghfirullah.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

 “… Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS:  Al-A’raf [7]:31)

  1. Makan berlebihan

Agar tahan lapar lebih lama, ada yang sengaja mengisi penuh perutnya dengan makanan. Atau, iftar sebagai balas dendam, tidak akan berhenti sampai perut benar-benar merasa kenyang. Tentu saja ini bertentangan dengan sunnah. Allah dan RasulNya memerintahkan orang beriman untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk daripada perutnya, ukuran bagi (perut) anak Adam adalah beberapa suapan yang mampu menegakkan tulangnya. Jika jiwanya menguasai dirinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernapas.” (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Terlalu kenyang membuat kita malas beribadah. Jadi, sederhanalah dalam makanan dan minuman saat sahur dan berbuka.

  1. Tidur Seharian

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيْحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih, do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun dilipatgandakan.”

Meski hadits di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi, para ahli hadits menghukumi hadits di atas lemah, karena ada dua orang perawi yang dianggap lemah. Maka hadits di atas tidak bisa dijadikan acuan utama untuk bermalas-malasan selama berpuasa. Kecuali jika tidurnya diniatkan untuk ibadah. Misalnya, niat tidur agar malam bisa bangun shalat dan bermunajat pada Allah Subhanahu Wata’ala.

Praktisi kesehatan yang mengajurkan puasa sebagai metode penyembuhan, malah menyarankan orang yang berpuasa untuk giat berolahraga. Karena pada dasarnya, puasa, jika dilakukan secara teratur, justru memberikan kekuatan, bukan melemahkan badan. Tidak heran banyak peperangan dalam sejarah Islam yang berlangsung di bulan Ramadhan, justru menemui kemenangan gemilang.

Di sisi lain, di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam,Ramadhan justru digunakan untuk perang dan jihad. Bukan bermalas-malasan.

  1. Ngabuburit

Istilah ngabuburit, menurut penulis buku Mulyati M. Yasin, berasal dari bahasa Sunda yang artinya menunggu datangnya waktu Maghrib atau matahari terbenam. Kemudian istilah ini dipopulerkan oleh media hiburan, baik televisi, radio, ataupun koran lewat pertanyaan yang mereka ajukan kepada para artis dan selebriti.

Singkatnya, karena anak muda cenderung senang meniru dari artis, maka kegiatan artis sselama ngabuburit juga diikuti. Sayangnya, tidak kegiatan tersebut juga jauh dari bentuk ibadah. Entah jalan-jalan, nongkrong, nonton TV, mendengarkan musik dan lain sebagainya.

Dengan kemajuan teknologi, hiburan pun bisa diakses dari genggaman. Tidak sedikit yang malah menghabiskan waktu di depan layar smartphone ketimbang membaca al-Qur’an. Facebook, Instagram, Twitter, dan aplikasi hiburan lainnya mendapat jatah lebih lama ketimbang ibadah yang seharusnya diperbanyak di bulan ini.

  1. Ngebut Saat Shalat Tarawih

Thuma’ninah merupakan bagian dari rukun shalat. Thuma’ninah berarti seseorang tidak terburu-buru dalam shalatnya. Rasulullah bahkan pernah menyuruh seseorang untuk mengulangi shalatnya karena tidak shalat dengan thuma’ninah. “Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat”.

Biasanya, mereka yang ngebut ini, yang memilih shalat tarawih sebanyak 23 rakaat. Padahal dalam hadits disebutkan, rasulullah tidak pernah memberi batasan tertentu dalam rakaat shalat tarawih. Sayang kan, jika 23 rakaat shalat kita sia-sia karena terburu-buru dalam shalat?

  1. Tabarruj di Masjid

Ini merupakan peringatan untuk muslimah agar berhati-hati ketika keluar dari rumah menuju masjid. Memang kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik ketika berangkat di Masjid, namun bukan berarti pakaian tersebut menarik perhatian orang lain. Hukum untuk memakai wewangian ketika pergi ke masjid hanya berlaku untuk lelaki, dan wanita hanya boleh memakainya di rumah. Pada dasarnya, wanita boleh berhias sesuka hatinya (dengan batasan syariat) tapi hanya untuk suami dan muhrimnya.

Jika Anda khawatir tidak bisa menghindari hal tersebut, maka shalatlah di rumah, karena ia lebih utama bagi wanita. Pahala shalat Anda di rumah in syaa Allah tidak terkurangi hanya karena Anda tidak shalat di masjid. Namun jika Anda khawatir tidak bisa mengamalkan shalat sunnah kecuali berjama’ah di masjid, maka silakan Anda pergi ke masjid. Tapi ingat batasan-batasan yang harus Anda penuhi.*

7. Puasa Tapi Masih Melakukan Maksiat

Puasa adalah medan latihan yang Allah berikan untuk orang-orang beriman menghadapi kehidupan yang sesungguhnya setelah Ramadhan. Karena setelah Ramadhan berakhir, Allah kembali melepaskan Syaithan untuk kembali menggoda kita. Jadi, jika di bulan Ramadhan ini kita masih melakukan maksiat, itu adalah bagian dari kebiasaan yang seharusnya kita tekan selama bulan ini.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru melakukannya, maka Allah tidak butuh rasa lapar dan dahaganya”

Dusta hanyalah salah satu dari berbagai macam jenis maksiat, apatah lagi dengan jenis maksiat lainnya yang lebih besar?

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش ورب قائم حظه من قيامه السهر

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani)

7. Melewatkan waktu Sahur

“Makanlah (pada waktu) sahur. Karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim.

Sebagian orang ada yang merasa kuat berpuasa walau tidak makan sahur dan justru memilih tidur. Padahal ia sudah menyia-nyiakan keberkahan yang Allah berikan di waktu sahur.

8. Puasa Tapi Tidak Shalat

Jadi jika ada di antara kita, saudara, atau teman yang mengaku Islam namun meninggalkan shalat, maka serulah mereka untuk segera bertaubat. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka dan memasukkan mereka kembali ke barisan orang-orang yang beriman.

Allah berfirman:

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama…” (QS. At-Taubah:11)

9. Malas Membaca al-Qur’an

Banyak nama bagi bulan Ramadhan. Kata Ramadhan hanya disebut sekali dalam al-Qur’an. Tapi di dalam al-Qur’an Allah menegaskan lebih spesifik, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah:185). Di bulan inilah orang beriman merayakan turunnya pedoman hidup dari langit. Maka sungguh aneh jika seorang muslim berpuasa di bulan Ramadhan tapi malah malas atau bahkan enggan membaca al-Qur’an.

10. Tidak Puasa Alasan Lelah Bekerja/Berolahraga

Bekerja atau olahraga bukan alasan yang syar’i untuk tidak berpuasa. Alhamdulillah, beberapa perusahaan atau tempat kerja biasanya memberikan potongan jam kerja selama Ramadhan. Jika bulan puasa kebetulan bertepatan dengan kemarau, cobalah mengkonsumsi makanan kaya serat atau buah-buahan yang mengandung banyak air seperti semangka di saat sahur. In syaa Allah, jika kita berniat untuk memenuhi kewajiban yang ditetapkan oleh Allah, Dia akan mempermudah jalan bagi kita.

12. Puasa Tapi Berniat untuk Diet

Puasa bagi ummat Islam memiliki arti tersendiri dan tujuan khusus. Tujuan utama berpuasa, sebagaimana di sebutkan dalam surat al-Baqarah 128, adalah agar kita memperoleh taqwa. Jangan sampai semangat dan motivasi kita adalah agar bisa menurunkan berat badan saja ketimbang harapan agar meraih taqwa di bulan ini.

13. Bermalas-malasan Saat Haid

Wanita diberi keistimewaan dengan tidak melaksanakan puasa ketika sedang haid, namun bbukan berarti itu semacam kartu hijau untuk menuruti hawa nafsu selama hari-hari tersebut. Di bulan ini, semua amalan kebaikan dilipatgandakan pahalanya, pun bagi wanita yang sedang haid. Meski tidak membaca al-Qur’an, perbanyaklah dzikir dan do’a selama haid. Atau bisa dengan membantu ibu di dapur, memberikan makanan berbuka di masjid, membersihkan rumah, mendidik anak dan lain-lain. In syaa Allah Anda juga akan mendapatkan pahala yang melimpah.

14. Menyia-nyiakan 10 Hari Terakhir

Meme saat ini populer di jagat internet. Tidak pandang umur. Berbagai macam foto dan caption lucu bertebaran di jejaring sosial.

Mendekati lebaran, maka semua meme bertema lebaran muncul menghiasi news feed dan aplikasi chatting. Entah topiknya hitung mundur menuju ‘id, makanan, baju baru, dan tentu saja mudik. Secara garis besar ini mencerminkan tradisi umat Islam menjelang ‘Idul Fithr.

Mall-mall penuh, semua orang berburu diskon menuruti kemauan kapitalis. Restoran-restoran wah didatangi, tapi giliran bertemu dengan kotak infaq masjid, yang dikeluarkan tak setara atau bahan jauh lebih sedikit ketimbang saat kita menghabiskannya ke tempat-tempat tersebut.

Berbeda jauh dengan Rasulullah, panutan kita, ketika menghadapi sepuluh hari terakhir. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari mendatangi istrinya), menghidupkan malam (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari).*/Karina Choirunisa, Ibu rumah tangga di Depok, Jawa Barat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s